You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 112.


__ADS_3

Happy Reading.


❤❤❤


"Mama, kenapa malah senyum-senyum terus seperti itu?," kini Serly bertanya karena dirinya yang sedari tadi menanggapi obrolan kedua orang tua beserta kakak nya, Serly merasa aneh juga kepada Lia.


Lia masih dengan tersenyum, "Tidak ada apa-apa, Mama hanya merasa senang saja," kata Lia menoleh ke arah Serly.


"Jadi Mama, senang kalau Rasya kini sedang sakit?," tanya Hadi yang tetap merasa bingung akan Lia istrinya yang mengatakan dia lagi senang.


"Sudahlah, nanti Papa tahu sendiri!, eh Mama mau nyusul menantu Mama dulu, takut dia kenapa-napa," sahut Lia dengan segera bangkit dari duduknya dan bergegas keluar rumah.


Lia langsung menangkap sosok menantunya yang kini sedang berdiri di depan gerobak tukang rujak. Lia menghampiri dengan senyuman yang masih menghiasi bibirnya.


"Adel...." sapa Lia.


Adelia pun menoleh ke arah Lia yang menyapa nya. "Mama...." Adelia dengan tersenyum.


"Mama, mau rujak juga?," tanya Adelia kini.


"Enggak Sayang, Mama hanya ingin memastikan kamu tidak apa-apa."


Sontak perkataan Lia membuat Adelia tersenyum dengan perasaan bingung, Lia yang mengatakan ingin memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Adel hanya di depan sini kok Ma, Mama tak perlu khawatir," ucap Adelia.


"Ini Neng Mangga muda nya, sudah Saya potong-potong," ujar Tukang rujak dengan menyerahkan mangga muda yang sudah di pesan Adelia tadi.


"Jadi berapa, Pak?," tanya Adelia.


"Dua puluh lima ribu, Neng...."


Adelia merogoh saku celananya dan mengambil uang dua puluh ribu dua lembar.


"Kembalian nya buat Bapak saja," kata Adelia seraya menyerahkan dua lembar uang tersebut.


"Terima kasih banyak Neng, eh ini neng tambah nya satu biji, takut Neng nanti masih pengen lagi," ujar tukang rujak dengan memberikan satu biji Mangga muda.


"Terima Kasih Pak, kalau begitu saya permisi."


Adelia pun berlalu meninggalkan tukang rujak tersebut, dengan tangan nya Lia gandeng seperti ketakutan Adelia terjatuh.


Mama aneh seperti takut aku terjatuh saja. Batin Adelia.


Adelia dan Mama mertuanya itu pun sudah masuk ke dalam rumah, dan ketika Rasya melihat Mangga muda yang Adelia pegang sontak Rasya langsung mengambilnya dengan mata berbinar.


Dan langsung Rasya lahap. Sedangkan yang melihat Rasya yang mengunyah buah Mangga tersebut mengernyit merasakan betapa rasa kecutnya dari buah mangga muda tersebut.


"Mas, pelan-pelan. Tidak akan ada yang merebutnya kok," pekik Adelia menggoda suaminya.


Rasya hanya tersenyum ia sampai lupa tidak menawari istri dan kedua orang tuanya.


"Eh, Sayang kamu mau?," dan Adelia pun hanya menggeleng.


"Mama, Papa mau?," kini Rasya bertanya kepada kedua orang tuanya.


"Makan saja, Papa tak tahan makan buah Masam," sahut Hadi.


"Iya, Mama juga suka langsung sakit perut kalau makan buah Masam," timpal Lia.


Rasya hanya manggut-manggut menanggapi penolakan dari kedua orang tuanya.


"Terus Kakak, gak nawarin Serly sama Kak Rara, ni?," kini Serly bersuara.


"Kalian mau?, ya kalau mau ambil aja!," kata Rasya dengan santai mengunyah buah mangga muda itu.


Serly dan Rara pun hanya menggeleng kepala tanda ia berdua tidak mau buah mangga muda tersebut.

__ADS_1


Kini Lia fokus menatap menantunya dengan senyuman. "Del, apa kamu tidak menginginkan sesuatu?," tanya nya.


Adelia merasa aneh kembali kepada Ibu mertuanya tersebut, tapi ia tak menampakkan rasa bingung nya.


"Tidak Ma, Adel tidak menginginkan sesuatu," sahut Adelia.


