You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 1


__ADS_3

Pagi sekali Serly sudah terbangun. Sehingga kini ia bisa ikut bergabung sarapan bersama di meja Makan.


"Ser, mulai hari ini. Kamu di antar jemput sama Aldi!" ucap Rasya kepada adiknya.


Serly menatap sang Kakak dengan memicingkan matanya, "Kenapa, aku harus di antar jemput?" tanyanya tidak mengerti.


Hadi dan Lia hanya diam saja menatap kedua anaknya yang kini sedang saling tatap.


"Pokoknya, kamu harus di antar jemput!" tegas Rasya tanpa menjelaskan alasannya. Membuat Hadi dan Lia ingin tahu alasan Rasya.


"Iya, ada apa Sya kenapa adikmu harus di antar jemput?" tanya Hadi.


"Iya, kenapa harus di antar jemput?" Lia menimpali.


Serly yang kini menyadari kesalahannya. Ia terdiam. Rasya menjadi seperti itu karena mengkhawatirkannya.


Rasya menatap kedua orang tuanya.


"Serly, kemarin hampir menabrak orang Ma, Pa. Untung saja hanya kendaraan milik orang itu yang ringsek. Kalau, orangnya bagaimana?" ujar Rasya memberitahukan alasan di balik keinginannya.


Hadi manggut-manggut. Sedangkan Lia melongo.


"Kamu harus patuhi, Kakak mu. Kakak mu itu pengganti Papa!" Hadi menyetujui tindakan Rasya yang menginginkan putrinya itu di antar jemput.


"Benar, Sayang. Mama setuju atas keinginan kakak mu. Kami sayang sama kamu," timpal Lia dengan lemah lembut berbicara kepada anak bontotnya.


Serly hanya bisa mengangguk patuh. Menolakpun pasti ia tidak bisa. Namun, yang menjadi masalahnya ia harus sering bertemu dengan Aldi, pria yang diam-diam ia sukai.


"Harus kuat jantung. Jangan berulah saat dekat kak Aldi nanti!" ujar Serly di dalam hati.


Adelia dan Rara sudah dari teras depan dengan menggendong baby Daffa dan baby Saffa..


"Mas, itu ada Aldi di depan," ujar Adelia menyampaikan kedatangan Aldi kepada suaminya.


"Iya sayang," sahut Rasya dengan tersenyum. "Mau sarapan sekarang?, biar baby Daffa, Mas yang gendong" katanya selanjutnya. Rasya yang baru saja selesai menghabiskan sarapannya menawarkan Adelia untuk sarapan.


"Mas, kan udah di tunggu Aldi," Adelia dengan menyerahkan baby Daffa kepada Rasya. Karena suaminya itu sudah meminta baby Daffa dengan tangannya yang Rasya ulurkan.


"Aldi, mau ngantar Serly dulu ke Kampus. Baru setelah itu ke Kantor, sama Mas" Rasya kini sudah menggendong baby Daffa.


Adelia pun mulai duduk. Dan mengambil makanannya.


"Ma, Pa. Semuanya ... Serly berangkat ya, Assalamualaikum," ucap Serly setelah menyelesaikan sarapannya. Kemudian ia sempatkan untuk mencium baby Saffa yang Rara gendong.


"Wa'alaikum salam," jawab serempak.

__ADS_1


Serly menghela nafas dengan dalam sebelum keluar dari pintu utama.


Aldi sudah terlihat duduk di kursi teras. Dan membuat Serly canggung untuk menyapanya.


"Al, saya percayakan Serly padamu," suara Rasya dari belakang tubuh Serly. Serly membalikkan badan dan menatap baby Daffa yang Rasya gendong. Rasya sengaja mengikuti Serly untuk sekalian menitipkannya kepada Aldi.


"Ya, Ampun ... gantengnya aunty," Serly seraya mencium gemas pipi gembul baby Daffa.


"Nganter aunty ke depan, ya?" selanjutnya.


Rasya yang sudah melihat Aldi melenggang masuk ke dalam mobil. Menyuruh Serly yang masih menciumi baby Daffa untuk berangkat.


"Sudah, sana berangkat. Aldi sudah nungguin tuh!" seraya tatapannya mengarah kepada Aldi yang sudah di dalam mobil.


Serly mengangguk, "Bye, bye gantengnya aunty!" ucap Serly kepada Baby Daffa. Dengan langsung melenggang menuju mobil.


Serly membuka pintu samping kemudi. Dan memakai seat belt. Setelah itu Aldi melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah.


Di perjalanan menuju Kampus tidak ada percakapan antara Aldi dan Serly membuat suasana hening hanya ada suara deru mesin mobil yang terdengar.


Serly memilih bermain ponsel menscroll laman instagram. Ada chat yang masuk ke ponsel Serly. Membuat Serly tersenyum, karena chat itu Dari Dido Kakak seniornya.


