
Di rumah yang megah Adelia sedang duduk santai dengan membaca buku yang semalam di belinya. Adelia membaca buku tentang Pernikahan, yang berisi tentang Pahala Pernikahan serta apa saja yang harus di lakukan Seorang Istri dan Suami terhadap Pasangannya.
Adelia mencerna setiap kata yang ia baca, bagaimana menjadi seorang istri yang baik, dan cara memperlakukan suami.
Namun, tiba-tiba suara bell ada yang memencet. Membuat Adelia menutup buku yang di bacanya, dan bergegas menghampiri Pintu Utama.
Ceklek...
Adelia membukakan Pintu, dan Adelia terkesiap saat menatap tiga orang di depannya. Adelia mencoba berpikir namun, tidak dapat mengingatnya. Terlebih lagi tiga orang di depannya seperti sedang menelisik, memperhatikan penampilan Adelia dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tiga orang tersebut seperti memindai dan menilai Adelia.
"Selamat Siang," sapa Adelia tersenyum ramah memecah kesunyian dan kecanggungan.
Dua orang tersenyum tapi tidak dengan wanita satunya lagi.
"Siang juga. Kami boleh masuk?," tanya seorang Pria di antara tiga orang tersebut.
"Tentu silahkan," jawab Adelia dengan memberi jalan untuk ketiganya masuk.
Sepertinya itu keluarga Mas Albi.
Adelia menyusul tiga orang tersebut masuk.
Dan terlihat tiga orang itu duduk di sofa ruang tamu. "Maaf, Tuan, Nona, dan Nyonya apa kalian merupakan keluarga Mas Albi?" tanya Adelia penasaran.
Pria yang duduk dengan wanita muda yang lebih tua dari Adelia tersenyum, dan mengangguk memberi jawaban kepada Adelia. Tidak dengan wanita yang duduk di sampingnya, seakan tidak suka melihat Adelia berada di depannya.
"Senang sekali bisa bertemu dengan keluarga Mas Albi," ujar Adelia dengan tersenyum ramah. Hingga lesung dari kedua pipinya terlihat.
"Perkenalkan Saya, Luky Kakak ipar Albi, dan ini Alina istri saya, Kakaknya Albi," ujar Luky memperkenalkan. Adelia mengangguk dengan tersenyum.
"Ini, Mama. Mamanya Albi," ujar Luky memperkenalkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
Terlihat Mama Albi tersenyum kepada Adelia. Begitupun Adelia tersenyum hangat kepada Mama Albi.
"Apa kamu istrinya Albi?" tanya Alina dengan sorot mata tak suka.
Adelia mengangguk, "Iya saya istrinya Mas Albi. Perkenalkan nama saya Arumi," ucap Adelia.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menghampiri. Terlihat Albi seperti habis berlari dengan nafas ngos-ngosan.
"Mas," sapa Adelia saat menangkap sosok Albi masuk dari ambang pintu.
__ADS_1
Adelia langsung menghampiri Albi. Kemudian mencium takzim tangan Albi. Albi tersenyum, dan mengusap lembut rambut Adelia. Dan Semua itu tak luput dari perhatian oleh tiga orang yang terduduk di sofa.
"Ma, Kak ...." ucap Albi menyapa saat sudah duduk di sofa samping Adelia.
"Kenapa kalian tidak mengabariku, kalau kalian mau datang?" tanya Albi yang benar-benar merasa sebuah kejutan kedatangan mereka.
Albi tahu dari salah satu penjaga gerbang. Ia menelpon Albi memberitahukan bahwa Ada Mama Albi datang beserta Kakaknya. Karena Albi sudah menyuruh kepada Penjaga untuk menghubungi dirinya jika Ada tamu yang datang, dan meminta izin kepada dirinya terlebih dahulu.
Hingga Albi meninggalkan Kantor dengan tergesa-gesa bahkan menyetir sendiri dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di depan kediamannya Albi langsung berlari, menyebabkan deru nafasnya tak beraturan.
"Emang kenapa kalau kita datang kesini tidak mengabarimu? kita hanya ingin memastikan semua ucapan mu," seloroh Alina menjawab.
"Bukan Apa-apa. Hanya saja, ini merasa sebuah kejutan," ujar Albi dengan sedikit tersenyum.
"Jadi benar dia istrimu?" kini Mama Albi bertanya dengan lembut kepada Putra satu-satunya itu.
Albi menoleh sebentar kepada Adelia, kemudian Albi menganggukan kepalanya.
Adelia yang merasa di bicarakan menatap wanita paruh baya yang menanyakan perihal dirinya dengan tersenyum.
Kemudian suasana menjadi hening.
"Maaf. Saya sampai lupa belum menyuguhkan Minuman. Saya izin kebelakang dulu," ucap Adelia hendak ingin ke dapur untuk mengambil minum.
