You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 114.


__ADS_3

Happy Reading.


❤❤❤


Di Perkebunan teh yang terhampar luas dengan angin sepoi-sepoi menghembus hamparan kebun teh yang begitu hijau, hingga mengakibatkan daun-daun teh borgoyangan. Dua gadis yang sedang menatap hamparan luas kebun teh dengan di temani pemuda tampan yang berdiri di belakangnya.


Serly yang jarang menikmati alam terbuka menatap takjub dengan senyuman di wajahnya, di temani Rara di sampingnya yang menatap hamparan kebun teh tersebut.


"Kak Ra, kita photo-photo Yuk!" ajak Serly, untuk berphoto bersama.


"Ayo!," jawab Rara.


Serly pun mulai mengeluarkan ponsel bermerk terbarunya, kemudian mulai membuka layar ponselnya dan memilih fitur Kamera. Serly mengarahkan kamera depan kepada dirinya dan juga Rara.


Namun saat mengambil posisi, Serly tertegun akan wajah tampan yang tampil di layar ponselnya.


Oh tidak, dia tampan sekali walaupun dari samping. Batin Serly, menatap takjub kepada wajah pemuda yang tak sengaja tertangkap layar kamera depan nya.


"Ser, itu ...." tunjuk Rara ke layar ponsel Serly yang menampilkan wajah Aldi dari samping.


"Sstt ... jangan keras-keras, Kak! nanti dia dengar," ujar Serly.


Serly akhirnya sengaja mengambil photo wajah Aldi yang sedang menunduk menatap ponsel miliknya, namun tetap terlihat tampan walaupun posisinya dari samping dan hasil jepretan-nya tetap bagus.


Serly tersenyum senang, dengan menatap photo hasil jepretan nya. Kemudian Ia mulai mengarahkan kameranya ke arah dirinya dan Rara. Cekrek... Serly tersenyum lagi melihat photo dirinya yang tersenyum dengan Rara.


"Kak Ra, Serly ingin terlihat semua badan nya, Photoin Serly, yaa!," suruh Serly.


"Ok sini, kakak akan memotretnya," ucap Rara.


Dan Rara pun mengambil ponsel milik Serly, kemudian Serly mulai berfose. Rara mengambil gambar Serly dengan View latar belakang kebun teh. Hingga hasil dari photo tersebut sangatlah bagus.


"Kak kita Berdua, berphoto seperti ini,"


"Mana bisa?" Rara bingung.


Serly kemudian menoleh ke arah Aldi yang sedang anteng bermain game, dengan duduk di atas batu.


"Kak...." sapa Serly, menyapa Aldi.


Tapi tidak ada sahutan dari Aldi, karena Aldi belum mengerti sapaan Serly, Aldi pikir bukan untuk dirinya hingga Aldi tetap fokus pada ponselnya.


"Siapa tadi namanya?," Serly bertanya kepada Rara.


Rara menggeleng, tanda Ia tidak tahu.


Akhirnya Serly melangkah mendekati Aldi.


"Kak, boleh aku minta tolong?,"


Aldi pun mendongak karena suara Serly jelas terdengar di dekatnya.


"Iya Ada apa Non?," tanya nya.


"Em ... aku minta tolong sama Kakak, em ... photoin aku bareng Kak Rara, dengan terlihat kebun teh, nya!" ucap Serly gugup.


"Oh ... boleh,"


Serly pun menyerahkan ponsel miliknya kepada Aldi dengan fitur kamera sudah Serly buka terlebih dahulu.


"Maaf ya, kak!" kata Serly, saat Aldi mengambil ponsel dari tangan nya.


Aldi mengangguk mengulas senyum tipis.


OMG ... Senyum nya itu, bikin jantung aku dag-dig-dug. Batin Serly, membalikkan badan dengan tangannya menyentuh dada sebelah kirinya.


Serly dan Rara sudah berpose, dengan saling memunggungi di tengah-tengah kebun teh.


Aldi langsung mengambil gambar tersebut.


Seulas senyum kembali saat Aldi melihat hasil jepretan nya.


"Coba lihat kak!" Serly dengan meraih ponsel nya yang masih Aldi pegang.


Sontak tangan Serly dan Aldi bersentuhan. Hingga membuat Serly menjadi gelagapan karena gugup. Baru sekaranglah tangan mulusnya bersentuhan dengan lawan jenis yang membuat dirinya jatuh hati.


