
Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Rasya memilih waktu untuk bermain dengan anak kembarnya yang usianya jalan tujuh bulan. Rasya menggendong Baby Saffa untuk berjemur di teras depan.
Sedangkan Adelia masih memberikan makan untuk Baby Daffa. Walaupun sudah tersedia Baby Sister, Adelia masih mengurus kedua bayinya itu. Sementara Baby Sister kerap sekali menerima tugas membersihkan rumah dan mencuci Pakaian dari Lia jika dua baby Sister tersebut sedang tidak memegang bayi.
"Yayah yayah," celoteh baby Saffa saat Rasya taruh di stroller.
"Ada apa Sayang?" Rasya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi stroller, sehingga ia bisa menatap baby Saffa yang sedang tersenyum kepadanya.
"Mimimimi ...," Baby Saffa dengan menggerak-gerakkan tangannya.
Rasya tersenyum, "Pengen Mimi? ya sudah ayo masuk dulu, kita minta sama Bunda," kata Rasya dengan mendorong stroller masuk ke dalam rumah.
Terlihat dari arah tangga Serly sudah terlihat rapih dengan pakaian kasual ala-ala remaja.
"Mau kemana?" tanya Rasya tentunya ingin tahu.
Serly menatap kakaknya, "Mau main ke rumah Kikan," ucap Serly dengan jujur.
"Jangan bawa mobil!" Rasya sudah tidak mau mendengar adiknya menabrak atau kecelakaan.
"Enggak. Aku sudah pesan taksi online kok," kata Serly dengan santai. Ia tidak kembali protes kepada Kakaknya itu.
"Ya sudah. Sana!" Rasya dengan cepat menyuruh adiknya pergi.
"Bye, Princess aunty!" Serly dengan mencium gemas baby Saffa terlebih dahulu kemudian berlalu.
Rasya melangkah sembari mendorong stroller ke arah kamar Baby kembarnya. Ia melongokan kepalanya terlebih dahulu untuk mencari tahu Adelia ada di sana. Namun tidak ada.
"Bunda gak ada di kamar kamu, Saffa Sayang" ucap Rasya kemudian kembali mendorong stroller kini menuju kamarnya.
"Nah ternyata Bunda di sini!" Rasya berucap seraya masuk dan mendorong stroller.
Adelia menoleh dengan tersenyum. "Eh, Ayah sama baby Saffa. Sini!" ucapnya. Adelia terlihat sedang memberikan asi kepada Baby Daffa yang sepertinya akan tertidur.
"Daffa mau tidur?" Rasya bertanya seraya meraih botol susu yang sudah di penuhi asi oleh Adelia. Sebelum memberikan asinya kepada Baby Daffa, Adelia memompa terlebih dahulu saat tadi.
"Iya, Mas. Daffa biasanya kalau sudah mandi dan makan akan tidur lagi," Adelia dengan mengelus-elus kepala Baby Daffa.
Rasya menatap istri dan baby Daffa dan beralih menatap Baby Saffa yang sedang menyedot susu dan memegang botolnya sendiri. Senyumnya tersungging dengan rasa syukur yang memenuhi relung hatinya.
"Mas hari ini pengennya ngajak kalian jalan-jalan," Rasya kini seraya duduk di sebelah Adelia dengan matanya memperhatikan baby Saffa.
"Jalan-jalan kemana Mas?" Adelia bertanya dengan mengancingkan kancing dressnya, karena Baby Daffa sudah melepaskan se sapannya dan kini ia tertidur lelap.
"Ke taman yang dekat-dekat saja. Mas ingin menghabiskan hari libur bersama kalian," Rasya kini memperhatikan Adelia yang berdiri dan menuju ranjang bayi yang masih tersimpan di dalam kamar mereka. Adelia menidurkan baby Daffa dengan pelan-pelan.
"Di rumah juga gak apa-apa Mas. Aku malah lebih suka di rumah. Kalau di luaran takut si kembar malah kepanasan. Tunggu nanti saja kalau sudah setahunan," Adelia kini duduk di samping suaminya dengan merebahkan kepalanya di bahu Rasya.
"Emang sih nyaman di rumah bagi Mas juga," Rasya mengecup kening Adelia dengan lama. "Bisa peluk-peluk kamu dan cium-cium kamu," selanjutnya.
Adelia tersenyum mendengar suaminya yang selalu berotak mesum tersebut. Tapi Adelia senang. Dengan suaminya seperti itu, menandakan dirinya sangat di cintai.
"Baby Saffa tidur, Mas" bisik Adelia agar suara suaminya tersebut tidak terlalu keras. Karena Baby Saffa sangat peka jika sedang tidur mendengar suara keras, atau berisik ia akan terbangun.
__ADS_1
"Tidurin dulu Sayang!"
"Iya, Mas" Adelia dengan pelan memangku baby Saffa dan menidurkan di ranjang bayi sebelah Baby Daffa.
Rasya tersenyum senang bayi kembarnya seakan tahu ia ingin sekali berduaan dengan Adelia.
Adelia ia peluk dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di balik ceruk leher Adelia yang mulus. Melihat leher Adelia yang terkspos membangkitkan gairah Rasya di pagi itu.
"Mas, jangan aneh-aneh!" cegah Adelia saat tahu suaminya sudah mulai berulah.
"Sekali saja, pagi ini" ucap Rasya dengan suara pelan agar tidak mengganggu bayi kembarnya.
