You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 54.


__ADS_3

Serly dan Dido berjongkok di depan makam mendiang Ibunda Dido. Keduanya berdoa di dalam hati. Setelah selesai berdoa. Dido berucap memperkenalkan Serly kepada mendiang ibundanya.


"Bunda, semoga bunda tenang di alam sana," Dido mengawali ucapannya.


"Bunda ... lihatlah! aku membawa calon istriku. Namanya Serly. Dia gadis yang cantik dan sangat baik. Aku sangat mencintainya. Semoga hubungan kami kekal dan abadi, hingga hanya maut yang memisahkan seperti kisah Bunda bersama Ayah," ujar Dido.


Serly tertegun. Merasa ucapan Dido sangat tulus dan benar-benar dari dalam lubuk hatinya. Serly pun diam-diam dalam hati meng-aminkan doa Dido. Ya. Sekarang Serly akan fokus untuk hubungannya dengan Dido. Dan akan membuang rasa yang tumbuh terhadap Aldi.


"Bunda. Nanti aku akan datang lagi. Semoga bunda tenang di alam sana," Dido dengan mencium batu nisan ibundanya.


Serly terenyuh. Benar-benar tersentuh. Dido sepertinya sosok penyayang terhadap orang tua. Membuat Serly flashback pada dirinya sendiri yang selalu menentang apa yang di katakan orang tuanya. Tidak seperti Dido, yang Serly lihat Dido adalah anak yang berbakti.


"Sayang kamu melamun?" Dido menatap Serly yang seperti sedang melamun.


Serly menggeleng cepat, "Aku gak melamun," jawabnya. "Sudah?" lanjutnya bertanya.


Dido mengangguk, kemudian membantu Serly untuk berdiri. Dan meraih tangan Serly untuk di genggamnya.


Serly tersenyum dengan perlakuan Dido yang manis. Serly pun menurut. Bergenggaman tangan berjalan meninggalkan area pemakaman.


Saat di parkiran, Dido membantu Serly memasangkan helm. Kembali Senyum Serly mengembang.


Lalu di saat perjalanan. Serly memeluk tubuh Dido tanpa Dido suruh. Dido tersenyum di balik helmnya, membiarkan gadis pujaan hatinya yang hari esok akan resmi menjadi tunangannya memeluk tubuhnya.


"Mau makan dulu?" tawar Dido dengan suara agak keras karena suara dari knalpot motornya memenuhi pendengaran.


"Boleh. Kebetulan aku lagi laper," sahut Serly tanpa canggung lagi.


Dido tersenyum, Kemudian menghentikan laju motornya di sebuah warung nasi tenda. Serly kembali terpesona. Dido anak yang terlahir sudah Kaya. Menyukai makanan pinggir jalan.


"Kamu suka gak pecel ayam atau pecel lele?" tanya Dido masih di atas motor.


"Aku sukanya pecel ayam, kak" balas Serly dengan tersenyum tanpa Dido tahu.


"Gak apa-apa 'kan, kakak ajak makan di pinggir jalan?" tanya Dido memastikan.

__ADS_1


"Ya gak apa-apa kak, aku suka kok makanan yang ada di sini," Serly dengan menatap deretan para pedagang di pinggir jalan tersebut.


Dido kini turun terlebih dahulu. Lalu membantu Serly untuk turun. Tubuh Serly dan Dido jaraknya begitu dekat setelah Serly berhasil turun. Mata keduanya saling menatap dengan bibir yang sama-sama tersenyum.


"Kak, terus kita mau kapan makannya?" Serly bertanya dengan sengaja.


Dido terkekeh merutuki dirinya yang terbawa suasana, "Ayo!"


Dido dan Serly duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang memanjang. Setelah Dido memesan terlebih dahulu makanan.


"Kak, apa kakak gak ada rasa malu atau jijik gitu makan-makan di pinggir jalan? soalnya setahu aku, Kebanyakan anak yang terlahir dari keluarga kaya mana mau makan di pinggir jalan seperti ini," ujar Serly bertanya kepada Dido.


