You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 62.


__ADS_3

Adelia dan Rasya telah sampai di sebuah taman kota. Di taman itu banyak kenangan serta cerita antara mereka berdua. Saat dulu masa-masa sekolah.


"Sayang mau sarapan apa?" tanya Rasya menatap Adelia yang sedang melihat-lihat tempat sekelilingnya. Jujur Rasya saat ini tidak mau kecantikan istrinya bisa di pandangi orang lain. Entah, karena Rasya jarang berada di rumah akhir-akhir ini, atau memang istrinya berdandan dengan sangat beda. Sehingga, ia merasa lebih terpana melihat kecantikan istrinya. Tapi, harus bagaimana lagi ia ingin membawa istrinya jalan-jalan sesuai saran dari kedua orang tuanya.


"Bubur ayam aja mas," sahut Adelia.


"Ya sudah ... tunggu sini. Mas mau pesan dulu buburnya," Rasya dengan mengusap rambut Adelia sebentar. Adelia merespon dengan mengangguk.


Dari kejauhan ada dua pemuda yang sedang memperhatikan Adelia. Kedua pemuda itu tahu betul dan masih ingat dengan wajah Adelia.


"Dim, itu beneran 'kan, Adelia?" tanya Reyhan kepada Dimas yang sedang duduk setelah jogging bersama. Setelah lama, Reyhan baru melihat kembali wajah Adelia. Dan Reyhan akui, bahwa Adelia semakin cantik.


Dimas pun mengangguk karena sudah melihat sebelumnya.


"Entah kenapa gue jadi kurang suka sekarang. Setelah dia nyakitin perasaan Martin, bahkan dia telah buat Martin menderita sakit kronis," ungkap Reyhan yang sekarang sudah merasa ilfeel kepada Adelia. Walaupun kecantikan Adelia masih di akui dalam benak Reyhan. Namun, teringat tentang Martin sahabatnya, sakit dan menderita akibat Adelia. Reyhan seperti sangat membenci Adelia.


Dimas mengangguk-anggukan kepala setuju, "Gue juga sama. Namun, gue gak bisa benci terlalu jauh,"


"Maksud lu?" Reyhan menatap Dimas curiga. Reyhan tahu dulu Martin, Dimas dan dirinya menyukai Adelia.


"Lihatnya biasa aja bro!," ucap Dimas sengit. "gue gak bisa benci karena gue terikat kerja di perusahaan miliknya,"


Reyhan terdiam mencerna ucapan Dimas barusan.


"Tunggu! gue gak ngerti. Bukannya, elu udah hampir dua tahun kerja di perusahaan kimia tersebut?"


Dimas mengangguk, "Iya gue udah dua tahunan. Dan yang sangat mengejutkan. Ternyata perusahaan itu milik Bokap si Adelia. Yang telah lama bertahun-tahun di ambil alih oleh sahabat bokapnya. Setelah terungkap semuanya, akhirnya perusahaan itu jatuh kembali pada tangan ahli waris bokapnya, yaitu Adelia satu-satunya. Lalu, kini di kelola oleh suaminya karena Adelia ingin fokus dengan anak-anaknya. Ya, walaupun dari sebulan dia akan datang menyempatkan ke perusahaan untuk memantau," ujar Dimas menceritakan dengan singkat tapi jelas.

__ADS_1


"Dunia ini ternyata sempit ya ... kita berusaha menghindar dari apa yang berhubungan dengan Martin, eh elu ... malah harus ketemu terus," ungkap Reyhan.


"Iya juga. Tapi, seharusnya kita tak perlu membenci Adelia terlalu dalam. Karena, sebenarnya dia gak salah apa-apa," kata Dimas memberikan pendapatnya.


"Maksud lu? lu mau maafin dia begitu saja? oh sorry ... yang jelas dia salah besar. Gue gak akan semudah itu maafin dia," Reyhan tidak sependapat dengan pemikiran Dimas. Reyhan masih beranggapan jika Adelia yang membuat Martin menderita jiwa dan raganya.


"Rey ... yang salah antara Martin dan Adelia itu adalah Rima, sepupunya Martin ... jadi Adelia juga korban. Sahabat kita saja si Martin yang gak mikir dua kali untuk menghindari alkohol melebihi dosis. Berharap, rasa sakit hatinya hilang. Eh, malah raganya juga 'kan, yang sakit?" Dimas mempertegas serta memperjelas agar Reyhan berhenti membenci Adelia.


