You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 184.


__ADS_3

Akhirnya Desi meminta Adelia dan Rara untuk makan siang bersama di sebuah cafe di dalam Mall itu. Setelah Adelia membeli beberapa pakaian dan bahan-bahan untuk membuat kue, yang sesuai tujuan awalnya dari rumah.


Kini Desi, Adelia dan Rara tengah duduk di sebuah meja yang melingkar. Dengan menyantap makanan di tambah minuman yang sudah mereka pesan.


"Del, beneran kamu gak ingat semuanya?" tanya Desi mulai membuka suara.


Adelia terdiam. Lalu menggeleng pelan. "Maaf Des, aku kalau berusaha berpikir. Kepalaku selalu saja sakit," ungkapnya.


Rara hanya menyimak saja dengan menikmati santapan makan siangnya.


Desi tersenyum dengan rasa iba, "Del ... boleh aku menceritakan masa-masa kita kuliah dulu?" tanya Desi. Ia sebenarnya sedang merangsang ingatan Adelia, agar berangsur pulih. Begitu tujuan Desi saat ini.


"Boleh. Silahkan ceritakan!" sahut Adelia dengan tersenyum.


"Tahu gak. Dulu aku, kamu, dan Mita di kampus itu bersahabat. Kita mengambil jurusan kedokteran kala itu. Kamu dulu bercita-cita ingin menjadi Dokter. Di karenakan ibu kamu sakit yang begitu lama. Bahkan koma bertahun-tahun, kamu ingin menjadi seorang Dokter. Tapi keinginan kamu harus batal saat itu. Kamu memilih tidak meneruskan kuliah kamu. Dan memilih untuk bekerja. Setelah itu komunikasi kita putus. Kamu menghilang. Hingga aku mencari ke rumah mu, rumah mu sudah kamu jual, ke rumah sakit dan ternyata ibu kamu sudah meninggal. Turut berduka ya, Del ...," Desi dengan begitu panjang menceritakan masa lalu saat bersama Adelia dengan garis besarnya saja.


Sementara Adelia mulai mengingat-ingat sedari Desi bercerita. Seketika Adelia teringat akan wajah sang ibunya.


"Ibu ...," lirih Adelia.


Desi tersenyum, mungkin Adelia sudah mulai mengingat. "Apa kamu ingat wajah ibu mu, Del?" tanya Desi memastikan.


Adelia mengangguk, "Aku ingat. Ibu ... sudah meninggal. Saat itu--" Adelia terdiam. Ia tidak meneruskan ucapannya. Karena dalam ingatannya tiba-tiba berkabut hingga Adelia tidak bisa mengingat dengan jelas.


"Saat itu kenapa Del?,"


Adelia menggeleng, "Maaf aku belum bisa mengingat semuanya," ucap Adelia.


Kini Rara penasaran, ia ingin bersuara dan menanyakan perihal kebersamaannya.


"Del, apa kamu ingat saat pertama perjumpaan kita?" tanya Rara dengan hati-hati. Desi tersenyum senang. Ia setuju karena Rara ikut membantu misinya.


Adelia terdiam, ia mencoba mengingat-ingat saat pertama bertemu dengan Rara. "A-aku, saat itu sedang berjalan di sebuah trotoar. Aku di jambret, dan kamu datang nolongin aku. Benarkah itu?" Adelia bisa mengingat jelas saat pertemuan awal dengan Rara.


"Iya Del benar. Terus lanjutin." Rara senang Adelia bisa mengingat semua awal pertemuannya. Sedangkan Desi sedang menelaah dengan ilmu kedokteran yang ia miliki.


Adelia dengan terpejam, "Saat itu kamu hanya hidup di jalanan. Dan aku mengajak mu untuk hidup bersama, bukan begitu?" lalu membuka kembali kedua matanya.


Rara tersenyum senang. Rasa syukur ia ucapkan. "Alhamdulillah ... Benar Del, yang kamu ingat adalah benar," ucap Rara dengan tersenyum bahagia.


Desi akhirnya bisa menyimpulkan. Bahwa Adelia bisa mengingat hal dari dua tahun ke depan. "Maaf Ra ... apa kamu bertemu Adelia sudah lebih dua tahun?"


"Iya aku dan Adel sudah bersama dalam dua tahun ini," sahutnya.

__ADS_1


"Fix. Adelia harus di ingatkan masa-masa dari dua tahun tersebut. Coba kamu tanyakan lagi!"


Adelia hanya bisa menatap ke arah Desi dan Rara secara bergantian.


"Ok. Em ... Del. Kamu ingat Martin, gak?" kini Rara ingin menanyakan perihal Martin.


