You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 244.


__ADS_3

"Tuan Albi ... maksud anda apa , mengapa saya bersama anak dan istri saya harus di tahan seperti ini. Kesalahan kami apa?!" teriak Rony yang tidak menyadari semua perbuatan dan kesalahannya.


Rony kini menatap Hadi, "Hadi, kawanku ... apa kamu tahu apa salahku? apa kalian menjebakku?!" teriak Rony kembali.


Albi hanya tersenyum sinis. Begitupun Hadi.


Albi perlahan membuka ponselnya, dan mengarahkan sebuah video dimana Rony dan Alin sedang berbicara. Berbicara tentang kejahatannya.


Rony, Alin, dan Ariyanti pun menatap layar ponsel Albi. Kemudian ketiganya menggelengkan kepala samar.


"Tidak, itu salah! aku tidak pernah melakukan itu!" elak Rony, kemudian menatap Hadi berharap Hadi tidak percaya pada videonya.


Rasya kini mendekat, "Om ... sebenarnya kami sudah tahu apa yang om lakukan bersama keluarga. Tapi, karena kami butuh bukti terlebih dahulu. Maka sekaranglah, bukti-bukti itu ada." Rasya lalu beralih menatap Ariyanti. "Dan untuk kau Ariyanti! jangan pernah bermimpi untuk bersanding denganku, ingat! semua yang ku lakukan itu, hanya sebagai umpan!" tunjuk Rasya pada Ariyanti.


Rasya kini tahu apa permasalahannya. Rasya sempat menonton video yang Albi punya, dari Albi langsung menyerahkan ponselnya saat menunggu keluarga Rony itu datang.


Ariyanti menggeleng, "Tega kamu ya, kamu mempermainkan aku!"


Rasya terkekeh, "Tega? lebih tega mana, seorang sahabat yang membenci sahabatnya sendiri karena perusahaannya lebih maju?, dan melakukan pembunuhan?!" suara Rasya menggelegar membuat Ariyanti merinding. "Dan kau hampir mencelakai istriku!" lanjut Rasya dengan tatapan tajam.


Lia hanya terdiam mendengar semuanya. Ia masih syok dengan apa yang telah keluarga Rony lakukan selama ini. Karena Lia tidak sedikitpun punya rasa curiga dengan sikap mereka yang memang begitu baik sebagai sahabat semestinya.


"Diam kau! kau tak tahu apa-apa!" Rony membentak Rasya. Karena tidak terima anaknya di maki Rasya.


"Bara adikmu telah menghamili adikku. Aku murka, aku marah. Sehingga aku lakukan itu!" jelas Rony kepada Hadi.


"Kenapa dengan cara seperti itu Om? bisakah, di nikahkan. Pasti mereka saling mencintai, hingga melakukan hal seperti itu," timpal Rasya. "Bukan harus di bunuh. Buktinya adik Om, jadi gila kan?" lanjut Rasya.


"Aku tidak mau menikahkan adikku dengan adikmu Hadi. Karena aku sudah merencanakan perjodohan," Rony menjelaskan.


"Dengan yang lebih kaya Raya?" sahut Hadi kini bersuara.


Rony hanya tersenyum.


"Rony. Sebenarnya aku sangat kecewa atas semua sikapmu yang lembut. Tapi ternyata kau tidak jauh dari ib*is. Kau melakukan cara untuk menjatuhkan perusahaanku. Dan yang lebih parah lagi kau membunuh Wira dan menguasai perusahaannya. Apa kau tahu anaknya bertahun-tahun bertahan untuk mencari penyambung hidup. Membiayai rumah sakit ibunya, dan menjual rumahnya. Hingga kuliah saja tidak selesai. Karena siapa? karena kau, RONY DARMAWAN!!" Hadi berujar mengatakan kehidupan Adelia yang setelah meninggalnya Wira, Adelia hidup menderita. Dan Hadi tahu dari cerita Lia, karena Rasya yang selalu menceritakannya kepada Lia.


Rony terdiam. Begitupun Alin.

__ADS_1


"Dan kau ingin tahu siapa anak Wira?" pekik Hadi. Rony hanya terdiam saja.


"Wanita yang hampir celaka karena ulah anakmu!" lanjut Hadi kembali.


Ariyanti terperangah kaget, tatapannya langsung tertuju kepada Rasya.


"Semoga. Hukuman untuk kalian setimpal dengan kejahatan yang telah kalian lakukan. Dan selamat. Semoga kalian betah dalam ruangan persegi tersebut," Albi bersuara. "Silahkan Pak, Bu. Masukan kembali. ke tempat yang semestinya mereka berada!" titah Albi kepada polisi jaga tahan mereka.


