You Are My Mine

You Are My Mine
Undangan


__ADS_3

Rasya sepulangnya dari Rumah Sakit ia pulang ke rumahnya, terlihat masih ada Ariyanti duduk bersama Lia mamanya Rasya.


Rasya tidak berniat menyapa atau menoleh nya, ia terus bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Lia Mama Rasya, menyadari Anak nya sudah pulang, dan melihat Rasya yang sedang berjalan menaiki tangga.


Menurut Lia, Rasya mungkin sedang Capek sampai tidak menegur atau pun menyapa nya.


Ariyanti pun mengikuti arah pandang Lia.


"Rasya sudah pulang ya?." Ariyanti yang sama melihat di mana Rasya sedang berjalan menaiki tangga.


"Lagi capek mungkin, jangan di ambil hati ya, jika Rasya cuek. dia emang seperti itu anaknya, tapi dia baik koq." Ucap Lia yang sudah beralih menatap Ariyanti calon menantu nya.


"Iya tante. Ariyanti mengerti." Ariyanti dengan tersenyum.


"Maaf ya Ariyanti, karena Rasya yang sibuk sampai photo Preweding hari ini batal." Ucap Lia merasa bersalah.


"Tidak apa-apa tante, gak pakai photo prewed juga Ariyanti gak masalah." Ariyanti dengan tersenyum.


"Terima kasih sayang, memang kamu calon menantu yang baik buat tante. Pasti Rasya beruntung punya kamu, sudah cantik, baik pula." Lia dengan tersenyum dan menggenggam tangan Ariyanti.


Ariyanti hanya bisa tersenyum, namun di dalam lubuk hatinya Ariyanti sedih karena Rasya tidak sama sekali mencintai nya, jangan kan mencintai, melirik pun seakan enggan.


"Ya udah sayang, kamu setuju dengan undangan yang ini." Tanya Lia yang membuyarkan Ariyanti dengan pikiran nya.


"Ah iya tante, Yanti setuju yang itu. Sederhana tapi terlihat mewah." ucap nya.


Ternyata Ariyanti dan Lia mama Rasya, sedang memilih desain undangan.


Jika Sudah terpilih hari esok nya pun sudah di buatkan oleh pihak cetak undangan tersebut.


Rasya turun dari lantai atas, menuruni anak tangga ia sudah berpakaian rumahan.


Sepertinya Rasya ingin menuju Dapur karena ia langsung berbelok ke sana.


Dan tidak berniat menegur Sapa kembali Ariyanti yang masih berada di ruang tengah.


"Tante, kalau begitu. Ariyanti mau pamit pulang." Ucap Ariyanti dengan berdiri.


"Loh gak mau nginep?." Tanya Lia


"Enggak deh tante." Ariyanti dengan tersenyum.


"Kamu ke sini gak bawa mobil kan?." Tanya Lia kembali.


"Iya tante, Yanti tadi naik taksi." Ariyanti dengan tersenyum.


"Ya sudah biar Rasya yang mengantarkan mu." Lia yang bergegas menuju dapur.


Dan terlihat Rasya sedang makan di meja makan.


Lia mendekat, seraya ingin menyuruh Rasya untuk mengantar Ariyanti.


"Rasya, setelah makan kamu antarkan Ariyanti ya. kasihan calon istri mu kalau harus naik Taksi." Ucap Lia


Rasya tidak bisa menolak jika mama nya sudah menyuruh.


Rasya pun menganggukkan kepala nya.


Lia pun tersenyum karena Rasya ingin mengantarkan Ariyanti.


Lia pun bergegas kembali ke ruang tengah,untuk kembali menemui Ariyanti.


Ariyanti pun tersenyum ketika Lia mengatakan kalau Rasya bersedia untuk mengantar nya pulang.


Rasya pun sudah berjalan mendekati Dimana Ariyanti dan mama nya berada.


"Ayo aku antar kamu pulang." Rasya berbicara dan langsung menuju keluar.


Ariyanti pun menyalami calon mertuanya.


Dan keluar dengan di antarkan Lia sampai depan pintu, kemudian Ariyanti pun masuk ke dalam mobil Rasya.

__ADS_1


Rasya pun langsung melajukan mobil nya, menuju jalan Rumah Ariyanti.


Tak lama Mobil Rasya pun sampai di depan halaman Rumah Ariyanti.


"Apa kamu mau masuk dulu Sya?." Tanya Ariyanti yang sedang membuka Seatbelt nya.


