You Are My Mine

You Are My Mine
Kedatangan Tamu.


__ADS_3

"Hai... Adelia. Apa kabar?." Tanya orang tersebut.


"Kabar baik. Bagaimana dengan kabar mu?." Tanya Adelia kembali.


"Aku baik juga." Jawab seseorang itu.


Adelia pun menyuruh orang tersebut untuk masuk. Orang tersebut pun menurut dan duduk di sebelah Adelia dan Rara yang sudah duduk.


"Aku datang ke sini ingin menanyakan keberadaan Rasya?." Tanya Ariyanti.


Ya Seseorang yang datang bertamu ke rumah Adelia adalah Ariyanti.


Adelia dan Rara seketika bertatap satu sama lain merasakan heran dan juga bingung.


"Keberadaan Rasya?." Adelia bertanya kembali dengan perasaan bingung.


"Iya. Aku yakin kamu tahu tentang ia sekarang berada di mana." Tutur Ariyanti yakin.


"Bukan kah kamu istrinya?. Kenapa bertanya kepada Saya?." Adelia masi dengan perasaan bingung nya.


"Karena aku yakin. Kamu masih berhubungan dengan Rasya, walaupun kami sudah menikah." Ariyanti dengan menatap tajam.


"Apa yang membuat Anda Yakin. Kalau saya masih berhubungan dengan Rasya?." Adelia tidak kalah menatap dengan tajam ke arah Ariyanti.


Rara hanya bisa diam. Ia hanya bisa melihat dan mendengar dengan perasaan tegang.


"Selama Dua minggu kami menikah. Ia tidak pernah tidur seranjang dengan ku, bahkan waktu berangkat kerja ia sengaja pergi ketika aku masih terlelap tidur. Ia tidak pernah berbicara, ia dingin, cuek, ke semua orang rumah. Dia seperti itu pasti ulah mu, yang membuat dia jadi begitu pasti kamu." Ariyanti dengan terisak dan tak sengaja membeberkan kondisi rumah tangga nya.


Adelia yang mendengarnya begitu syok, ia sungguh terkejut. Adelia pikir Rasya kini telah berbahagia dengan Ariyanti, tapi ternyata Rumah tangga yang baru dua minggu itu, dari awal pertama menikah sungguh mengejutkan Adelia.


"Kamu tahukan sekarang Rasya dimana?." Tanya Ariyanti kembali.


Adelia menggelengkan kepalanya, memang ia tidak tahu akan keberadaan Rasya.


"Memang Rasya sejak kapan tidak pulang?." Kini Rara mencoba untuk bertanya.


"Baru satu hari." Jawab Ariyanti.


Rara yang mendengar jawaban Ariyanti langsung Tertawa.


"Ya Ampun Baru satu hari. Elu sudah berani mengusik ketenangan Adelia?." Rara menatap sengit ke arah Ariyanti.


"Aku hanya berdasarkan keyakinan ku. Aku yakin Adelia tahu keberadaan Rasya." Yakin Ariyanti.


"Kalau Adelia tidak tahu bagaimana?." Rara dengan bersuara tinggi.


"Aku yakin Adelia tahu." Ariyanti tetap yakin.


"Cukup kamu Ariyanti. Aku tidak mengetahui dimana keberadaan Rasya. Dan harus kamu tahu setelah kalian bertunangan aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Rasya suami mu. Aku tidak terima kamu datang ke sini untuk mencari keberadaan suami mu. Sungguh aku tidak terima." Adelia sudah merasa emosi dengan ucapan Ariyanti yang begitu yakin akan Adelia mengetahui keberadaan suaminya.


"Kamu dengar?." Rara ikut meyakinkan Ariyanti.


Ariyanti berdiri.


"Ok aku percaya saat ini kamu tidak mengetahui keberadaan nya. Tapi awas jangan sampai kamu masuk dalam rumah tangga kami. Jika itu terjadi aku tak akan membiarkan hidup kamu tenang. Ingat itu.!!" Ariyanti mengancam Adelia, dan pergi berlalu meninggalkan rumah Adelia.


