
"Hai sayang, kenapa kamu ada di luar malam begini?" pekik Rasya yang melihat Adelia terduduk di kursi teras. Ia baru saja keluar dari mobil sendirian. Padahal Adelia dan Rara baru saja pulang dari rumah Albi. Dan tepat sekali saat Adelia dan Rara baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi teras. Mobil Rasya masuk ke dalam halaman rumah.
"Adel ... kegerahan Sya, mungkin faktor kehamilannya yang membesar, jadi merasa kepanasan," sahut Rara. Karena Adelia lama untuk menjawab.
"Benarkah Sayang?" Rasya seperti meyakinkan ucapan Rara kepada Adelia istrinya.
"I-iya Mas," sahut Adelia terbata.
Tak lama terlihat mobil mewah masuk ke halaman rumah Rasya. Arman keluar, dan membuka pintu samping. Membantu memapah Ariyanti yang lututnya cidera saat tadi memantau proyek.
"Malam," sapa Arman saat berdiri berhadapan dengan Rasya, Adelia, dan Rara.
"Malam juga," sapa Rasya kembali.
Adelia dan Rara saling pandang merasa tidak mengerti dengan Ariyanti yang di papah oleh Arman. Namun, seketika Adelia langsung membukakan pintu agar Ariyanti bisa masuk di papah Arman.
"Biar saya saja yang membantu memapah Ariyanti," Rara menawarkan.
"Nona. Lekas sembuh ya," ucap Arman saat mengurai tangannya yang membantu Ariyanti berjalan.
"Terima kasih ya, Pak Arman" ujar Ariyanti dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
Arman hanya mengangguk. "Kalau begitu, saya undur pamit. Mari semuanya!"
Rasya merespon dengan anggukan. Arman pun masuk ke dalam mobilnya. Dan membunyikan klakson tanda menyapa kembali saat mobilnya perlahan keluar dari halaman rumah Rasya.
Setelah di pastikan Ariyanti dan Rara masuk ke dalam rumah. Rasya memeluk tubuh istrinya, dan mengecup bibirnya dengan sekilas.
"Ayo masuk sayang, gak baik lama-lama terkena angin luar apalagi angin malam!" Rasya seraya merangkul pundak sang istri yang hampir dua belas jam ia tinggalkan.
Adelia pun menurut. Ia pun masuk ke dalam rumah dengan di gandeng Rasya. Saat sudah di dalam kamar. Adelia membantu membukakan jas yang Rasya kenakan. Namun, tatapan Rasya tajam saat melihat lebih dekat bahwa jaket yang Adelia kenakan adalah jaket seorang pria.
"Kamu pakai jaket siapa? bukannya, kamu kegerahan?"
Adelia melirik ke jaket yang masih di pakainya.
__ADS_1
"Ya ampun ini kan, jaket Albi. Bagaimana ini?" pekik Adelia di dalam hati.
"Ini jaket punya Rara, Mas. Tadi aku pinjam saat duduk di luar," sahut Adelia menemukan ide. Rara yang tomboy kebanyakan pakaian seperti pria, membuat Rasya manggut-manggut.
Adelia membuka jaket itu di hadapan Rasya. Membuat Rasya langsung menelan salivanya saat melihat bahu, hingga dada yang terbuka. Adelia masih mengenakan dress yang tadi siang Albi pilihkan.
Rasya merasakan kepanasan melihat pemandangan seperti itu. Kabut gairah sudah menyelimuti tubuhnya. Sehingga Rasya repleks mencium bahu Adelia yang mulus.
"Ih, Mas geli tahu" Adelia mencoba menghindar saat Rasya mulai menyosor kembali.
"Sayang, kita olah raga dulu yuk!" ajak Rasya dengan nada menggoda.
"Enggak ah Mas. Kamu belum mandi," tolak Adelia.
"Nanti aku akan mandi. Lagian kenapa kamu memakai pakaian yang terbuka begini?. Sama saja kamu sedang memancing ku," Rasya kini memeluk Adelia dari belakang, seraya tangannya ia usapkan ke perut istrinya.
Adelia terdiam. Mencoba membiarkan suaminya memeluk dari belakang, dan mengusap perutnya. Tiba-tiba Adelia teringat akan Ariyanti yang pulang di antar Arman, membuat rasa keingintahuannya melanda.
"Mas, tahu Ariyanti kenapa bisa pulang bareng Arman?"
"Kok bisa?" tanya Adelia dengan menahan geli karena ulah suaminya.