"Enggak. Aku langsung pulang saja." Ucap Rasya dengan wajah dingin.


"Ya udah, aku masuk ya. hati-hati di jalan nya." Pesan Ariyanti.


Dan Ariyanti pun keluar, Rasya langsung melajukan mobil nya kembali untuk pulang.


Ariyanti pun masuk ke dalam Rumah nya, terlihat ada Rony papa nya yang sedang menonton Tv.


"Malam pa." Ariyanti menyapa Papa nya.


"Eh Yanti, kamu baru pulang nak? naik Apa?." Papa Ariyanti tahu kalau Yanti tidak membawa mobil nya.


"Di antar Rasya Pak." Jawab Ariyanti.


"Lalu Rasya nya mana?." Tanya Rony melihat ke arah belakang Ariyanti.


"Rasya langsung pulang, karena tadi ia habis dari luar kota, mungkin capek pak." Ariyanti mengatakan tentang Rasya yang tidak singgah dulu.


"Sama kamu?." Tanya Rony


"Ya enggak lah pak, Rasya keluar kota sendiri. menemui rekan Bisnis nya. Ya sudah Ariyanti mau ke kamar." Ariyanti pun berlalu


Kini Rony sedang bermain dengan pikiran nya, tentang Rasya yang ia lihat tadi di sebuah perempatan Lampu merah bersama seorang wanita, lalu kalau wanita itu bukan anaknya, lalu wanita itu siapa? karena Rasya terus tersenyum ke arah wanita yang duduk di sebelahnya.


Rony pun tidak mau terus dengan pikirannya, ia lebih baik mematikan Tv nya dan bergegas pergi ke kamar untuk tidur.


Sementara itu di Rumah Sakit Adelia yang sudah makan bubur nya, dan meminum obat nya yang telah di tebus ke apotek oleh Martin kini ia tertidur.


Dan Adelia pun sudah di pindahkan ke ruang Inap VIP.


Martin sudah menyangka Rasya yang sudah melakukan pembayaran Administrasi pengobatan Adelia. Martin beranggapan itu Rasa Tanggung Jawab Rasya, karena Gara-gara Adelia bekerja seharian di rumahnya jadi berada di Rumah sakit ini.


"Martin mending Lu pulang aja, biar gue di sini sendiri ngejagain Adel." Ucap Rara.


"Enggak Ra, aku mau di sini juga nemenin Adel. kalau kamu mau pulang ya pulang aja Ra." Martin duduk kembali di sofa yang berada di samping Kiri Adelia.


Karena Kamar VIP memang luas dan tersedia kasur lantai untuk penunggu pasien.


Rara mengambil kasur itu.


"Gue tidur di sini." Rara yang mulai merebahkan badan nya.


Martin pun mengangguk.


Seketika Semua sudah tertidur.


Rasya Yang baru pulang setelah mengantarkan Ariyanti, ia di cegah Serly di depan pintu kamarnya.


"Serly ngapain kamu kaya security aja berdiri di situ?." Rasya langsung meraih handle pintu untuk membuka pintu kamarnya.


Serly pun ikut masuk dan duduk di sofa yang berada di kamar Rasya.


"Eh kenapa masuk?." Tanya Rasya heran dengan Adiknya.


"Kak, jujur sama Serly. kakak berhubungan kembali bukan dengan kak Adel di balik perjodohan kakak?." Tanya Serly dengan pelan ia bersuara.


"Enggak." Jawab Rasya dengan menggeleng.


"Terus tadi, kakak kenapa nyuruh Serly untuk berbohong di hadapan Kak Rara? kalau bukan berhubungan di belakang kita?." Tanya Serly kembali mengulik.


"Ya itu hanya alasan buat Rara, agar dia gak tahu kalau Adel ketemuan sama kakak." Rasya tersenyum dengan mengingat kembali kejadian tadi yang hampir memiliki Adelia seutuhnya.


"Ciyee... pakai senyum-senyum lagi. mentang-mentang sudah ketemuan." Serly meledek kakak nya yang memang sedang tersenyum sendiri.


"Terus ngapain masih di sini?. kakak ngantuk mau cepat-cepat tidur." Rasya dengan mendorong Serly pelan.


"Ah kakak gak asyik. kakak harusnya berterima kasih sama Serly, yang sudah membantu kakak." Ucap Serly dengan mencebikkan bibir nya.

__ADS_1


"Ya iya. Terima kasih adik ku sayang sudah membantu kakak mu yang tampan ini." Rasya dengan candaan nya kepada Serly adik nya.


