
Lia dan Rara baru saja keluar dari dalam rumah. Dengan menenteng tas di tangannya masing-masing. Lia kemudian mengunci pintu terlebih dahulu. Lalu melangkah ke arah depan dan hanya menatap Dirga yang berdiri sendiri.
"Dimana menantu saya?" tanya Lia dengan panik.
"Ibu tenang saja. Menantu ibu sengaja di dahulukan ke rumah sakit oleh kedua teman saya. Jika terlalu lama menunggu. Kami takut terjadi sesuatu pada menantu ibu itu," ujar Dirga menenangkan.
Lia bernafas lega. Ia sudah ketakutan bahwa menantunya di bawa pergi atau di culik. "Oh begitu?. Baiklah Nak. Ini kunci mobil yang berwarna putih!" Lia menyerahkan kunci mobil dan menunjuk mobilnya yang akan di pakai. Terlihat dua mobil yang terparkir di halaman rumah Lia tersebut.
"Baik Bu," Dirga pun langsung menekan kontak kunci pada mobil tersebut. Lalu masuk ke dalamnya. Kemudian di susul Lia masuk bersama Rara secara bersamaan.
Mobil yang Dirga kendarai pun meninggalkan halaman rumah Lia. Ia melajukan mobilnya, menyusul mobil yang Arman kendarai.
Sementara itu di dalam mobil yang di kendarai Arman. Adelia yang masih dalam keadaan pingsan di tidurkan kepalanya di pangkuan Albi. Dengan sesekali Albi mengecup kening Adelia dengan rasa rindu yang membuncah. Tangannya terus mengelus kepala Adelia dengan lembut.
"Bro ... elu dah gila?, Sadarlah dia istri orang!," celetuk Arman yang memperhatikan apa yang di lakukan Albi sedari tadi dari kaca spion tengah.
Albi tidak menimpali. Ia cuek. Ia tidak perduli dengan celetukan Arman barusan.
"Gadis cantik masih banyak di luaran sana. Sudahlah lepaskan dan lupakan. Arumi sudah kembali bersama suaminya!!" Arman kembali memberikan nasehatnya.
"Arman. Tidak semudah itu. Entah mengapa Arumi seperti magnet buat gue. Ia bisa membuat diri ini merasakan apa yang namanya cinta. Gue tak perduli dia sudah bersuami. Yang jelas Gue mencintai nya," ujar Albi dengan jujur. Ia menginginkan Adelia untuk selalu bersamanya.
Selang beberapa menit. Akhirnya mobil yang Arman kendarai masuk ke dalam pelataran Rumah Sakit. Albi keluar dengan menggendong Adelia. Sedangkan Arman meminta petugas untuk membawa brangkar secepatnya. Dan tak lama Adelia sudah di baringkan di atas brangkar. Lalu di dorong menuju ruang UGD.
Albi dan Arman pun menunggu di kursi tunggu. Terlihat Dirga sudah datang bersama Lia dan Rara masuk ke dalam lorong Rumah Sakit, dengan langsung menuju Ruang UGD.
"Bagaimana keadaan Adelia?" tanya Lia saat sudah sampai kepada Arman.
"Nona lagi di tangani Dokter Bu," sahut Arman.
Sedangkan Rara menatap Albi dengan tidak berkedip. Bahkan Rara seperti sangat terpesona. Seketika terdengar ponsel seseorang berbunyi membuat Rara terperanjat dari keterpakuannya. Yakni ponsel itu miliknya Dirga. Dan terlihat Dirga menjawab panggilan dari seseorang.
"Bos kita harus ketemu Klien segera saat ini juga!" ucap Dirga kepada Albi setelah mengakhiri panggilan pada ponselnya.
Albi menjawab dengan mengangguk pelan.
"Arumi ... aku pergi. Semoga kamu baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu. Namun, aku tidak penasaran. Aku sudah bisa memelukmu dan mengecupmu hari ini," gumam Albi di dalam hatinya.
"Bu. Kami pamit. Semoga menantu ibu baik-baik saja ya," ujar Arman kepada Lia.
__ADS_1
"Terima kasih banyak sekali. Kalian telah menolong saya. Jika tidak ada kalian entah bagaimana dengan keadaan menantu saya jadinya," ucap Lia berterima kasih kepada Mereka bertiga.
"Sama-sama bu. Semoga menantu ibu cepat sadarkan diri," kini Dirga yang berbicara, seraya menyerahkan kunci mobil milik Lia.
Sedangkan Albi hanya mengangguk dengan tersenyum kepada Lia. Dan mereka pun pergi meninggalkan Rumah Sakit.
Kini tinggal Lia dan Rara yang terduduk di kursi tunggu.
