You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 219.


__ADS_3

Ruang kamar menjadi sunyi. Adelia dan Rasya masih terdiam. Rasya membiarkan Adelia untuk menyiapkan apa yang akan di katakannya. Sementara Adelia ia sungguh merasa tidak enak. Bahkan merasa canggung. Setelah menanyakan perihal bahwa Rasya akan menikah lagi.


"Aku mandi dulu," dan akhirnya Rasya mengalah. Ia lebih baik membasahi tubuhnya karena merasakan tubuh yang berubah lengket serta kini pikirannya menerka-nerka apa yang tengah terjadi pada istrinya.


Adelia menatap nanar pemilik punggung yang perlahan hilang di balik pintu kamar mandi. Ia dengan sigap bangun dan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti sang suami. Lalu menaruhnya di atas meja rias.


Selang beberapa menit. Rasya sudah keluar dari kamar mandi. Melangkah menuju meja rias yang sudah terlihat ada baju ganti yang sudah di siapkan Adelia. Begitupun Adelia, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa baju ganti serta handuk.


Membuat Rasya menghela nafas panjang serta menggeleng samar, "Bahkan baju ganti saja di bawa ke dalam kamar mandi," gumamnya.


Setelah memakai baju ganti. Rasya lebih baik memilih keluar kamar. Ia menaiki tangga berniat untuk menuju kamar lamanya. Namun, baru saja Rasya akan masuk ke dalam kamar. Rasya di kejutkan oleh sosok Ariyanti yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam kamarnya.


"Ya Tuhan, beruntung kamu ada di sini Rasya. Tolong aku!" pekik Ariyanti dengan wajah seperti ketakutan.


Rasya menatapnya dengan penuh tanda tanya. Kenapa begitu kebetulan sekali, ia datang ke lantai atas dan Ariyanti meminta bantuannya.


"Rasya tolong aku, aku takut!" Ariyanti kali ini merengek karena melihat Rasya hanya diam saja.


"Ada apa?" sahut Rasya datar.


"Di kamarku ada tikus. Aku takut!" Ariyanti dengan begidik ketakutan.


"Tikus?" Rasya heran sejak kapan di rumahnya ada tikus.


"Ayo, Rasya tolong buangkan!" Ariyanti kembali merengek.


Namun Rasya seakan tidak ambil pusing. Ia malah santai menuju meja keyboardnya. Tadinya ia ingin menenangkan diri dengan memainkan alat musik. Tapi Ariyanti datang dengan tiba-tiba merengek kepadanya.


"Nanti juga tikus itu pergi dengan sendirinya. Lagian aku rasa di rumah ini tidak ada tikus," Rasya tanpa menoleh ke arah Ariyanti. Ia sibuk menyalakan keyboard.


Ariyanti tercengang, "Kenapa Rasya begitu susah untuk aku jebak?" gerutunya di dalam hati.


Rasya dari ekor matanya dapat melihat bahwa Ariyanti masih berdiri di dalam kamarnya.


"Kenapa masih di sini?" tanya Rasya dengan datar masih tetap tidak menoleh ke arah Ariyanti.

__ADS_1


"A-aku takut," jawab Ariyanti dengan terbata.


Rasya menghela nafas dengan panjang. Mungkin berniat main musik saat ini lebih baik di batalkan. Dari pada nanti mendapat kesalah pahaman dari sang istri yang melihat dirinya berada di kamar dengan Ariyanti.


Rasya langsung keluar kamar dan meninggalkan Ariyanti yang masih berdiri di sana. Rasya langsung menuruni anak tangga, dan langsung menuju kamar.


Terlihat Adelia sedang bercermin di depan meja rias. Membuat Rasya tersenyum dan mendekati Adelia. Rasya memeluk Adelia dari belakang. Dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher milik Adelia.


"Mas," Adelia yang merasakan hembusan nafas Rasya yang menerpa kulit lehernya, tiba-tiba menegang.


"Aku ingin mendengarkan apa yang akan kamu bicarakan!. Dan tolong apapun itu, jangan kamu sembunyikan sendiri!" Rasya masih dengan memeluk sang istri menyuruh agar Adelia cepat mengatakan apa yang akan ia bicarakan tadi.


"I-iya Mas. Aku akan bicara. Tapi, Mas lepas dulu!" Adelia karena tidak kuat untuk merasakan gelenyar-gelenyar panas menerjang tubuhnya karena terpaan nafas Rasya yang mengenai ceruk lehernya.


Baru saja tadi Adelia mengancam agar Raya tidak menyentuhnya. Namun, kali ini Adelia seakan malu jika membiarkan suaminya itu terus menempeli dirinya.


"Aku sedang memeluk istri dan anakku," jawabnya datar. Memang posisi Rasya sedang memeluk perut Adelia hanya kepalanya ia tenggelamkan di ceruk leher milik istrinya itu.