"Yee.. Narsis. Tapi Adik mu ini ingin meminta sesuatu sebagai imbalan nya dari kakak ku yang tampan." Serly ada sesuatu permintaan dengan mengatakan kakak nya tampan.


"Ah elu, Ada mau nya baru bilang kakak tampan." Rasya dengan menyentil hidung Serly.


"Ih sakit tahu." Serly dengan mengusap hidung yang di sentil Rasya.


"Sorry. terus apa yang kamu mau?." Tanya Rasya menanyakan apa yang di mau Serly.


"Serly ingin hp baru." Serly dengan menyengir mengatakan nya.


"Hp baru? emang hp kamu kenapa? itu belum lama kan?." Rasya dengan sedikit menguap.


"Udah Bosen kak, maka nya Serly pengen yang baru." Ucap Serly.


"Iya nanti kakak Belikan. Sekarang kembali ke kamar mu. dan langsung Tidur." Perintah Rasya.


Serly pun menurut keluar dari kamar Rasya, dan menuju kamarnya sendiri.


Rasya langsung membaringkan tubuhnya ke kasur, dengan cepat ia terlelap tidur.


.................................


Esok Harinya Ariyanti sudah berada di rumah Rasya, dengan duduk di meja makan seraya ikut sarapan.


Rasya yang baru turun, tersentak melihat Ariyanti pagi-pagi sudah berada di rumahnya.


Rasya pun melangkah duduk di kursi yang kosong dekat Serly.


"Sya, nanti kamu temani Ariyanti ke pencetakan Undangan, karena hari ini juga undangan itu telah selesai di cetak." Lia menyuruh Rasya untuk menemani Ariyanti.


"Tapi ma, Rasya harus ke kantor." Ucapnya menolak.


"Rasya, kamu kerja di kantor papa mu. kamu bisa bolos sehari atau dua hari untuk menemani Ariyanti." Lia terus mendesak agar Rasya tidak menolak.


"Iya Ma. Tapi sementara ini Rasya sedang menghandle pekerjaan papa. Rasya tidak bisa bolos begitu saja." Rasya tetap menolak untuk menemani Ariyanti. Dengan beralasan tak ada Papanya yang memang sedang ke luar negeri.


"Kamu ini bagaimana? kemarin saja kamu tidak ada untuk melakukan photo prewed, dan sekarang kamu mau tetap kerja. Rasya Luangkan lah waktu untuk Ariyanti, dia sebentar lagi akan menjadi istri mu." Lia meluapkan kekesalan nya dari kemarin.


Ariyanti dan Serly hanya mendengarkan.


Namun Ariyanti merasa bersalah kepada Rasya, Lia menjadi berpihak kepadanya.


"Tante sudah, Ariyanti tidak mempermasalahkan tentang itu, Rasya bekerja keras itu pasti ada alasan nya. tentu untuk keluarga." Ariyanti mencoba menenangkan Lia.


Lia pun terdiam dan tersenyum kepada Ariyanti dan meneruskan kembali sarapan nya.


Rasya sudah selesai dengan sarapan nya, ia langsung bergegas pergi untuk bekerja tanpa bersalaman terlebih dahulu ke pada Lia.


"Serly aja yang antar kak Yanti gimana?." Serly menawarkan dirinya untuk mengantar Ariyanti.


"Emang Serly mau?." Tanya Ariyanti.


"Serly mau kak, Yuuk....!." Serly bersemangat.


"Ya udah Serly, kamu antar calon kakak ipar mu yaa.." Ucap Lia.


"Iya Ma."


Ariyanti dan Serly pun bergegas pergi ke pencetakan undangan yang Ariyanti maksud, sesampainya di sana Ariyanti tak lama sudah keluar dari Studio pencetakan dengan menenteng Paper bag besar berisikan undangan.


"Wah, kaya nya kakak mengundang banyak orang?." Tanya Serly dengan mulai melajukan mobilnya.


"Iya ini permintaan Tante Lia juga." Ucap nya.


Serly pun terdiam, ternyata yang begitu semangat atas pernikahan Rasya selama ini melainkan Mama nya, bukan Rasya kakak nya.


Serly pun menghela nafas dengan dalam, memikirkan Rasya kakaknya harus menikah dengan wanita yang tidak di cintai nya.


Serly merasa kasihan kepada Rasya yang harus menurut apa yang orang tuanya inginkan, dan Rasya sendiri yang menjadi korban nya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2