
"Rame banget." kata Rasya di ambang pintu. "Oh ternyata ada tamu," ucap Rasya yang baru saja melihat keberadaan Dido yang masih memangku baby Saffa.
Rasya saat keluar dari ruang kerjanya mendengar istri dan adiknya seperti sedang bercanda. Dan membuat Rasya penasaran ingin keluar saat mendengar ada suara seorang pria.
"Eh, Bang" sapa Dido dengan tersenyum mengangguk sopan. Rasya mendekat seraya menjawab senyuman Dido.
"Sudah lama?" tanya Rasya sembari duduk di kursi kosong sebelah Dido.
"Lumayan Bang. Betah main sama Saffa," sahutnya dengan menciumi baby Saffa kembali.
"Yayah yayah" celoteh Baby Saffa seperti biasa jika melihat seorang pria ia pasti akan memanggil dengan kata Ayah, namun kali ini baby Saffa memanggil dengan benar kepada orangnya.
"Apa sayang? di gendong Om Dido ya?" jawab Rasya dengan mengusap-usap kepala bayi perempuannya itu.
Adelia menidurkan baby Daffa yang kini sudah terlelap di atas stroller.
"Mas, nitip Daffa dulu. Aku mau ke toilet sebentar," kata Adelia dengan menoleh ke arah suaminya.
"Iya sayang ...," sahut Rasya dengan tersenyum.
Dido yang memperhatikan Rasya yang memanggil sang istri dengan kata sayang, ia tersenyum. Begitu romantis pikirnya. Kini tatapan Dido menatap ke arah Serly yang terlihat melamun setelah tadi habis di goda Adelia.
"Serly, kamu kenapa?" sang Kakak yang peka atas keterdiaman adiknya bertanya.
Serly tidak bergeming. Ia masih menatap kosong pada arah jalan raya.
Rasya menggeleng-gelengkan kepala, "Serly!" pekik Rasya lebih keras.
"Ah i-iya kak," Serly menjawab dengan tergagap dan menoleh ke arah Kakaknya.
"Kamu melamun? atau kalian bertengkar?" Rasya salah sangka.
Serly menggeleng dengan cepat.
Rasya kini menoleh ke arah Dido yang kini terdiam.
"Do, apa kalian bertengkar?" tanyanya ingin memastikan.
Dido tersenyum dengan menggeleng, "Tidak Bang,"
__ADS_1
"Terus bocah itu kenapa melamun?"
"Aku juga kurang tahu, Bang. Sejak tadi malahan ngelamun terus,"
Serly berdecak kesal. Dido orang yang hamble membuat lebih akrab dengan kakaknya, sedangkan tadi Dido menyerangnya dengan Adelia kakak iparnya.
"Kamu ada masalah?" Rasya kini menatap adiknya dengan penuh selidik.
"Apa sih kak? aku gak apa-apa juga," jawab Serly dengan ketus. "Kalau tidak tahu apa-apa. Jangan sok tahu deh," kini ucapan Serly mengarah kepada Dido. Kemudian Serly melenggang masuk ke dalam rumah begitu saja. Pikirannya yang terus memikirkan pria dingin yang hari ini tidak menyapanya, membuat Serly tidak sadar memarahi Dido dengan tidak jelas.
Rasya dan Dido saling pandang dengan dahi berkerut pada dahi keduanya setelah kepergian Serly.
"Kalian pacaran atau temenan?" rasa penasaran Rasya ingin menanyakan hal tersebut saat ini juga.
Dido menyengir, merasa gugup untuk menjawab pertanyaan sang kakak dari gadis yang ia sukai.
"Mohon maaf Bang. Sebenarnya saya sudah mengatakan perasaan kepada adik Abang. Namun, adik Abang menolak. Dan memilih untuk berteman. Jadi, kami berteman," Dido akhirnya mengatakan yang sebenar-benarnya.
Rasya tersenyum merasa suka terhadap Dido yang berkata apa adanya tanpa ada yang di tutupi.
"Jadi kamu di tolak?"
"Padahal saya akan merestui jika kalian berhubungan. Tapi, gimana lagi kalau adik saya sendiri yang menolaknya," Rasya berkata jujur merasa suka dengan baru melihat perawakan Dido apalagi dalam tutur katanya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa jika orang yang bersangkutan telah menolaknya.
"Terima kasih, Bang ... mungkin aku lebih baik berteman saja dengan adik Abang," Dido mengelus-elus punggung Baby Saffa yang bersandar pada dadanya.
Rasya menepuk bahu Dido. "Selamat berjuang!" ucapnya. Membuat Dido mengernyit tidak mengerti.
Adelia datang dengan menatap bayi perempuannya yang kini sudah terlelap di dada bidang milik Dido.
