
Ariyanti dan Serly pun tiba di kediaman Rasya, setelah mengambil undangan yang telah selesai di cetak.
Serly dan Ariyanti langsung pulang tidak singgah ke tempat lain terlebih dahulu.
Lia yang sedang duduk di depan teras rumah, tersenyum kala melihat mobil Serly masuk ke halaman rumah.
Setelah itu terlihat Ariyanti keluar dengan membalas tersenyum kepada calon mertuanya, di susul Serly yang berjalan di belakang Ariyanti.
"Gimana sayang, sudah selesai semuanya sesuai jumlah yang di inginkan?." Tanya Lia Mama Rasya, ketika Ariyanti melangkah mendekati nya dengan membawa paper bag berisi undangan.
"Iya tante, selesai semuanya. Tinggal kita memberikan undangan nya ke sesuai nama penerima." Kata Ariyanti, dengan duduk di sebelah Lia.
"Serly ke kamar dulu ya Ma." Pamit Serly ingin ke kamar nya.
"Ya sana." Ucap Lia
"Serly makasih ya udah anterin kakak." Ariyanti mengucapkan terima kasih nya ke Serly karena sudah mau mengantar nya.
Serly pun mengangguk, dan berlalu.
Kini Ariyanti dan Lia mama Rasya, mulai membuka Paper bag yang berisikan Banyak Undangan, di lihat dan di pisah antara teman Rasya, rekan bisnis, dan Teman-teman Orang tua Rasya juga Teman-Teman Ariyanti.
"Nah ini yang tante pilih, ini merupakan undangan dari pihak Rasya." Lia sudah mengumpulkan undangan yang nama-nama nya ia undang.
"Iya Tante, berarti ini sisa nya undangan dari pihak Ariyanti." Ujar Ariyanti dengan merapihkan undangan nya.
"Terus kapan mau mulai menyebarkan undangan nya?." Tanya Lia.
"Secepat nya tante, karena kebetulan acara pernikahan sepuluh harian lagi kan?. jadi sebelum itu undangan harus tersebar." Ucap Ariyanti
"Iya juga Ariyanti, berarti kamu dan Rasya tinggal fiting baju pengantin." Lia dengan tersenyum tak sabar akan pernikahan Rasya dan Ariyanti.
"Iya tante, apa mungkin Rasya nanti ada waktu?." Tanya Ariyanti tentang waktu Rasya, karena Rasya memang selalu sibuk.
"Nanti tante akan usahain agar Rasya meluangkan waktunya, apalagi ini tentang pakaian yang akan kalian kenakan di hari pernikahan. Semua nya Harus terlihat perfect bukan begitu?." Lia berencana akan membujuk Rasya.
"Iya tante." Ucap Ariyanti.
Lia melihat kembali nama-nama yang tertera di undangan, seketika undangan dengan nama Adelia terjatuh.
Dan Lia pun berjongkok untuk mengambil nya, Seketika Lia tersenyum mengingat sudah lama belum berjumpa dengan anak gadis yang menjadi teman dekat Rasya.
"Ariyanti, bagaimana kalau siang ini kita datang ke rumah Adelia? untuk memberikan undangan." Ujar Lia menatap ke arah Ariyanti.
"Tentu Ariyanti mau tante. Lagian Ariyanti belum tahu Rumah Adelia, dan sudah lama juga Ariyanti belum bertemu." Ariyanti seperti semangat ingin memberikan undangan kepada Adelia.
"Tante juga sudah lama belum bertemu dengan Anak Cantik itu." Lia tersenyum memuji Adelia.
Ariyanti seketika wajah nya menjadi muram, karena mendengar pujian Lia terhadap Adelia.
"Tante sudah anggap seperti anak sendiri, karena dia merupakan teman dekat Rasya sejak kecil, dan sampai dewasa. Namun aneh nya begitu lama bersama tidak pernah ada yang mempunyai pacar Rasya ataupun Adelia. hanya sekarang Adelia berpacaran dengan Martin. Eh maaf tante jadi membicarakan itu." Lia menyadari terlalu banyak membicarakan antara Rasya dan Adelia.
"I iya gak apa-apa Tante." Ariyanti dengan memaksakan senyum nya.
Ariyanti dalam pikiran nya, kini tahu selama Rasya dan Adelia menjalin hubungan itu tidak di ketahui orang tua Rasya.
Terus apa alasan nya?
"Bentar, tante mau coba menelpon Rasya. ia mau tidak menemani kita untuk ke rumah Adelia. Secara Rasya juga belum bertemu kembali dengan Adelia." Ujar Lia, yang sudah menekan tombol panggilan nya ke Rasya.
Namun tidak ada jawaban dari Rasya.
"Sepertinya Rasya sedang sibuk sampai tidak mengangkat telpon." Tutur Lia kembali.
