
Serly dan Kikan kini memilih duduk di bangku taman kampus seperti biasanya. Membaca buku dan menyelesaikan tugas sesuai kebiasaannya. Serly memang sengaja suka langsung melaksanakan tugas di area kampus, berharap agar di rumah ia hanya rebahan dan berkumpul bersama keluarga.
"Serly, ayo cerita!" Kikan yang saking penasarannya ingin tahu bagaimana awal Aldi dan Serly bisa jadian. Terus menagih Serly untuk menceritakan kepada dirinya. Saat tahu dari Kevin jiwa keingin tahuan Kikan langsung meningkat.
Serly tersenyum tipis, kemudian merapihkan semua alat tulisnya kedalam tas. Siang ini sudah tidak ada jadwal kelas. Sehingga Serly dan Kikan memilih bersantai.
"Kepo banget sih kamu!" Serly sengaja mengundur-undur waktu untuk tidak cerita kepada Kikan. Bukan karena Serly tidak mau Kikan tahu. Namun, masalahnya kini hatinya sakit jika mengingat cintanya kepada Aldi. Cinta yang sudah mendalam, lalu berkembang seiring Aldi mengungkapkan perasaan kepada dirinya, lalu kini sebuah kesalahan sudah Serly lakukan di belakang Aldi.
"Tentu aku kepo!" Kikan dengan wajah serius ingin segera menyimak bagaimana awal cerita Serly dan Aldi.
Serly menghirup nafas, kemudian ucapan dan pikirannya seolah flashback mengingat saat kenangan manis beberapa minggu yang lalu.
"Aku sebenarnya sudah lama suka sama saudara kamu itu, Ikan ...," Serly akhirnya jujur soal perasaannya terhadap Aldi. Kali ini Serly tidak akan menutupi dati Kikan.
Kikan menganga dengan raut wajah tercengang. Tentu Kikan terkejut. Ia tidak pernah tahu bahwa teman dekatnya itu menyukai Aldi saudaranya. Padahal Kikan tidak sama sekali melihat ada ketertarikan dari Serly terhadap Aldi tidak seperti Rindu yang sengaja suka menitip salam kepada dirinya, atau kepo tentang bagaimana kebiasaan Aldi. Ternyata Serly menyimpan rapih ketertarikannya tersebut.
"Wait--" Kikan menjeda dengan pikirannya mengingat-ingat kembali. Lalu menggeleng, saat tidak menemukan ada gerak-gerik atau tatapan Serly yang berbeda kepada Aldi.
"Jadi selama ini kamu suka sama Bang Aldi?" hanya kata itu yang kini Kikan tanyakan.
Serly mengangguk dengan tersenyum malu. Sungguh baru kali ini ia membahas soal tentang Aldi bersama Kikan.
"Lalu ternyata bang Aldi juga sama kamu?" Kikan menanyakan.
Serly kembali mengangguk.
Kikan kini tersenyum lalu manggut-manggut kepalanya.
"Syukurlah kalau kalian sudah jadian." Kikan dengan tersenyum menatap Serly. "Terus bagaimana tuh awalnya Bang Aldi nembak kamu?" lanjutnya penasaran.
Serly tersenyum, "Waktu itu saat--"
"Ternyata di sini. Kakak, nyari ke kelas. Tapi kosong," ucapan Dido yang langsung terdengar dekat menghentikan ucapan Serly yang akan bercerita kepada Kikan.
Kikan menoleh ke arah Dido yang berdiri di belakang Serly, lalu tersenyum ramah.
"Eh, kak Dido. Sini mau gabung?" tawarnya.
"Emang boleh?" tanya Dido.
"Tentu boleh," sahut Kikan.
__ADS_1
Dido senang. Sedari tadi ia mencari keberadaan Serly membuat dirinya lumayan lelah. Dido duduk di bangku yang menghadap pada bangku yang di duduki Serly dan Kikan.
"Kakak, udah beberapa kali chat dan telepon. Kenapa gak di angkat dan gak di read chat nya?" Dido langsung mencerca Serly.
Serly langsung merogoh ponselnya, dari dalam tas dan memeriksa. Ternyata benar, ada chat dan panggilan dari Dido. Lalu ada chat dari Aldi. Membuat Serly menjadi gugup dan cemas. Kemudian memilih untuk membacanya saat nanti saja.
"Ah, iya kak. Maaf ternyata ponselnya masih aku silent," Serly mengatakannya dengan jujur. Kemudian menaruh kembali ponselnya ke dalam tas.
Dido mengangguk paham, "Oh begitu?"
