
Rasya mendesah prustasi. Ia memilih melanjutkan untuk menuntaskan hasratnya itu di dalam kamar mandi, yang selama enam bulan ini ia pakai. Sebenarnya ia sedari tadi menunggu Adelia untuk melanjutkan acaranya yang tertunda itu. Namun, melihat baby Daffa yang tidak kunjung tidur. Rasya mengalah karena merasa kasihan pada istrinya.
Adelia seakan tahu apa yang akan suaminya lakukan di kamar mandi. Adelia merasa bersalah karena niatnya malah harus terganggu oleh dua bayinya, yang kini Baby Daffa malah mengoceh mengajak ngobrol.
"Sayang, mau gadang sama bunda?" Adelia mengajak ngobrol baby Daffa. Seakan senang di ajak ngobrol. Baby Daffa semakin berceloteh dengan aktif menggerak-gerakan kedua tangan dan kakinya.
"Tapi, Sayang jangan terlalu berisik ya, soalnya adik Saffa sudah tidur lelap!" peringatan Adelia kepada Baby Daffa. Adelia membayangkan jika dua bayinya itu bangun, maka jadwal tidurnya sudah tahu pasti akan tengah malam. Mengingat sekarang saja waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam, dan baby Daffa belum tidur juga.
Rasya keluar dari kamar mandi dengan sudah berwajah segar. Ia mendekati Adelia yang terbaring menyamping menghadap baby Daffa yang terlentang dengan berceloteh tidak jelas. Rasya menggeleng, menanggapi baby Daffa yang belum saja tidur.
"Daffa Sayang, mau gadang bukan?" ucapnya dengan ikut merangkak dan terbaring di samping kiri bayi tersebut.
Adelia dan Rasya saling melemparkan senyuman saat Baby Daffa berceloteh seperti menjawab ucapan yang Rasya tanyakan.
Tiba-tiba Adelia berwajah sendu. "Mas, maaf" ucapnya dengan raut wajah penuh bersalah.
Rasya menatap Adelia yang beraut wajah sendu itu, "Gak usah minta maaf sayang ... sekarang prioritas kita adalah si kembar." ucapnya dengan tersenyum. Lalu Rasya menyadari bahwa Adelia masih mengenakan lingerie tadi. "Tapi, Mas tidak akan maafkan jika kamu masih memakai lingerie itu!" lanjut Rasya dengan menunjuk tubuh Adelia yang terbalut lingerie menggunakan dagunya.
Adelia langsung menatap dirinya, ia tersenyum malu. Karena sedari tadi ia lupa bahwa memakai baju itu tanpa membalutnya dengan selimut.
"Aku ganti dulu, ya Mas" Adelia langsung melenggang ke arah lemari dan mengambil piyama. Lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Rasya kini fokus pada baby Daffa. Ia tersenyum dan menghujani ciuman di dua pipi gembilnya.
"Sayang, kenapa kamu bangun di saat ayah akan bermalam pertama setelah kelahiran mu?" tanyanya.
"Apa kamu tidak rela jika sumber kehidupan mu. Ayah mainkan?" lanjut Rasya. Baby Daffa yang tidak mengerti apa-apa ia hanya tersenyum dengan bergerak aktif.
"Padahal. Bunda sudah mengajak ayah untuk bermain. Tapi harus gagal karena kalian. Dan Ayah tidak masalah sayang ... kalian sekarang lebih penting dari pada bermain dengan bunda. Karena masih banyak waktu untuk bermain dengan bunda, setelah kalian tidur normal dan setelah mendapatkan baby sister."
Adelia yang sedari tadi mendengar celotehan Rasya pada baby Daffa hanya menggeleng-gelengkan kepala. Namun, saat mendengar Rasya akan mendapatkan baby sister Adelia mendekat dan langsung melayangkan pertanyaan.
"Mas, mau nyari baby sister?"
Rasya mendongak. Dan menatap Adelia yang sudah memakai piyama yang hanya celananya sebatas lutut.
"Iya. Lagian Mas kasihan sama kamu Sayang ... kamu kurang beristirahat karena harus merawat dua bayi sekaligus," Rasya dengan lekat menatap wajah sang istri yang kini semakin dekat. Karena Adelia merangkak naik ke atas ranjang. Dan berbaring menyamping menghadapnya.
"Tapi aku masih mampu, Mas" tolak Adelia.
Rasya menggeleng, "Sayang ... bukannya Mas meragukan mu. Tapi, Mas ingin ada waktu luang sedikit saja untuk kita berdua. Dan untuk waktu perawatan tubuhmu."
Rasya tahu Adelia suka tidak sempat memoleskan skincare-nya demi menjaga ekstra dua bayi kembarnya itu. Walaupun wajah Adelia bersih dan cantik natural. Tapi Rasya tidak mau sampai Adelia mengabaikan kebiasaannya demi sang bayi kembarnya. Bukan, Rasya tidak suka atau merasa berkurang selera. Namun, ia tidak mau sampai istrinya lupa mengurus tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Adelia terdiam ia paham betul dengan di maksud suaminya. Kemudiam Adelia tersenyum serta mengangguk. Menyetujui apa keputusan suaminya itu.
"Aku terserah Mas saja. Bagaimana baiknya" ucap Adelia.
Di saat Adelia dan Rasya fokus berbicara. Baby Daffa sudah tertidur lelap. Seakan pembicaraan orang tuanya itu dongeng baginya.
"Eh, lihat sayang ... Daffa sudah tidur" bisik Rasya.