"Ya ampun. Gadis bunda tidur di pelukan Om ganteng," ucapnya. Membuat Rasya mendelik tidak suka jika istrinya memuji ketampanan pria selain dirinya.
Dido menunduk dan menatap baby Saffa yang benar terlelap. "Eh iya kak, Saffa ternyata sudah tidur," timpalnya.
Rasya langsung perlahan meraih tubuh Saffa dari pelukan Dido.
"Saffa biar saya tidurkan," dengan hati-hati Rasya menidurkan Baby Saffa di samping baby Daffa yang terlelap juga.
"Sayang ... Bawa masuk ke kamar. Di sini berisik banyak suara kendaraan lewat," titahnya kepada sang istri.
__ADS_1
"Iya, Mas" sahut Adelia. Kemudian tatapan Adelia mengarah kepada Dido, "Do ... aku tinggal ya," ucapnya seraya tangannya kini mendorong stroller.
"Iya kak" balas Dido dengan menatap Adelia yang perlahan menjauh.
"Sudah istri saya gak boleh di lihatin gitu!" suara Rasya membuat Dido terbelalak.
"Abang cemburu?" tebakan Dido yang benar.
"Ya pasti. Karena istri saya memang sangatlah cantik," Rasya membanggakan kecantikan istrinya.
Dido terkekeh, "Benar kak Adel itu sangat cantik. Dan orangnya sangat mudah akrab seperti saya," kata pujian dari Dido membuat Rasya menatap tajam.
"Ya tapi ... percuma cantik juga kalau istri orang. Lagian, ya saya sukanya sama adik Abang," Dido dengan menahan tawa karena wajah Rasya yang terlihat kesal karena ulahnya.
Wajah Rasya kini terlihat serius. Lalu menatap Dido dengan tajam.
"Apa yang membuatmu suka dari adik saya?" pertanyaan Rasya seakan seperti sebuah interogasi bagi Dido.
Dido menjawab dengan menatap ke arah jalan. "Serly, gadis yang beda dari yang lain Bang. Cuek, dan gak aneh-aneh. Di tambah wajahnya yang cantik pula, membuat saya merasa cepat jatuh cinta. Padahal, saya baru beberapa hari akrab dengannya."
"Maksudnya cuek bagaimana?" Rasya saat ini seakan seperti emak-emak yang kepo akan kehidupan tetangganya.
"Cueknya Serly, gak seperti gadis lain Bang. Biasanya gadis yang lain ingin terus dekat-dekat saya. Bahkan cari perhatian saya. Tapi Serly beda. Ia sangat cuek. Bahkan menolak saya," Dido dengan di akhir katanya terkekeh menguatkan hatinya yang sedikit perih karena baru pertama menembak seorang gadis langsung di tolak.
Rasya tersenyum. Ternyata adiknya tidak segampangan itu kala di kampus. Membuat Rasya semakin lega, untuk tidak mengkhawatirkan pergaulan adiknya.
"Coba deh temenan terus. Siapa tahu adik saya luluh." Rasya menyarani untuk Dido tetap mendekati adiknya.
Dido mengangguk saja menyahuti apa yang baru saja Rasya sarankan.
"Saya juga dulunya temenan sama istri saya sejak Sekolah Dasar. Dan saya jatuh cinta padanya dari sejak Sekolah Menengah Pertama. Lalu Jadiannya pas udah lulus kuliah," Rasya terkekeh mengingat perjuangannya memendam perasaan bertahun-tahun lamanya.
"Loh, kok bisa Bang?" Dido menimpali dan ingin lebih tahu tentang masalah percintaan dari Kakak gadis yang di sukainya itu. Siapa tahu, Dido bisa belajar dari pengalaman yang di alami Rasya.
"Ya karena saya pendam. Saya takut di tolak, dan akhirnya persahabatan kami berantakan. Namun, saat itu pas saya tembak. Ternyata istri saya juga sama-sama memendam rasa. Benar-benar bahagia rasanya di sukai oleh gadis yang kita sukai." Rasya tidak sadar telah menceritakan secara singkat perjalanan cintanya. Yang berujung manis. Di cintai dan di sukai oleh gadis yang di cintai dan di sukainya, yang kini menjadi istrinya, yang melahirkan bayi kembarnya yang sehat, lucu serta menggemaskan.
Dido seakan tertular senyuman Rasya. Ia menyunggingkan senyumannya, setelah mendengarkan sepenggal cerita cinta Rasya yang berawal berteman, lalu bersahabat, memendam cinta, dan akhirnya saling mengungkapkan. Dan yang lebih membahagiakan kini keduanya telah menjadi sepasang suami istri dan di karuniai dua bayi sekaligus.
"Semoga aku bisa sabar menunggu luluhnya hati kamu, Serlyta ...," batin Dido.
__ADS_1
...***...