Dido tersenyum, "Kenapa harus malu? memang kakak suka memastikan lebih dulu kebersihannya. Jadi tetap tidak sembarangan makan. Dan menurut kakak, dengan cara kita membeli dagangan para pedagang kecil sama saja kita itu membantu memperbaiki perekonomian nya. Maaf kakak tidak seperti itu! kakak menyukai kesederhanaan. Ya seperti kamu juga! kakak kagum sama kamu mau di ajak makan di mana aja,"


Serly tersenyum tulus, "Aku juga suka kesederhanaan," balasnya.


"Gak gengsi makan di pinggir jalan?" kini giliran Dido yang ingin memastikan.


Serly menggeleng, "Kenapa harus gengsi?"


Kemudian datang makanan dua porsi yang Dido pesan tadi. Dua nasi di tambah dua Ayam goreng beserta sambal pecel dan lalapannya. Dan tak lupa minumannya dua air teh hangat.


Dido dan Serly pun melahap makanan tersebut tanpa banyak bicara. Sesekali keduanya saling lirik dengan bibir tersenyum.


Sungguh Serly merasa bahagia berdekatan dengan Dido seperti ini. Apalagi saat tadi kata Calon istri yang Dido ucapkan membuat ada rasa gelenyar aneh pada benak Serly.


"Kita mau kemana lagi?" Dido bertanya setelah selesai membayar makanannya.


Serly menatap ke arah lain, "Kak aku ingin beli makanan itu!" tunjuk Serly pada pedagang risol.


Dido ikut melihat tempat yang Serly tunjuk, "Biar kakak yang belikan. Kamu tunggu saja di sini!" ujar Dido menyuruh agar Serly menunggu di dekat motornya.


"Ya sudah aku tunggu!"


Dido tersenyum kemudian melangkah melenggang ke arah pedagang Risol yang Serly tunjuk tadi.

__ADS_1


Serly terus menatap Dido yang menjauh melangkah dari dirinya. Dengan senyuman lepas dari bibir Serly.


'Apa aku sudah mulai jatuh cinta pada kak Dido? rasanya nyaman sekali saat berduaan dengan nya. Apalagi dengan perlakuan manisnya,' batin Serly berbicara mengenai perasaannya terhadap Dido.


Sebenarnya tanpa Serly sadari. Dido sudah perlahan masuk dalam hatinya, di tambah dengan perlakuan Dido yang manis dan tutur katanya yang lembut membuat rasa itu tumbuh tanpa Serly sadari.


Dido sudah kembali dengan tangan nya menenteng plastik putih berukuran sedang.


"Ini risolnya. Mau makan di sini?"


Serly tersenyum dengan berbinar senang menerima kantong plastik yang Dido berikan.


"Aku penasaran ingin mencoba rasanya," kata Serly kemudian mengambil satu biji risol tersebut yang masih mengepul.


"Auw ... panas!" pekik Serly dengan menyengir.


Dido menggeleng samar merasa gemas dengan tingkah Serly yang seakan tidak sabar untuk memakan risol itu.


"Maaf, kakak lupa gak ngasih tahu kalau risolnya masih panas," ucap Dido yang merasa bersalah. Tangannya mengambil alih risol yang masih panas tersebut. Kemudian Dido tiup-tiup terlebih dahulu, lalu setelah merasa agak dingin Dido suapkan kepada Serly.


"Biar aku saja kak," tolak Serly yang merasa tidak nyaman jika harus di suapi Dido. Apalagi posisinya sekarang sedang berada di tempat umum.


"Jangan menolak! ayo makan! aaak ...," Dido kembali ingin menyuapi Serly.


Serly melirik ke arah kiri dan kanan memastikan terlebih dahulu jika tidak ada orang lain yang sedang melihat. Kemudian baru ia melahap risol yang sedari tadi Dido sodorkan pada mulutnya. Membuat Dido sangat gemas, dan tersenyum lebar. Lalu tangan Dido refleks mengacak-acak rambut Serly.


"Ih kakak jorok! tangan kakak itu bekas pegang risol tahu," protes Serly dengan mulut mengunyah.


Dido tergelak merutuki dirinya yang begitu ceroboh, "Maaf sayang ... lagian kamu menggemaskan! mau nerima suapan saja harus lirik sana sini dulu," dengan tangannya kembali mengacak rambut Serly.


"Kakak!!!" pekik Serly dengan melotot merasa tidak terima, rambutnya harus menerima kembali tangan Dido yang pastinya berminyak dari makanan tadi.


Dido kembali tergelak menatap Serly yang kini melotot ke arahnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2