You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 253.


__ADS_3

"Aku duluan ya Ser ...," pamit Kikan kepada Serly. Serly mengangguk dengan tersenyum kepada Kikan. Begitupun kepada Aldi.


"Hati-hati," ucap Serly.


"Siap!" sahut Kikan dengan membuka pintu samping kemudi.


Kikan sudah terlihat masuk pada mobil yang di kendarai Aldi. Sementara Serly kini menuju mobilnya yang terparkir pagi tadi. Serly di buat terkejut. Saat menatap Pria populer yang di gilai para siswi di Kampus sedang menyandarkan punggungnya di balik pintu mobil milik Serly.


"Astaga ... kenapa Kak Dido sampai menunggu! apa dia sudah menelponku? tapi, aku tidak mendengar nada panggilan," batin Serly. Seraya berjalan mendekati mobil miliknya.


Dido menatap Serly. "Kenapa nomornya gak aktif sih?" tanyanya. Membuat Serly merogoh saku celananya mengambil ponsel. Lalu ia menatap ponsel miliknya yang mati.


"Eh, maaf Kak. Ponsel saya mati," Serly dengan memperlihatkan layar ponselnya yang mati.


Dido manggut-manggut. "Mana kunci mobilnya?" pinta Dido. Serlypun langsung memberikan kunci mobil itu kepada Dido.


Serly langsung masuk ke arah pintu samping kemudi. Dido masuk ke arah pintu kemudi. Setelah di rasa keduanya sudah memakai Seat belt. Dido langsung menancapkan gas, melajukan mobil Serly keluar Kampus.


"Kak, bengkelnya di mana?" tanya Serly to the point. Serly sengaja mengutarakan pertanyaan seperti itu agar waktunya cepat. Dan Serly akan lepas dari tanggung jawabnya setelah semuanya selesai.


Dido melirik sekilas, "Buru-buru, amat. Emang kamu ada acara lain?" dengan tangannya fokus menyetir.


Serly menggelengkan kepala, "Aku ingin cepat selesai saja urusannya," tukas Serly. Membuat Dido menatap ke arah Serly dengan perasaan yang aneh.


Aneh bagi Dido ada seorang gadis yang tidak mau lama-lama berurusan dengannya. Sedangkan gadis lain mencari cara agar bisa berurusan dengannya. Bahkan sampai gadis lain mencari perhatian agar bisa di lirik Dido. Namun, gadis yang ada di sampingnya ini berbeda. Seakan tidak merasa tertarik atau terpesona kepadanya. Dan membuat Dido menjadi penasaran.


"Santai saja. Aku bukan orang jahat kok," seloroh Dido dengan perasaan penuh penasaran.


Serly hanya menatap sekilas dengan senyuman tipisnya.


Lalu Serly mengernyit heran saat Dido menghentikan laju mobilnya di parkiran sebuah Restauran mahal.


"Loh, kok malah ke sini?" tanya Serly dengan menatap ke luar jendela mobil.


"Aku lapar. Mau makan dulu." Dido langsung keluar mobil.


Sementara Serly malah terdiam di dalam mobil dengan menyambungkan sebuah charger untuk mengisi daya ponsel miliknya.


Toktoktok


Suara kaca jendela ada yang mengetuk. Serly menatap Dido yang tengah mengetuk.


Lalu Serly hanya menurunkan kaca jendelanya.


"Ada apa?" tanya Serly datar.


"Kenapa tidak turun? ayo temani aku makan!"


Serly langsung menggeleng, "Maaf, Kak. Aku belum lapar," tolak Serly dengan sebenarnya.


Dido berdecak. Kemudian ia membuka pintu samping yang di duduki Serly.


"Aku gak suka penolakan!" Dido langsung meraih tangan Serly dan menariknya. Serly gelagapan. Baru kali ini ada pria yang menyentuhnya dengan lama. Serly langsung menepis tangannya.


"Aku bisa jalan sendiri," tukas Serly. Ia langsung keluar dan menutup pintu mobil.


Dido tersenyum. Lagi-lagi Dido merasa aneh terhadap Serly. Membandingkan kembali dengan gadis lainnya, yang mungkin jika di sentuh seorang Dido akan terbuai. Namun, Serly berbeda. Membuat Dido semakin tertantang.

__ADS_1


Dido langsung melenggang ke arah pintu utama Restauran dan di ikuti oleh Serly.


Dido memilih meja di sudut ruangan. Menarikkan kursi untuk Serly duduk.


"Silahkan!" titahnya.


Serly tersenyum kaku. Merasa aneh baru kali ini ia semeja berduaan dengan seorang pria. Serly menurut duduk dengan perasaan canggung.


"Kamu mau pesan apa?" Dido saat membuka buku menu makanan yang di serahkan oleh seorang pelayan.


Serly menggeleng, "Tidak, Kak."


Dido memicingkan matanya, "Kalau tidak mau makan. Minuman saja kamu pesan!" lagi-lagi Dido menawari.


"Jus Alpukat saja!" ucap Serly. Dan di catat langsung oleh pelayan.


"Aku ... Spagetti Bolognese. Minumannya Es jeruk saja," pinta Dido kepada pelayan.


Pelayan itu setelah mencatat pesanan Dido dan Serly lalu melenggang pergi. Kini tinggal Dido yang duduk berhadapan dengan Serly.


"Serly 'kan, namamu?" celetuk Dido seakan memastikan bahwa gadis yang di depannya benar-benar bernama Serly.


Serly menjawab dengan menganggukan kepala.


"Apa pacar mu akan marah jika kamu berduaan dengan pria lain?" Dido sengaja mengorek tentang Serly.


Serly tersenyum hambar, kemudian menggeleng.