"Apa kamu pernah merasakan mual?," tanya Lia lagi.


Adelia dengan menggeleng, "Tidak, Ma...."


"Ma, justru yang mengeluh mual dan muntah itu Rasya, kenapa Mama malah bertanya kepada Adelia?," tanya Hadi kepada istrinya yang membuat bingung sedari tadi.


"Iya Mama sudah tahu kan, tadi. Em... Rasya apa Rumah Sakit di sini dekat?,"


"Lumayan jauh, sekitar tiga puluh menit sampai," ucap Rasya yang sudah selesai melahap buah mangga muda nya.


"Ya udah kita ke Rumah Sakit yuk!!, kamu siap-siap!. Dan bagaimana kalau kita sekalian makan siang di luar?," Ajak Lia.


"Iya Ayo, sekalian Papa ingin menikmati Kota B ini," sahut Hadi.


Dan mereka pun bersiap-siap untuk menuju Rumah Sakit untuk memeriksakan Rasya yang mereka pikir. Padahal Lia hanya ingin memeriksakan Adelia, karena Lia yakin bahwa menantunya itu sedang hamil.


Dengan dua mobil yang mereka bawa, Orang tua Rasya dengan mobil yang di bawa Pak Sukri, sedangkan Rasya membawa mobil miliknya sendiri.


Selama tiga puluh menit mereka sampai di Rumah Sakit yang Rasya tuju. Mereka pun keluar, sungguh pemandangan yang begitu bahagia satu orang yang hendak di periksa namun yang mengantarnya hingga lima orang, karena Pak Sukri memilih menunggu di dalam mobil.


Saat di meja Resepsionis Lia Mama Rasya meminta formulir pendaftaran di bagian Poli Kandungan. Sontak Rasya merasa aneh dengan tindakan Mama nya itu.


"Ma, kok Mama memilih Poli Kandungan sih?, harusnya Poli Umum!," protes Rasya.


"Mama akan memberi kejutan buat kalian semua," ujar Lia kemudian menggandeng Adelia terlebih dahulu, lalu berjalan mendahului yang lain nya.


"Pa, apa Mama hamil lagi?," tanya Rasya.


"Hah?, Masa iya?," sahut Hadi. Hadi sungguh merasa tidak mungkin bahwa Lia kini tengah hamil.


Serly dan Rara pun saling tatap. Kemudian mereka berdua tersenyum lalu berjalan cepat untuk menyusul Lia dan Adelia.


Hingga giliran Nama Adelia di panggil. Tapi Adelia merasa aneh kenapa nama dirinya yang di panggil, Adelia kemudian menatap ibu mertuanya.


"Ayo Sayang masuk, tadi Mama mendaftarkan nama kamu untuk di periksa. Ayo Mama antar!,"


Lia pun menggandeng lengan menantunya itu masuk ke dalam ruangan Periksa Dokter Kandungan.


Rasya mengernyit aneh dengan Mamanya.


Apa mungkin Adelia hamil?. Batin Rasya mulai menerka.


Tiba-tiba Rasya di panggil untuk masuk kedalam.


"Suami Ibu Adelia?,"


"Saya, Sus."


"Ayo, Mas ikut masuk ke dalam untuk mendampingi istrinya," perintah Suster kepada Rasya.


Rasya menurut masuk kedalam ruangan tersebut. Namun istrinya tak nampak, hanya ada Lia Mamanya yang sedang duduk, dan Dokter yang sedang duduk di depan meja kerjanya.


"Ma, Adel mana?,"


"Adel, lagi ngetes Tespeck," sahut Lia dengan tersenyum.


Karena memang tadi ketika pas Adelia masuk, dan di tanyai ada keluhan apa. Lia langsung mengatakan bahwa menantunya itu tengah hamil, namun belum pasti sebab belum di tes pakai Tespeck kehamilan.


Rasya terdiam masih merasa bingung akan penuturan Lia mama nya.


Tespeck? Apa Adelia benar hamil?. Batin Rasya bertanya.

__ADS_1


Tak lama, Adelia pun keluar dari kamar mandi dengan memegang Tespeck yang di berikan Dokter tadi. Lalu Adelia menyerahkan Tespeck tersebut kepada Dokter.


Setelah beberapa menit Dokter menunggu hasil dari Tespeck itu, akhirnya Dokter tersenyum saat timbul dua garis merah tua pada Tespeck itu.


