
Saat mata pelajaran berakhir. Semua teman kelas Serly mendatangi tempat duduk Serly. Mereka mengucapkan selamat silih berganti atas Serly yang akan bertunangan dengan Dido. Bahkan ada yang mengucapkan terima kasih atas undangannya.
Sementara Serly menanggapi dengan anggukan kepala dan di tambah sebuah senyuman. Walau di dalam hatinya masih bertanya-tanya siapa yang sudah menyebarkan undangan tersebut tanpa sepengetahuan dirinya.
Dari semua teman kelas Serly. Hanya Kevin yang masih terduduk di tempatnya. Pemuda itu merasa patah hati berkeping-keping. Merasa sudah tidak ada cara lagi untuk mendekati Serly. Kevin sudah lama mencintai Serly sejak menginjak SMA. Dan di saat Kevin mengungkapkan perasaannya saat sudah menginjak bangku Kuliah. Kevin mendapatkan penolakan dari Serly. Yang beralaskan Serly ingin fokus belajar tanpa pacaran. Tapi nyatanya, yang Kevin tahu Serly malah sudah menjalin hubungan dengan Aldi. Dan pada hari ini kenyataan lain datang, bahwa gadis yang sudah lama di cintainya malah akan bertunangan dengan Dido mahasiswa populer di Kampus itu.
Serly dan Kikan keluar dari dalam kelas. Keduanya melangkah bersamaan. Kevin mengikuti dari belakang tanpa keduanya tahu. Kevin ingin sekali meminta permintaan kepada Serly untuk pertama dan terakhir kalinya, sebelum Serly benar-benar di miliki oleh orang lain.
Baru saja Kevin ingin membuka suara. Suara Kikan lebih dulu mendahuluinya. Dan ucapan Kikan membuat menarik keingintahuan Kevin.
"Ser ... ayo cerita! aku sudah gak sabar ingin dengar alasan kamu yang malah akan bertunangan dengan Kak Dido?!" ucap Kikan.
Serly mengangguk. Lalu menarik tangan Kikan ke sudut koridor Kampus. Kemudian Serly menengok ke arah kiri, kanan, depan serta belakang. Memastikan tidak ada orang yang akan mendengar apa yang akan Serly sampaikan kepada Kikan.
Tapi tanpa Serly tahu Kevin lebih dulu bersembunyi di balik pilar belakang tubuhnya.
"Kikan kita duduk di sini," kata Serly seraya mendudukan tubuhnya terlebih dahulu.
Kikan menurut. Karena sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan yang akan Serly katakan.
"Ayo Ser, sumpah aku sangat penasaran. Dan aku sungguh tak tenang!" Kikan langsung menyuruh Serly untuk memulai ceritanya.
Serly menatap Kikan, "Kamu ingat saat Rindu memberikan minuman kepada ku?" tanya Serly.
Kikan mengangguk cepat, "Tentu aku ingat. Si Rindu sudah jahatin kamu dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minuman itu," jawab Kikan.
"Ya dari situlah alasan yang kuat membuat aku dan Kak Dido menjalin hubungan," kata Serly dengan menghembuskan nafas berat di akhir kalimatnya.
Kikan mengerutkan kedua alisnya bingung. Merasa tidak mengerti atas ucapan Serly. Namun beda dengan Kevin yang mendengarkan di balik pilar. Ia langsung mengerti. Dan menahan geram akan perbuatan Rindu yang telah membuat Serly dan Dido menjalin hubungan.
'Seandainya waktu itu aku yang membawa Serly dan menolongnya. Sudah pasti aku yang akan merasakan semuanya. Dan mungkin saat ini aku akan berada di sampingnya untuk menanggung jawab,' batin Kevin berbicara.
Kikan masih belum mengerti, ia masih meminta penjelasan kepada Serly.
"Maksudnya gimana?" Kikan dengan berpikir. "Dari minuman yang dari Rindu. Tiba-tiba kamu memiliki hubungan dengan Kak Dido. Maksudnya gimana sih?" Kikan masih belum mengerti.
Serly menggeleng samar merasa gemas kepada temannya yang telat memahami ucapannya.
__ADS_1
"Masa harus aku jelaskan secara detail sih Ikan," suara Serly dengan menahan gemas.
"Suer, aku gak mengerti Ser. Gara-gara minuman itu kamu jadi punya hubungan dengan Kak Dido. Dan kamu jadi mencampakkan Bang Aldi. OMG sumpah aku gak ngerti," cicit Kikan dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Serly sudah tidak mau bercerita lebih. Ia memilih terdiam dengan menatap Kikan yang terus berpikir mencerna ucapan Serly yang belum sampai pada otaknya.
