
Tentang Rasya dan Adelia.
Seminggu sudah pernikahan mereka. Adelia memulai mengisi aktivitas setiap harinya dengan membuat Varian Kue, Ia membuka Toko Kue yang memang sudah Rasya ijinkan. Bahkan Tokonya bersebelahan dengan Bengkel. Rasya selalu mengijinkan bahkan memenuhi setiap yang Adelia mau atau butuhkan. Sehingga Adelia begitu sangat bahagia akan perlakuan Suaminya itu. Namun selama Seminggu itu Mereka belum melakukan aktivitas malam seperti suami istri pada umumnya karena Adelia yang sedang berhalangan mendapat tamu bulanan -nya sehingga Rasya hanya bisa bersabar padahal kenyataan nya Rasya sangat menginginkan moment itu.
Tiga hari ini mereka sudah menempati rumah yang baru Rasya bangun. Adelia kini baru keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang di bibir merah nya. Adelia dengan masih memakai bathrobe berjalan melewati ranjang yang di atasnya Rasya masih terpejam. Adelia membuka lemari untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini, Adelia memilih Dress selutut dengan lengan pendek berwarna biru motif bunga. Adelia melangkah kembali ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaian nya.
Dan di saat Adelia masuk ke dalam kamar mandi, Rasya mengerjapkan matanya Ia baru saja terbangun. Rasya melihat jam yang menempel di dinding menunjukkan jam 6 pagi. Rasya bergegas duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang.
Ceklek.... terdengar suara handle pintu kamar mandi di buka, Adelia keluar dengan memegang handuk kecil di pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Adelia tersenyum saat melihat Rasya sedang memperhatikan nya.
"Mas sudah bangun?," tanya Adelia. Sejak Rasya meminta untuk Adelia mengganti kata panggilan-nya, Adelia memilih kata 'Mas' untuk memanggil suaminya itu. Dan Rasya pun tidak keberatan malah menurut Rasya itu terdengar mesra di pendengaran nya.
"Iya," ucap Rasya singkat dengan mulai berdiri dan melangkah keluar kamar.
Adelia menautkan kedua alisnya bingung akan sikap Rasya yang seperti tidak biasa ketika di saat pagi.
Adelia kembali pokus mengeringkan rambutnya, dan menyisir. Adelia mulai memakai make-up tipis pada wajah cantiknya, dan di tambah lipstik berwarna merah bibir yang tidak terlihat mencolok. Setelah serasa pas Adelia keluar dari kamar untuk menemui suaminya yang kini berbeda tidak seperti biasanya.
Adelia langsung menuju dapur terlihat Rasya sedang berkutat di depan kompor. Seperti sedang hendak memasak.
"Kamu sedang ada apa di dapur?," tanya Adelia.
"Suami mu ini mau masak."
Rasya dengan tangan nya memotong sayuran. Adelia merasa aneh dengan sikap Rasya kini. "Mas, kamu kenapa?. Aku rasa kamu berbeda di pagi ini?," selidik Adelia.
Rasya terkesiap langsung menoleh ke arah istrinya. "Sayang, benarkah aku berbeda di pagi ini?."
Adelia mengangguk dengan wajahnya mulai berubah sendu. "Apa karena aku belum bisa memberikan hak sebagai istri?," lanjut Adelia menerka.
Rasya menggeleng lalu tangan nya merengkuh sang istri kedalam dekapan nya. "Maaf jika kamu salah paham. Aku hanya ingin cepat keluar dari kamar, karena aku tak mau melihat wajah cantik mu. Aku takut tergoda," Rasya ternyata menghindar karena tahu Adelia masih berhalangan dirinya takut tergoda.
Adelia tersenyum dalam dekapan suaminya itu. Aku baru sudah selesai. Apa aku kasih tahu saja. Tapi, aku takut. Batin Adelia.
Rasya melepaskan dekapan nya. "Aku mau masak ya, apa kamu tak buat kue hari ini?," Rasya menanyakan kebiasaan Adelia yang sudah seperti biasa membuat kue.
"Kue kemarin masih ada stok. jadi hari ini aku memutuskan untuk tidak membuat dulu."
Adelia ingin mengatakan tentang tamu bulanan nya yang sudah selesai kepada Rasya, tapi Ia ragu dan bercampur takut.
"Mas, apa kamu ingin cepat punya anak atau menunda dulu?," tanya Adelia.
Rasya tersenyum, "Aku serahkan sama kamu, aku menyetujui apa kemauan kamu. Ya misalkan kalau kamu belum siap, ya tunda dulu. Dan sebaliknya kalau kamu sudah siap ya jangan di tunda."
__ADS_1
"Tapi aku ingin cepat punya anak Mas," kata Adelia yang membuat Rasya terkekeh.
"Mau cepat punya anak tapi membuatnya juga belum," Rasya masih terkekeh.
"Apa datang bulan mu sudah selesai?," tambah Rasya.
Adelia terdiam bila tidak dikatakan pasti itu sangat berdosa pikirnya. "Sudah, baru saja aku mandi wajib," Adelia dengan bersemu merah.
"Kenapa kamu harus malu?," Rasya menyadari perubahan warna pada wajah sang istri.
"Tapi Mas tidak akan langsung melakukan nya, kan?."
Rasya tersenyum lalu membelai pipi sang istri dengan lembut. "Aku tidak akan memaksa mu, katakanlah kalau kamu sudah siap."