Kak Dido


^^^Serly^^^


^^^Tidak perlu Kak, aku sudah di jalan menuju kampus.^^^


Kak Dido


Oh ya sudah. Tapi nanti di parkiran tungguin aku!


^^^Serly^^^


^^^Iya, Kak^^^


Dan tak ada lagi chat masuk ke dalam ponsel Serly. Sungguh Serly merasa perjalanan menuju Kampusnya yang menghabiskan waktu tiga puluh menit serasa sembilan puluh menit saat ini. Aldi yang tidak membuka suara. Membuat Serly canggung beserta jenuh.


"Ya Ampun, dingin banget sih kamu, kak Al. Ngobrol dikit, napa? tapi, anehnya aku suka sama kamu." gumam Serly di dalam hati. Ia menggerutu karena Aldi tidak membuka suara sedikit pun selama perjalanan.


Serly yang sudah merasa sesak dalam penuh kecanggungan. Akhirnya wajahnya berbinar saat sudah melihat gerbang kampus dari kejauhan. Serly seakan mendapatkan oksigen, saat sudah mobil yang Aldi lajukan terhenti tepat di depan gerbang kampus.


"Terima kasih, Kak" ucap Serly seraya membuka seat belt. Lalu membuka pintu mobil. Dan melenggang keluar.


Aldi hanya menganggukan kepalanya menjawab ucapan Serly.

__ADS_1


Seperginya mobil yang di kendarai Aldi. Serly masuk kedalam area parkiran. Sesuai yang Dido katakan tadi ia harus menunggu di area parkir.


Selang beberapa menit Mobil milik Serly yang kini di pakai Dido masuk ke area parkir. Dan kebetulan dengan kedatangan Kikan yang baru saja di antar Anton, Ayahnya.


Suasana Kampus masih sepi. Mungkin karena masih pagi.


"Selamat pagi, Serly" ucap Kikan dengan memeluk tubuh Serly.


"Pagi juga, Ikan" sahut Serly dengan tersenyum jahil karena memanggil nama Kikan tanpa huruf K di depannya.


Kikan mengerucutkan bibirnya. Sejurus kemudian ia tersenyum senang saat melihat Dido keluar dari mobil milik Serly, lalu melangkah mendekat ke arahnya.


"Serly, kamu di antar sama siapa?" bisik Kikan setelah melihat Dido yang tadi keluar dari mobil milik Serly.


"Sama, Kak Aldi"


Kikan tersenyum, "Sengaja bukan, Bang Aldi ngantar kamu?" tanyanya penasaran.


Serly menggeleng, "Kak Aldi, hanya di suruh oleh Kak Rasya. Untuk antar jemput aku. Karena gara-gara kemarin. Oh, iya. Kenapa sih kamu ceritain sama Kak Aldi, terus Kak Aldi jadi ceritain lagi sama Kakak aku?" ucap Serly dengan mengeluh kepada Kikan yang sudah mengatakan hal apesnya Serly waktu kemarin kepada Aldi.


Dido yang kini sudah berdiri di belakang Serly. Hanya terdiam. Ia ingin mendengar apa yang di bicarakan juniornya itu yang sudah mengusik hatinya sejak hari kemarin.


Kikan menyengir, "Sorry, Ser. Aku hanya ngobrolin saja. Karena kamu nyerempet kakak Senior terpopuler di kampus kita. Aku gak tahu, kalau Kak Aldi akan mengatakannya lagi kepada Kak Rasya. Aku hanya ingin mencairkan suasana. Tahu sendiri kan, Bang Aldi itu dingun banget," ujar Kikan yang merasa bersalah.


Serly mengerucutkan bibirnya, "Iya gak apa-apa. Hanya masalahnya mulai hari ini aku harus di antar jemput sama kak Aldi atas suruhan Kak Rasya. Kamu, tahu sendiri kak Rasya itu kalau sudah posesifnya seperti apa?" imbuh Serly yang kini mulai merasa merinding di tengkuk lehernya karena ulah Dido yang sengaja jahil meniup tengkuk leher Serly.


Serly menoleh ke arah belakang. Dan mendapati Dido yang tersenyum tampan kepadanya.


"Kak, Dido sejak kapan sudah di belakang?"


"Sejak. Kamu cerita sama teman kamu, tentang kamu yang mulai hari ini akan di antar jemput," tuturnya.


Serly tersenyum malu. Sedetailnya itu Dido mendengar pembicaraannya.


"Aku ke kelas duluan ya, nanti istirahat aku ajak kamu!" seraya tangannya mengusap pucuk kepala Serly. Lalu melenggang pergi.


Perlakuan Dido barusan Membuat Kikan histeris tanpa suara.


Serly yang mendapat perlakuan seperti itu. Hanya melongo. Sejurus kemudian ia tersenyum.


Namun di dalam hatinya malah membandingkan dengan Aldi.


"Andai saja. Kak Aldi yang seperti itu. Tentu aku tidak akan menolaknya walaupun lebih dari usapan di kepala,"


...***...

__ADS_1


__ADS_2