"Ikan udah kalau belum paham jangan di paksa. Nanti kamu malah pusing jadinya," kata Serly yang malah pusing sendiri melihat Kikan terus memutar-mutarkan bola matanya untuk berpikir.
"Kenapa tidak di bicarakan langsung pada intinya saja?!" Kevin keluar dari balik Pilar dengan menatap dalam mata Serly.
Serly menahan saliva. Tentu karena terkejut dengan Kevin yang muncul tiba-tiba.
"Ke-kevin?!" panggil Serly dengan wajah terkejut serta gugup.
"Ya? boleh aku bantu menerangkan kepada Kikan yang telmi ini!" Kevin seperti biasa selalu mengejek Kikan jika sudah bertemu.
Kikan memanyunkan bibirnya dan langsung memukul lengan Kevin dengan keras.
"Rasain! sakit ya?" ucapnya saat melihat Kevin meringis.
Serly tertegun merasa tahu yang di ucapkan Kevin merupakan sindiran untuk dirinya. Membuat Serly memilih menunduk tidak berani menatap Kevin.
"Ngaco banget sih kamu Vin!" Kikan terkekeh.
Sementara Kevin terus menatap Serly dengan sorot mata yang dalam. Seperti matanya itu mengatakan bahwa dirinya sedang terluka yang amat dalam.
"Eh, aku lupa ada janji sama Nyokap. Ser ... aku duluan ya!" Kikan langsung beranjak dengan tergesa setelah mendapat pesan dari Ibunya.
Serly menganga. Sedetik kemudian Serly berteriak memanggil Kikan.
"Kikan tunggu!" panggilnya dengan melangkah cepat.
Namun baru Serly melangkah. Kevin memanggil dan membuat langkah Serly tertahan.
"Serly tunggu!"
Serly menoleh, "Ada apa Vin?" dengan menatap Kevin sekilas kemudian menunduk.
__ADS_1
Kevin mengulurkan tangan kanannya, "Selamat ya! akhirnya Kak Dido anak sang pemilik Kampus ini yang menang memiliki kamu," ucapnya.
Serly menatap tangan Kevin. Sembari ucapan Kevin di cerna dengan baik oleh Serly. Detik kemudian Serly tercengang, merasa terkejut dan baru tahu jika Tuan Malik adalah pemilik Kampus ini.
"Sama-sama," Serly membalas uluran tangan Kevin.
Kevin menggenggam tangan Serly dengan erat. Membuat Serly langsung menatap Kevin untuk protes.
"Vin aku--"
"Biarkan dulu! aku mohon," ucapnya lirih.
Serly bingung. Mau menolak takut Kevin kecewa. Di tambah tempatnya sangat sepi. Lorong Kampus tersebut jarang ada yang melewati di karenakan buntu. Serly takut terjadi kesalah pahaman. Walau Serly tahu Kevin pria baik, tidak pernah aneh-aneh kepada dirinya.
"Ser, boleh aku meminta sesuatu untuk pertama dan terakhir kalinya?"
Serly menatap Kevin dengan merasa bingung. Bingung apa yang akan pinta oleh Kevin dari dirinya.
"Kamu mau minta apa Vin?" Serly walau bingung masih ingin tahu dan menanggapi tentang apa yang di minta Kevin.
Kevin menarik tangan Serly yang sedari tadi ia genggam. Sehingga Serly terjerembab tepat pada dada bidang milik Kevin.
"Vin apa maksud ka--"
"Ini permintaan pertama dan terakhir ku Ser. Aku ingin meluk kamu seperti ini," ucap Kevin memotong ucapan Serly yang protes.
Kevin memeluk Serly dengan erat. Jantung Kevin yang berdetak kencang begitu terdengar di telinga Serly yang menempel di dada. Ini pertama kalinya bagi Kevin memeluk seorang wanita. Apalagi wanita yang di peluknya, adalah wanita yang sangat di cintainya.
Kevin sedikit memundurkan tubuhnya dengan tangannya masih memeluk tubuh Serly erat saat mendengar ada suara langkah kaki ke arah lorong tersebut. Sehingga Kevin dan Serly kini terhalang oleh pilar besar.
"Vin ja--"
"Shutt!" Kevin menempelkan telunjuk tangannya pada bibir Serly untuk tidak berbicara.
Kevin merasa suara langkah kaki tersebut mendekat ke arah dimana dirinya dan Serly berada.
...***...
__ADS_1