Adelia yang mendengarnya ia hanya bisa terdiam.


"Berani-berani nya kau mengancam Adelia..." Teriak Rara dengan emosi, karena mendengar Ariyanti mengancam Adelia.


"Sudah Ra. Biarlah... " Adelia mencegah Rara untuk tidak melanjutkan ucapan nya.


"Tapi Del. Dia sudah keterlaluan menuduh Lu tanpa bukti, bahkan dia Mengancam Lu." Rara masih sedikit emosi.


"Iya gak apa-apa Ra. Yang penting semua tuduhan nya itu tidak benar." Ucap Adelia menenangkan Rara yang masih emosi.

__ADS_1


Rara pun akhirnya terdiam. Lalu kini ia ingat akan kejadian Adelia yang menangis setelah berbicara berdua bersama Rima.


"Del...."


"Iya Ra." Adelia menoleh.


"Gue boleh tanya?."


"Tentang apa?." Tanya Adelia.


"Lu kemarin nangis setelah ngobrol berdua dengan si Rima. Apa yang membuat Lu nangis Del?." Tanya Rara penasaran akan kejadian kemarin.


Martin datang lalu berhenti di ambang pintu, ia berniat menguping pembicaraan Adelia bersama Rara.


"Kemarin... Aku sungguh syok Ra. Tentang kejadian yang Rima katakan. Aku sungguh tak menyangka. Benar-benar tak menyangka..." Adelia berubah wajahnya menjadi sendu, dan sedih.


Martin masih terdiam di tempatnya, ia masih penasaran akan apa yang akan Adelia katakan.


"Tentang apa Del?. Ayo Cerita sama gue. Kenapa Lu jadi sedih gini?." Tanya Rara yang kaget Wajah Adelia menjadi sedih.


"Rima Di Perkosa." Ucap Adelia.


"Apa?." Rara melotot.


Martin Juga terkejut mendengarnya.


"Lu tahu siapa yang lakuin nya?." Tanya Rima kembali.


"Iya aku Tahu. Rima mengatakan nya pada ku. Bahkan ada buktinya." Adelia mulai menitikkan Air matanya.


Martin pun masih mencoba diam di tempat. Ia penasaran akan siapa yang di ucapkan selanjutnya oleh Adelia, mengenai yang telah memperkosa Rima.


"Siapa Del. Ayo katakan.!" Perintah Rara.


"Apa?." Rara mengatakan kata Apa, bersamaan dengan Martin.


Rara dan Adelia pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, Adelia melotot kaget melihat Martin yang berdiri di ambang pintu. Rara Juga begitu tak kalah kaget.


Martin mulai melangkah dan mendekati Adelia, dengan tatapan yang meyakinkan dirinya tidak pernah melakukan apa yang di katakan tersebut.


"Del... Apa kamu percaya aku melakukan nya?." Tanya Martin kemudian.


Adelia terdiam.


"Tapi aku lihat buktinya Martin." Ucap Adelia.


"Tapi aku tidak pernah melakukan nya." Bantah Martin.


"Tentu kamu tidak akan ingat. Karena kamu melakukan nya dengan keadaan mabuk." Timpal Adelia.


Martin mencerna Kata Mabuk yang di ucapkan Adelia, ia teringat kala itu. Ia mabuk dan datang ke rumah kediaman nya, lalu meminta Rima untuk membantu memapah nya, dan setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi. Martin mengingat ia terbangun pagi-pagi, dan sudah bertelanjang dada.


Apa mungkin iya?.


*Batin Martin.


"Arghhhhhh......." Martin mengerang dengan menjambak rambutnya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya merasakan bahwa itu tidak benar pikirnya.


"Dan untuk pernikahan kita. Kita batalkan. Kamu harus menikahi Rima. Kamu harus bertanggung jawab." Adelia dengan berurai air mata.


