
Sebuah Mobil Toyota Voxy terhenti di depan sebuah rumah yang megah. Rumah megah itu adalah Rumah Albi di Kota J. Sedangkan keluarga Albi berada di kota M. Penumpang yang berada di dalam mobil itu keluar. Adelia terpana melihat rumah di depannya yang begitu megah.
Dari depan gerbang sudah ada dua penjaga yang menyambut kedatangan mereka. Albi menuntun Adelia untuk masuk ke dalam rumahnya, begitu dengan Arman dan Dirga yang ikut menyusul di belakangnya.
Mata Adelia masih terpana menyusuri indahnya interior bangunan rumah tersebut, dengan terus melangkah bersama Albi di sampingnya. Albi mengerti, mungkin menurut Albi bahwa Adelia begitu asing dengan rumahnya yang di datangi saat ini.
"Ini rumah kita," ucap Albi hingga membuat Adelia menoleh kepadanya.
Adelia hanya tersenyum menanggapi ucapan Albi. Mereka kini tengah berada di ruang tamu. Adelia duduk di sebelah Albi, Dirga dan Arman duduk bersebrangan.
"Lu bawain air napa!" kata Dirga kepada Arman.
"Iya-iya. Tapi bentar, gue masih capek!" sahut Arman beralasan karena dirinya habis menyetir.
Adelia menanggapi ucapan Dirga dan Arman.
"Biar saya saja yang membawanya," kata Adelia. Lalu Adelia melirik Albi yang berada di sampingnya.
"Em ... dapurnya sebelah mana? Saya tak ingat!" tanya Adelia.
"Oh. Ayo kita antar!" ajak Albi. Kemudian Adelia dan Albi bergegas ke dapur di temani oleh Albi.
"Gila gak?" tanya Arman seperginya Adelia dan Albi.
"Iya benar! ini bukan hanya sandiwara, tapi dari hati," sahut Dirga.
Arman dan Dirga sudah menyadari bahwa Albi sudah menyukai Adelia, hingga Albi mau saja ke dapur mengambil air minum untuk mereka. Padahal bisa saja Albi mendesak Antara Arman dan Dirga untuk mengambilnya.
Selang beberapa menit Adelia dan Albi datang. Namun, nampan yang di atasnya Air itu di pegangnya oleh Albi. Albi melarang Adelia saat di dapur, untuk membawa air itu. Hingga Albi sendiri yang membawanya.
"Bos Albi, gak salah ini?" tanya Dirga saat Albi meletakkan nampan itu di meja hadapan mereka.
"Sudah kalau haus minum saja! tak usah berisik!!" sahut Albi dengan menatap mereka dengan tajam.
Arman dan Dirga pun saling tatap dengan tersenyum penuh arti. Adelia yang melihat mereka seperti itu hanya diam saja, karena dirinya tidak begitu mengerti.
"Kamu mau istirahat?" kata Albi kepada Adelia bertanya.
Adelia pun mengangguk. Albi kemudian bangkit berdiri. "Ayo ikuti saya!" ucap Albi saat sudah berdiri dan mulai melangkah.
Adelia pun menurut mengikuti langkah Albi. Adelia terus memandang dinding-dinding setiap ruangan yang Adelia lewati. Hingga Adelia terhenti berdiri di depan pintu kamar, dan Albi membuka pintu kamar tersebut.
"Ini kamar kamu! silahkan masuk," titah Albi.
"Bentar, em ... kamu mau kemana?" tanya Adelia saat melihat Albi berbalik badan.
"Saya mau menemui mereka lagi. Kenapa?"
"Em ... ti-tidak."
"Ya sudah. Selamat beristirahat ya," kata Albi tersenyum kemudian pergi berlalu dari hadapan Adelia.
__ADS_1
Adelia meneruskan niatnya untuk melangkah. Kemudian matanya melirik setiap sudut kamar itu, lagi-lagi Adelia terpana akan luasnya kamar tersebut. Adelia berjalan masuk kedalam sebuah ruangan yang merupakan ruang tempat ganti. Di dalamnya terdapat tiga lemari besar yang tingginya hampir langit-langit ruangan tersebut. Kemudian Adelia membuka salah satu lemari tersebut, dan mata Adelia terbelalak melihat banyak Pakaian wanita yang masih baru, dan Adelia yakini itu adalah semua pakaian miliknya.
Adelia menutup kembali pintu lemari tersebut. Lalu bergegas ke arah ranjang yang berukuran king size. Ia mulai merebahkan tubuhnya dan saking nyamannya kasur yang Adelia tiduri begitu cepat ia terlelap.
Sementara itu Albi yang sudah duduk kembali di ruang tamu. Menatap kedua teman sekaligus bawahannya.
"Kalian bergerak cepat ternyata" ucap Albi membuka percakapannya.
"Keren kan, kita?" tanya Arman dengan tersenyum bangga.
