
Adelia menatap kamar Rasya yang luas serta cat dindingnya mencirikhas-kan penghuninya adalah seorang pria. Dengan dinding bercat abu-abu dan putih. Adelia tersenyum saat menatap sudut ruangan terdapat alat musik. Adelia lebih terperangah lagi saat menatap dinding di sebelah alat musik tersebut. Bingkai Photo yang besar. Dimana ada empat orang, yang diantara nya dirinya dan Rasya.
"Mas, itu aku?" tunjuk Adelia pada bingkai photo besar. Yang dimana potret kebersamaan dulu saat nge-band.
Rasya tersenyum, "Iya itu kamu. Kamu salah satu vokalis di grup band itu," ujar Rasya. Lalu duduk kembali di tepi ranjang. Menatap istrinya yang sedang memindai ruang kamarnya.
"Aku bisa nyanyi?" tanyanya.
"Iya. Suara kamu itu merdu, Sayang ...," tutur Rasya.
Adelia kini duduk di kursi yang menghadap pada alat musik keyboard.
"Mas, aku ingin lihat kamu mainkan musik ini!" pintanya.
"Boleh," sahut Rasya masih dengan duduk di tepi ranjang.
"Mas, tahu gak. Saat waktu itu, aku ingin sekali melihat penampilan kamu. Padahal aku hanya lihat di ponsel kak Alina,"
"Kak Alina? siapa?"
"Itu Kakak nya Tuan Albi,"
Rasya tersenyum senang karena Adelia tidak memanggil Albi dengan kata 'Mas' lagi.
"Begitu ya?, terus kamu merengek ingin lihat aku nyanyi?"
"Iya. Sempat Tuan Albi gak ngijinin. Tapi, sepertinya dia gak tega. Makanya waktu itu aku lihat penampilan kamu di siang hari,"
"Nah, semenjak itu. Aku yakin bahwa kamu Adalah Adeliaku. Istriku. Tapi bagus, karena kamu ingin sekali melihat aku bernyanyi. Aku bisa menemukanmu, dan membawamu pergi. Ya, walaupun harus berjuang sebulan lebih,"
"Iya Mas. Ayo dong, nyanyi buat aku!" ujar Adelia meminta Rasya untuk bernyanyi.
Rasya berdiri dan mendekati Adelia yang masih duduk di kursi yang menghadap meja Keyboard miliknya.
"Kalau aku nyanyi, apa yang akan kamu berikan untuk ku?" tanya Rasya dengan setengah membungkuk menatap Adelia dari samping.
"Mas ingin imbalan?" tanya Adelia dengan heran.
"Iya. Aku kan, biasanya nyanyi itu di bayar," ujar Rasya datar.
"Tapi, Mas. Aku gak punya uang saat ini," sahut Adelia. Membuat Rasya terkekeh karena kepolosan istrinya sekarang.
"Khusus istriku gak usah pakai uang," kata Rasya. Membuat Adelia menatap bingung.
"Pakai Apa?"
Rasya langsung menunjuk bibir merah miliknya. Adelia tersenyum mengerti. Tanpa menunggu lama Adelia langsung meraih bibir Rasya untuk ia kecup. Namun, saat Adelia menyudahinya Rasya langsung menahan tengkuk Adelia. Sehingga bibir keduanya bertautan dengan dalam.
"Terima kasih, Sayang ...," ucapnya setelah keduanya melepaskan tautan bibir mereka.
Adelia menekuk wajahnya. Bahkan bibirnya ia manyunkan. Merasa gemas beserta kesal terhadap Rasya yang malah mecumbunya.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku mau nyanyi sekarang untuk istriku tercinta," ucap Rasya. Membuat Adelia bangkit dari duduknya. Dan kini Rasya yang duduk di kursi itu, dan Adelia berdiri di sampingnya.
Rasya tersenyum melihat wajah istrinya yang masih menekuk. "Sayang, kamu marah?" tanyanya.
Adelia diam saja. Malah seolah tidak mendengar.
"Sayang, kalau suami bertanya. Kamu harus jawab. Dan tidak baik loh, cemberut di hadapan suami. Seorang istri itu harus berwajah berseri-seri jika di hadapan suaminya," ucap Rasya dengan tangannya kini sudah menekan not-not pada keyboard. Sebelumnya Rasya sudah menyambungkan dengan kabel aliran listrik.
