You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 25.


__ADS_3

Kevin dan Kikan langsung menuju kelas mereka. Dan langsung menarik tangan Rindu tanpa memberikan ucapan.


"Hei kalian ada apa? kenapa aku di seret seperti ini?!" Rindu berontak karena kedua tangannya di cekal oleh Kevin dan Kikan.


"Sekarang kamu harus ke ruang Dekan, untuk mengakui apa yang sudah kamu perbuat terhadap Serly!" Kikan dengan mencengkram tangan Rindu lebih kuat.


"Aww ... sakit Kikan!" protes Rindu.


"Sakit ini tidak akan bisa menandingi apa yang sedang Serly rasakan saat ini," ucap Kikan lagi.


Sementara Kevin hanya bisa menatap tajam kepada Rindu dengan pikiran yang bercabang. Takut terjadi sesuatu antara Serly dan Dido.


"Ayo!" Kevin akhirnya mengintrupsi. Ingin lebih cepat menyelesaikan urusan Rindu yang harus bertemu dengan Dekan.


Rindu akhirnya berhasil di bawa masuk oleh Kikan dan Kevin ke ruangan Dekan. Dan Dekan sudah tahu, karena Dido sebelumnya sudah menyampaikan masalah tersebut lewat telepon.


"Apa benar kamu mencampurkan obat tersebut kepada minuman Serly?" tanya Dekan.


Rindu yang duduk di apit oleh Kikan dan Kevin kini hanya bisa pasrah menjawab dengan kepala menunduk.


"I-iya Pak," jawabnya.


"Tujuan kamu untuk apa melakukan itu?" Dekan masih memberikan pertanyaan untuk lebih dalam mengatasi masalah tersebut dan memutuskan hukuman yang terbaik untuk Rindu.


"Karena sa-saya i-iri," Rindu terbata menjawabnya.


"Iri? iri karena apa?" Dekan masih ingin kejelasan.


"Setiap pria yang saya suka. Malah menyukai dia. Jadi saya iri,"


Dekan geleng-gelengkan kepala. Merasa menyayangkan atas tindakan Rindu yang tentu sangat membahayakan bagi Serly. Alasan karena pria yang di sukai Rindu, lebih menyukai Serly.


"Terus tujuan kamu mencampurkan obat tersebut, agar saudari Serly menjadi gimana?" Dekan masih ingin tahu niat dan tujuan Rindu dengan obat yang ia salahgunakan tersebut.


"Ya saya, ingin Serly hancur hidupnya beserta harga dirinya," jawab Rindu jujur.


Kevin melotot tajam mendengar pengakuan Rindu dengan menahan amarahnya menggeretakan giginya.


Kikan apalagi. Ia sangat murka, ingin sekali menjambak dan mencakar wajah Rindu jika tidak ada Dekan di hadapannya. Namun, Kikan hanya bisa menahan dengan mengepalkan tangannya yang berada di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Astagfirullah ... kamu sungguh jahat Rindu!" kata Dekan dengan menggeleng-gelengkan kepala. "Ok. Baiklah, saya sudah bisa putuskan hukuman untuk mu Rindu. Kamu saya skors selama tiga bulan jangan masuk kuliah. Jangan ada protes! jika ada yang tertinggal dalam materi pelajaran kamu bisa secara online. Saya masih bisa berbaik hati tidak mengeluarkan kamu!" keputusan Dekan. Membuat Kevin dan Kikan menghela nafas lega. Walau sebetulnya keinginan mereka berdua adalah Rindu di keluarkan.


Rindu, Kikan, dan Kevin kemudian keluar dari ruangan Dekan. Dan kini yang di pikiran Kevin seorang tentang keadaan Serly.


"Kikan apa kamu tahu, Serly akan di bawa kemana oleh kak Dido?"


Kikan menggelengkan kepala, merasa tidak tahu akan di bawa kemana sahabatnya tersebut.


"Paling ke Hotel," celetuk Rindu dengan suara sinisnya.


Kevin menggeram. "Jangan asal bicara kamu!" dengan jari telunjuk menunjuk wajah Rindu.


"Kamu panas? kenapa tidak kamu saja yang membawa gadis manja itu? jadi, kamu bisa memanfaatkan situasi yang telah aku buat," Rindu benar-benar tidak merasa sedikit bersalah atas perbuatannya, masih terlihat santai.


Kikan benar-benar merasa jengah, "Kamu itu wanita 'kan? kenapa kamu bisa sampai sejahat itu?! apa kamu tidak ada perasaan bersalah atas perbuatan mu itu?!"


