
Maharani yang tidur berdua bersama Alma di lantai, dengan beralaskan kasur lantai kini terbangun. Duduk dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Duh pegel banget. Baru seumurnya aku tidur di kasur tipis. Tapi, aku gak boleh mengeluh. Aku harus kuat dengan yang sekarang aku jalani. Demi membuat Aldi menyukai aku. Maka, aku akan mencari cara supaya hatinya tergerak dan memilih aku," batin Maharani berbicara. Walau semuanya murni tidak ada rasa keterpaksaan, tapi Maharani tetap berharap semua yang di lakukan nya membuat Aldi jatuh hati pada dirinya.
Setelah lama berbicara dengan pikirannya. Maharani menatap ke arah ranjang pasien. Terlihat ibu Aldi masih terlelap. Begitu dengan Alma adik Aldi yang tidur bersamanya. Mungkin semalam karena kedatangan dirinya dan Aldi membuat Alma bersama ibu, jadi terbangun dan tidur kembali menjelang subuh.
Maharani mengedarkan pandangannya setelah tidak menemukan Aldi di ruangan itu.
"Aldi kemana?" gumam Maharani.
Maharani pun memilih bangun dan bergegas ke dalam toilet berniat untuk mencuci muka. Maharani tertegun mengingat jika dirinya datang ke Kota ini tidak membawa pakaian ganti, ataupun alat mandi lainnya.
"Ya Tuhan ... bagaimana ini? aku tak mungkin terus memakai pakaian ini di kota ini?" Maharani berbicara sendiri seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Mengingat dirinya seorang Model yang sangat perfectsionis terhadap kebersihan serta penampilan. Merasa aneh jika dirinya akan selalu memakai pakaian yang sama dalam beberapa hari ini.
"Em ... aku minta Aldi antar beli pakaian saja. Atau sama Alma juga gak apa-apa. Sekalian aku teraktir dia beli pakaian," Maharani menemukan ide. Maharani pun langsung mencuci muka dan berkumur-kumur. Kemudian bercermin kembali.
"Oh Ya Tuhan ... rasanya aku gak percaya diri," keluhnya kembali saat dirinya tidak merasa nyaman setelah selesai mencuci muka serta berkumur-kumur.
Maharani pelan-pelan keluar dari toilet. Bertepatan dengan Aldi yang baru saja masuk ke dalam ruangan dengan menenteng kantong plastik besar.
Aldi menatap Maharani. Begitupula dengan Maharani menatap Aldi dengan rasa tidak percaya dirinya.
"Sarapan!" ucap Aldi dengan memperlihatkan kantong kresek yang di pegangnya. Lalu duduk di sofa yang terdapat meja di depannya.
Maharani hanya mengangguk. Dengan posisi masih berdiri di depan pintu toilet.
Aldi menaruh bungkusan-bungkusan makanan di atas meja serta air minum mineralnya. Lalu menatap heran ke arah Maharani yang masih berdiri di depan pintu toilet.
"Nona kenapa?" tanya Aldi seraya berdiri berniat melihat ke adaan Maharani dengan jelas.
Maharani di buat panik. Sehingga dengan terbata ia melarang Aldi untuk tidak menatapnya.
"Ja-jangan melihat a-aku saat ini!"
Aldi yang akan melangkah mendekati Maharani di buat bingung.
"Kenapa?" tanya nya lagi.
Maharani memainkan jari jemarinya sungguh merasa tidak percaya diri.
__ADS_1
"Apa di sini ada Toko pakaian yang sudah buka?" akhirnya kata itu yang Maharani ucapkan.
Aldi tersenyum tipis yang tanpa Maharani ketahui. Aldi kini mengerti Maharani berdiri terus di posisinya, ternyata Maharani merasa tidak percaya diri atau merasa tidak nyaman. Tapi bagi Aldi, wajah Maharani terlihat tetap cantik walau tanpa polesan make-up sedikitpun.
"Hei ... ada apa dengan pikiran ku? kenapa aku jadi memuji nona Maharani?" batin Aldi menggerutu. Saat tersadar dirinya baru saja meneliti wajah Maharani dan memuji kecantikan nya.
"Aldi? apa ada yang buka toko pakaian saat pagi ini?" Maharani kembali bertanya saat merasa tidak ada jawaban dari Aldi.
Aldi mengangguk, "Ada mungkin," jawabnya.
"Apakah kamu bersedia mengantar?" lagi Maharani bertanya.
Aldi kembali mengangguk, "Tapi, nona sarapan dulu!" ucapnya seraya kembali ke tempat duduk semula.
Maharani dengan ragu-ragu melangkah mendekati Aldi. Dan duduk di sebelah Aldi dengan mengambil jarak yang jauh.
Aldi mengernyitkan dahi merasa aneh dengan Maharani. Tapi Aldi tidak mau lagi bertanya. Dengan cueknya Aldi menyerahkan nasi bungkus ke tangan Maharani.
"Di makan ya! maaf, di sekitaran Rumah Sakit ini Resto-Resto masih pada tutup. Jadi, hanya ada tukang Nasi uduk saja," kata Aldi menyuruh agar Maharani makan, dan meminta maaf dengan makanan yang di berikan nya.