"Kak Ra, lihat deh hasil photonya bagus!," ucap Serly, memperlihatkan hasil jepretan Aldi kepada Rara.


"Oh iya, ini karena latarnya yang bagus," celetuk Rara.


"Jadi cewek-ceweknya gak bagus?," kata Serly dengan terkekeh.

__ADS_1


Rara pun ikut terkekeh, hingga Aldi juga yang mendengarnya mengulas senyum di bibirnya.


Serly mendudukkan tubuhnya di batu yang berjejer dengan batu yang Aldi duduki. Namun, jaraknya berjauhan.


"Hei ... Kak!" Serly menyapa Aldi.


Aldi menoleh, "Non, panggil saya?," tanya nya.


Serly mengangguk.


"Panggil saya Aldi!" tukas Aldi.


"Oh ya, Kak Aldi orang sini?," Serly basa-basi.


Aldi menjawab dengan mengangguk.


"Apa di sini ada tempat yang indah lagi?,"


Aldi menggeleng, "Tidak ada," sahutnya.


Aduh nanya apa lagi ya?


Ish ... Dia datar banget, gak nanya aku balik lagi!!. Gerutu Serly di dalam hatinya.


Serly menyenggol lengan Rara, "Kak, coba tanya sama kakak!" bisik Serly.


"Tanya Apa?" Rara menautkan alisnya bingung, dengan balik berbisik.


"Apa kek!, biar gak canggung gini," saran Serly.


Rara manggut-manggut dan berpikir hal apa yang harus ia tanyakan kepada Aldi. Rara mendadak tidak mempunyai bahan pembicaraan terhadap Aldi akibat diri Aldi yang datar, dan pendiam.


"Aldi?"


"Hmmm" Aldi dengan menoleh.


"Apa kamu tahu, Adelia menikah dengan Rasya sejak kapan?," tanya Rara, terlintas ingin kepo terhadap Adelia.


"Tiga bulan lalu," jawab Aldi datar.


"Oh ...." hingga Rara terbawa datar juga untuk menjawab.


Tak ada pembicaraan antara mereka, hanya angin yang berhembus mengakibatkan rambut Serly yang tergerai bergerak-gerak.


Tiba-tiba suara dering ponsel dari Serly mengusik Serly yang memandang lurus ke arah kebun teh. Terpampang Brother Calling di layar ponselnya. Jari lentik Serly pun bergerak untuk menggeser tanda panggilan berwarna hijau, untuk menjawab panggilan dari Rasya yang di namai 'Brother' oleh Serly di kontaknya.


"Hallo Kak ...."


...........


"Iya-iya,"


Panggilan pun akhirnya terputus saat Rasya sudah menutupnya secara sepihak.


Serly kini menoleh ke arah Aldi yang sudah tidak bermain dengan ponselnya. Aldi sedang memandang hamparan kebun teh seperti saat Serly tadi sebelum terusik oleh panggilan Kakaknya.


"Kak Aldi,"


"Ya?," jawab Aldi dengan menoleh.


"Barusan Kak Rasya, minta aku untuk beli air kelapa muda. Apa Kak Aldi tahu tempatnya?,"


Aldi mengangguk, "Saya tahu," sahutnya.


"Ya sudah, sekarang saja Yuk! sekalian kita pulang saja," ajak Serly.


Aldi pun menjawab dengan mengangguk.


Serly pun menggandeng lengan Rara untuk meninggalkan perkebunan teh tersebut, dan melangkah menuju ujung jalan tempat mobil yang Aldi parkirkan.


Sedangkan Aldi mengikuti mereka berdua dari belakang.


Setelah sampai pada tempat mobil yang Aldi perkirkan, Serly pun langsung masuk beserta Rara saat setelah mendengar bunyi kunci terbuka oleh Aldi melalui kunci yang ia genggam.


Aldi menancapkan pedal gas nya setelah duduk di belakang kemudi. Dan langsung menuju Tukang penjual Air kelapa muda yang tadi Serly inginkan atas perintah Rasya.


Setelah sampai di depan tukang penjual Air kelapa, Aldi langsung keluar dari mobil.


Serly sengaja tidak ikut keluar karena tidak mau untuk berdekatan atau harus berinteraksi dengan Aldi yang datar.


