
"Selamat siang, Nyonya. Kami dari Yayasan Penyalur Art dan pengasuh. Kami di utus untuk bekerja di rumah ini," ucap salah satu wanita paruh baya yang umurnya terlihat lebih tua dari Lia istri Hadi.
Lia yang kebetulan membuka pintu utama. Menyambut kedatangan tiga orang wanita yang terlihat berbeda usia.
"Ya selamat siang. Kebetulan kalian datang, ayo masuk!" seru Lia dengan ramah. Membuat tiga wanita tersebut merasa tidak canggung.
Tiga wanita itu di persilahkan duduk oleh Lia, dan mereka menurut.
"Mohon di perkenalkan nama kalian!" kata Lia yang ingin tahu nama-nama mereka.
"Baik Nyonya. Perkenalkan nama saya Ida umur saya 45 tahun. Saya sudah delapan tahun berpengalaman sebagai Art." ucap yang bernama Ida memperkenalkan dirinya.
Lia tersenyum ramah kemudian matanya mengarah pada wanita yang terlihat muda seperti seumuran dengan Adelia.
Wanita tersebut seakan tahu kode dari Lia, ia langsung memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Nina Nyonya, umur saya 25 tahun. Saya sudah dua tahun berpengalaman menjadi seorang baby sister," ucapnya sopan.
Lia tersenyum, "Kamu masih muda. Dan kenapa kamu malah menjadi seorang baby sister?" Lia bertanya karena penasaran ingin tahu latar belakangnya.
"Saya karena tidak berpendidikan tinggi Nyonya. Saya hanya lulusan SMP. Dan saya sangat menyukai anak-anak, maupun bayi," sahut Nina.
"Kamu belum menikah?" tanya Lia kembali.
"Belum, Nyonya" jawab Nina.
Lia manggut-manggut, kemudian tatapannya menuju wanita yang sama seperti Nina usianya.
"Nama saya Sarah Nyonya, saya berumur 26 tahun. Saya sudah berpengalaman menjadi baby sister dua tahun lamanya, sebagai Art juga sudah lima tahun. Saya hanya lulusan SMP, dan saya belum menikah" ucap Sarah memperkenalkan diri.
Lia terperangah, "Wah ... pengalaman mu sudah lumayan lama. Jadi saat kamu sudah lulus sekolah, kamu langsung bekerja?" tanya Lia yang merasa takjub dengan pengalaman Sarah.
"Iya Nyonya. Saya berhenti bekerja sebagai Art waktu itu, karena saya sudah tidak betah. Karena anak majikan saya, seakan selalu ingin melecehkan saya," ujar Sarah mengatakan pengalaman pahitnya hingga ia berhenti sebagai Art.
"Oh ya Ampun. Mungkin karena kamu cantik," timpal Lia.
Sarah hanya tersenyum saja.
"Baiklah. Saya tertarik dengan kalian. Saya di sini membutuhkan seorang Art untuk urusan dapur, dan membersihkan rumah. Lalu saya di sini mempunyai cucu kembar. Jadi saya butuh dua baby sister, dan satu Art," ujar Lia.
Ida, Nina, dan Sarah manggut-manggut seolah mengerti apa yang Lia sampaikan.
"Saya ingin Bu Ida sebagai Art untuk urusan dapur. Dan untuk Baby Sister Nina dan Sarah. Dan maaf kalau urusan mencuci kalian bisa bergantian ya. Karena kalian bisa bergantian, jika dari salah satu cucu kembar saya sedang tidur," Lia memberikan tugas kepada tiga wanita tersebut.
"Baik, Nyonya kami paham," sahut Ida yang mewakili dari mereka.
__ADS_1
"Ya sudah. Kamar kalian ada di belakang." Lia lalu berdiri menuntun tiga wanita tersebut menuju kamar yang bersebelahan dengan ruang dapur.
Kamar tersebut sangat luas hingga cukup untuk tiga orang di tempati. Dan kebetulan ada dua kasur yang berukuran besar. Sehingga muat untuk mereka pakai.
"Kalian bisa simpan baju kalian di lemari tiga pintu itu. Masing-masing satu pintu. Dan kamar ini juga tersedia kamar mandi di dalam," ucap Lia memberitahukan.
"Silahkan kalian istirahat dahulu. Nanti setelah kedua cucu saya bangun. Sarah dan Nina akan saya panggil," lanjut Lia kembali.
"Terima kasih, Nyonya" kata Ida, Nina, Sarah bersamaan.
"Sama-sama. Semoga kalian betah ya" Lia setelah itu keluar dari kamar tersebut. Kemudian melenggang masuk ke dalam kamar Adelia setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Del, kamu lagi apa?" tanya Lia saat Adelia membukakan pintu.
"Aku baru saja selesai memompa Asi, Ma. Silahkan masuk, Ma!" kata Adelia dengan membuka lebar pintu kamarnya.
Lia pun masuk dan meneliti kamar Adelia dan Rasya yang sangat luas. Dan tersenyum saat menatap Baby Daffa, dan Baby Saffa yang tertidur lelap di atas keranjang bayi.
"Del ... Baby sister dan Art sudah ada. Mereka Mama suruh istirahat dulu." Lia mulai memberitahukan adanya baby sister dan art yang baru saja datang kepada Adelia, dengan terus menatap cucu kembarnya yang menggemaskan.
"Sudah ada? apa Mama, sudah tanya-tanya tentang pengalamannya?" Adelia ingin tahu dari Mama mertuanya tentang Baby sister yang akan mengasuh dua bayi kembarnya.