Saat sudah berada di dapur tangan Albi masih saja menggandeng tangan Adelia.
"Mas, lepaskan dulu. Aku mau bawa air minum," kata Adelia dengan menatap Albi.
Albipun melepaskan gandengan tangannya. Namun, malah merengkuh tubuh Adelia kedalam dekapannya. "Biarkan seperti ini dulu," kata Albi dengan memejamkan matanya meresapi pelukan.
Adelia pasrah hanya terdiam. Tapi Adelia merasa tidak enak terhadap tamu yang kini menunggunya.
"Mas, gak enak sama Keluarga Mas, mereka pasti menunggu kita," ucap Adelia dengan mendongak menatap manik mata Albi yang hitam.
"Tidak apa-apa. Mereka tidak akan protes, paling langsung menyusul ke sini," ujar Albi cuek.
Merasa pelukan Albi longgar, Adelia dengan cepat melepaskan diri. Adelia langsung menghampiri Lemari Pendingin, dan mengambil beberapa botol minum kemasan.
Sementara itu Albi mengambil nampan. "Sini, biar aku yang bawa. Kamu tak boleh membawa beban yang berat-berat."
"Kenapa? aku ingin membawanya Mas," tolak Adelia.
__ADS_1
Albi mendekat hingga berjarak lima senti dengan Adelia, " Kamu tak boleh membantah. Patuhilah!" ucap Albi berbisik. "Oh ya, aku ingin mengingatkan. Kamu tak boleh mengatakan kamu habis sakit kepada mereka," sambung Albi.
Adelia terdiam merasa aneh kepada Albi yang seakan banyak memberi larangan. Mungkin karena hormon ibu hamil, Adelia merasa terkekang.
"Lalu aku harus apa? apa aku harus membuntuti mu, dengan tangan kosong. Aku malu Mas, aku ingin terlihat baik di depan mereka. Jika Mas, yang mengambil alih semua. Apa penilaian mereka terhadap ku?" pekik Adelia mengeluarkan uneg-uneg nya.
Albi manaruh nampan terlebih dahulu yang sedari ia pegang. Kemudian Albi memegang kedua bahu Adelia dan menatap Adelia dengan lembut.
"Kamu sedang hamil Arumi. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kehamilan mu, karena mengangkat beban berat. Mereka tidak akan memberikan nilai buruk padamu, karena mereka tahu dan paham bahwa dirimu sedang hamil," ujar Albi menjelaskan maksud dari larangan nya tadi yang membuat Adelia salah paham.
Adelia mengerti dan mengangguk. Kemudian Adelia berhambur memeluk Albi. Tentu Albi senang di peluk oleh Adelia walaupun keadaan jantungnya mendadak tidak stabil.
Albi kemudian meraih dagu Adelia. Adelia yang merasa bahwa Albi akan menciumnya, seketika memejamkan kedua matanya. Dan Benar, Albi memiringkan kepalanya hendak ingin meraih bibir Adelia yang menggoda.
"Ekhemmm"
Suara deheman seseorang membuat Albi tidak melanjutkan aksinya. Albi memilih mendekap Adelia karena Albi tahu dari roman pipi Adelia yang merona menahan malu.
"Pantas saja lama. Di tungguin tak nongol-nongol. Dasar Pasangan baru," ucap Alina.
"Ngapain sih Kak, kamu ganggu saja!" Albi mencebik bibirnya dengan tangan masih mendekap Adelia.
"Dasar tidak tahu malu! kenapa tidak di tempat yang tertutup?" gerutu Alina. Kemudian tangannya mengambil nampan yang sudah tersedia untuk di bawa ke depan.
"Silahkan kalau mau di lanjutkan kembali!" kata Alina dan pergi berlalu dari dapur.
Merasa tidak ada suara lagi. Adelia melepaskan diri dari dekapan Albi, dan memindai sekitar ruangan.
"Mas, aku malu," ucap Adelia dengan manja.
Albi tersenyum bahkan menjadi kehkehan dirinya juga merasa seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi sudah kepalang tertangkap basah.
"Sudah tak perlu malu. Kak Alina pasti akan memakluminya," ujar Albi. Seraya tangannya merapihkan rambut Adelia.
"Lebih baik kita kedepan. Kita temui mereka," lanjut Albi.
Adelia mengangguk dan mereka pun berjalan untuk menghampiri ruang tamu dimana keluarga Albi menunggunya. Adelia dengan kepala menunduk mendudukan tubuhnya di samping Albi masih merasa malu bila harus bertatapan dengan Alina yang sudah memergokinya saat di dapur. Namun, tidak dengan Albi. Ia merasa biasa saja bahkan seperti bersikap tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment, dan Hadiah Poinnya ya!!!