You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 109.


__ADS_3

Happy Reading.


❤❤❤


Waktu pagi merupakan awal dari aktivitas setiap orang. Tapi tidak dengan Pria tampan yang kini sedang berselimut seperti enggan untuk bergerak. Rasya merasa kepalanya pusing dan perutnya merasakan mual.


Untuk bergegas mandi pun seperti tidak mau, entah apa yang terjadi pada dirinya. Sedang sang istri sudah terlihat wangi dan rapih. Dan semua itu membuat sang suami lebih nyaman dengan mencium aroma dari wangi parfum milik Adelia.


"Mas, mau mandi sekarang?," tanya Adelia kepada Rasya yang masih berselimut seraya membereskan alat-alat make-up bekasnya.


"Tidak Sayang, aku sepertinya lagi gak enak badan ini. Perut aku mual dan kepala juga pusing," sahut Rasya yang membuat sang istri merasa khawatir.


Adelia melangkah mendekati suaminya, dan mencoba menempelkan telapak tangan nya di dahi sang suami, namun tidak merasakan panas.


"Mas gak demam, atau Mas Sarapan dulu, mau?," tawar sang istri.


Rasya menggeleng. "Aku ingin tiduran saja."


"Kalau Mas mau sarapan, tinggal ke dapur aja ya, aku sudah siapin kok!. Sekarang aku mau buka toko kue dulu, udah beberapa hari ini gak buka. Gimana boleh kan, aku buka toko?," tanya Adelia kepada Rasya yang sempat beberapa hari tidak membuka Toko Kue karena ulah suaminya yang terus mengajak di dalam kamar terus.


"Iya boleh," jawab Rasya dengan memejamkan matanya.


Mas Rasya aneh, badan nya tidak demam. Tapi dia sepertinya sangat lemas. Batin Adelia.


"Ya, sudah aku tinggal ya, Mas...." Adelia seraya mengecup pipi suaminya dan bergegas pergi keluar kamar.


Seperginya Adelia, Rasya merasakan perutnya bergejolak dan Rasya dengan langkah lemas bergegas ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perut yang sedari tadi sudah ingin di muntahkan.


"Hueek.... Hueek...."


Rasya berkeringat di dahinya, dan hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya.


"Ada apa dengan perutku?, kenapa aku baru merasakan lemas dan muntah-muntah seperti ini?," gumam Rasya dengan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


"Tapi, anehnya tadi pas saat mencium aroma dari istriku rasa mualku berhenti?. Lalu setelah tiada keberadaan nya mual ku kembali lagi," gumam Rasya lagi.


Setelah merasa tak ada tanda-tanda untuk muntah, Rasya mencuci muka dan bergosok gigi. Tapi lagi-lagi Rasya mual dan muntah saat pasta gigi sudah di gosok kan oleh sikat ke giginya.


"Ada apa lagi ini, rasa pasta gigi membuat aku muntah?," gumam Rasya kembali.


Hingga Rasya memutuskan gosok gigi tanpa pasta gigi. Aneh sih, tapi Rasya merasa tidak mual tanpa Pasta gigi itu. Setelah selesai menggosok gigi tanpa pasta giginya, Rasya langsung keluar kamar bukan meneruskan untuk mandi. Entah apa dengan dirinya, Rasya merasa tidak mau mandi saat ini.


Rasya memutuskan langsung keluar kamar, dan dengan langkah cepat menuju dapur.


Rasya mengambil air hangat untuk menetralisirkan rasa mual di dalam perutnya. Kemudian Rasya mulai membuka tudung saji yang di atas meja makan, mata Rasya berbinar saat melihat Ada masakan Soto Daging.


"Istriku ini benar-benar istimewa," Rasya bermonolog sendiri memuji istrinya.


Rasya mengambil mangkuk, dan menuangkan Soto daging tersebut ke dalam mangkuk. Dan dengan perasaan senang Rasya menyuap soto itu ke dalam mulutnya.


