
Adelia terbangun dari tidurnya, di lihat Rasya masih tertidur dengan tangan nya memeluk pinggang Adelia.
Adelia pun mengangkat tangan Rasya, untuk di pindahkan, ia ingin bergegas ke kamar mandi. Namun tangan Rasya kembali memeluk Pinggang Adelia.
"Sya, aku ingin ke kamar mandi dulu". Adelia dengan memindahkan kembali tangan Rasya.
"Hemmm...". Ucap Rasya dengan matanya masih terpejam.
Adelia pun cepat berdiri, dan masuk ke kamar mandi. Adelia berniat ingin buang air kecil, setelah selesai Adelia pun keluar kembali.
Namun seketika kepala nya terasa pusing, tapi ia tahan. Adelia pun meraih serta melihat ponsel nya yang berada di dalam tas, ternyata sedari tadi Martin terus mengirim pesan dan melakukan panggilan.
Adelia pun merasakan ada rasa bersalah terhadap Martin yang tidak memberikan kabar hari ini, dan Adelia pun merasa bersalah karena sekarang ia malah bersama Rasya.
Adelia melirik ke arah Rasya yang masih terpejam.
Adelia mencoba menghampiri, dan ingin membangunkan.
"Sya, bangun". Adelia mencoba membangunkan Rasya.
Rasya pun langsung membuka mata nya, dan segera duduk dengan matanya yang masih terlihat mengantuk karena bangun tidur.
"Pulang Yuk!". Adelia mengajak Rasya untuk pulang.
"Sekarang?". Rasya dengan suara serak khas bangun tidur.
Adelia pun mengangguk.
"Sebentar dulu ya, aku ingin mandi terlebih dahulu". Ucap Rasya dengan melangkah ke arah kamar mandi.
Adelia pun menunggu, dengan bermain ponsel. Namun Rasa pusing itu kini datang lagi. Tapi Adelia menepis rasa pusing nya.
Adelia sekarang berdiri, dan melangkah ke arah jendela kamar Vila itu, terlihat dari balik kaca ada sebuah pantai yang agak jauh, Adelia pun tersenyum melihatnya, sebenarnya ia suka berenang dan bermain pasir jika berkunjung ke Pantai, namun karena saat ini ia tidak membawa baju ganti, ia tidak melakukan itu semua.
Adelia pun memanyunkan bibir nya, seakan merasa ia sia-sia.
Tak lama Rasya pun keluar dari kamar mandi, dengan masih memakai baju yang ia kenakan tadi.
Rasya melangkah menghampiri Adelia yang masih berdiri di dekat jendela kaca kamar itu.
"Gimana dengan pantai nya, apa kamu suka?" Tanya Rasya.
"Tentu aku selalu suka, namun sayang...". Adelia dengan menatap ke arah pantai.
"Sayang apa?" Rasya menoleh Adelia dari samping.
"Iya Sayang nya aku gak bisa berenang saat ini". Ucap nya seperti menyesal.
"Lain kali kamu bisa koq ke sini lagi, bisa berenang sepuas nya". Rasya dengan tersenyum.
"Lain kali? itu tidak mungkin Rasya, dua minggu ke depan kamu akan mempunyai seorang istri. Dan tidak mungkin kita bisa menghabiskan waktu kembali". Ujar Adelia dengan menatap Rasya.
"Del, sebenarnya. Vila ini aku buat dengan uang ku sendiri. Dulu sebelum aku pergi ke Singapore, aku berniat jika menikah dengan mu ini adalah tempat kita untuk memadu kasih, keluarga ku tak ada yang tahu. kecuali Serly ia tahunya ini Vila milik rekan bisnis ku". Ucap Rasya dengan Menatap ke depan.
"Sudahlah Sya, Takdir tidak berpihak kepada kita untuk bersama. Mungkin dengan Vila ini juga, yang tadinya kamu berencana untuk kita berdua, malah nantinya jadi milik kamu dan Ariyanti". Adelia tersenyum tulus.
"Itu tidak akan pernah Del, ini Vila tetap milik kita berdua. Dan seutuhnya milik kamu. ini kunci Vila untuk mu". Rasya dengan menyerahkan Sebuah kunci Vila itu.
__ADS_1
"Tapi Sya, aku tidak berhak". Tolak Adelia dengan tidak menerima kunci nya.
"Please Del, terima. Ini kenang-kenangan dari ku. Selama aku menjadi kekasih mu aku belum memberikan apa-apa untuk mu. Dan memang Vila ini aku buat niatnya untuk kamu". Rasya dengan menyerahkan kunci itu langsung ke tangan Adelia.
"Ya sudah aku terima, karena kamu yang maksa". Ujar Adelia.
Adelia melihat jam di pergelangan tangan Rasya, menunjukkan pukul 16:30.
"Sya, kita pulang sekarang yuk!". Ajak Adelia.
"Ya sudah, Ayo!". Rasya pun merangkul Adelia dengan mulai melangkah.
Setelah Di luar pintu, Rasya pun mengunci pintu Vila itu. Rasya juga memegang satu kunci Vila yang sekarang menjadi milik Adelia.
"Aku pegang satu ya kunci nya". Rasya dengan memasukan kuncinya itu ke dalam dompet milik nya.
Adelia pun mengangguk.
"Apa kamu sering berkunjung ke sini?". Tanya Adelia yang berjalan melangkah bersama Rasya yang merangkulnya.
"Kalau aku sedang banyak masalah, aku selalu datang ke sini. aku menenangkan diri ku di sini". Ucap Rasya dengan membuka kan pintu mobil untuk Adelia masuk.