Adeliapun langsung menatap baby Daffa yang sudah tidur dengan posisi yang menggemaskan. Adelia menciuminya karena gemas.
"Sayang jangan di cium nanti dia bangun lagi!" pesan Rasya saat Adelia terus menciuminya.
"Gemas, Mas" ujarnya dan Adelia menggendong dan menaruh baby Daffa di ranjang bayi sebelah baby Saffa.
Adelia kembali berbaring di atas ranjang. Dan dengan cepat Rasya menariknya dalam pelukan.
"Selamat tidur Sayang ...," ucapnya setelah mencium bibir Adelia sekilas, dan mencium kening Adelia dengan lama.
"Iya, Mas. Selamat malam juga," Adelia dengan mempererat pelukannya.
Dan tak lama sepasang suami istri muda itu tertidur lelap.
Esok Paginya...
"Ma, Pa ... semuanya, Serly berangkat dulu ya!" ucap Serly dengan menyambar satu potong sandwich dari atas meja. Dan meminum susu terlebih dahulu yang sudah Lia sediakan.
"Ada mata kuliah pagi?" tanya Adelia yang memperhatikan Serly dengan menyuapi Baby Daffa. Ya, dua bayi kembar itu sudah di beri makan sejak menginjak usia enam bulan. Dan Adelia berhasil memberikan asi ekslusifnya kepada bayi kembar itu.
"Iya Kak." Serly beralih menatap Adelia yang sedang menyuapi. Terus Serly tersenyum saat menatap baby Daffa yang sedang melahap makanannya.
"Ya, ampun keponakan aunty lucu banget" Serly dengan mengelus pipi Baby Daffa sebelum berpamitan.
"Serly berangkat, ya ... Assalamualaikum" ucapnya lalu berlalu.
"Walaikum salam" jawab serempak.
Dan saat di depan teras Serly bertemu dengan Rasya yang sedang menjemur Baby Saffa.
"Tumben pagi sekali?" tanya Rasya. "Apa ada mata kuliah pagi?" lanjut Rasya.
Serly tersenyum kepada Baby Saffa yang di gendong Rasya, "Iya kak. Dan aku terlambat bangun," lalu melenggang ke arah mobilnya.
"Aku berangkat ya, kak. Assalamualaikum" ucapnya dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Serly sekarang memilih membawa mobil sendiri. Karena supirnya yang selalu menemani Hadi kala keluar kota, atau menemani Lia kala tidak di butuhkan Hadi.
Keluarga Rasya memang sederhana. Mereka tidak ingin mempekerjakan pelayan banyak. Hanya sopir dan satu asisten rumah tangga. Yang kini sedang di carikan karena mengingat Adelia yang selalu memasakkan menu makanan di rumah itu, kini mempunyai dua bayi membuat Lia tak tega jika Adelia harus di tambah dengan masalah dapur.
Serly yang sengaja melajukan mobilnya sangat kencang di pagi itu karena takut terlambat masuk. Tiba-tiba harus terjadi sesuatu. Ia menyenggol pengendara motor. Untung saja pengendara motor itu tidak terluka. Hanya motornya saja yang rusak akibat gesekan dengan aspal.
Serly menghampiri pengendara itu, dan merasakan bersalah yang amat besar. Baru kali ini Serly mendapatkan musibah.
"Maaf, Saya tidak sengaja!" Serly menatap pengendara itu yang belum membuka helm-nya, pengendara itu masih menatap motornya yang sedikit ringsek.
"Mbak, tahu tidak saya pagi ini ada kuliah pagi. Dan saya harus terlambat karena ini," tunjuk pengendara itu dengan menunjuk motornya.
"Maaf sekali lagi, maaf!" Serly dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Saya mengebut karena memang saya juga ada kuliah pagi dan saya terlambat saat bangun," ucap Serly selanjutnya.
Pengendara itu kini menatap Serly dan tercengang. Pengendara itu kini membuka helm-nya lalu tersenyum ramah kepada Serly.
"Kakak" pekik Serly. Ia sungguh terkejut karena sudah menyenggol pengendara motor tersebut yang tak lain adalah kakak seniornya yang bernama Dido.
"Sini kunci mobilmu!" ucapnya. Dan Serly repleks menyerahkan kunci mobilnya kepada kakak Seniornya itu.
"Ayo! bukannya, ada mata kuliah pagi?" katanya dengan membukakan pintu samping kemudi untuk Serly masuk.
Serly hanya melongo. Ia tidak habis pikir harus berurusan dengan kakak seniornya.
"Motor kakak!" Serly dengan menunjuk motor Dido yang masih berada di pinggir jalan.
"Gak apa-apa. Nanti ada yang bawa" ucapnya.
Serly pun akhirnya masuk dengan pintu yang sudah Dido bukakan sejak tadi. Dengan perasaan tidak menentu Serly kini duduk dengan memasang seat belt.
Serly menghela nafas panjang. Saat melirik Dido kakak senior dan cowok populer di kampusnya itu.
"Jangan baper Ser ... kamu di setirin itu karena punya salah sama dia. Dan kesalahanku belum dapat maaf darinya," gumam Serly yang merasa terpesona pada wajah Dido yang tampan.
...***...
...Bersambung....
Sekarang mulai menceritakan Serly ya Readers! tapi, tenang pasti ada tentang Rasya dan Adelia juga 😁
Jangan lupa like, Comment, dan Hadiah poinnya!
__ADS_1
Terima kasih 😘