You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 228.


__ADS_3

Rasya yang sedang fokus mengendarai mobilnya. Sedari tadi terdiam. Merasa enggan membuka suara kepada Ariyanti yang sedang duduk manis di samping kemudi. Namun, Rasya kembali teringat pada rencananya. Jika ia terus diam maka rencana itu tidak akan ada hasilnya.


"Ariyanti, nanti kamu bantu pekerjaan Mita saja ya!" Rasya mulai membuka obrolan dengan tangannya terus fokus menyetir.


Ariyanti terkesiap. Ini hal langka. Rasya mau berbicara dengannya. Ariyanti tersenyum, lalu menjawab dengan suara yang di buat sebegitu lembut.


"Iya, Sya ...," ucapnya. Kemudian menatap Rasya dari arah samping.


Rasya yang tahu bahwa dirinya sedang di tatap merasa risih. Rasya membiarkan saja. Karena ingat kembali pada ke tujuan awal. Hingga tidak terasa Mobil yang Rasya kendarai memasuki pelataran perusahaan Argadinata.


Ariyanti keluar terlebih dahulu. Dan di susul oleh Rasya. Keduanya berjalan bersampingan dengan jarak yang sedikit jauh. Membuat perhatian karyawan menatap ke arah keduanya.


Rasya setelah berada di depan ruangannya sudah di sambut dengan senyuman hangat dari Mita dan Aldi.


"Selamat Pagi Pak Rasya," sapa Mita dan Aldi.


"Pagi. Kalian nampak kompak? apakah ada sesuatu?" selidik Rasya. Keduanya saling tatap. Setelah itu keduanya saling menggeleng.


"Aneh," ucap Rasya kemudian membuka handle pintu. Dan ia terbelalak saat melihat ada dekorasi ucapan selamat ulang tahun kepada dirinya.


"Ah iya hari ini aku ulang tahun," gumamnya lalu membalikkan badan untuk berniat berbicara kepada Aldi dan Mita. Namun, di kejutkan kembali dengan karyawan dari divisi lainnya yang sudah nampak membawa kue besar. Dan tidak tahu dari sebelah mana kedatangannya. Membuat Rasya tersenyum haru. Semua nampak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Rasya.


Mita mendekati Rasya, " Bapak boleh mengucapkan doa, setelah itu meniup lilinnya!" Mita mengarahkan Rasya untuk mengahadap pada Kue yang sedang di pegang karyawannya. Nampak ada Ariyanti ikut bergabung juga.


"Ya Tuhan ... jadi ingat sama Adelia di rumah. Dan mengingatkan saat Adelia suka memberikan surprise. Tapi, sekarang Adelia mana ingat. Karena ingatannya belum pulih," gumam Rasya di dalam hati.


Ia mulai mendekati kue itu, kemudian berdoa di dalam hati.


"Ya Tuhan. Tolong berkahi umurku, berkahi rizkiku, permudahkan segala urusanku. Dan kuatkan rumah tangga kami, beri kelancaran untuk istriku nanti saat melahirkan, dan lindungi rumah tangga kami. Aamiin ...."


Setelah itu, Rasya mulai meniup lilinnya.


"Ayo, Pak di potong kuenya!" kata Mita memberikan intrupsi. Dan Rasya pun melakukannya.


"Potongan pertama akan bapak berikan kepada siapa?" tanya Mita dengan mengambilkan potongan kue pertama itu, dan menaruhnya di atas piring kecil yang sudah di sediakan.


"Berhubung istri saya tidak ada di sini. Saya akan berikan kepada Aldi. Aldi adalah teman yang selalu ada di saat saya berada di titik terendah," Rasya mengingat betul saat merintis membuat bengkel. Aldi adalah orang yang selalu menemani dan memberikan ide-idenya sehingga bengkel itu berkembang dan berjalan lancar.

__ADS_1


Aldi dengan tersenyum menerima pemberian kue dari Rasya. "Terima kasih Pak," ucapnya.


Mita kembali menginstrupsi, "Potongan kue kedua akan bapak berikan kepada siapa?"


Rasya tersenyum serta menggeleng samar, "Buat kamu. Sekretaris serta teman istri saya," membuat Mita terdiam. Ia belum tahu siapa istri Rasya. Adelia atau Desi. Karena kesibukan pekerjaan Mita sampai lupa menanyakan soal itu.


"Tunggu, Pak Rasya. Istri yang di maksud bapak siapa? karena bapak sama sekali tidak mengatakan?"


Semua karyawan wanita nampak lesu setelah mendengar bahwa Rasya telah memiliki istri. Hingga saling berbisik membicarakan Rasya.