"Selamat, Nona Adelia hamil," tutur Dokter.


Sontak Adelia terkejut bercampur terharu mendengar penuturan Dokter bahwa dirinya sedang hamil.


"Saya Hamil?," Adelia bertanya dengan haru.


Dokter mengangguk, "Iya Nona kini sedang hamil," jawab Dokter Kandungan yang bernama dr. Indah Pramesti Sp.OG di nametag nya.


Rasya langsung berhambur memeluk sang istri saat sudah mendengar Dokter mengatakan lagi Adelia sedang hamil.


"Mas, aku hamil...."


Adelia berucap di sela pelukan suaminya.


Rasya mengangguk, "Iya Sayang, terima kasih kamu sudah mengandung anak kita."


"Ekhemmm... sudah, sekarang giliran Mama yang mau peluk Adel," Lia dengan tak sabar.


Rasya pun tersenyum menanggapi Mama nya itu, Rasya yakin Mama nya pun bahagia atas kehamilan istrinya kini.


Rasya pun ikut memeluk kedua wanita yang sangat ia cintai di dunia ini.


"Em, Bu... Bagaimana kalau kita periksa dengan keseluruhan, melalui Usg agar terlihat janin Nona Adel sudah berapa minggunya."


Akhirnya perkataan Dokter menghentikan aksi pelukan antara Rasya dengan dua wanita pentingnya.


"Iya, Bu silahkan!," sahut Rasya.


Adelia pun di arahkan Suster untuk berbaring di atas pembaringan Pasien, dengan kaos yang Adelia pakai di singkapkan sedikit bagian perutnya. Lalu Suster tersebut mengoleskan sebuah Gel di atas perut Adelia.


Setelah Gel itu di oleskan oleh Suster, kini Sang Dokter mengarahkan sebuah alat, lalu alat-alat itu ia gerakan di atas perut Adelia. Dan setiap gerakan timbul pada layar monitor yang berukuran 42 inci.


"Kehamilan Nona, sudah tiga minggu. Dari terakhir menstruasi yang Nona tadi sebutkan," tutur Dokter Indah.


Rasya dan Adelia serta Lia anteng menatap layar monitor tersebut yang memperlihatkan ada sebuah janin yang masih berukuran kecil.


"Apa Nona ada keluhan, seperti mual atau muntah-muntah?," tanya Dokter kini.


Dan Adelia hanya menjawab dengan menggeleng.


"Ada Dokter, tapi Suaminya yang mengalami Mual dan muntah, bahkan yang ngidamnya juga," tutur Lia mengatakan keluhan Rasya.


"Wah, ternyata suaminya sepertinya sangat mencintai Nona, bahkan yang merasakan ngidam dan mual muntah, suaminya," ujar Dokter Indah dengan tersenyum.


Memang aku sangat mencintai istriku. Gumam Rasya di dalam hati.


"Mas tak perlu khawatir atas Mual dan muntah yang Mas rasakan, karena itu merupakan efek dari kehamilan istri anda.


Dalam dunia medis dikenal dengan nama couvade syndrome. Tidak hanya suami, teman dekat ibu hamil juga bisa mengalami sindrom ini. Sindrom kehamilan simpatik ini, membuat suami atau teman dekat Bunda mengalami mual, kram, dan gejala kehamilan lainnya."


Rasya pun manggut-manggut mengerti akan penjelasan Dokter tersebut.


"Lalu berapa lama saya akan merasakan mual dan muntah nya, Dok?," tanya Rasya kini.


"Selama trimester pertama biasanya, Mas. Lalu sudah melewati trimester pertama baru rasa mual dan muntah akan hilang," ucap Dokter.


"Oh, iya dan saran dari saya, Jangan sering-sering dulu berhubungan, karena pada kehamilan yang sedang di alami Nona, janin masih dalam keadaan rentan," tambah Dokter lagi.


"Jadi saya dan istri saya tidak boleh berhubungan selama hamil?," Rasya bertanya dengan melirik terlebih dahulu sang istri. Yang membuat Adelia menunduk malu atas pertanyaan suaminya itu.


"Boleh. Tapi jangan sering. Dan di usahakan tidak mengakibatkan gerak berlebihan yang menimbulkan janin itu terganggu," tutur Dokter.


Yess... Masih bisa!. Gumam Rasya di dalam hati.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2