"Ra, kamu jangan kasih tahu Rasya. Saat ini ia pasti sedang fokus bekerja. Apalagi hari ini hari pertamanya bekerja kembali. Semoga saja Adel tidak kenapa-napa, dan bisa pulang saat ini juga," tutur Lia.
"Baik Tante. Lagian Rara takut Tante. Jika ngasih tahu sama Rasya. Pasti dia akan khawatir sekali," sahut Rara.
"Benar. Kamu tahu sendiri bagaimana saat tadi pagi, Rasya menitipkan istrinya bagaikan menitipkan anak kecil. Posesif sekali dia!" Lia dengan terkekeh mengingat tadi pagi saat Rasya menitipkan Adelia.
"Benar Tante," sahut Rara dengan ikut terkekeh juga.
Tak lama datang dokter Risa keluar dari Ruang UGD. Ia baru saja mengecek kandungan Adelia.
"Bu ... pasien baik-baik saja. Ia sepertinya hanya kelelahan saja," ucap Dokter Risa menyampaikan.
"Benarkah?. Alhamdulillah kalau begitu Dok," sahut Lia dengan merasa lega.
"Baik Dok. Dan terima kasih,"
"Sama-sama Bu. Kalau begitu Saya mohon pamit,"
"Silahkan Dok,"
Dan Dokter Risa pun pergi meninggalkan Lia. Lalu Lia dan Rara masuk ke dalam ruangan yang dimana Adelia terbaring. Beberapa menit kemudian Adelia mengerjapkan kedua matanya. Dan langsung bisa menatap Lia dan Rara.
"Akhirnya Nak, kamu sadar juga Sayang" ucap Lia dengan perasaan lega, seraya tangannya mengelus kepala Adelia.
"Ma, aku di Rumah Sakit?" tanyanya.
"Iya Sayang kamu tadi pingsan," sahut Lia.
"Del, syukurlah kamu tidak kenapa-napa," kini Rara berbicara.
"Iya, Ra." Adelia tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu, Mama mau ke bagian Administrasi dulu ya, setelah itu kita pulang."
Adelia pun tersenyum dengan mengangguk. Seperginya Lia. Kini tinggal ada Adelia dan Rara. "Del, aku minta maaf. Gara-gara aku nyuruh kamu mengingat semuanya, kamu jadi pingsan," ucap Rara merasa bersalah.
Adelia tersenyum, "Tidak Ra. Kamu gak salah. Justru memang seperti itu kalau aku mencoba mengingat," sahut Adelia.
"Aku takut di salahkan Rasya, Del ...,"
"Jangan di kasih tahu saja. Sudah ... lagian Mas Rasya gak akan apa-apa. Oh ya, bagaimana bisa aku di bawa ke Rumah Sakit, apa sama Mas Rasya? lalu dimana dia?" Adelia bertanya tentang dirinya yang bisa berada di Rumah sakit.
"Tadi Tante Lia dapat bantuan dari pengendara yang lewat. Mereka baik-baik mau menolong kamu," ujar Rara.
"Mereka?"
"Iya, ada tiga orang Del. Seumuran Rasya kelihatannya. Terus kamu mau tahu gak?"
Adelia menautkan kedua alisnya, "Tahu tentang apa?" tanyanya.
"Mereka tampan-tampan, Del ...," ucap Rara dengan membayangkan tiga pria tadi. Maklum jiwa kejombloannya kalau melihat pria tampan langsung memberontak.
Adelia hanya tersenyum. "Terus, kalau tampan-tampan. Kamu naksir?" goda Adelia.
"Ya naksir. Tapi mereka gak mungkin naksir sama aku," ucap Rara tidak percaya diri.
"Sudah. Kamu jangan merendahkan diri kamu sendiri. Kita kan, gak tahu bisa saja di antara mereka ada yang naksir kamu,"
Rara tersenyum, "Boleh lah. Ngarep!" ucapnya lalu tergelak.
Tak lama pintu di buka dari arah luar. Terlihat Lia dan Serly masuk.
"Ayo kita pulang!" ajak Lia.
"Untung Kakak gak kenapa-napa," ucap Serly dengan membantu Adelia bangun dari ranjang pasien. Adelia hanya mengulas senyum.
Mereka pun akhirnya pulang. Dengan Serly yang mengendarai mobil yang tadi Dirga bawa. Lia sengaja menelpon Serly saat menuju meja Administrasi. Dan kebetulan Serly saat itu baru saja keluar dari gerbang sekolahnya.
Selang beberapa menit, Mobil yang Serly kendarai sampai di halaman Rumah. Dan mereka sangat bernafas lega. Karena Rasya belum pulang dari Kantor, terlihat belum ada mobilnya yang terparkir.
...***...
__ADS_1
...Bersambung....