
"Sayang, jangan gitu dong natapnya!" kata Rasya dengan semakin mempererat pelukannya. "Aku malah jadi gemas, dan gak sabar," lanjutnya seraya kini menciumi seluruh wajah sang istri.
Adelia terkekeh, ia sungguh di buat geli oleh suaminya. Semua yang ada pada wajahnya tidak terlewat oleh sentuhan bibir suaminya itu.
"Mas, sudah. Aku geli!" Adelia dengan suara yang begitu pelan. Takut, terdengar oleh Bayi kembarnya yang terlelap.
"Kamu, nyerah?" Rasya kini sudah menghentikan ulahnya. "Maka, pasrahlah!" ujar selanjutnya seraya menaik turunkan kedua alisnya.
Adelia tersenyum dengan mengangguk. Sejurus kemudian Rasya langsung merebahkan tubuh istrinya itu, dan mengungkungnya. Memberikan kecupan-kecupan yang membuat Adelia terlena. Hingga tidak di sadari keduanya sudah tanpa memakai penutup apapun pada tubuhnya.
Adelia sudah di buat melayang, oleh bibir dan tangan lihai suaminya. Kini tinggal menuju kegiatan inti. Rasya sudah mengarahkan senjatanya. Namun, baru saja satu hentakan. Suara tangis Baby Saffa memekikkan telinga. Membuat Rasya cepat-cepat turun, dan memakai celana. Begitupun, Adelia. Memakai piyama tidurnya yang berserakan di lantai.
"Cantiknya ayah, kenapa bangun?" Rasya seraya menggendong Baby Saffa. Lalu mengajaknya berbicara.
Adelia yang sudah memakai bajunya, menghampiri suami dan bayi perempuannya itu.
"Mungkin baby Saffa, puff Mas" ucapnya dengan mengambil alih Baby Saffa kedalam gendongannya. Kemudian memeriksa diapers yang baby Saffa kenakan. "Loh, enggak puff ternyata," ucap Adelia setelah tidak mendapatkan kotoran di diapers bayi perempuannya.
Rasya terkekeh, dan menatap bayi perempuannya itu dengan gemas.
"Cantiknya ayah, sengaja bukan? bangun untuk mengganggu ritual ayah sama bunda?" celetuknya. Membuat Adelia seketika melotot serta menggelengkan kepalanya.
Baby Saffa malah tersenyum, dan terlihat wajahnya nampak akan lama untuk tertidur kembali.
"Coba sayang, berikan asi-nya!" titah Rasya kini kepada Adelia.
Adeliapun mengikuti perintah suaminya itu. Namun, Baby Saffa malah melemparkan botol Asi yang baru saja Adelia berikan.
"Loh, sayang kok malah di lempar?" Adelia menatap bingung serta gemas kepada bayinya itu. Dan Bayi perempuannya itu malah tersenyum dengan memainkan bibir serta ludahnya menyerupai suara motor yang suka Rasya ajarkan.
"Brrrrm ... brrrrm ...,"
Rasya malah terkekeh. Berarti bayinya itu ingin bermain, pikirnya begitu.
"Ya, sudah. Mas, ke dalam kamar mandi dulu," ujarnya sembari menyambar bibir istrinya sekilas, lalu melenggang melangkah ke dalam kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat Adelia bertanya.
"Mas, mau ngapain ke kamar mandi?" Adelia sengaja bertanya seolah tidak mengerti apa yang akan suaminya lakukan bila hasratnya tidak tersalurkan.
__ADS_1
"Mau, buang bibit adik-adiknya Daffa sama Saffa," jawabnya dengan tersenyum. Lalu lanjut masuk kedalam kamar mandi.
Adeliapun tersenyum, akan jawaban suaminya itu. Dan merasa bersalah atas apa yang terjadi. Namun, Adelia tetap tidak bisa menyalahkan bayi perempuan cantiknya itu yang telah mengganggu.
Lalu beberapa menit kemudian. Rasya sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, nampak sepertinya Rasya langsung mandi kembali.
"Mulai besok, Mas mau rapihin kamar sebelah. Sesuai apa yang di katakan Mama saat tadi," ujar Rasya yang kini sudah duduk di sofa memperhatikan istri dan bayi perempuannya yang sedang dalam gendongan Adelia. Mengingat Mamanya yang menyuruh untuk merapihkan kamar lain agar bisa di pakai bayi kembarnya. Karena sudah ada pengasuh untuk mereka.
"Iya, Mas. Em ... Mas sudah kenalan belum sama mereka?" Maksud Adelia yaitu Ida, Nina dan Sarah.
"Baby sister sama Art itu?" Rasya malah bertanya.
"Iya, Mas. Aku lupa tadi tidak mengenalkannya sama kamu," Adelia kini ikut duduk di samping suaminya dengan membawa Baby Saffa.
"Gak apa-apa, lagian yang harus lebih kenal dan akrab itu sama kamu. Mas, 'kan tiap hari ke Kantor," Rasya kini seraya mendudukkan Baby Saffa pada pangkuannya.