"Sudah. Mereka semua berpengalaman. Dan yang akan menjadi baby sister dua-duanya seumuran kamu, mungkin lebih satu tahunan. Malah kamu lebih muda dari mereka," Lia kini seraya duduk di sofa.
"Apa mereka cantik-cantik, Ma?" pertanyaan konyol yang Adelia katakan kepada Lia.
Lia terkekeh, seakan tahu dari raut wajah Adelia yang seakan merasa was-was.
"Lebih cantik kamu, Sayang" ucapnya serius. "Kamu jangan risau. Suamimu tidak akan pernah melirik wanita lain. Apalagi dua baby sister yang kecantikannya jauh dari kamu," lanjut Lia menenangkan.
Adelia terdiam, lumayan sedikit tenang setelah mendapatkan keterangan lanjut dari Lia.
Tidak lama, suara Baby Daffa memekakan telinga. Ia terbangun dengan menangis histeris. Lalu di susul oleh suara tangisan Baby Saffa karena tidurnya yang tenang terganggu oleh suara tangisan kakaknya.
Lia yang mendengar itu malah tersenyum senang. Tangisan bayi itu seolah menjadi suara hiburan untuknya. Inilah hal yang di idamkan oleh Lia. Suara tangis bayi yang memenuhi ruangan rumahnya, sejak lama ia inginkan. Apalagi sekarang bukan satu tangisan bayi, namun dua sekaligus.
Adelia sang Bunda dengan sigap memberikan asi yang beberapa menit sudah ia selesai pompa. Kedua bayinya memiliki jatah perbotol.
"Sayang laper ya?" Adelia mulai mengajak ngobrol bayi kembarnya yang menggemaskan.
Bayi kembarnya tersenyum, lalu melanjutkan kembali menyedot botol dotnya.
Lia meraih Stroller yang tersimpan di sudut ruangan.
"Ikut Oma, yuk keluar. Kita kenalan sama pengasuh kalian," ucap Lia seraya menggendong Baby Saffa lalu di letakkan di stroller. Kemudian ia lakukan juga kepada Baby Daffa dan di letakkan di samping Baby Saffa.
__ADS_1
"Del, ayo. Kita temui pengasuh untuk Baby Daffa dan Baby Saffa," ajak Lia seraya mulai mendorong stroller tersebut.
"Iya, Ma" Adelia seraya mengambil dua botol susu cadangan untuk bayi kembarnya.
"Del, lebih baik kamar yang di samping itu. Jadikan buat kamar si kembar. Agar para pengasuh mereka tidak canggung, kalau kamarnya terpisah," Lia seraya mendorong stroller menuju ruang keluarga.
"Ya nanti aku bilangin ke Mas Rasya, Ma." Adelia menyetujui pendapat Lia. Memang ia tidak mau orang lain masuk ke dalam kamarnya, selain keluarganya itu. Apalagi para pengasuh, yang Adelia belum tahu kepribadiannya.
"Kalian tunggu di sini. Mama mau panggil mereka dulu," ujar Lia. Adelia pun mengangguk. Kemudian Lia melenggang ke arah dapur.
Hingga tidak lama Lia datang dengan tiga wanita di belakangnya.
"Ini perkenalkan, Adelia anak saya. Ibu dari bayi kembarnya," Lia memperkenalkan Adelia kepada tiga wanita tersebut yang akan bekerja di rumahnya.
"Saya, Ida Nona." kata Ida.
"Saya, Nina" Nina kini memperkenalkan.
"Dan Saya, Sarah" ucap Sarah orang terakhir.
Adelia tersenyum ramah. "Nama saya, Adelia. Semoga kalian betah ya, kerja di sini. Dan semoga kerja kalian memuaskan," ujar Adelia dengan terus menyunggingkan senyumnya.
Tiga wanita tersebut senang karena mendapat penyambutan yang baik. Dan di dalam hati mereka sangat terpesona akan kecantikan wajah Adelia.
***
"Al, jangan lupa untuk jemput Serly!" Rasya mengingatkan Aldi untuk menjemput adiknya.
"Tentu, Pak. Setelah dari sini saya akan langsung melaju ke kampus," Aldi memang mengingat tugasnya itu. Malah sedari tadi ia langsung mengirimkan pesan kepada Kikan sepupunya itu, menanyakan jadwal pulang kuliah. Namun, Kikan sudah mengatakan pulang jam empat sore. Dan yang lebih mencengangkan Serly sedari jam istirahat tidak mengikuti kembali jam pelajaran.
"Ya, baguslah. Em .. saya akan kirim nomor kontak adik saya. Untuk kamu memudahkan komunikasi," Rasya seraya langsung mengirimkan kontak Serly kepada nomor Aldi.
"Ya Pak," sahut Aldi seraya menerima pesan dari Rasya.
Rasya menatap jendela kaca ruangannya. Terlihat hujan mengguyur sejak jam dua belas siang tadi hingga sekarang.
"Al, hati-hati ya nyetirnya, sedari tadi hujan terus" Rasya seraya menepuk bahu Aldi. Kemudian melenggang keluar dari ruangannya meninggalkan Aldi yang masih berkemas.
Aldi setelah berhasil mengemas berkas-berkas yang penting pada tas kerjanya, ia mulai memanggil nomor kontak Serly.
"Nona anda nakal sekali. Seharian ini anda bolos," gumam Aldi setelah berulang kali tidak mendapat jawaban pada panggilannya.
Setelah itu Aldi pun melesat untuk menuju kampus Serly berada.
...***...
__ADS_1