You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 43.


__ADS_3

Rasya mengernyitkan dahinya heran dengan ekspresi Aldi barusan. Namun, seketika Rasya tertawa.


"Hahaha ... kamu kaget Al? sama saya juga pas pertama dengar dua bocah itu mau tunangan. Kagetnya luar biasa," Rasya yang menurutnya Aldi terkejut mendengar apa yang baru saja ia sampaikan.


Aldi masih terdiam. Berharap apa yang baru saja ia dengar adalah tidak benar. Sehingga Aldi kembali bertanya untuk memastikan.


"Pak, beneran nona Serly dengan Dido mau tu-tunangan?" tanyanya sedikit terbata. Entah rasanya, tenggorokan Aldi merasa sakit saat mengatakan kata 'tunangan' untuk Serly dan Dido.


Rasya mengangguk dan tersenyum, "Iya Al. Ayo! saya tunggu di Loby ya," Rasya dengan berlalu.


Setelah perginya Rasya. Tubuh Aldi luruh ke lantai. Merasakan sesak di dada. Gadis yang di cintainya akan bertunangan dengan orang lain, dan Aldi tidak bisa membayangkan itu semua. Karena, dengan mendengarnya saja sudah merasa sakit di bagian dadanya apalagi sampai menyaksikan.


Setelah beberapa menit Aldi terdiam. Ia teringat akan sesuatu, yang mungkin menurutnya Serly dan Dido akan tunangan adalah hasil desakan orang tuanya.


"Apa Serly di desak Pak Hadi?" Aldi sedikit tenang setelah teringat akan Hadi yang menginginkan seorang menantu mapan atau sesuai dengan derajatnya. Jadi, ini murni bukan ke inginan Serly. Begitu pikirnya.


"Saya harus berbicara dengan Serly dan memastikan kebenarannya," kata Aldi yang ingin memastikan.


Aldi menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Seakan udara di sekitarnya susah ia hirup. Kemudian Aldi memakai jas yang tadi di letakan Maharani di meja sofa. Setelah itu Aldi keluar.


"Maaf, Pak. Menunggu lama ya?" Setelah sampai di Loby Aldi meminta maaf kepada Rasya yang pasti sudah menunggunya.


Rasya menggeleng, "Tidak apa-apa Al. Saya juga baru saja video call sama anak-anak," Rasya kemudian masuk ke dalam mobil, setelah pintunya di bukakan Aldi.


"Ke perusahaan Tuan Malik ya, Pak?" Aldi bertanya sebelum melajukan mobilnya.


"Iya, Al." Rasya menyahuti seraya tangannya menggulir layar ponselnya. Baru saja ia mendapat chat photo dari istrinya. Yang di kirimkan Adelia adalah penampilan Daffa dan Saffa. Rasya tersenyum menatap photo anak-anaknya.


Hingga berselang dua puluh menit. Mobil yang di kendarai Aldi sampai di parkiran perusahaan Tuan Malik, yang bernama Arlino Group.


"Al, kamu juga ikut ke dalam untuk menemui Tuan Malik," ajak Rasya yang sedang membuka seatbelt.


"Baik Pak," sahut Aldi menurut.

__ADS_1


Keduanya pun keluar dari dalam mobil. Lalu mendatangi Resepsionis menanyakan ruangan Tuan Malik berada.


"Silahkan bapak datangi lantai 12. Nanti di sana ada sekretaris Tuan Malik yang akan menunjukkan ruangan Tuan Malik," kata Resepsionis yang memakai hijab.


"Baik nona. Terima kasih," ucap Aldi Setelah itu meninggalkan meja resepsionis.


Aldi mengekori langkah Rasya dengan pikiran yang terus tertuju kepada Serly. Walau bagaimanapun hatinya tidak tenang. Namun, tidak terlihat sama sekali. Di karenakan wajah Aldi yang datar dan dingin sehingga nampak biasa saja.


Rasya dan Aldi masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 12. Setelah itu sampai, keduanya pun keluar. Dan langsung di sambut oleh Sekretaris Tuan Malik yang bernama Sakti.


"Pak Rasya?" Sakti tersenyum menatap kedatangan sahabatnya.


"Loh, kamu kerja di sini?" Rasya terkejut bukan main dengan sahabatnya yang berada di kantor perusahaan Tuan Malik. Dirinya yang baru pertama kali datang ke Kantor perusahaan Arlino Group, tentu tidak tahu tentang Sakti sahabatnya yang bekerja di sana.