Ariyanti hanya menjawab dengan tersenyum.
"Ya udah kita berangkat sekarang saja ke rumah Adelia. tante mau bawa tas dulu ya." Lia masuk ke dalam rumah dengan tangan nya memegang banyak undangan.
Serly yang sedang menuruni anak tangga, berpapasan dengan mama nya.
"Kebetulan kamu turun. kamu mau ikut gak ke rumah Adelia." Ajak Lia
Serly melotot kaget, karena ia teringat telah berbohong kepada Rara. Dan sekarang Mama nya mau datang kesana.
"Hah, mau ke rumah kak Adel?." Tanya Serly dengan mata nya melotot.
"Iya. mama mau nganterin undangan buat Adel, lagian mama kangen banget sudah lama belum ketemu. terus kamu kenapa sampai melotot gitu ke mama?". Lia yang heran dengan respon Serly yang melotot.
__ADS_1
"Ah maaf ma, Serly karena terlalu kaget gitu, tiba-tiba mau ke rumah kak Adel." Ujar Serly.
"Ya sudah, mama mau ngambil tas dulu. kamu tunggu di depan sama Ariyanti." Lia pun bergegas naik menuju kamarnya.
Serly pun turun dengan pikiran nya yang cemas takut kebohongan nya waktu kemarin ketahuan.
Seketika Serly ingat Rasya. Mungkin dengan mengirimkan pesan ke Rasya, Rasya tidak akan marah kalau saja sampai ketahuan tentang hari kemarin.
Kak, Serly di ajak mama untuk ke rumah kak Adel. Gimana ini?
Serly takut kebohongan kemarin ketahuan.
Serly pun mengirim pesan yang sudah di ketik nya. Tapi belum terbaca oleh Rasya.
Serly pun pasrah saja, dan cepat melangkah ke arah luar untuk menemui Ariyanti.
"Serly..." Sapa Ariyanti.
"Ah iya kak." Serly yang masih cemas.
Tak lama Lia sudah datang dengan membawa tas nya.
"Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Lia dengan bergegas mendekati mobil milik Serly.
"Kak Ariyanti ikut juga?." Tanya Serly ke Ariyanti.
"Iya sekalian ingin ketemu dengan Adelia juga. Ayo.!" Ariyanti dengan cepat melangkah ke arah mobil Serly.
Serly pun ikut melangkah, dengan wajah nya yang cemas.
Kak Rasya kenapa sih? kenapa pesan ku belum juga di baca?
Serly berbicara di dalam hati nya, dengan masuk ke dalam mobil, dan duduk di balik kemudi.
Serly pun mulai menancapkan gas nya, dan melaju untuk menuju Rumah Adelia.
Tak lama Mobil Serly pun sampai di depan Ruko milik Adelia.
Serly matanya melihat ke arah depan, ternyata ada sebuah mobil sport mewah terparkir, Serly pun memarkirkan mobil nya di sebelah mobil itu.
Lia langsung keluar, sampai lupa untuk mengajak Ariyanti masuk bersama.
Terlihat Adelia sedang duduk bersama Martin, namun wajah nya terlihat pucat.
Baru Tadi pagi Adelia pulang dari Rumah Sakit.
"Sayang..." Lia langsung memeluk Adelia yang terduduk.
Adelia yang di peluk tersentak kaget karena Lia Mama Rasya datang dengan tiba-tiba.
Martin pikir Mama Rasya ke sini, untuk menjenguk Adelia.
"Tante." Sapa Adelia.
"Gimana sayang kabar nya?. Eh Ada Martin juga di sini?." Tanya Lia, dan beralih menatap ke Arah Martin.
"Baik tante" Jawab Adelia.
"Iya tante." Martin menjawab.
Setelah itu datang Serly dan Ariyanti memasuki Toko Adelia.
Adelia semakin di buat gugup, takut Martin membahas tentang kejadian kemarin.
"Hai Del, apa kabar?." Ariyanti menyalami Adelia.
"Baik, Kamu sendiri?". Jawab Adelia, dengan bertanya kembali kepada Ariyanti.
"Baik juga." Jawab Ariyanti. Dan duduk di sebelah Lia Mama Rasya.
"Hai kak." Serly menyapa dengan tegang dan duduk di depan Adelia.
"Hai Serly. Oh ya sebentar Aku kebelakang dulu untuk mengambil minum." Ujar Adelia berdiri.
"Aku Bantuin." Martin ikut berdiri berniat ingin membantu.
"Gak usah kamu duduk aja di sini." Tolak Adelia.
__ADS_1
Namun Martin dengan cepat melangkah menuju Dapur, Adelia pun menyusul.
Terlihat Martin mengeluarkan Beberapa botol minum kemasan dari lemari pendingin, dan di taruh di atas nampan. Adelia hanya bisa melihat nya. Adelia pun bergegas mengambil piring besar, untuk kue yang akan Adelia suguhkan, Adelia pun mulai memotong kue itu, dan di tata rapih di atas piring.