Adelia pun masuk,dan duduk di kursi mobil. Rasya pun masuk dan duduk di kursi balik kemudi.
Rasya mulai melajukan mobil nya, meninggalkan Vila itu yang seharian ini telah menjadi saksi antara dirinya dan Adelia.
Mobil Rasya terhenti kala lampu merah menyala.
Dari samping mobil Rasya ada seseorang yang memperhatikan Rasya, dan menerka-nerka Rasya sedang berdua di mobil dengan perempuan.
Mobil Rasya pun melaju kembali setelah lampu merah itu berganti hijau.
Dan Rony pun melajukan mobil nya ke lain arah, karena memang Arah Jalan mereka berbeda.
Adelia yang masih berada di dalam mobil, merasa kan kepala nya pusing kembali.
Adelia merasa badan nya kini terasa lesu, dan panas dingin.
Tak terasa mobil Rasya pun terhenti tepat depan Ruko milik Adelia.
Adelia Sontak kaget melihat mobil Martin sudah berada di depan toko Kue nya.
Adelia pun melirik ke Rasya.
"Sya, Martin ada di sini". Ucap Adelia yang masih dengan memperhatikan mobil milik Martin, di dalam mobil Rasya.
"Oh ya?" Rasya dengan menatap mobil di depan nya.
"Kamu tadi kenapa gak turunin aku di tempat lain sih?." Adelia dengan wajah cemas nya seakan tidak ingin Martin tahu.
"Ya aku lupa Del, udah aku antar kamu turun." Rasya pun keluar dengan terlebih dahulu. Dan Adelia pun keluar.
Terlihat dari balik Pintu kaca, Martin melihat Adelia turun dari mobil Rasya, dan sekarang berjalan beriringan menuju dirinya.
Martin dada nya serasa sesak, ia seharian ini mencemaskan Adelia yang tidak memberikan pesan kabar, namun kenyataan nya kini Adelia sedang bersama Rasya.
Padahal Rara sudah mengatakan bahwa Adelia sedang di ajak membuat kue di rumah Ibu Rasya, tapi kini rasa cemburu Martin lebih dominan.
__ADS_1
Adelia sudah masuk begitu pun dengan Rasya, Martin seketika menatap dengan tajam ke arah Adelia.
Dan Adelia pun yang di tatapnya telah menduga kalau Martin sedang marah.
Rasya pun mengerti, karena dirinya juga bila melihat Adelia berjalan dengan Martin seakan ingin marah.
"Hai, Martin." Sapa Rasya mengurangi rasa canggungnya di antara Adelia dan Martin.
"Iya." Jawabnya. Namun tatapan nya masih tajam ke arah Adelia.
Sementara itu Adelia merasa pusing kembali kepalanya. Badan nya mulai terasa panas dingin, seketika penglihatan nya seperti buram. Dan Adelia pun akhirnya ambruk tak sadarkan diri, namun cepat Rasya menangkapnya karena posisi Adelia dengan Rasya yang masih berdiri.
Martin pun melotot kaget dengan keadaan Adelia yang tiba-tiba pingsan.
Martin pun bangkit dari duduknya, dan mengambil alih Adelia dari Rasya ke dalam pangkuan nya, tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Rasya.
Rara yang baru saja datang dari kamar langsung melangkah lebih cepat karena melihat Adelia yang pingsan.
Martin langsung memangku Adelia dengan melangkah keluar, menghampiri mobil nya.
Rasya datang untuk membukakan pintu mobil milik Martin, dan Adelia pun Martin baringkan di jok belakang.
Martin menatap sekejap ke arah Rasya yang masih berdiri di dekat mobil Martin.
"Ra, kamu pegangin Adelia di belakang!." Perintah Martin.
Rara pun menurut, ia langsung masuk ke mobil Martin, dan duduk dengan kepala Adelia yang ia rebahkan ke paha nya.
Martin pun mulai melajukan mobilnya untuk menuju Rumah Sakit terdekat, tanpa pamit kepada Rasya.
Rasya yang masih berdiri di tempatnya melihat mobil Martin melaju sampai tak terlihat oleh nya. Rasya kini di selimuti kecemasan akan Adelia yang tiba-tiba pingsan. Rasya pun masuk ke dalam mobil nya dengan berniat ingin menyusul mobil Martin yang akan menuju Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Martin langsung memangku Adelia kembali, ia memangku Adelia menuju UGD dan di ikuti oleh Rara.
Rasya pun yang baru sampai, melihat Martin dan Rara sudah masuk ke dalam Rumah Sakit.
Rasya pun mengikuti dengan berjaga jarak, takut Martin tidak mau akan kehadiran nya.
Di lihat Adelia yang sudah terbaring lemah di ruang UGD dengan di tangani Dokter.
Setelah selesai Dokter pun keluar dan menghampiri Martin dan Rara.
"Dokter bagaimana dengan keadaan nya?." Tanya Martin yang begitu cemas.
"Pasien sudah saya tangani, dan sudah saya infus. pasien pingsan karena kelelahan juga karena kurang Darah, dan pasien saat ini sedang demam tinggi." Ucap Dokter memaparkan ke Martin.
"Begitu dokter. terima kasih." Ucap Martin.
Dokter pun sudah berlalu pergi.
Sementara sedari tadi Rasya melihat bahkan mendengar sendiri apa yang Dokter ucapkan kepada Martin.
Rasya pikir, apa karena ulahnya Adelia kelelahan.
Rasya pun cemas dan tak mau meninggalkan Rumah sakit itu.
...Bersambung...
__ADS_1