"Hah, nasi uduk?" celetuk Maharani keceplosan. Walau bagaimana pun Maharani belum pernah mencicipi makanan yang di jual di pinggir jalan. Maklum, Maharani sudah terlahir dari keluarga berada sehingga selera apapun lebih tinggi di banding orang-orang biasa. Apalagi dirinya kini seorang Model, tentu sangat menjaga pola makan serta gaya kehidupan nya.
"Iya Nasi uduk. Memang kenapa? apa Nona tidak suka?" Aldi merasa tidak enak jika makanan yang ia suguhkan ternyata Maharani tidak menyukainya.
Di lihatnya dalam bungkusan itu nasi yang di atasnya telor balado, orek tempe, bihun goreng, dan di tambah goreng tahu.
"Maaf ya, Non. Sarapan nya harus sama nasi uduk," ucap Aldi seakan tahu jika Maharani ragu-ragu untuk memakannya. Sehingga Aldi kembali mengucapkan kata Maaf.
"Gak usah minta maaf Al, aku suka kok," Maharani dengan tersenyum meyakinkan Aldi. Dengan pikiran nya bersyukur, Aldi kini mau berbicara banyak kalimat kepada dirinya.
Maharani mulai menggunakan sendok plastik yang sudah di berikan oleh penjual nasi uduk. Perlahan memasukan nya ke dalam mulut, dan mengunyahnya. Kemudian, Maharani berpikir rasanya tidak buruk sama sekali. Semoga makanan nya bersahabat dengan perutnya.
Saat Aldi dan Maharani menyantap makanan nya. Alma terbangun dan langsung menatap ke arah keduanya.
"Ish ... gak romantis banget sih!" celetuk nya.
Aldi yang mendengar celetukan Alma menatap bingung. Tapi tidak dengan Maharani yang mengerti maksud celetukan Alma.
"Kamu ngigau?" tanya Aldi dengan menatap Alma yang kini tangan nya akan mengambil bungkusan nasi uduk. Dengan cepat Aldi menepis tangan adiknya itu.
__ADS_1
"Hei, cuci muka dulu! jorok banget sih jadi anak perawan, bangun tidur langsung mau makan!" omel Aldi kepada adiknya.
"Aku laper banget bang, nanti aja deh cuci mukanya," sahut Alma dengan kembali akan meraih bungkusan nasi yang tadi sudah di tepis oleh Aldi.
Aldi kini meraih tangan adiknya. Agar tangan adiknya itu tidak sampai pada bungkusan nasi yang di tujunya.
"Gak boleh gitu de! kamu itu jangan jorok! gak malu emang sama Nona Maharani?" omel Aldi kembali dengan mengisyaratkan bahwa kini bersamanya ada orang lain.
Alma kini menyengir, menatap pada Maharani. Maharani hanya membalas dengan tersenyum.
"Maaf ya teh. Aku lupa kalau di sini ada teteh calon kakak ipar ku," kata Alma. Membuat Aldi melotot kepada adiknya.
"Tuh 'kan, makanya kalau bangun harus langsung cuci muka! biar gak ngigau terus," Aldi kini menarik tubuh Alma untuk masuk kedalam toilet. Padahal, Aldi ingin sekali memberi pelajaran kepada adiknya yang sudah berucap yang tidak-tidak.
"Ih abang ... emangnya aku kambing harus di seret-seret buat mandi. Aku juga bisa tahu!" protes Alma.
"Kenapa tidak dari tadi, kalau kamu bisa? ayo cepetan masuk!" Aldi kini mendorong tubuh Alma untuk masuk ke dalam toilet. Dan kini Alma menurut tanpa bicara kembali.
Aldi menghela nafas panjang. Kini ia memikirkan Maharani. Takutnya Maharani salah paham atas ucapan adiknya tadi. Aldi takutnya Maharani menyangka, kalau dirinya sudah mengaku-ngaku kepada adiknya jika dirinya dan Maharani punya hubungan spesial.
"Nona, mohon maaf!" ucap Aldi setelah duduk kembali di sofa.
"Maaf? untuk apa?" tanya Maharani bingung.
Aldi menggaruk pelipisnya yang memang tidak gatal, "Soal ucapan Alma tadi,"
Maharani tersenyum menatap wajah Aldi yang selalu membuat dadanya berdebar-debar.
"Ucapan yang mana ya?" seolah-olah Maharani tidak tahu.
Aldi kini menatap wajah Maharani. Sehingga mata Aldi dan mata Maharani saling menatap satu sama lain.
"Tadi yang Alma bilang, kalau kamu calon kakak iparnya. Padahal kita tidak ada hubungan apapun. Hanya berteman biasa."
"Oh itu ... em, gak masalah."
Aldi kini merasa lega. Maharani tidak mempermasalahkan.
"Bagaimana, jika aku ingin menjadi kakak iparnya Alma?" Maharani dengan wajah serius menatap Aldi.
__ADS_1
"A-apa?" jawab Aldi terbata dengan pandangan tertegun.
...*** ...