"Ish ... semalam 'kan sudah. Bahkan bukan sekali, malah berkali-kali. Lebih baik kita ikut tidur saja, lagian aku masih ngantuk Mas" Adelia dengan menuju ranjang. Rasya mengikuti langkah istrinya itu. Dan ikut naik merangkak ke atas ranjang setelah Adelia berbaring.
"Kalau kamu mau tidur. Tidur saja. Biar, Mas saja yang berusaha," ujarnya dengan tangannya sudah menelusup masuk ke dalam dress yang membalut tubuh Adelia.
"Mana bisa aku tidur, kalau Mas menggerayangi aku seperti itu" Adelia menepis tangan Rasya.
"Sayang," Rasya memberengut. Menampilkan wajah memelas agar di kasihani istrinya.
Adelia yang merasa tidak tega. Menarik tubuh Rasya. Memeluk dan menciumi lehernya dengan lembut.
"Ah Sayang" racau Rasya seraya meremas pinggul istrinya dengan gemas.
Skip
***
"Jadi aku gak boleh main?" Serly dengan mengerucutkan bibirnya.
"Boleh dong. Jangan merajuk gitu. Aku hanya heran saja," Kikan dengan menarik tangan Serly menuju kamarnya.
"Jadi punya teman nonton drakor," lanjut Kikan.
"Ya boleh," Serly dengan antusias menerima ajakan temannya itu.
"Kamu coba play dulu di laptop. Aku mau ngambil minuman serta cemilan ke dapur," kata Kikan.
"Ok," sahut Serly dengan cepat meraih laptop milik Kikan. Dan mencari-cari judul drakor yang menurutnya menarik.
"Yang ini sepertinya banyak uwu nya," kata Serly dengan berpikir bahwa dari judulnya terlihat romantis.
Tidak lama kemudian Kikan datang dengan sebuah nampan yang berisi cemilan dan minuman. Kikan menaruhnya di samping laptopnya.
"Ini banyak kissingnya loh" celetuk Kikan saat melihat judul yang Serly play.
"Wah ... kamu udah nonton?" Serly dengan menatap wajah temannya yang menyengir.
"Iya lah aku sudah nonton. Habisnya hidup sendirian. Hanya film yang menemani aku," ucapnya mendramatisir.
"Cup cup cup ... jangan sedih ya. Kan ada aku?" Serly menimpali dengan wajah yang seakan begitu peduli. Ia memeluk Kikan dengan gemas. Setelah itu keduanya tergelak.
Suara deringan ponsel milik Serly menghentikan tawa mereka.
__ADS_1
"Ada telepon tuh!" tunjuk Kikan pada ponsel Serly yang tadi tidak sengaja di taruh meja rias milik Kikan.
"Kak Dido?" Kikan yang lebih dulu mengambilkan ponsel milik Serly tersebut dan membaca siapa gerangan yang menelepon sahabatnya itu.
"Kak Dido?" repleks Serly mengikuti suara Kikan. Baru saja ponsel itu akan Serly ambil. Namun Kikan sudah menggeser nada panggilan hijau menjawab panggilan tersebut.
Serly menatap Kikan seraya menggeleng. Serly tidak mau berbicara dengan Dido saat ini. Serly berbisik menyuruh Kikan untuk berbicara pada Dido.
"Hallo, Kak Dido" kata Kikan.
"Iya Hallo. Maaf ini bukan Serly ya?" tebak Dido dengan benar. Kikan sengaja mengloudspeaker agar terdengar oleh Serly.
"Iya aku bukan Serly. Aku temannya" sahut Kikan dengan menyengir kepada Serly.
"Serly nya mana?"
"Serly lagi ke toilet dulu kak. Sakit perut katanya," Kikan langsung dapat toyoran di kepalanya dari Serly.
"Oh ya sudah. Aku tutup ya"
Tuttt panggilan pun tertutup. Membuat Kikan menatap layar ponsel Serly dengan mengkerut.
"Aneh ya, Kak Dido kok sepertinya gak mau lama-lama ngobrol sama aku?"
Serly hanya geleng-geleng kepala. "Kenapa kamu mau banget lama-lama ngobrol dengannya?" tanya Serly dengan menatap layar laptop.
"Mau aja gitu. Tapi, apaan sih aku ini. Orang Kak Dido suka dan cintanya sama kamu." seloroh Kikan kemudian.
Serly hanya diam saja tidak menanggapi. Kemudian tidak lama suara bell berbunyi menandakan ada orang yang datang.
"Siapa sih?" tanya Kikan kepada Serly.
"Ya mana aku tahu, Ikan" sahut Serly dengan acuh.
"Ish ... kalau Bang Aldi mana mungkin pencet bell." ucapnya lagi.
"Aku buka dulu pintu ya," lanjut Kikan seraya melenggang ke arah pintu utama.
Kemudian Kikan membuka pintu. Ia sangat terkejut. Di hadapannya yaitu pria yang baru saja berbicara di balik telepon milik sahabatnya itu. Terlihat menenteng sebuah paper bag. Penampilannya membuat siapa saja terpana kepadanya.
"Kak Dido," sapa Kikan.
"Serly nya mana?" tanya Dido langsung.
"Oh a-ada di kamar. Ya sudah kak Dido masuk dulu dan duduk. Biar aku panggilkan Serly terlebih dahulu," kata Kikan dengan membuka pintu rumahnya dengan lebar. Kemudian ia melenggang ke arah kamar setelah di pastikan Dido duduk di sofa ruang tamu.
Serly yang tahu kedatangan Kikan ke dalam kamar menoleh, "Siapa yang datang?" tanyanya.
"Kak Dido," sahut Kikan.
"Apa?" pekik Serly dengan wajah terkejut.
...***...
__ADS_1