"Yayah ... yayah ...," suara baby Saffa. Tangan mungilnya memainkan kancing baju piyama yang Rasya kenakan.
"Apa, sayang?" Rasya menjawab dengan gemas. Dan Baby Saffa tersenyum.
"Coba, Saffa cantik panggil bundanya!" Rasya sengaja ingin mendengar Saffa memanggil Adelia.
"Embun ... embun ...," seketika Adelia dan Rasya menjadi terkekeh.
"Bobo lagi yuk! kasihan ayahnya besok 'kan harus kembali kerja," Adelia dengan menggendong serta memberikan botol asi kepada Baby Saffa. Baby Saffa mengangguk seakan mengerti apa yang di katakan Adelia.
Dengan sedikit menimang-nimang, dan di berikan shalawat akhirnya Baby Saffa tertidur. Lalu, Adelia merebahkan baby Saffa di ranjang bayi. Kemudian, ia beralih menatap baby Daffa yang terlihat tidurnya sangat lelap. Adelia mengecek diapers baby Daffa, dan terlihat bersih-bersih saja. Bahkan, Baby Daffa tidak terusik sama sekali dengan gerakan yang Adelia timbulkan.
"Sudah sayang, lebih baik kita tidur!" ajak Rasya dengan merangkul bahu Adelia dan menuntunnya naik ke atas ranjang.
Adelia merebahkan tubuhnya dan dengan cepat di tarik ke dalam dekapan Rasya yang baru saja naik ke atas ranjang.
"Mas, terima kasih" ucap Adelia membuat dahi Rasya mengkerut.
"Terima kasih untuk apa?" tanyanya heran.
"Terima kasih, atas kehadiranmu di sisiku, Mas" jelas Adelia. Membuat Rasya kini tersenyum mengerti.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Mas juga, terima kasih untukmu. Yang sudah mau hidup bersama Mas," kecupan mendarat sempurna tepat di pucuk kepala Adelia. Adelia memeluk erat suaminya, dengan wajahnya menempel tepat pada dada bidang milik suaminya.
Esok Harinya...
"Ini masakan pertama Bi Ida. Ayo, di coba!" titah Lia kepada seluruh anggota keluarganya yang kini sudah terduduk di ruang makan.
Adelia dan Rasya pun sudah ikut bergabung. Sementara bayi kembarnya sedang di jemur oleh baby Sister di teras depan.
"Enak," celetuk Serly yang terlihat makan dengan lahap.
Semua yang melihatnya tersenyum.
"Kamu, ingat setiap hari di antar dan di jemput oleh Aldi. Tidak Kakak ijinkan membawa mobil sendiri," Rasya kembali memperingati adiknya itu.
Serly pikir setelah selesai antara tanggung jawabnya kepada Dido. Serly akan membawa mobilnya sendiri. Namun, pikirannya salah.
"Iya" jawab Serly dengan lesu. "Em ... bisa gak kak, supirnya yang lain jangan asisten kakak?" celetuk Serly. Membuat Rasya menatap dengan penuh selidik kepada adiknya itu.
"Memang kenapa, kalau Aldi yang akan menjadi sopir mu?" Rasya ingin tahu alasan adiknya.
"Ya, kasihan saja. Kak Aldi 'kan, harus bekerja juga di Kantor, malah di tambah repot harus antar jemput aku," Serly tersenyum senang karena mendapat alasan yang tepat untuk pertanyaan kakaknya itu. Padahal dari lubuk hatinya, ia ingin menjaga jarak dan ingin membuang rasa yang sudah berkembang. Dengan setiap hari bertemu Aldi mana bisa Serly akan berhasil membuang rasa itu, begitu pikirnya. Karena menurut Serly, wajah Aldi tidak bisa ia tebak. Kadang hangat, kadang dingin. Jadi, Serly tidak menjamin jika Aldi mempunyai rasa seperti dirinya.
"Gak apa-apa, pekerjaan di Kantor santai kok, Aldi hanya mengurus segala hal pribadi kakak,"
Hadi yang sedari tadi menyimak, kini bersuara.
"Oh, iya Albian sudah lama ya, tidak berkunjung ke rumah kita?"
Rasya mengangguk, begitupun Lia dan Serly. Tidak dengan Adelia dan Rara. Keduanya hanya menyimak pembicaraan apa yang kini akan mereka dengar.
"Pa, apa masih berlanjut rencana Papa untuk menjodohkan Serly dan Albian?" tanya Lia dengan melirik ke arah Serly. Terlihat Serly menampakkan wajah biasa saja.
"Iya, Ma. Papa ingin sekali Serly menikah dengan Albian," sahut Hadi dengan menerawang jauh.
Namun, Rara seketika tersedak.
"Ra, pelan-pelan!" Adelia seraya menepuk punggung Rara dengan lembut.
__ADS_1
...***...