"Tidak Adelia. Aku akan tetap menikah dengan kamu. Kamulah wanita satu-satunya yang aku cintai." Martin dengan Menatap Adelia.


"Itu tidak akan terjadi Martin. Kamu harus menikah dengan Rima. Aku tidak mau sampai dia hamil, dia butuh pertanggung jawaban mu." Adelia dengan terisak.


Rara yang melihatnya ikut bersedih akan nasib cinta Adelia.

__ADS_1


Martin pun menghembuskan nafas dengan dalam.


"Ayo kamu ikut aku." Ajak Martin.


"Kemana?." Tanya Adelia.


"Kita temui Rima. Kita buktikan itu tidak benar." Martin dengan tegas.


"Tidak usah Martin. Aku percaya. Dia mempunyai buktinya. Dan Aku kecewa sama kamu.... Ketika aku sudah benar-benar mencintai kamu. Kamu malah membuat hati ku sakit. Sempat aku tidak percaya. Tapi bukti itu menguatkan mu." Adelia dengan terus menangis.


Martin mencoba menggenggam tangan Adelia. Adelia pun melihat tangan nya yang ia genggam dengan menangis.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu hal itu terjadi. Aku sungguh tidak mengingatnya." Martin mencoba merangkul dan memeluk Adelia.


Adelia pun membalas pelukan Martin dengan terus menangis.


Rara yang merasakan sedih, akhirnya meninggalkan Adelia untuk berdua bersama Martin.


"Martin berjanjilah pada ku." Adelia dengan mendongak kan kepalanya.


"Berjanji untuk apa?." Tanya Martin.


"Berjanji untuk menikahi Rima." Ucap Adelia.


Martin menggeleng kan kepalanya. Ia tidak mau berjanji untuk menikah dengan Rima.


"Please Martin. Aku mohon. Aku tak mau orang yang aku cintai lari dari tanggung jawabnya." Kata Adelia.


"Aku akan menikahi dia. Tapi setelah aku menikah dengan mu. Bagaimana?." Ucap Martin.


"Hah. Apa kau ingin memiliki istri dua?." Tanya Adelia.


"Bukan seperti itu. Aku harus tetap menikahi kamu. Karena yang ku inginkan menikah dengan mu bukan dengan dia." Tegas Martin.


"Tapi...." Ucapan Adelia terhenti kala telunjuk Martin menutup bibir Adelia.


"Sudah jangan membantah. Kamu ingin aku menikahi nya kan?. Ya harus seperti itu, aku menikah terlebih dahulu bersama kamu." Martin dengan mengecup bibir Adelia yang terdiam.


Akhirnya Adelia pun mengangguk, dan menerima keputusan Martin yang akan tetap menikahi nya. Kemudian Martin mulai memiringkan wajahnya, tangan nya mulai menekan tengkuk Adelia. Adelia seketika memejamkan matanya. Martin pun dengan cepat melahap bibir ranum milik Adelia mencium nya dengan lembut. Adelia pun melingkarkan tangan nya ke tubuh Martin yang memang sedari tadi berpelukan.


Martin melepaskan ciuman nya. Dan menatap Wajah Adelia yang sedikit pucat.


"Apa kamu sedang sakit?." Tanya Martin.


"Tidak. Hanya aku semalam habis pingsan." Jawab Adelia.


"Pingsan?." Martin dengan cemas.


"Iya. Aku juga tidak mengingat nya." Ucap Adelia.


"Siapa saja yang berlibur?." Tanya Martin.


"Aku, Rara, Rima dan kedua teman nya." Adelia dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Martin.


"Cewek semua?." Tanya Martin lagi.


"Tidak. Cowok nya satu." Jawab Adelia.


"Cowok nya satu?. Jadi tidak semuanya Cewek." Martin dengan sedikit melotot.


"Iya.." Ucap Adelia.


Mendengar tidak semua Wanita yang ikut berlibur, Martin merasa cemas. Namun kecemasan nya terlambat, karena baru sekarang ia mengetahuinya.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2