"Wah, berarti pacarmu itu tidak cemburuan ya? Padahal jika aku jadi pacar kamu. Aku tidak akan biarkan satu pria pun untuk mendekati kamu!" Dido merasa kecewa ternyata gadis yang membuat penasarannya ini sudah memiliki pacar.


Serly kini terkekeh, membuat Dido menatap raut wajah Serly yang berseri saat begitu. Dido pun melengkungkan bibirnya merasa suka dengan raut wajah Serly yang berseri.


Dido menatap Serly dengan tidak bisa ia ekspresikan. Walau di balik hatinya ada rasa senang saat mendengar Serly belum pernah pacaran.


"Sebaliknya. Aku ingin bertanya. Pacar Kak Dido emang gak bakalan marah, kalau Kakak ketahuan duduk semeja dengan aku seperti ini? ya, walaupun kita tidak ada apa-apa," Serly menatap Dido dengan rasa ingin tahunya.


Dido menghela nafas. Lalu menggelengkan kepala.


"Wah, benarkah? Padahalkan, Kakak itu cowok populer di Kampus. Bahkan aku sering mendengar banyak siswi yang menyukai Kakak. Bohong, rasanya jika pacar kakak tidak cemburu saat melihat kakak berhadapan dengan cewek lain," cicit Serly.


Dido tersenyum, "Ternyata, kamu cerewet juga!" celetuk Dido tanpa merespon ucapan Serly yang panjang tersebut.


Membuat Serly terdiam. Lalu menundukkan kepalanya karena merasa malu. Jika sebelumnya hanya Rasya kakaknya yang selalu menggodanya atau Kikan teman dekatnya. Tapi pria lain atau orang lain seperti Dido membuat Serly malu dan canggung.


"Maaf!" lirih Serly.


Tiba-tiba pelayan datang dan menyajikan makanan pesanan Dido dan minuman pesanan Serly. Lalu setelah pelayan itu melenggang pergi. Dido mulai mempertanyakan perihal kata 'Maaf' yang baru saja Serly ucapkan.


"Maaf untuk apa?" tanya Dido dengan menatap Serly yang menunduk.


"Maaf aku memang cerewet," jelas Serly dengan masih menundukkan kepala.


Dido terkekeh, "Kamu kenapa menunduk? apa kamu tidak suka melihat wajahku?"


Serly langsung terperangah menatap lurus ke arah wajah Dido.


Dido menyantap Spagetti dengan gerakan santai.

__ADS_1


"Benarkan?" kata Dido kembali.


"Bukan begitu. Aku hanya malu saja." Serly berkata demikian memang apa adanya.


"Terus apa kamu suka gak, sama aku?" Dido lagi-lagi ingin memastikan bahwa gadis di depannya seperti gadis lain atau tidak.


"Suka?" Serly malah bertanya balik. Dido mengangguk kemudian ia menunggu penjelasan Serly selanjutnya.


"Suka. Memang sepertinya Kakak orang baik."


Penjelasan Serly tidak membuat Dido puas. Benar-benar Serly berbeda dengan gadis yang lain.


"Maksudku, em ... apa kamu tertarik seperti siswi lain?"


Serly menggeleng. "Tidak." satu kata yang singkat namun jelas. "Maksud Kak Dido ngapain sih nanya seperti itu? bikin gak nyaman saja," batin Serly.


Dido mengangguk. Fix sekarang Dido paham dan mengerti memang gadis cantik yang di hadapannya ini, memang benar tidak tertarik kepadanya tidak seperti kebanyakan gadis kampus lainnya, yang histeris kala melihat Dido dari kedekatan.


"Ok. Dido sekarang kamu harus berjuang untuk menaklukan gadis seperti dia ini! yang begitu langka" Dido menyemangati dirinya di dalam hati untuk menaklukan gadis seperti Serly yang menurutnya langka.


Serly terlihat begitu gelisah. Dan tertangkap jelas oleh Dido.


"Kamu kenapa?" tanya Dido.


Serly menggeleng, "Em ... tidak. Hanya ... aku ingin tahu kita kapan ke bengkelnya?" jawab Serly dengan bertanya. Serly melihat piring Dido sudah kosong. Namun, Dido malah terus duduk dengan terus menatap ke arahnya. Membuat Serly gelisah dan ingin segera pulang saja.


"Besok saja," Dido sengaja agar lebih lama bisa berdekatan dengan Serly, selain itu Dido sengaja ingin mengenal lebih jauh tentang Serly.


"Kok, besok?" Serly menatap tidak suka dengan jawaban Dido.


"Ya besok. Lagian kalau sekarang. Takut, kesorean. Sekarang saja sudah jam lima. Apa kamu mau pulang malam?" Dido sengaja beralasan.


"Ya, sudah besok saja. Kalau gitu, sekarang aku ingin pulang,"


Dido mengangguk. Lalu segera berdiri dari duduknya. Kemudian ia langsung ke arah kasir.


"Loh, kok ke sini? kamu tunggu saja di mobil!" Dido merasa aneh dengan Serly yang ikut berdiri di hadapan meja Kasir.


"Aku mau bayar bekas minum,"


Lagi-lagi Dido merasa aneh terhadap Serly.


"Biar, aku saja yang bayar."


"Tapi, gak usah aku juga punya uang" tolak Serly.


"Bisa gak kamu tidak pernah menolak kebaikan orang?" Dido benar-benar merasa menyukai Serly yang selalu saja menolak.


"Ya. Ya sudah. Terima kasih," ucap Serly lalu melenggang ke arah mobil miliknya.


...***...


...Bersambung....


Maafkan author jika ada typo atau kesalahan dalam menulis.


Jangan lupa like dan Comment!.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2