"Aku harus mengucapkan terima kasih banyak buat istriku tercinta, baru kemarin aku minta Soto sekarang dia mengabulkan nya."


Rasya dengan tersenyum dengan cepat menghabiskan makanan sotonya. Agar cepat-cepat menemui sang istri untuk mengucapkan terima kasihnya.


Selang beberapa lama Makanan pun habis, Rasya lalu menaruh mangkuk bekasnya di atas washtafel pencuci piring. Dan bergegas keluar rumah untuk menemui istrinya yang berada di toko kue.


Terlihat Sang istri sedang melayani pembeli, dengan senyuman merekah di bibir merahnya Adelia melayani pembelinya dengan sopan dan ramah. Rasya sudah tidak sabar untuk memeluk istrinya itu, tanpa menghiraukan dua wanita pembeli di depan nya, Rasya memeluk sang istri dari belakang.


"Mas, apa yang kamu lakukan?," tanya Adelia dengan melotot menoleh ke samping untuk melihat wajah Rasya.

__ADS_1


"Aku memeluk mu, Memangnya kenapa?," jawab Rasya dengan santai.


"Malu Mas, lihat didepan kita ada pembeli!" bisik Adelia.


"Kenapa harus malu?, kita suami istri dan ini hal wajar, Sayang...." Rasya seraya menghirup aroma yang menyerbak wangi dari tubuh istrinya.


"Gak apa-apa Neng Adel, suami Neng lagi ingin bermanjaan mungkin," celetuk ibu yang berbaju biru dengan terkekeh.


Adelia tersenyum dengan perasaan canggung bercampur malu.


"Iya Neng, saya juga ngalamin Pengantin baru. Bahkan saya setelah menikah kepengen nya di kamar terus, suami saya mau nya anu mulu," celetuk ibu yang berbaju jingga.


Seketika kedua pembeli itu tertawa.


Sedangkan Adelia sudah berona merah di wajahnya.


Mas Rasya ada apa dengan mu?.


Malu-maluin aja sih, harus di taruh dimana muka ku ini?. Batin Adelia.


"Mas, mending duduk sana!" titah Adelia dengan menunjuk kursi di sebelahnya.


"Enggak Sayang," jawab Rasya lembut.


"Oh, berarti nanti malam gak ada jatah, ya!!" bisik Adelia mengancam.


Rasya terdiam sejenak, dan dengan cepat melepaskan pelukan nya setelah tahu makna dari kata 'jatah' dari perkataan istrinya lalu duduk di kursi yang berada di sebelah Adelia.


Dasar suami mesum! dikatain gak bakal di kasih jatah baru di lepasin. Gerutu Adelia di dalam hatinya.


Kemudian fokus kembali pada kue tar yang sedang ingin di hiasnya. Ternyata salah satu dari ibu pembeli itu membeli kue Tar untuk ulang tahun anaknya.


Adelia tersenyum, "Tidak pakai apa-apa kok bu," lalu kembali menunduk dengan tangan nya terus menghias kue.


"Oh, iya Neng... Ada lilin nya juga?," tanya ibu yang berbaju jingga yang merupakan pembeli kue ulang tahun tersebut.


"Ada bu, angka berapa?," tanya Adelia.


"Angka 5 Neng," jawab si ibu baju jingga.


Saat Adelia ingin bergegas ke arah ettalase yang tersimpan lilin-lilin angka, Rasya mencegahnya. "Biar Mas yang ambil, kamu fokus ke kue Ultah nya saja!," Rasya dengan mulai menuju ettalase yang Adelia tuju.


Adelia tersenyum dan mengangguk.


Tangan nya kembali merias kue tar itu, dengan cepat kue tar itu selesai terhias.


Dan Rasya menaruh lilin yang berangka 5 di dekat kue hasil Adelia hias.