Dan Ketiganya di giring kembali untuk masuk kedalam sel tahanan.


***


Setelah dari kantor polisi. Rombongan tadi kini beralih ke Rumah Sakit. Rasya yang baru saja sampai langsung melangkah lebar. Entah tidak mau lebih dulu oleh Albi, atau memang Rasya ingin cepat-cepat ke ruangan istrinya.


"Sayang," Rasya yang langsung membuka pintu ruangan rawat Adelia.


Terlihat Adelia dan Rara sedang tertawa.


"Mas," sapa Adelia saat melihat Rasya datang dan memanggilnya.


Rasya langsung memeluk Adelia lalu menghujani ciuman di wajahnya. Tanpa menghiraukan keberadaan Rara. Rara yang merasa tidak nyaman, ia memilih keluar ruangan.


"Benarkah?" tanya Adelia ingin memastikan.


"Iya Sayang. Dan aku kalah. Aku tidak becus dalam melakukan tugas," ucap Rasya sendu. Karena Rasya merasa malu, bukan dirinya yang telah berhasil melakukan tugas itu. Namun, Albi yang tidak Rasya sukai.


"Maksud Mas, apa? bukankah mereka sudah tertangkap? lalu tidak bisa nya dari mana?"


Rasya menggeleng, "Bukan aku yang melakukannya. Melainkan orang lain."


Adelia akhirnya paham. Mengapa Rasya menjadi sendu seperti itu. Namun, Adelia penasaran siapa yang telah melakukannya.


"Memang siapa Mas yang sudah melakukannya?"


"Entahlah. Aku malas mengatakannya," lalu Rasya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan perut Adelia. Ia mencium perut Adelia. Dan mengelusnya dengan lembut.


Bersamaan dengan pintu yang di buka. Albi datang dengan Lia, Hadi di belakangnya. Lia dan Hadi hanya tersenyum menatap Rasya yang sedang mengelus-elus perut Adelia. Berbeda dengan Albi. Ia wajahnya berubah sendu.

__ADS_1


Adelia yang merasa mendengar pintu di buka. Menatap ke arahnya. Lalu Adelia tersenyum saat melihat kedatangan kedua mertuanya, dan Adel pun tersenyum juga kepada Albi.


"Ma, Pa, Mas ...," sapa Adelia. Membuat Rasya menatap juga ke arah tatapan Adelia.


"Sayang kita USG dulu!" ajaknya. Tidak mau melihat Adelia di tatap Albi. Rasya memilih untuk mengajak Adelia keluar ruangan.


"Mama ikut. Mama juga ingin tahu perkembangan cucu Mama," sahut Lia.


"Papa juga," Hadi pun antusias.


"Saya juga. Saya ingin tahu bagaimana keponakan saya tumbuh di dalam perut ibunya," timpal Albi dengan sengaja ingin menggoda Rasya. Ia tahu dari raut wajah Rasya. Keberadaannya tidak di sukai Rasya.


Rasya melongo. Namun kemudian ia menatap tajam kepada Albi.


"Ayo sayang," tanpa menyahuti kedua orang tuanya dan Albi. Rasya mendudukan Adelia pada kursi Roda.


"Biar mama yang dorong, ya" Lia menawari.


Rasya menggeleng. "Biar Rasya saja, Ma" ucapnya menolak.


Rasya dengan berlalu begitu saja. Mendorong Adelia keluar dari ruangan itu. Namun, tetap di ikuti oleh Lia, Hadi, dan Albi.


***


"Wah, bu ... lihat sudah terlihat jenis kelaminnya. Bahkan ada dua," ujar Dokter Risa memperhatikan dua kantung janin yang tumbuh di rahim Adelia melalui layar monitor.


Adelia dan Rasya saling pandang. Sejurus kemudian keduanya tersenyum haru.


"Maksud dokter, kembar?" tanya Lia yang ikut masuk ke dalam ruangan begitupun Hadi dan Albi.


"Iya bu. Cucu anda kembar. Dan kembar pria dan wanita," tutur Dokter Risa.


"Apa?" Rasya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Lia dan Hadi pun merasa senang.


"Semoga kamu bahagia Adelia ... aku akan bahagia, bila kamu bahagia," Albi berbicara di dalam hati seraya menatap layar yang menampilkan dua janin yang tumbuh dalam rahim Adelia. Albi merasakan haru juga. Albi berharap wanita yang di cintainya bahagia.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2