"Martin?" pekik Desi. Ia ingat betul bahwa Martin saat kuliah dulu sangat populer di Kampusnya.


"Iya Martin. Dia mantan pacar Adelia. Bahkan sempat tunangan," sahut Rara.


Adelia masih terdiam. Dengan mencoba mengingat tentang nama Martin yang di sebutkan Rara dan Desi.


"Apakah namanya Martin Pratama?" selidik Desi ingin memastikan.


"Iya benar. Namanya Martin Pratama. Kamu kenal juga?" seloroh Rara.


"Ah ya Ampun Del ... kamu jadian juga dengan idola kampus kita. Oh Tuhan ... tapi kamu menikah dengan Rasya, bagaimana ceritanya?" pekik Desi dengan menggeleng-gelengkan kepala merasa aneh dengan cerita Rara.


Tiba-tiba ponsel Rara berdering. Ia langsung mengangkat sebuah panggilan yang masuk.


"Iya Tante. Sudah, sebentar lagi kita pulang," sahut Rara pada panggilannya.


"Baik tante," lalu panggilan pun terputus.


Adelia menatap Rara dan menanyakan, "Siapa Ra? Mama?"


"Ayo! em ... Des, kita pamit pulang ya." Adelia berdiri seraya meraih tas yang ia letakan tadi di atas meja.


"Apa aku bisa minta nomor ponsel mu, Del?"


Adelia bingung. Ia saat ini tidak memegang benda kesayangan sejuta umat itu. Adelia hanya terdiam saja.


"Catat saja nomor ku. Aku yakin Adel, belum di kasih ijin memegang ponsel oleh Rasya," ujar Rara.


"Ok. Silahkan catat nomor ponsel mu di sini," Desi seraya menyerahkan ponsel canggih miliknya kepada Rara.


Rara pun menurut, ia mencatatkan nomor miliknya di ponsel Desi.


"Ok sekarang aku antar kalian pulang," Desi dengan mengambil kembali ponsel miliknya.


Rara menatap kepada Adelia terlebih dahulu, "Beneran, kamu mau antarin kita?"


"Iya benarlah, ayo!"

__ADS_1


Adelia pun mengangguk. Akhirnya mereka meninggalkan Cafe. Dan berjalan melangkah menuju parkiran dimana Mobil milik Desi terparkir. Rara dan Adelia tangannya di penuhi dengan beberapa paperbag. Adelia hanya membawa paperbag yang berisikan pakaian yang di belinya. Sedangkan Rara membawa yang berisi bahan-bahan kue.


"Tolong sebutkan alamat rumah kalian!" pinta Desi saat ini mereka sudah berada di dalam mobil melakukan perjalanan pulang.


Rara dan Adelia terduduk di jok belakang.


"Jalan Kenanga no 25," sahut Rara.


"Ok"


Di dalam mobil tidak ada percakapan di antara ketiganya. Mereka terdiam. Desi memang fokus pada jalanan. Hingga tidak berselang lama Desi kini menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.


"Ini kan jalan yang kamu sebut tadi Ra?" tanya Desi memastikan.


"Iya Des, tuh di depan ada gerbang luas. Itu Rumah Rasya!" tunjuk Rara.


"Oh ya."


Desi kembali melajukan mobilnya. Ia akhirnya sampai di depan Rumah yang Rara tunjuk tadi. Desi memasukkan mobilnya di halaman pekarangan Rumah Rasya yang luas.


Kebetulan sekali, Lia Mama Rasya terduduk di kursi teras menyambut kedatangan Adelia dan Rara yang belum kunjung pulang. Ia mengernyitkan dahinya heran saat menatap mobil yang Desi parkirkan. Lalu ketiganya turun secara bersamaan.


"Ya ampun kalian sama siapa?" tanya Lia ingin tahu.


"Kenalkan saya Desi tante, saya teman Adelia saat kuliah dulu. Begitupun dengan Rasya, kami berteman dengan baik saat itu," ujar Desi memperkenalkan diri.


"Oh begitu? ayo nak, masuk!"


Adelia, Rara, dan Desi pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Ketiganya kini terduduk di sofa ruang tengah.


"Eh iya aku ke dapur dulu ya, aku teringat akan membuat kue untuk suamiku," tutur Adelia seraya ia berdiri.


"Wah, kamu bisa buat kue, Del?" tanya Desi.


"Jago dia," Sahut Rara.


"Masa, ya ampun Del ... kamu itu ternyata serba bisa," puji Desi.


Adelia hanya tersenyum, "Kamu bisa aja. Terlalu berlebihan memujinya,"


"Aku boleh lihat saat kamu buat kue, siapa tahu aku nanti bisa juga,"


"Ayo!"

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2