Rindu tersenyum sinis dengan mendekapkan kedua tangannya di dada. "Kenapa aku harus merasa bersalah? lagian, aku muak sekali melihat wajah gadis manja yang sok lugu itu, bisa-bisanya menjerat semua pria yang aku sukai, termasuk kak Dido, Bang Aldi, Kak Satria, dan Kevin,"


Kevin melotot namanya di sebut oleh Rindu, "Tidak sudi aku jika harus berhubungan dengan wanita seperti kamu!"


Rindu hanya tersenyum acuh.


"Selamat menanti berita yang menyenangkan!" Rindu berlalu begitu saja.


Kevin melirik Kikan yang menjadi terdiam.


"Kamu kenapa?"


"Aku merasa aneh saja, Abang aku di sebut-sebut oleh Rindu," sahut Kikan dengan masih berpikir keras mengingat pergerakan Aldi dan Serly. Tapi, Kikan tidak menemukannya selama bertemu.


"Jadi kamu tidak tahu?" Kevin merasa aneh Kikan tidak tahu atas hubungan Aldi dan Serly yang baru saja semalam Kevin ketahui dari mulut Aldi langsung.


"Maksudnya?"


"Abang kamu pacarnya Serly,"


"Hah?" Kikan menganga masih merasa tidak percaya. "Mungkin itu menurut kamu, karena Serly memang di antar jemput oleh Abang aku yang sebagai Asisten pribadinya kak Rasya," Kikan berpikir seperti itu.


"No. Aku dengar langsung dari mulut abang mu. Semalam aku gak sengaja bertemu mereka berdua yang sedang jalan. Dan kebetulan makan di salah satu Cafe Mall. Aku akui aku sangat cemburu," Kevin tiba-tiba berwajah sendu.

__ADS_1


"What?" Kikan merasa ini sebuah keajaiban jika benar yang di katakan Kevin. Karena Aldi sudah di ragukan oleh keluarganya sendiri yang seperti tidak merasa tertarik kepada wanita.


"Kalau benar, aku sangat bersyukur," Kikan akhirnya tersenyum senang.


"Kenapa kamu terlihat senang atas hubungan mereka?" Kevin tidak mengerti melihat perubahan wajah Kikan yang tadi menganga, sekarang menjadi tersenyum.


"Senang banget, Vin. Abang aku ternyata normal. Sudah di kira oleh keluarga jika Bang Aldi tidak menyukai wanita, karena selama ini seperti alergi jika berdekatan dengan wanita tidak pernah melirik sedikitpun walau dirinya banyak yang suka," Kikan dengan senyum-senyum merasakan bahagia.


Kevin terkesiap mendengar penuturan Kikan. Merasa tidak percaya. Padahal semalam di hadapannya, Aldi berani mengecup punggung tangan mulus Serly, serta mengakui bahwa Aldi adalah kekasihnya Serly. Sungguh gentlemen.


"Aku gak percaya. Abang kamu itu seperti sudah lihai dalam memperlakukan kekasihnya," Kevin menyanggah pengakuan Kikan.


"Hei, maksud kamu apa? aku dan keluargaku yang tahu. Kamu mana tahu sikap dan sifat abang aku," bela Kikan.


"Tapi--"


"Sudahlah. Cemburu boleh, tapi jangan menuding hal tidak baik. Jatuhnya kamu seperti si Rindu nantinya, atau kamu mau aku jodohkan dengan si Rindu?" Kikan dengan menaik-turunkan alisnya menggoda Kevin.


Pletak!!


Kevin menjitak dahi Kikan dengan keras, membuat Kikan meringis.


"Seandainya wanita di dunia ini hanya dia yang tersisa. Aku lebih baik menjomblo seumur hidup," kata Kevin dengan memberengut merasa tidak suka jika harus berjodoh dengan Rindu. Apalagi sekarang ia tahu sikap Rindu yang sangat keterlaluan.


"Jangan gitu, nanti kamu jodoh gimana?" ledek Kikan dengan mengusap-usap keningnya akibat ulah jitakan tangan Kevin.


"Ogah!!" Kevin seraya mempercepat langkahnya.


Kikan tertinggal beberapa langkah, lalu berteriak memanggil.


"Vin. Kevin!!" panggilnya.


Kevin menoleh, "Aku akan cari Serly dan Kak Dido," sahutnya.


"Aku ikut!" Kikan dengan cepat berlari agar bisa sejajar berjalan dengan Kevin.


...***...


Apa yang terjadi dengan Serly?

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya!!


__ADS_2