Kikan memperhatikan Dido yang terlihat masih saja mengejar Serly. Kikan merasa tidak suka. Karena Kikan yang tahu sekarang Serly sudah menjalin hubungan dengan Aldi. Tapi. Kikan tidak bisa mencampuri. Ia berusaha menjadi pengamat saja saat ini. Nanti ia akan memberikan peringatannya kepada Serly saja.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Dido kepada keduanya.
Kikan tersenyum dengan menggeleng. Serly hanya terdiam saja.
Dido berdecak karena gadis yang tepat duduk di hadapannya malah terdiam.
"Serly, are you okey?" Dido ingin memastikan keadaan Serly baik-baik saja.
Namun Serly bergeming masih terdiam tidak menyahuti pertanyaan Dido.
Kikan tersenyum, "Sepertinya lagi ngelamunin pacarnya kak, 'kan kemarin pacarnya lagi pulkam dulu," kata Kikan sengaja agar Dido tahu bahwa Serly sudah mempunyai pacar. Agar Dido berhenti tidak berharap kepada Serly.
Membuat Kikan mengerutkan keningnya merasa heran. Dan berpikir mengapa Dido tidak ingin tahu siapa pacarnya Serly. Malah terlihat biasa saja. Tidak ada rasa keterkejutan di wajahnya.
"Aku ingin korea food, kak" ujar Serly tiba-tiba.
Membuat Dido mengulas senyumnya. Berharap Serly kini sedang mengidam. Tapi. Dido berpikir lagi. Masa iya, baru saja dua hari Serly sudah hamil
"Yuk!" Dido bangkit berdiri. Kemudian mengulurkan tangannya agar Serly berdiri. Namun, Dido menurunkan kembali tangannya mengingat Serly yang akan selalu menolak.
Serly berdiri, dengan merangkul lengan Kikan.
"Sama Kikan juga ya," katanya kepada Dido.
"Iya ayo! kakak sengaja ingin mengajak temanmu juga," imbuh Dido lalu melangkah lebih dulu menuju parkiran.
Kikan antusias. Makanan Korea sudah lama ia idam-idamkan. Serly dan Kikan melangkah di belakang Dido.
***
__ADS_1
Perjalanan menuju Resto Korean Food hanya memakan waktu dua puluh lima menit dari Kampus. Ketiganya kini sudah duduk di Meja Resto tersebut.
"Silahkan pilih menunya!" kata Dido menyerahkan buku menu pada Serly. Sementara Pelayan sudah berdiri di dekat Serly menunggu apa saja yang akan di pesan oleh pelanggannya.
Serly membuka buku menu, kemudian membaca satu persatu.
"Aku ingin Kimbap sama Kimchi. Minumannya air mineral sama orange jus," kata Serly mengatakan nama makanan yang akan di makannya.
Pelayan mencatatnya.
"Saya samakan," ucap Dido.
"Saya juga," kata Kikan.
Dido dan Kikan juga memilih makanan yang sama. Membuat Serly menatap keduanya dengan alis tertaut.
"Loh kok jadi samaan?" Serly bertanya dengan wajah heran.
"Aku juga suka menu itu, Ser ...," sahut Kikan.
Kini tatapan Serly mengarah pada Dido yang duduk di hadapannya.
"Kakak ingin makan yang sama sesuai apa yang kamu makan," Dido dengan tatapan berbeda menatap Serly.
Membuat Kikan repleks berdehem. "Ekhem,"
"Kamu kenapa Kikan?" tanya Serly khawatir.
Sementara Dido mengulas senyum tipis. Merasakan paham apa yang Kikan lakukan.
Kikan mengulang-ulang dehemannya, "Ekhem ... ekhem, kayanya tenggorokan aku gatal banget," dustanya dengan memegang area lehernya.
"Duh, belum ada minum lagi," Serly panik. Mengitari Resto tersebut. Mencari apakah tersedia ada air mineral atau sejenis minuman di sebuah lemari pendingin. Namun tatapan Serly terpaku pada meja pojok dekat jendela. Ada Rasya dan Aldi yang sepertinya sedang bertemu dengan Klien.
Dido yang memperhatikan Serly sejak tadi. Mnegikuti arah tatapan Serly. Tatapannya ikut terpaku menatap arah tatapan Serly. Seketika, Dido melemas merasakan tatapan Serly begitu dalam dan fokus pada wajah Aldi yang belum menyadari kehadiran dirinya bersama Serly dan juga Kikan.
'Aku jangan menyerah dan jangan takut! Serly, sudah seutuhnya menjadi milik ku!' Dido menyemangati dirinya sendiri di dalam hati.
Namun ... hatinya kembali membatin.
'Hanya hatinya saja yang belum utuh menjadi milik ku. Tapi, aku harus bisa membuat hatinya menjadi milik ku. Aku akan berusaha!'
__ADS_1
...***...