Adelia kini menatap wajah Rasya. Merasa bersalah karena sudah cemberut pada suaminya. "Maaf, Mas!" katanya.
Rasya tersenyum, "Maafin aku juga, telah buat kamu kesal, ya?!"
"Itu tahu," Adelia dengan mengerucutkan bibirnya.
Rasya terkekeh, "Jadi gak, dengar aku nyanyi?"
"Jadilah Mas, masa gak jadi. Aku udah kasih yang kamu mau tadi," sahut Adelia dengan ketus.
Rasya tergelak. Ia merasa gemas pada istrinya itu. Dan kini Rasya mulai memainkan intro pada alat musiknya. Membuat Adelia menatap kagum, melihat Rasya yang begitu lihai dengan jari jemarinya memainkan alat musik tersebut. Terlihat Rasya mulai mengambil nafas. Dan mulai bernyanyi.
Cinta adalah misteri dalam hidupku
Yang tak pernah ku tahu akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku
Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada di sampingmu
Ku berharap abadi dalam hidupku
Mencintamu bahagia untukku
Karena kasihku hanya untuk dirimu
Selamanya kan tetap milikmu
Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada di sampingmu
Di relung sukmaku
Ku labuhkan sluruh cintaku
__ADS_1
Di hembus nafasku
Ku abadikan sluruh kasih dan sayangku
Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada di sampingmu
Ku ingin slamanya oh
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya
( Ku ingin selamanya ~Ungu~)
Adelia terharu saat mendengar setiap lirik lagu yang Rasya nyanyikan. Adelia tidak bisa meragukan lagi terhadap Rasya yang bahwa suaminya itu sangat mencintai dirinya. Adelia bisa merasakan bahwa Rasya bernyanyi dari hatinya. Rasya meresapi setiap lirik yang ia nyanyikan, dan Rasya begitu menghayati. Suara Rasya yang lembut dan merdu semakin menambah isi lagu tersebut tertuju untuk Adelia.
Adelia memeluk Rasya dari samping. Dengan mengecup pipi Rasya bertubi-tubi.
"Aku tersentuh banget, dari lagu yang kamu nyanyikan," ucap Adelia.
Rasya mengulas senyum, ia tangannya menuntun tubuh Adelia untuk duduk di atas pangkuannya. Dan Adelia pun tidak menolak. Ia menurut duduk di atas pangkuannya Rasya.
"Lirik lagu yang aku nyanyikan sangat mewakili perasaanku, untuk mu. Seperti aku yang ingin seumur hidup bersamamu. Sampai maut yang memisahkan kita," ucap Rasya dengan tersenyum menatap wajah Adelia yang kini begitu dekat dengan wajahnya.
Dan tanpa Rasya duga. Adelia kini menautkan bibirnya kepada bibir Rasya. Dengan tangannya ia kalungkan pada leher Rasya. Membuat Rasya begitu senang. Sehingga terjadilah cumbuan hangat di malam itu. Rasya membalas setiap ciuman istrinya itu, menjadi lebih liar. Lidahnya sudah bermain di rongga mulut istrinya, membelit lidah sang istri. Sehingga Adelia melenguh merasakan getaran hebat di sekujur tubuhnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pada pintu menghentikan cumbuan mereka. Adelia langsung terbangun dari pangkuan Rasya. Sedangkan Rasya tersenyum. Lalu mengecup kening Adelia sebelum membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Rasya saat setelah membuka pintu dan melihat Serly berdiri.
"Ayo kita makan malam dulu kak, di bawah juga sudah ada Papa," kata Serly. Ia datang berniat mengajak Rasya dan Adelia untuk makan malam bersama.
"Baiklah. Sekarang juga aku akan turun bersama istriku," kata Rasya. Serly pun meninggalkan Rasya.
Kini Rasya mendekati Adelia yang sedang merapihkan rambutnya.
"Sayang, kita di tunggu Mama sama Papa untuk makan malam," ujar Rasya.
"Baik Mas. Ayo kita turun," sahut Adelia.
Dan Mereka berduapun turun. Menghampiri ruang makan yang dimana penghuni rumah sudah duduk menunggu di meja makan tersebut.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1