"Aku akan bicara Mas," tukas Adelia. Membuat Rasya repleks melepaskan pelukannya dan melangkah duduk di sofa.


Adelia menurut dan duduk di samping Rasya. Dengan meremas jari-jari yang terpaut.


"Maaf, atas perkataan ku tadi Mas" ucap Adelia meminta maaf. Ia kini sadar. Telah berkata tidak benar dengan menuduh sang suami yang tidak jelas.


"Aku ingin tahu kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti tadi? apa ada sesuatu yang membebani pikiran mu?" Rasya kali ini serius. Ia bahkan menatap tajam dan tanpa ada senyuman. Tidak mau di anggap bercanda terus oleh sang istri.


"Semalam aku mendengar seseorang sedang berbicara dengan lawan bicaranya di telepon," Adelia mulai membuka suara. Dan Rasya mendiamkan. Agar Adelia meneruskan perkataannya lagi.


"Seseorang itu--"


"Siapa yang kamu maksud?" Rasya penasaran hingga cepat memotong.


"Ariyanti. Seseorang itu Ariyanti," Adelia menatap Rasya yang seakan biasa saja.


"Apa Mas ingin tahu apa yang tengah aku dengar pada percakapannya?" Rasya repleks mengangguk.

__ADS_1


Dan Adeliapun menceritakan apa yang ia dengar pas malam itu tanpa ia tambahi. Membuat Rasya melotot dan nampak rahangnya mengeras.


"Jadi kamu tadi menuduh ku, karena sesuatu apa yang kamu dengar?" Rasya kini menatap sang istri dengan kilatan marah.


"I-iya Mas. Aku jadi berpikir. Bahwa Mas akan menikahi dia. Dan Mas sudah tidak tertarik lagi kepadaku, yang Mas tahu karena tubuhku sudah tidak berbentuk lagi," Adelia mengeluarkan uneg-unegnya. Membuat seketika Rasya menggeleng.


"Pikiranmu aneh sekali, Sayang ...," Rasya menyentil dahi Adelia dengan pelan. "Jika aku akan menikahi wanita itu. Tentu aku tidak akan menikahi kamu. Bukannya aku pernah di jodohkan dengan dia dan bahkan aku pernah menikahinya, lalu lantas kenapa aku menceraikannya? dan kini aku setelah menikah dengan mu. Aku menikahinya lagi?? oh no rumit sekali jika benar begitu," Adelia terdiam. Mencerna apa yang di dengarnya.


Rasya memegang kedua bahu Adelia, sehingga Adelia dapat menatap wajah serius sang suami, "Sayang ... aku tegaskan aku sangat mencintai kamu! mau bagaimanapun kamu, tidak ada sedikitpun pikiranku, untuk berpaling darimu! lagian, tubuhmu berubah seperti itu karena mengandung darah dagingku, buah percintaan kita. Jika ada setiap istrinya sedang mengandung dan tubuhnya berubah. Lalu sang suami berpaling. Itu berarti Manusia yang tidak punya etika dan kasih sayang. Manusia seperti itu hanya mengikuti hawa nafsunya saja tanpa memiliki rasa kasih sayang. Mengerti!" Rasya menekankan setiap kalimatnya dan menegaskan apa yang ia ucapkan.


Seketika Adelia mengangguk. Lalu menghambur memeluk Rasya.


"Maaf Mas. Maafkan aku."


Rasya membelai punggung Adelia dengan lembut. "Iya. Mas tahu perasaan mu. Pasti memikirkan hal itu. Tenang sayang ... sekalipun Papa mendesak, atau mengancamku. Aku tidak akan pernah menerima tawarannya untuk menikahi wanita itu," Rasya menenangkan.


"Iya Mas. Aku percaya,"


"Sayang ... jangan banyak pikiran lagi ya! kasihan baby kita."


Rasya kini mengelus perut buncit sang istri dimana buah cintanya tumbuh di dalam rahimnya.


"Iya, Mas." Adelia mengangguk dengan mengikuti tangan Rasya yang sedang mengelus perutnya.


"Aduuh ... Mas jadi khawatir, Sayang" ucapnya. Membuat Adelia menatap heran.


"Khawatir apa Mas?" Adelia dengan ingin tahu apa yang di khawatirkan suaminya.


Rasya tersenyum, "Mas khawatir sekali. Takut si Baby kenapa-kenapa, karena kamu banyak pikiran," ujarnya.


Adelia bisa menghirup nafas lega. Ia pikir Rasya mengkhawatirkan apa. Adelia pun memilih menanggapi dengan senyuman simpul.


"Em ... Mas jadi mau menjenguknya, deh takut dia kenapa-kenapa," Rasya dengan tersenyum menyeringai lalu melahap cepat bibir sang istri yang seakan terus menggodanya.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2