"Bisalah ...," Rasya kini mulai melu*at leher Adelia.
Adelia memejamkan kedua matanya, "Mas, mandi dulu ih,"
"Enggak. Nanti setelah menjenguk si baby, aku baru akan mandi,"
Tubuh Adelia kini Rasya baringkan di atas ranjang. Dengan disusul oleh Rasya yang mengungkung tubuh sintal istrinya dengan memberikan jarak agar tidak terkena perutnya.
Rasya melu*at bibir sang istri dengan penuh gairah. Memberikan rasa sensasi yang membuat Adelia pasrah. Meny*sap, dan memberikan penekanan agar sang istri membalas ciumannya.
Tidak di bibir saja. Sentuhan-sentuhan nakal Rasya berikan di area sensitif sang istri. Membuat Adelia mele**uh dan mend**ah. Setelah merasa Adelia sudah saatnya di masuki benda pusaka miliknya. Rasya mulai menanggalkan pakaian sang istri tanpa sisa, begitupun pakaian dirinya. Memasukkan benda pusaka itu dengan lembut. Menghentakan dengan ritme yang pelan dan lembut. Sedangkan kedua tangannya bermain di dua gundukan yang sebentar lagi akan di ambil alih oleh sang baby.
***
__ADS_1
Sementara itu Rara yang membantu Ariyanti masuk ke dalam kamarnya. Penasaran akan apa yang telah terjadi pada Ariyanti.
"Kenapa kakimu bisa luka seperti ini?" tanya Rara.
"Ah ini. Tadi saat aku memantau proyek di luar kota. Gak tahu kenapa tiba-tiba kakiku tersandung. Hingga aku jatuh," sahut Ariyanti memberikan keterangan. Padahal yang benar adalah dirinya sengaja menjatuhkan kakinya hingga sepatu higheels miliknya patah. Menginginkan perhatian dan sentuhan dari Rasya ia lakukan. Tapi, itu hanya angannya saja. Yang ada hanya orang lain yang membantu dan menolongnya. Bukanlah Rasya.
"Oh begitu, ya ampun. Kamu kurang berhati-hati. Ya sudah. Beristirahatlah ya," Rara menyelimuti Ariyanti yang sudah ia bantu baringkan.
"Terima kasih ya, Ra" ucap Ariyanti dengan tersenyum.
"Iya sama-sama. Kalau gitu aku ke kamarku," pamit Rara.
Ariyanti mengangguk. Dan Rara keluar kamar dan menutup pintu. Setelah di pastikan Rara keluar. Ariyanti bangun. Dan duduk bersandar di sandaran ranjang. Ia jadi mengingat sosok Arman yang telah menolongnya tadi. Bahkan Arman mengobati luka di lututnya, dan memberikan tumpangan untuk pulang.
"Pria itu begitu manis," gumam Ariyanti dengan tersenyum.
"Tapi. Kenapa tidak ada getaran hatiku kepada pria lain. Hanya Rasya yang aku sukai dan aku cintai," lanjutnya.
"Rasya susah di dekati. Membuat aku menjadi seakan tertantang untuk mencoba cara lain lagi," Ariyanti tersenyum menyeringai membayangkan sosok Rasya yang sangat ia cintai. Tapi tidak mudah di dekati.
"Aku harus cari cara lain. Agar Rasya bisa masuk kedalam perangkapku."
Ariyanti terus bermonolog. Dan membayangkan Rasya yang akan masuk ke dalam perangkap Ariyanti selanjutnya. Entah cara apa lagi yang akan Ariyanti lakukan, agar mendapat perhatian dari Rasya. Tanpa terasa rasa kantuk perlahan datang. Ariyanti pun tertidur setelah lelah bermonolog, dan membayangkan wajah tampan Rasya.
Di kamar Adelia dan Rasya...
Sementara itu di kamar bawah. Pergulatan sengit masih berlangsung. Berbagai gaya Rasya coba. Membuat posisi ternyaman untuk istrinya yang kehamilannya sudah mulai membesar. Gaya saat ini yaitu sang istri di atas tubuhnya. Dengan permintaan Rasya pastinya.
Peluh membasahi tubuh masing-masing. Gairah dan rasa panas memenuhi ruang kamar tersebut. Des**an dan era**an melantun. Begitu saat puncaknya tercapai. Adelia terkulai lemas di atas tubuh sang suami yang memeluknya erat.
"Kamu luar biasa Sayang," bisik Rasya.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1