You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 162.


__ADS_3

Di Pulau K...


Albi kini merasa kesal. Karena sedari siang ia belum dapat balasan pesan, ataupun satu panggilan yang Adelia angkat.


Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Arumi?. Albi dalam hati bertanya-tanya. Ia merasa khawatir. Tiba-tiba ia menemukan ide. Ia meraih ponselnya kembali. Albi mengecek cctv / Ip Camera yang berada di rumahnya melalui ponsel pintarnya.


Ip Camera sudah tersambung. Ia melihat cctv yang di bagian kamar. Namun, tidak terlihat Adelia di sana. Lalu Albi, melihat di ruangan lain, tidak ada juga. Sehingga Albi berinisiatif melihat pada saat waktu pagi. Terlihat dirinya masih berada di dalam rumah. Lalu ia keluar dari dalam rumah.


Albi terus memutar rekaman video sampai akhirnya ia melihat Adelia dan Alsa keluar dari pintu gerbang. Dengan gerakan tergesa-gesa. Bahkan Albi melihat Alsa mendorong koper dari belakang Adelia.


Seketika tubuh Albi lemas tak berdaya. Ia kini kehilangan Adelia. Istri palsunya.


"Alsa? apakah dia sengaja hadir di rumah ku, hanya untuk membawa Arumi pergi?" Albi bermonolog dengan mata memerah menahan emosi. Ia mengepalkan tangannya. Ia marah, kecewa, bahkan merasa di tipu daya. Albi tidak sedikitpun merasa menaruh curiga terhadap pelayan itu. Selama Adelia nyaman, ia pun mengijinkannya.


Tiba-tiba Arman dan Dirga datang dari arah luar. Mereka merasa heran melihat Albi dengan mata memerah, kedua tangan terkepal.


"Bos, Lu kenapa?" tanya Arman dengan menyelidik.


"Alsa bawa kabur Arumi," sahut Albi dengan bibir bergetar ia seakan ingin menangis.


Arman dan Dirga saling tatap dengan mata melotot. Saking tidak percaya akan apa yang mereka berdua dengar.


"Lu jangan ngadi-ngadi Bos," sargah Arman.


"Gue serius. Lihat saja Cctv yang berada di rumah!" pekik Albi kini menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa.


Arman dan Dirga pun melihat cctv yang berada di ponsel Albi. Karena hanya Albi yang berwenang memiliki akses cctv lewat ponsel miliknya. Arman dan Dirga tidak percaya bahwa sosok Alsa membawa pergi Adelia.


"Apa mungkin si Alsa, sudah berencana ingin membawa pergi Arumi?" Dirga kini berpendapat.


"Bisa saja. Dan gue yakin, Alsa ada yang mengendalikannya. Tidak mungkin, ia suka rela mau melakukannya," pendapat Arman kini.


Albi manggut-manggut ia merasa setuju tentang apa yang Arman katakan.


"Gila kita sampai tidak menyadari rencananya. Kita kecolongan. Malah gue naksir sama si Alsa," ucap Arman ia jujur pada kedua temannya.


Dirga menggeleng-gelengkan kepala merasa tidak percaya, "Elu gak salah, suka sama wanita yang berhijab?, biasanya elu itu kan, suka wanita yang seksi dan bohay,"


"Gue sendiri juga tak percaya. Entah kenapa wajah Alsa yang cantik membuat gue tertarik," ucap Arman dengan membayangkan wajah Alsa.


Albi semakin kesal. Kedua temannya malah berbincang tanpa menghiraukannya.

__ADS_1


"Kalian Di sini, gue besok pulang. Gue akan memarahi Pak Tono dan Pak Budi yang gak becus dalam bekerja," pekik Albi membuat Arman dan Dirga mendengar dengan fokus.


"Iya betul. Padahal tadi kita tidak usah bareng-bareng ke sini," ujar Dirga.


"Sudah. Sekarang tidak usah menyesal. Lagian Arumi sudah di bawa pergi," sahut Arman.


Akhirnya Albi, Dirga, dan Arman masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Albi terus membayangkan kebersamaan dirinya yang hampir dua bulan lamanya bersama Adelia. Benih-benih cinta sudah tumbuh di dalam hatinya. Dan Cinta itu hadir karena Adelia. Adelia berhasil membuat seorang Albi merasakan apa itu cinta.


Ketakutan Albi selama ini kini terwujud. Ia kehilangan Adelia. Dan bagaimana keluarganya jika tahu hal yang sesungguhnya, bahwa Adelia bukan istri sah-nya. Melainkan istri bohongan Albi.


Albi terus bermain dengan pikirannya. Rasa kesal, marah, kecewa, bahkan kehilangan. Kini Albi rasakan. Hingga Albi tertidur dengan sendiri, setelah lelah dengan pikirannya.


***


Rasya terbangun saat menatap jam di dinding kamar menunjukkan pukul empat pagi, bertepatan dengan waktu subuh. Ia mendudukkan tubuhnya seraya tangannya membelai kepala Adelia yang masih terbuai dalam mimpi.