"Iya. Bahkan semua perlengkapan dapur Lu udah siapin, hingga isi-isi kulkas," tutur Albi.
"Bahkan kita juga sudah siapkan pakaian untuk Arumi," kata Dirga membuka suara.
"Benarkah?" dan Dirga langsung mengangguk.
Dirga dan Arman ternyata selama berada di Klinik di Kota B, memerintahkan anak buahnya yang berada di Kota J untuk mempersiapkan semuanya. Setelah selesai mendiskusikan akan rencana yang mereka lakukan. Agar terlihat bahwa Adelia seperti istri sungguhan Albi, dari perlengkapan mandi dan perlengkapan masak mereka berdua siapkan. Jadi Adelia tidak akan merasa mencurigainya. Bahkan Dirga dan Arman sudah menyuruh orang untuk membuat kartu penduduk dan buku nikah antara Albi dan Adelia.
"Bahkan sebentar lagi akan ada yang mengantarkan sesuatu untuk Lu" ucap Arman.
"Sesuatu untuk gue? apa?" tanya Albi.
"Kartu penduduk Arumi, dan buku nikah kalian," sahut Dirga.
Albi tergelak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh rencananya begitu mulus, dengan bantuan mereka berdua.
"Perfect! thanks bro," ucap Albi.
Selang beberapa lama penjaga gerbang datang dengan membawa bingkisan kardus kecil menyerupai sebuah paket.
"Terima kasih Pak," sahut Arman.
Lalu penjaga tersebut pergi kembali keluar menuju tempat tugasnya.
Setelah di rasa aman, Arman mulai membuka bingkisan tersebut. Dan tersenyum puas saat melihat kartu identitas penduduk, beserta buku nikah yang di buatnya.
"Silahkan lihat Bos!" kata Arman dengan menyerahkan benda-benda tersebut.
Albi meraihnya, dan membaca satu persatu. Sungguh Albi benar-benar bangga akan kinerja kedua temannya itu. Dari mulai kartu penduduk sesuai nama Arumi yang di berikan Albi kepada Adelia. Dan yang membuat Albi tergelak buku nikah yang tertera bahwa Albi sudah menikah hampir lima bulan.
"Gue sudah nikah selama lima bulan?" tanya Albi dengan tergelak.
"Iya Bos. Gue perhitungkan dengan kehamilan Arumi. Jadi nanti Tante Hera tidak akan mencurigainya," kata Arman menjelaskan.
Dan dapat acungan jempol dari Albi dan Dirga.
"Clever!" ucap Albi memuji kecerdasan Arman.
***
Sedangkan di tempat lain namun masih se-kota J. Rasya sudah terbaring di dalam kamar yang hampir enam bulan ia tinggalkan, Rasya melamun. Namun, dengan cepat ia bergerak untuk mengusir lamunannya. Ia melangkah menuju sudut ruangan. Ia terduduk di sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah Piano. Selama di jenjang Pendidikan Alat musik tersebut adalah alat musik terpaforitnya selain gitar. Bahkan saat selalu nge-band bareng dengan Adelia, alat musik tersebut selalu menemaninya.
__ADS_1
Rasya mulai menyambungkan sebuah kabel dari Piano tersebut pada sebuah alat aliran listrik. Rasya mulai menekan satu not. Piano itu ternyata masih normal menyala.
Rasya berniat akan memainkan alat musik itu, untuk mengusir ingatan-ingatan agar dirinya tidak sampai melamun. Jemari Rasya mulai memainkan alat tersebut sebagai intro. Rasya kemudian menghirup nafas dengan pelan dan membuangnya, kemudian ia mulai bernyanyi.
"Don't go tonight.
Stay here one more time.
Remind me what it's like,
And let's fall in love one more time.
I need you now by my side.
It tears me up when you turn me down.
I'm begging please, just stick around."
"I'm sorry, don't leave me, I want you here with me.
I know that your love is gone.
I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy.
Don't tell me that your love is gone.
That your love is gone."
"I'm sorry, don't leave me, I want you here with me.
I know that your love is gone.
I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy.
Don't tell me that your love is gone.
That your love is gone."
"Don't tell me that your love is gone.
That your love is gone.
Don't tell me that your love is gone.
That your love is gone.
That your love is gone.
I know this isn't easy.
That your love is gone."
__ADS_1
Rasya telah selesai menyanyikan sebuah lirik lagu yang di populerkan oleh Slander ft Dylan Matthew. Rasya sangat meresapi lagu tersebut, walaupun lagu itu bukan tentang sebuah kepergian seseorang. Namun, tentang cinta yang telah pergi. Tapi itu tidak terjadi pada Rasya, Cinta nya yang begitu dalam dan kuat, ia akan selalu menyimpannya dalam hati walaupun sang penguasa hatinya telah tiada.
...Bersambung. ...