Adelia lalu membungkusnya ke dalam kemasan kardus, kemudian Adelia memasukkan nya ke dalam Paper bag yang bertuliskan Adelia Cake dan di serahkan kepada ibu yang berbaju jingga.


"Jadi semuanya berapa, Neng?," tanya si Ibu.


"Kue Tar tiga ratus lima puluh ribu, lilin lima ribu jadi, semuanya tiga ratus lima puluh lima ribu, Bu...."


Lalu ibu itu pun memberikan uang dengan sejumlah uang yang di sebutkan Adelia.


"Terima kasih banyak ya, Bu... sudah belanja di Toko Kue Adel, " Adelia dengan tersenyum menerima uang pembayaran kue dari ibu baju jingga.


"Iya Neng sama-sama. Kalau begitu Kami permisi ya...." pamit Ibu berbaju jingga dan di angguki ibu berbaju biru.

__ADS_1


"Iya bu, hati-hati...." Kata Adelia seraya melihat ke arah dua ibu itu pergi meninggalkan toko kue nya.


Kini tinggal Adelia dan Rasya.


"Mas, sudah sarapan nya?," tanya Adelia memastikan suaminya sudah sarapan atau belum.


"Sudah Sayang, makanya aku ke sini untuk mengucapkan terima kasih banyak untuk istriku yang cantik ini," kata Rasya dengan mulai memeluk kembali tubuh istrinya.


"Terima kasih untuk apa, Mas?," tanya Adelia tidak mengerti.


"Untuk Soto yang kamu buat," sahut Rasya.


"Soto?. Oh... iya sama-sama. Aku ingat kamu kemarin sempat meminta Soto, jadi tadi pagi aku buat Soto untuk mu," ucap Adelia dengan tersenyum.


"Sekarang kamu mau minta makanan apa, Mas? buat nanti makan siang?," kini Adelia menanyakan makanan untuk makan siang suaminya.


"Em... Apa ya?, aku sepertinya ingin mangga muda."


Adelia mengernyitkan dahinya merasa aneh dengan permintaan suaminya tersebut.


"Mana ada Mas, sekarang bukan musim nya" kata Adelia.


"Ya, tinggal beli kepasar atau ke tukang rujak."


Adelia terdiam dan berpikir dengan rasa bingung ada apa dengan suaminya itu, ada-ada saja permintaan nya tersebut, kemarin minta soto, sekarang ingin buah mangga muda.


"Nanti tunggu tukang rujak saja ya, Mas. Suka ada lewat nanti juga," kata Adelia menenangkan suaminya itu.


Rasya mengangguk.


"Bentar, Mas tidak mandi ya,?" tanya Adelia memperhatikan pakaian suaminya yang masih sama dengan pakaian yang semalam ia pakai. Rasya pun mengangguk kembali.


"Ih, kok Mas jorok. Kenapa tidak mandi?,"


"Aku lagi gak mau mandi. Dan entah kenapa aku juga muntah-muntah saat tadi pas gosok gigi pakai pasta gigi," keluh Rasya.


"Hah, jadi Mas gak gosok gigi juga?,"


Rasya menggeleng. "Gosok, cuma gak pakai pasta gigi," sahut Rasya santai.


"Astaga...." Adelia mengernyit merasakan sesuatu yang aneh dengan suaminya sekarang, yang biasanya tidak pernah jorok dan selalu menjaga penampilan.


Rasya kini tersenyum.


"Sayang...."


"Apa?," sahut Adelia.


"Ada permintaan yang satu ini, yang tak perlu mencari, atau membeli." Rasya dengan menurun-naikkan kedua alisnya.


"Mas minta apa?, akan Adelia buatkan!" sahut Adelia belum mengerti gelagat suaminya.


"Mas minta Jatah, Sayang...." Rasya dengan berbisik.


"Apa???"


...Bersambung....


Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote nya readers!!

__ADS_1


__ADS_2