"Iya itu pelaku utama yang membuat Martin hancur. Tapi, Adelia ikut andil menghancurkan kehidupan Martin, bahkan sampai sekarang Martin harus melakukan proses pengobatan yang memakan biaya beratus-ratus juta. Sampai beberapa perusahaannya harus di jual," Reyhan dengan emosi tetap berkeyakinan dengan pendapatnya. Bahkan Reyhan mengungkit sebab serta akibat dari semuanya.


Dimas menggeleng-gelengkan kepala masih tidak mengerti dengan pemikiran yang Reyhan miliki.


Suara perdebatan antara Reyhan dan Dimas pun membuat pengunjung taman yang lain ada yang memperhatikan. Begitu pula dengan Adelia dan Rasya yang sedang menyantap sarapannya.


"Mas, bukannya itu kak Dimas dan kak Reyhan?" tunjuk Adelia ke arah dimana Dimas dan Reyhan terduduk dengan mata memicing menyelidik. Takut salah orang yang ia lihat.


"Mas, boleh aku temui mereka?" tanya Adelia.


Rasya menghentikan gerakan tangannya yang akan menyuap kembali, "Untuk apa?" tanya Rasya dengan kerutan di dahinya tidak mengerti.


"Aku ingin menanyakan kabar Martin, Mas" jawab Adelia dengan memelas.


"Untuk apa?" pertanyaan yang sama Rasya utarakan kembali kepada Adelia.


"Mas, aku masih sangat bersalah terhadap Martin. Walaupun aku tidak sengaja melakukannya. Tapi, Martin sakit parah karena aku, Mas" Adelia berucap dengan lirih masih ada rasa bersalah di dalam hatinya jika mengingat Martin.


Rasya menghela nafas berat, "Terus kalau sudah nemuin mereka? mau apa? mau balikan sama mantan?" suara Rasya penuh dengan penekanan. Mengisyaratkan dirinya tidak suka mendengar Adelia menyebut nama lelaki lain.

__ADS_1


"Mas?!" Adelia terperangah menatap Rasya. Adelia merasa dari nada suara suaminya terselip rasa marah.


Rasya terdiam. Mencoba menenangkan dirinya yang tersulut rasa cemburu.


Hingga tercipta keheningan antara Rasya dan Adelia.


Adelia yang tahu Rasya sedang marah. Adelia pun terdiam. Tidak berbicara kembali atau memohon seperti tadi yang pernah ia lakukan.


"Maaf," ucap Rasya tiba-tiba. Membuat Adelia mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"Seharusnya, aku yang minta maaf Mas," kata Adelia kemudian. Mengaku dirinya yang bersalah dalam hal ini. Jika dirinya tidak memohon seperti tadi, maka suaminya tidak akan kesal seperti sekarang.


"Aku tak seharusnya mengungkit masa lalu. Apalagi, membahasnya di depan kamu saat moment kita berdua," ungkap Adelia kini dengan meraih tangan suaminya. Kemudian, mencium punggung tangan Rasya dengan rasa sayang.


"Dan aku sangat salah ... masih mengkhawatirkan orang di masa lalu ketika sudah bersama mu. Maafkan aku Mas," tambah Adelia meminta maaf kepada suaminya.


Rasya kemudian merengkuh tubuh Adelia untuk masuk ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala Adelia dengan penuh sayang.


"Mas cemburu sayang ...," katanya meluapkan.


"Mas, gak mau kamu di ambil orang lain lagi," Rasya benar-benar tidak mau kehilangan Adelia untuk ke dua kalinya. Bayangan itu seperti trauma bagi Rasya tersendiri.


"Mas gak mau," ulang Rasya dengan mendekap erat tubuh Adelia.


Adelia menyesal telah membuat suaminya kesal, serta ketakutan. Adelia hanya bisa mengangguk di dalam dekapan suaminya mencoba untuk menenangkan.


"Maka Mas janji akan menjagamu. Akan melindungi mu dan anak-anak kita. Kalian sangatlah berharga dalam kehidupan Mas," Rasya setelah berucap, mengecup bibir Adelia dengan lama. Tak perduli dengan situasi di tempat umum. Rasya hanya ingin menyalurkan kesungguhan serta menghilangkan kegundahan rasa hatinya, yang baru saja ia rasakan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2