"Sayang ... bangun! waktunya subuh," ucap Rasya dengan berbisik di telinga sang istri.


Adelia mengerjapkan kedua matanya. Dan ia tersenyum saat kedua bola matanya terbuka. Yang pertama di lihat adalah wajah tampan suaminya.


"Sudah Pagi Mas?" katanya seraya mendudukkan tubuhnya.


Rasya tersenyum, "Iya. Dan Ayo kita mandi. Setelah mandi kita shalat berjamaah,"


Rasya sengaja mandi terpisah. Ia mandi di kamar mandi sebelah, sedangkan Adelia mandi di kamar mandi tersebut.


Hingga beberapa menit Adelia dan Rasya menghabiskan waktu mandinya. Kini keduanya sedang berdiri akan menunaikan shalat shubuh. Rasya sebagai imam. Dan Adelia sebagai Makmum. Hingga keduanya melakukan dengan khusyu sampai akhir.


Kini Adelia sedang melipat mukena. Sedangkan Rasya melipat sarung yang sudah ia kenakan.


"Mas ...." sapa Adelia.


"Apa, Sayang?" sahut Rasya.


Adelia menghampiri Rasya yang kini membuka koper yang kemarin ia bawa.


"Terima kasih," ucap Adelia.


"Untuk?"


Adelia kini menyandarkan kepalanya di bahu Rasya, "Mas, menuntun aku untuk terus beribadah. Hingga aku merasa nyaman dan damai,"

__ADS_1


Rasya tersenyum, "Tidak perlu berterima kasih. Memang seharusnya aku sebagai imam. Menuntun kamu dalam hal kebaikan. Karena setiap yang di kerjakan Seorang Istri, akan berkaitan dengan Suaminya,"


Tangan Rasya memegang dua buku. Dan buku tersebut adalah buku nikah dirinya dan buku nikah Adelia.


"Maksud Mas, berkaitan dengan suami seperti apa?" Adelia bertanya dengan berkerut keningnya.


Tangan Rasya kini menuntun Adelia untuk duduk di tepi ranjang. "Hal baik dan buruk berkaitan dengan suami. Baik ya ... bagus untuk istrinya sendiri. Namun, hal buruk akan di pertanggung jawabkan pada suaminya,"


Adelia masih menatap tidak mengerti, "Aku belum mengerti, Mas" ucapnya.


Rasya tersenyum, "Begini, Sayang ... setiap apa yang di lakukan kamu. Semua akan di tanggung olehku. Maka tugas suami, mengarahkan dan membimbing seorang istrinya. Sebaliknya, Istri harus mengingatkan jika suami dalam keadaan salah," tutur Rasya menjelaskan.


"Jadi, setiap apa yang aku lakukan kalau dalam hal buruk, Mas yang menanggung dosanya?"


Rasya mengangguk dengan tersenyum.


"Terus, bagaimana jika seorang istri tidak patuh pada suami nya?"


Rasya tersenyum, lalu menjawab. "Sayang ... seorang istri jika sudah menikah. Surga-Nya berada di Suami. Sedangkan suami, tetap Surga-Nya berada di ibu-nya. Maka, jika seorang istri tidak patuh pada suaminya, akan ada ganjarannya yang setimpal. Dan sebaliknya jika seorang istri taat dan patuh terhadap suaminya. Akan mendapat kenikmatan rumah tangga, dan akan meraih Surga-Nya," ujar Rasya dengan lembut.


Adelia tersenyum sudah mulai mengerti. Kini ia menatap bangga pada suaminya.


"Mas, terus ingatkan aku ya, jika aku dalam keadaan salah," pintanya.


"Tentu Sayang ... aku akan terus mengingatkan mu. Dan sebaliknya, jika aku dalam keadaan salah. Maka tegurlah aku!" tutur Rasya seraya tangannya membelai pipi mulus sang istri.


"Sayang, apa kamu bersedia untuk menutup aurat mu?!" ucap Rasya dengan berhati-hati takut Adelia tersinggung.


"Tutup aurat?"


"Iya Sayang,"


"Aku akan mencobanya Mas," ucap Adelia dengan tersenyum.


"Bagus. Gak apa-apa Sayang, perlahan saja. Nanti akan aku belikan, baju-baju yang tertutup. Jika kamu belum siap langsung memakai hijab, yang penting kamu jangan terlalu mengekspos tubuhmu. Tubuhmu hanya milik suamimu, Sayang ...." Rasya dengan mengerlingkan mata.


"Iya Mas, akan aku coba ya ...," ucapnya.


Rasya tersenyum dengan mengangguk. Ia akhirnya bisa berbicara sedikit demi sedikit tentang rumah tangga. Ia sendiri yang masih awam. Akan terus mengingatkan istrinya itu.


Rasya mencoba memberikan peringatan tentang aurat istrinya. Dan Rasya meminta istrinya untuk mencoba menutupi auratnya. Dan akhirnya, Adelia akan mencobanya. Membuat Rasya semakin senang, bahwa sang istri bisa di ajak berbicara dengan baik, dan menuruti apa yang di inginkannya.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2