"Siapa lagi, Mit. Kamu tahukan dulu saya paling dekat dengan siapa?"


Mita terdiam lalu menebak dengan benar, "Adelia," ucapnya membuat Rasya mengangguk.


Dan Mita pun menerima potongan kue dari Rasya. Lalu Mita kembali mengarahkan pisau untuk Rasya memotong kue kembali.


"Jangan bilang kamu ada potongan ketiga, ke empat, dan seterusnya sampai kue ini terpotong habis?" tanya Rasya membuat Mita terkekeh.


"Tidak Pak. Hanya sampai potongan ketiga," ujar Mita. Dengan santai Rasya memotong kue itu.


"Potongan ke tiga ini untuk siapa Pak?" tanya Mita lalu menaruh kue itu pada piring kecil.


"Ok. Rencana di mulai," batinnya.


"Untuk Ariyanti." ucapnya. Tanpa keterangan seperti tadi. Membuat Mita dan Aldi saling tatap tidak mengerti.


"Ariyanti adalah anak dari sahabat Papa saya. Sini Ariyanti!" Rasya menjelaskan seraya memanggil Ariyanti untuk mendekat.


Ariyanti mendekati Rasya seraya tersenyum. Kemudian ia berujar. "Maaf, Sya aku tidak tahu kalau hari ini kamu ulang tahun!" ucapnya dengan menerima kue yang Mita serahkan.


"Tidak apa-apa. Saya sendiri juga sampai lupa. Kalau mereka tidak memberikan kejutan seperti ini." Rasya berbicara sesantai mungkin.


"Kalian sudah ya, bubar! dan bekerja dengan baik. Em ... terima kasih sekali kalian telah mengingat tanggal kelahiran saya. Berarti kalian sangat perduli dengan saya!" Rasya berterima kasih dan mengintrupsi agar karyawannya bubar.


"Baik Pa. Sama-sama," ucap mereka serempak.


Kemudian mereka bubar meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Kini tinggal Rasya, Aldi, Mita dan Ariyanti. Yang masih berdiri di hadapan Ruangan Rasya.


"Pak ini kuenya taruh dimana?" tanya Mita.


"Taruh di kulkas saja. Nanti saya akan memakannya. Terima kasih ya, Mit"


"Baik Pak. Iya sama-sama. Ini adalah ide Aldi Pak."


Rasya lalu menoleh kepada Aldi. "Ah ternyata kamu ingat tanggal kelahiran saya ya?" Membuat Aldi tersenyum serta mengangguk pelan.


"Terima kasih ya, Al. Oh iya saya jadi keingetan. Nanti tolong jemput adik saya di sekolahan. Hari ini dia baru pulang dari kempingnya!"


Aldi menunduk seraya mengangguk pelan. "Baik pak,"


"Ya sudah kalian balik ke tempat kerja masing-masing! oh iya, Mita kamu kerja di bantu Ariyanti ya, agar pekerjaan kamu tidak terlalu menumpuk!"


Mita mengangguk lalu tersenyum ramah kepada Ariyanti. Begitupun Ariyanti ia membalas senyuman Mita. Walau hatinya sangat tidak suka melihat Mita yang begitu akrab dengan Rasya.


"Ya sudah. Saya akan keruangan saya!" Rasya lalu masuk ke dalam ruangannya.


Begitupun dengan Aldi, dan Mita serta Ariyanti. Ketiganya kembali keruangannya masing-masing. Mita mulai duduk di meja kerjanya. Kemudian ia mulai lupa bahwa setiap pagi ia akan membuatkan kopi untuk Rasya.


"Mit, kamu mau kemana?" tanya Ariyanti.


"Saya lupa belum membuatkan kopi untuk Pak Rasya," sahutnya.


Ariyanti kemudian berdiri, "Boleh saya yang buatkan?" tanyanya.


Mita terdiam sejenak. Lalu mengangguk membiarkan Ariyanti untuk membuatkan kopinya.


"Boleh. Pak Rasya biasanya, kopi instan capucino" ujar Mita mengatakan kebiasaan kopi yang Rasya suka.


Ariyanti dengan tersenyum mengangguk kemudian ia melenggang menuju Pantry. Ini adalah hari bahagia bagi Ariyanti. Semobil bareng, dapat potongan kue dari Rasya. Dan yang paling Ariyanti senangi adalah Rasya mau berbicara kepadanya.


Maka Ariyanti tidak akan membuang kesempatan emas ini. Ia akan mendekati Rasya kembali. Sekalian mengambil hati Rasya. Karena merasa ada celah saat Rasya mulai mau berinteraksi dengannya.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2