You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 148.


__ADS_3

Dua hari kemudian di kediaman Rasya...


Rasya tersenyum puas saat ia membuka kemasan paket yang telah di terimanya. Ia berada di dalam kamarnya bersama Bima dan Sakti. Tentu Rasya mengatakan apa tujuan dan maksudnya kepada kedua temannya itu. Hingga kedua temannya itu tak menyangka kalau Rasya akan melakukan rencana yang menggelikan.


"Sya ... beneran elu yakin, dengan rencana elu ini, lu akan berhasil?" tanya Sakti yang masih ragu-ragu pada rencana yang akan Rasya lakukan.


"Gue yakin. Gue akan berusaha, hingga misi gue berhasil!" ucap Rasya yakin pada dirinya sendiri. Ia akan berusaha untuk melakukan misinya.


"Iya gue dukung. Kalau lu butuh bantuan, jangan lupa kontek kita!" sahut Bima mendukung dan menyuruh Rasya jika butuh bantuan, Rasya harus menghubunginya.


Sakti kini menatap satu bungkusan paket yang belum di buka Rasya.


"Sya ... ini pekat apaan?" kata Sakti bertanya dengan memegang bungkusan paket di tangannya. Tertera di luar bungkusan tersebut terkirim dari luar negeri.


Rasya meraihnya, "Oh ... ini. Kita lihat deh," ucapnya. Seraya tangan Rasya mulai membuka bungkusan peket tersebut hingga terbuka. Sakti dan Bima menatap isi paket yang terbungkus itu. Kemudian keduanya saling tatap satu sama lain.


"Ini topeng. Lihat wajahnya cantik sekali," seloroh Rasya dengan menenteng topeng karet yang berwajah wanita cantik.


"Gila loh, benar-benar persiapan yang apik!" puji Sakti yang merasa bahwa Rasya mempersiapkannya dengan detail.


"Gue gak akan asal-asalan. Gue harus terlihat semestinya jadi cewek beneran, demi merebut istriku," ucap Rasya dengan tergelak.


Sakti dan Bima pun ikut tergelak.


"Ayo coba Sya ... gue gak sabar lihat elu yang berubah jadi cantik!" titah Bima yang sudah membayangkan bagaimana Rasya memakai topeng beserta baju-baju muslimah yang sudah Rasya persiapkan.


"Sebentar ... gue ganti bajunya," ujar Rasya dengan membawa satu stel pakaian ke dalam kamar mandi. Yang merupakan tunik berlengan panjang, dengan celana legging panjang. Tak lupa Rasya juga menyiapkan satu pashmina beserta ciput untuk **********.


Selang beberapa menit, Rasya keluar dengan sudah memakai perlengkapan yang Rasya tadi bawa. Penampilan Rasya berubah drastis menjadi wanita muslimah yang begitu cantik. Hanya masih terlihat dari gestur tubuh Rasya yang terlihat kekar dan bidang.


Sakti berdecak kagum, melihat Rasya yang sudah memakai perlengkapan penyamaran nya itu. Di tambah Bima sampai melongo di buatnya.


"Hei, kalian sampai terpaku begitu, lihat gue yang cantik!" ucap Rasya dengan mulai merubah suaranya seperti wanita.


Sakti menggeleng-gelengkan kepala, "Elu bener-bener percis kaya cewek, Syaa ...," ucapnya.


"Iya. Gue sampai naksir lihatnya, lu cantik Syaa," sahut Bima dengan tergelak.


"Ih, kalian apaan sih. Aku gak suka gelaay," ucap Rasya dengan masih meniru suara wanita.


"Udah-udah. Terus, aksi lu mau mulai kapan?" tanya Sakti.


"Hari ini juga," ucap Rasya dengan suara aslinya.


"Eh, please bantu gue. Print photo-photo gue sama Adelia di ponsel gue, sebanyak-banyaknya," pinta Rasya kepada kedua temannya itu dengan menyerahkan ponsel mahal miliknya.

__ADS_1


"Siap!" jawab Bima yang bersedia.


"Untuk apa?" tanya Sakti penasaran.


"Buat alat menunjang misi," sahut Rasya.


Bima pun menuju komputer milik Rasya, dan mulai ngeprint photonya satu persatu. Sedangkan Rasya mulai berkemas dengan barang-barang yang akan ia bawa. Rasya memasukannya ke dalam koper kecil. Dari mulai pakaian, sandal wanita, tas wanita, dan perlengkapan shalat.


"Cepat banget!" ucap Rasya saat menerima photo-photo yang sudah berhasil Bima print.


"Em gimana segitu cukup?" tanya Bima.


"Ya cukup," sahut Rasya dengan memasukkan photo-photo tersebut ke dalam kopernya.


Setelah semua selesai. Rasya, Bima dan Sakti turun menuju lantai bawah. Saat sudah berada di bawah Lia menatap heran kepada Bima dan Sakti yang turun bersama seorang wanita.


"Sakti, Bima, kamu sama siapa? dan Rasya mana?" tanya Lia dengan penasaran tiba-tiba ada seorang wanita di rumahnya, dan bahkan turun dari arah kamar Rasya.


Rasya tersenyum kepada Lia. Bima dan Sakti seketika menatap Rasya, seperti sedang bertanya lewat tatapan, untuk memberitahu Lia atau tidak.


"Maaf tante kita buru-buru!" ucap Sakti karena tidak mau memberitahu Lia. Karena Rasya sendiri hanya diam saat di tanya lewat tatapan.