Sakti menyengir, "Iya Sob. Aku kerja di sini sebagai Sekretaris Tuan Malik. Nanti deh, aku ceritakan. Soalnya panjang ceritanya. Bisa-bisa sampai sore nanti," Sakti terkekeh dan berniat akan menceritakan tentang dirinya yang bisa bekerja di perusahaan Tuan Malik.


"Wah, sang CEO mau menemui Tuan Malik ya?" lanjut Sakti dengan tersenyum menggoda Rasya.


Rasya berdecih, "Jangan sebut-sebut gelar itu. Ini hanya amanah dari istriku. Ayo cepat tunjukkan dimana ruangan Tuan Malik!" Rasya tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu Tuan Malik.


Rasya tergelak. Kemudian merangkul Sakti. "Bukannya, kamu sendiri nanti saja mengobrolnya?"


"Ini di perusahaan tempatku bekerja. Jadi, jaga sikap anda!" kata Sakti kembali menggoda.


Rasya langsung menoyor kepala Sakti, "Tadi kamu ingin aku sapa. Sekarang sok jadi karyawan yang patuh dengan aturan perusahaan. Menyebalkan!" Rasya masih merangkul bahu Sakti.


Aldi hanya menyimak apa yang di katakan dan di lakukan Rasya dan Sakti. Dengan perasaannya yang bercampur aduk.


Sakti menyengir, "Slow aja sob. Di sini bebas mau bagaimanapun asal kinerjanya yang harus serius dalam bekerja," Sakti melangkah membimbing Rasya untuk menuju ruangan Tuan Malik.


Sakti menghentikan langkahnya saat di depan pintu ruangan Tuan Malik. "Sekarang lepaskan tangan anda bung! dan masuklah ke dalam!"


Rasya langsung melepaskan rangkulan tangannya. Dan berujar kepada Aldi. "Jadi begitu ya, cara sekretaris di sini membimbing tamunya?" ledek Rasya.

__ADS_1


"Haha ... sudah sana, jangan lupa ketuk pintu!" pesan Sakti.


Kemudian Sakti menatap Aldi sejenak. Lalu berpamitan kepada Rasya dan Aldi.


"Ya sudah. Aku mau ke ruangan ku," pamit Sakti.


Rasya mengangguk, begitupun degan Aldi.


Tok tok tok!


Aldi mengetuk pintu ruangan Tuan Malik. Dan terdengar sahutan dari dalam untuk menyuruhnya masuk.


"Tuan Malik," sapa Rasya saat masuk dan di ikuti Aldi.


"Hei, Nak Rasya! ayo silahkan duduk!" Tuan Malik menyuruh agar Rasya duduk di sofa.


"Ini asisten Nak Rasya?" Tuan Malik beralih menatap wajah Aldi.


"Iya Tuan. Aldi namanya," balas Rasya dengan melirik sekilas ke arah Aldi.


Aldi hanya tersenyum tipis menanggapi dan menyapa Tuan Malik.


Namun, raut wajah Tuan Malik seketika berubah. Seakan terlihat merenung. Dengan tatapannya menelisik wajah Aldi dengan intens.


"Oh, iya Tuan Malik. Kedatangan saya ke sini menjadi perwakilan Papa. Kebetulan Papa, sedang berada di luar kota. Beliau menyuruh saya untuk mendatangi Tuan," Rasya berujar sehingga membuat Tuan Malik menatap ke arahnya.


Tuan Malik mengangguk paham, dan mulai membicarakan apa maksud dan tujuannya mengajak Pak Hadi berbicara yang kini dengan Rasya sebagai perwakilannya.


"Saya hanya ingin menyampaikan. Kalau Persiapan untuk acara nanti malam minggu sudah mencapai 90%. Lalu, saya akan mengirim anak buah saya untuk menemui keluarga Pak Hadi agar memilih Seragam pesta yang akan di kenakan. Kalau saya pribadi nurut-nurut saja, warna apa yang akan kalian pilih," ujar Tuan Malik.


Rasya manggut-manggut paham. Sementara Aldi hanya terdiam. Meresapi sakit di dadanya yang seperti tercabik-cabik.


'Sebenarnya ada yang saya ingin bicarakan lagi soal Dido dan Serly. Namun, tidak mungkin. Lebih baik mereka tidak perlu tahu,' batin Tuan Malik yang ragu akan mengungkapkan hal yang sebenarnya sudah terjadi antara Dido dan Serly.

__ADS_1


Tuan Malik memilih untuk bungkam saja. Toh, pertunangan akan terjadi, hingga pernikahan. Memang itu lebih baik. Dari pada masalah yang sebenarnya di ketahui oleh keluarga Pak Hadi dan menimbulkan kesalahan pahaman atau merasa kecewa.


...***...


__ADS_2