Martin pun melangkah kembali untuk menuju ruang tengah, dengan tangan nya memegang nampan yang berisikan botol minum.
Adelia di belakang Martin menyusul, dengan tangan nya memegang Piring besar yang sudah berisikan kue.
Lia tersenyum melihat Martin yang membantu Adelia, begitu manis pikir nya.
Sedangkan Ariyanti merasa iri dengan Adelia, yang di cintai Martin, terlihat dengan cara Martin memperlakukan Adelia.
Dan bukan Martin saja yang mencintai Adelia, namun Rasya yang akan menjadi suami nya pun mencintai Adelia.
"Sayang, tak perlu repot-repot." Ujar Lia kepada Adelia.
"Tidak tante, Adel gak merasa di merepotkan koq." Adelia dengan tersenyum.
"Ayo di makan kue nya tante,Ariyanti,Serly..!." Adelia menyuruh tamu nya untuk mencicipi apa yang di suguhkan.
"Iya." Ucap Ariyanti dengan mulai mengambil kue nya.
Dengan Mata Ariyanti sesekali memperhatikan Toko Kue Adelia.
Serly langsung saja melahapnya, karena Serly memang begitu menyukai kue buatan Adelia.
Terlihat Tante Lia mulai membuka tas nya, ia mengambil sebuah undangan yang akan di berikan ke Adelia.
"Sebenarnya kedatangan Tante ke sini, ingin memberikan ini langsung kepada kamu Del." Lia dengan menyerahkan undangan itu ke tangan Adelia.
Adelia pun menerima nya, dan langsung terbaca Dari luar undangan itu tertera nama Rasya dan Ariyanti.
Adelia tangan nya langsung bergetar, bahkan matanya sampai bekaca-kaca, Sesak Rasa nya melihat Nama yang di cintai nya tercetak pada undangan itu, Adelia menunduk.
Entahlah saat ini Adelia pasrah jika perasaan nya sampai di ketahui orang-orang yang berada di sana.
Serly menyadari itu, ia juga merasa kasihan kepada Adelia.
Namun bagaimana lagi, ini tidak bisa di cegah.
"Oh ya kak Rara kemana, kak Adel. koq gak kelihatan?." Tanya Serly memecah suasana sunyi.
"Rara lagi ke swalayan Ser." Jawab Adelia dengan matanya yang sudah memerah.
"Oh ya, Del jangan lupa datang ya, ajak juga pacar kamu." Ujar Ariyanti dengan melirik ke arah Martin sebentar.
"Tentu kami akan datang." Martin kini berbicara. Dan memegang tangan Adelia seperti menguatkan Adelia.
Adelia pun menoleh ke Martin, karena di genggam tangan nya dengan tiba-tiba.
"Tante mau kamu jadi Bridesmaid juga sayang, dengan Serly dan juga Rara." Pinta Lia.
Adelia tercengang, tidak mungkin pikir nya. Dengan menerima undangan saja sudah se sesak ini. apalagi harus menyaksikan acara nya sampai selesai.
Adelia baru saja mau membuka suara
Tiba tiba Martin mengeluarkan suaranya, dan berbicara kepada Tante Lia.
"Mohon maaf tante, saya sebagai calon suami Adelia, saya tidak mengijinkan nya. Karena Saat ini saja Adelia sedang lemah kondisinya, apalagi nanti ketika acara di laksanakan, memakan waktu yang berjam-jam, Adelia tidak boleh kelelahan. Saya tidak mau sampai Adelia seperti kemarin, karena kelelahan ia tiba-tiba pingsan." Martin menuturkan apa yang di khawatirkan nya terhadap Adelia.
"Martin..." Adelia ingin mencegah.
"Tidak apa-apa Del, kesehatan kamu lebih penting. Yang terpenting kamu harus datang ya sayang ke acara nya." Lia dengan mengusap pipi Adelia.
"Iya tante, Adel mohon maaf. masalah Bridesmaid Adelia tidak bisa. kalau untuk datang pasti Adelia usahakan." Ucap Adelia.
"Iya gak apa-apa sayang." Lia dengan tersenyum namun bingung ketika tadi melihat Adelia mengeluarkan air mata, yang langsung Adelia usap.
Ariyanti dan Serly sedari tadi hanya mendengarkan saja.
Serly hatinya merasa iba kepada Adelia yang terlihat menguatkan dirinya.
Ariyanti sungguh merasa puas dan yakin, sedari tadi ia mendengarkan namun sesekali memperhatikan wajah Adelia yang memerah, seperti menahan tangis.
Kini Ariyanti yakin jika Adelia mencintai Rasya.
Ariyanti tersenyum dengan menyeringai.
__ADS_1
...Bersambung ...