"Ser, kamu gak turun?," tanya Rara.

__ADS_1


"Enggak Kak, biar dia saja yang turun," sahut Serly.


Dan tak lama Aldi masuk kedalam mobil dengan kantong kresek berukuran sedang yang ia taruh di samping kursinya yang kosong.


Aldi langsung mengemudikan mobilnya untuk pulang menuju rumah Rasya.


Setelah sekitar dua puluh menitan Akhirnya mobil yang Aldi kendarai sampai di depan Rumah Bosnya.


Serly dan Rara langsung keluar dengan bersamaan. Di susul oleh Aldi dengan tangannya menenteng kantong kresek yang berisikan beberapa bungkusan air kelapa muda, dan sebagian bungkusan lainnya berisikan air kelapa muda yang sudah di campur gula aren dengan daging kelapanya yang sangat muda.


Serly langsung membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Terlihat Rasya datang dari arah kamarnya, tersenyum melihat adiknya yang sudah datang.


"Pesanan Kakak mana?,"


"Ini Pak," kata Aldi, dengan menyerahkan kantong kresek yang sedari ia pegang.


"Makasih Al, ini berapa semuanya?,"


"Tidak usah Pak."


"Maksudnya?," tanya Rasya.


"Tidak usah Bapak bayar," tukas Aldi.


"Wah, Terima kasih Al. Bentar, ini banyak sekali," tutur Rasya, dengan matanya melihat bungkusan banyak di dalam kantong kresek.


"Iya Pak, saya sengaja membeli banyak." ucap Aldi, dengan mengulas senyum di bibirnya.


Rasya kini menatap adiknya beserta Rara.


"Bagaimana puas melihat perkebunan nya?,"


"Iya Puas. Tapi aku ingin lagi kesana," tutur Serly.


"Besok kamu bisa ke sana lagi," ujar Rasya.


"Sama Kakak?," tanya Serly antusias, karena tidak mau sampai di temani oleh Aldi kembali.


"Bukan. Kakak gak ada waktu, kakak harus ngurus bengkel!," ucap Rasya.


"Terus sama siapa?,"


"Ya kamu sendiri, kamu sudah tahukan tempatnya dimana?," kata Rasya.


Serly melirik Aldi seperti mengatakan kenapa tidak Aldi lagi yang mengantar. Dan Rasya pun mengerti arti lirikan Serly kepada Aldi.


"Aldi nanti malam akan pergi ke Kota J, jadi tidak bisa mengantar kamu lagi," tukas Rasya.


Jadi Dia besok gak ada di sini?. Batin Serly.


Aldi teringat akan keberangkatan nya malam ini, Aldi menatap jam dinding yang menempel di dinding ruang tamu tersebut.


Terlihat Jam sudah menunjukan 17:30, bahkan sebentar lagi akan beranjak Magrib.


"Eh, Pak. Aldi mau Pamit," ucap Aldi.


"Kamu pulang sekarang,Al?" dan dapat anggukan dari Aldi.


Rasya merogoh saku celana pendeknya, dan mengeluarkan amplop coklat, "Ini uang gaji kamu, beserta pesangon. Terimalah," seraya menyerahkan kepada Tangan Aldi.


"Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya pulang sekarang. Permisi."


Aldi menundukan tubuhnya sopan sebelum beranjak bergegas meninggalkan rumah Rasya.


Serly menatap kepergian Aldi dengan rasa yang tidak di mengerti. Banyak Rasa saat berjumpa pria tampan tersebut. Datar dan cuek itulah menjadi kesan lebih terhadap Aldi.


"Kamu suka?" tanya Rasya melihat adiknya yang terus menatap Aldi.


"Hah?" Serly menatap canggung kepada Kakaknya.


"Aku setuju kalau kamu suka sama dia, tapi dia tidak mudah untuk di dekati," tutur Rasya.


Pantas saja Dia cuek dan datar. Batin Serly.


Aku harus nyerah, karena Serly juga suka sama Aldi. Batin Rara.


Ya dan Ternyata Rara juga menyukai Aldi pada hari itu juga. Namun saat mendengar dan menanggapi perbincangan adik kakak di depan nya, Rara akan merelakan Pria yang di sukainya karena Serly juga ternyata menyukai Aldi.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2