Sakti dan Bima cepat melangkah meninggalkan Lia, sedangkan Rasya masih berdiri di depan Lia.


"Ma, do'ain Rasya. Semoga Rasya berhasil," ucap Rasya seraya mencium tangan Lia.


"Tunggu!" teriak Lia saat menghentikan wanita berhijab yang akan masuk ke dalam mobil Sakti.


"Rasya, ini kamu?" tanya Lia yang kini sudah mendekat.


"Rasya syuting dulu ya Ma, do'ain ya biar Rasya berhasil" ucap Rasya dengan cepat masuk ke dalam mobil Sakti. Tidak mungkin ia menceritakan semua rencananya, kepada Lia.


"Syuting? apa sekarang Rasya bergelut dengan seni peran? tapi kenapa harus menjadi wanita jadi-jadian?" gumam Lia dengan menatap kepergian mobil Sakti.


Lia mengira Rasya sedang mengikuti peran dalam sebuah film, tapi kenapa harus menjadi seorang wanita? Lia tak habis pikir dengan Rasya yang menerima pekerjaan seperti itu. Lia pun memilih untuk masuk ke dalam rumahnya dengan berbagai pertanyaan aneh akan tentang yang Rasya lakukan. Bahkan Lia akan membungkam dari Hadi suaminya, pasti Hadi akan menentang apa yang kini Rasya lakukan sebagai seni peran, karena Lia sudah menduganya.


Tiga puluh menit kemudian...


Mobil yang Sakti kendarai sengaja ditepikan di arah jalan yang agak jauh dari gerbang pagar rumah Albi. Rasya turun dengan mendorong koper kecil miliknya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Adelia istrinya.


Bismillah ... aku pasti berhasil.


Rasya berucap di dalam hati menyemangati dirinya. Lalu menarik nafas dengan dalam saat langkahnya sudah mendekat pada pos penjaga gerbang Albi.


"Permisi, Pak!" ucap Rasya dengan mode suara wanita. Ia tersenyum kepada dua penjaga rumah Albi.

__ADS_1


Sungguh suara Rasya yang kalem, renyah di dengar, bisa menirukan suara wanita dengan mudah. Sehingga dua penjaga tersebut tidak mencurigai Rasya, hanya dua penjaga tersebut menatap heran pada tinggi badan Rasya, dengan berdada bidang, dan terlihat kekar.


Tapi kedua penjaga tersebut terkesiap saat menatap wajah di balik hijab Rasya yang cantik.


"Neng cantik, ada perlu apa?" tanya salah satu penjaga.


Rasya tersenyum seperti wanita yang ramah pada umumnya, "Maaf Pak saya dari Yayasan, saya ke sini di utus menjadi pelayan rumah Tuan Albian," ucapnya.


"Oh gitu? ya sudah, silahkan Neng cantik masuk!" kata salah satu lagi penjaga gerbang tersebut.


"Terima kasih Pak," sahut Rasya.


"Eh Neng siapa namanya?" tanya salah satu penjaga itu.


Aduh siapa ya namanya?


Rasya berpikir terlebih dahulu, "Em ... nama saya Alsa. Iya saya Alsa," ucap Rasya saat melintas nama Alsa di dalam pikirannya.


"Si Eneng gugup ya?, kenalin saya Tono, dan ini teman saya Budi," kata Tono memperkenalkan dirinya dan juga temannya. Dengan terus tersenyum kepada Rasya.


Astaga tua-tua ganjen juga ini.


"Baik, Pak Tono, Pak Budi. Jadi sekarang saya boleh masuk? atau salah satu dari kalian mau antar saya?!" sahut Rasya dengan sopan.


"Saya saja neng yang antar. Ayo Mari!" kata Budi lalu berjalan di depan Rasya.


Detak jantung Rasya sudah berdetak kencang, merasa gugup, karena akan bertemu dengan kekasih hatinya. Rasya kini sudah berdiri di depan pintu utama rumah Albi, masih di temani Budi.


"Di rumah hanya ada Nona Arumi istrinya Tuan Albi. Kebetulan Tuan Albi masih bekerja di kantor," tutur Budi seraya tangannya memencetkan bell rumah.


"Oh begitu ya, Pak" sahut Rasya dengan sudah tidak sabar ingin bertemu Adelia.


Tak lama Pintu Rumah terbuka, memperlihatkan wanita cantik dengan baju rumahan. Wanita itu tersenyum kepada dua orang yang berada di hadapannya.


"Ada apa ya Pak,?" tanya Adelia menatap kepada Budi.


Rasya yang menjadi gugup mendengar suara Adelia, seketika ia menunduk.


Lihatlah, semudah ini aku bisa menemukan dan menemui mu, Istriku. batin Rasya.


"Ini Non ada pelayan baru," ucap Budi.


Lalu Adelia menatap kepada Rasya. Adelia seperti memindai penampilan Rasya dari atas hingga bawah.


"Jika Nona tidak berkenan, Nona bisa menolaknya. Begitu perintah Tuan Albi," ujar Budi mengatakan apa yang pernah Albi katakan kepadanya, bila ada yang melamar menjadi pelayan, lalu Adelia tidak menyukainya, Adelia boleh untuk menolaknya.

__ADS_1


Aduh bagaimana ini, bagaimana kalau istriku menolaknya? batin Rasya mulai tak tenang.


...Bersambung....


__ADS_2