"Apa Mas gak apa-apa?," Adelia memastikan raut wajah Rasya.
"Tidak. Aku gak apa-apa," Rasya seraya mengecup kening Adelia.
"Terima kasih."
Adelia tersenyum lalu berhambur memeluk sang suami. Rasya pun tersenyum dengan tangan nya menjawab pelukan sang istri.
Kamu harus sabar ya Rasya kecil.
Batin Rasya berbicara pada Rasya kecilnya yang selama ini selalu berontak bila dekat dengan istrinya itu.
Adelia mulai melepaskan pelukan nya, kini sekarang Ia menatap wajah suaminya.
"Mas mandi dulu ya, biar aku yang masak."
Rasya mengangguk dan berjalan bergegas kamar, Ia menurut akan perintah istrinya.
Adelia meneruskan memotong sayuran yang tadi sempat Rasya potong. "Mas Rasya sepertinya ingin membuat sup."
Adelia bermonolog sendiri memperhatikan sayuran yang sudah di potong suaminya itu.
"Aku sekarang mau masak sup ayam, sama goreng tempe aja. Sepertinya Suamiku sedang lapar saat ini."
Adelia berbicara sendiri. Adelia berkutat selama hampir tiga puluh menitan untuk membuat sup ayam nya itu, dan di tambah goreng tempe beserta kerupuk udang. Adelia sudah menghidangkan nya di meja. Namun Rasya belum terlihat datang untuk menghampiri. Adelia pun menyusul Rasya ke dalam kamar untuk menyuruh Suaminya itu Sarapan.
Tapi saat Adelia hendak akan masuk ke dalam kamar, Adelia mendengar Rasya sedang mengobrol dengan benda pipihnya. Suaranya jelas terdengar karena pintu kamar tidak tertutup rapat. Hanya posisi Rasya membelakangi arah pintu. Sehingga Adelia bisa melihat dan mendengar apa yang Rasya bicarakan.
"Ma ... Aku sudah menikah. Mana mungkin aku harus menikah lagi?. Dan ada-ada saja permintaan Papa ini. Aku hanya ingin menikah dengan wanita yang aku cintai yang saat ini sudah menjadi istri ku."
Rasya terlihat nafasnya terengah-engah menahan sesak dan amarah.
__ADS_1
Adelia yang masih di ambang pintu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berharap Rasya tidak melakukan akan apa yang telah Adelia dengar.
"Ternyata kalian tidak pernah berubah. Aku pikir kalian meyuruhku untuk menikah siri terlebih dahulu agar aku cepat bersatu dengan Adel. Tapi ternyata aku paham. Cara kalian sungguh tidak masuk akal."
Rasya menutup panggilan secara sepihak lalu ponselnya ia banting ke atas kasur. Lalu Rasya membalikkan badan namun, Rasya kaget melihat istrinya sudah berdiri di ambang pintu dengan tersenyum.
Apa Adelia mendengarnya?.
Rasya berjalan menghampiri istrinya. "Sayang kenapa kamu tidak masuk?. Kenapa berdiri di situ?," tanya Rasya dengan lembut.
"Aku baru saja datang Mas, yuk kita sarapan. Aku sudah selesai memasaknya."
Adelia sengaja berbohong, Adelia ingin suaminya yang terlihat tadi sedang lapar untuk cepat sarapan terlebih dahulu. Membahas tentang apa yang di dengarnya masih ada waktu setelah sarapan selesai pikir Adelia.
Rasya pun mengangguk dan berjalan menghampiri ruang makan dengan tangan nya merangkul bahu Adelia.
Aku tahu Mas, kamu sedang banyak berpikir saat ini. Tapi aku ingin tahu tentang pembicaraan itu setelah selesai sarapan nanti.
Adelia berbicara dalam hatinya. Rasya mulai duduk di kursi yang menghadap ke meja makan. Adelia dengan cepat mengambilkan nasi beserta sup ke dalam piring Rasya.
"Terima kasih Sayang," ucap Rasya.
Adelia hanya tersenyum, dan mulai mengambil nasi untuk piringnya sendiri.
Beberapa menit kemudian Sarapan mereka selesai. Adelia dengan membereskan bekas sarapannya. Dan mencuci piring serta bekas alat masak tadi. Sedangkan Rasya sudah bergegas keluar menuju Bengkel.
Adelia setelah selesai dengan urusan dapur kini melangkah menuju Toko Kue yang Adelia namai Adelia Cake seperti nama toko Kue yang sudah Di bakar Rima melalui orang suruhan nya.
Adelia melupakan akan apa yang tadi Ia rencanakan setelah sarapan untuk membicarakan dan menanyakan tentang apa yang tadi tengah Adelia dengar. Adelia kini fokus menata Kue-kue yang baru saja hari kemarin Adelia buat. Adelia menghitung dan menata Kue itu agar rapi.
Bismillah.... Semoga usaha ku ini membuahkan hasil.
Ridhoi Kami Ya Allah.
Lindungi kami dari kedzoliman.
Dan Berkahi setiap rizki yang Engkau beri.
Aamiin.....
Adelia berdo'a di dalam hatinya seraya dengan menitikkan air mata. Ia sadar selama ini sudah melupakan Siapa yang telah menciptakan.
Adelia Bertekad ingin menjadi diri yang lebih baik lagi.
...Bersambung....
__ADS_1