
Happy Reading.
Dua bulan Kemudian.
Pernikahan antara Rasya dan Adelia sudah resmi di akui Agama dan Negara. Rasya yang kini sengaja menentang keinginan ke dua orang tuanya demi memperjuangkan dan mempertahankan cinta. Rasya sudah tidak mau lagi harus merelakan dan mengorbankan perasaan akibat menuruti semua ke inginan orang tuanya, cukup sekali bagi Rasya melakukan pernikahan yang di landaskan perjodohan yang belum sempat Rasya tahu alasan nya, hanya satu alasan yang sempat Rasya tahu yaitu karena Perusahaan Orang tua Rasya memiliki banyak hutang. Pikir Rasya hutang itu bisa di bayar dengan cara lain tidak harus dengan pernikahan.
Bahkan Rasya semenjak setelah menikah dengan Adelia, Rasya sudah tidak mendatangi kediaman nya. Bukan Rasya sudah lupa, namun Rasya tidak mau harus berdebat atau bertengkar dengan kedua Orang tuanya yang pasti akan menuntut dan menginginkan dirinya menikah dengan pilihan kedua orang tuanya.
Rasya yang tak mau terus mengandalkan harta keluarga, Rasya memiliki usaha sendiri yang tidak pernah di ketahui oleh Kedua Orang tuanya. Usaha Rasya sendiri berkembang, hingga memiliki cabang-cabang di kota lain. Walaupun Rasya hanya membuka Usaha nya di bidang Otomotif permesinan, Tapi Usahanya tidak mengkhianati hasil.
Kini Hadi dan Lia sedang mengkhawatirkan keadaan putranya itu, lebih jelasnya hanya Lia yang mengkhawatirkan sedangkan Hadi seperti cuek karena Hadi merasa benci kepada anak pertamanya itu yang telah menantang, dan membangkang akan semua perintahnya. Menurut Hadi, ia ingin melihat sejauh mana Rasya tanpa bantuan dan materi dari keluarganya.
"Ma, sudahlah tak perlu terus bersedih. Toh itu bukan kesalahan kita, anak itu yang keras kepala. Anak itu yang memilih jalan hidupnya."
"Tentu ini salah kita Pa, kita yang salah. Sebagai Orang tua hanya selalu ingin anaknya menuruti keinginan kita, tanpa tahu dia mau atau tidak. Pokok nya Mama ingin Rasya pulang Pa, dan restui pernikahan nya dengan Adelia," kata Lia dengan lirih agar suaminya dapat menerima perkataan nya.
Hadi menghembuskan nafas nya dengan kasar. "Aku sebagai Pemimpin keluarga, dan serta sebagai sosok Ayah. Aku tak suka jika anak itu terus menantang. Sudahlah, sebentar lagi aku yakin dia akan datang ke rumah ini karena sudah tidak mempunyai uang," tutur Hadi dengan tegas.
Pikir Hadi, Rasya yang selalu di manjakan Lia pasti tidak akan bertahan hidup jauh apalagi tanpa fasilitas dan ke uangan yang Orang tuanya berikan. Menurut Hadi cepat atau lambat Rasya akan datang dan merengek.
"Papa salah, Rasya selama menikah dengan Ariyanti yang Papa kira, bekerja di perusahaan Pak Rony, itu tidak pernah Pa!!. Tidak Pernah!!. Bahkan setelah menikah Rasya pergi ke luar kota, dan kedua Orang tua Ariyanti beranggapan Rasya itu bekerja di perusahaan milik kamu Pa. Jadi menurut Mama, Rasya tidak secengeng itu, Rasya sudah belajar mandiri."
Hadi terdiam sejenak, lalu berpikir dan mencerna setiap ucapan istrinya.
Kalau anak itu tidak bekerja di perusahaan Rony, lalu Anak itu kerja dimana selama ini?. Sepertinya aku harus cari tahu. Batin Hadi.
"Ya sudah, nanti Papa akan menyuruh orang suruhan Papa untuk mencari tahu keberadaan anak itu, dan pekerjaan nya," kata Hadi untuk menenangkan istrinya.
Lia pun hanya mengangguk merasa lebih tenang akan ucapan suaminya yang akan berusaha mencari keberadaan putranya.
__ADS_1
...----------------...
Di Tempat Lain.
Martin sudah berada di Luar Negeri tepatnya di Benua Australia. Martin di rawat di sebuah Rumah Sakit Umum yang bernama Fairfield Hospital yang terletak di wilayah South Western Sydney.
Demi kesembuhan atas penyakitnya Martin, Tante Meli ikut mendampingi keponakan nya itu. Kebetulan Tante Meli mempunyai Saudara dari Suaminya Andre yang sudah meninggal di Kota Sydney itu. Dan Tante Meli di beri tempat tinggal selama berada di sana selama Martin menjalani Perawatan nya.
Selama Martin di rawat, perkembangan Jantungnya berangsur membaik, bahkan itu semua di luar dugaan Dokter yang pertama awal merasa khawatir. Mungkin bisa saja karena Kesemangatan Martin untuk ingin sembuh menjadi sebuah energi positif untuk tubuhnya mendorong pulih.
Tante Meli sungguh senang mendengar atas penuturan Dokter, bahwa perkembangan kesehatan Martin berangsur membaik.
...****************...
Sementara di tempat lain sepasang suami istri sedang berbaring di atas ranjang, padahal hari baru masuk sore. Mungkin karena masa-masa nya pengantin baru, Mereka tidak pernah lelah untuk membuat gerakan-gerakan erotis di ruangan kamar itu.
Rasya yang baru menyelesaikan aksinya, kini tengah mendekap sang istri, dengan peluh yang masih membasahi di dahinya. Tangan nya megusap-usap rambut sang istri dengan lembut. Sang istri pun merangkulkan tangan nya ke pinggang suaminya itu dengan kepala nya menghadap dada bidang suami.
"Sayang, geli...." Rasya dengan sedikit tertawa.
Adelia menghentikan gesekan hidungnya itu, kini Ia mendongak menatap Wajah sang Suami dengan tatapan penuh arti. "Mas, aku mencintai mu."
Rasya tersenyum, "Aku juga Sangat mencintai mu, Sayang." Seraya mengecup lama kening sang istri.
"Mas, jangan pernah tinggalin aku, ya...."
"Tidak akan pernah, Sayang! dan tidak akan pernah terjadi!," kata Rasya dengan tegas.
Rasya menatap pada manik mata Adelia dengan dalam. "Yang mampu memisahkan kita hanya satu, yaitu 'Maut'. Kita tidak bisa menolak, ataupun menghindar, karena semua itu sudah di tetapkan. Jodoh, maut, bukankah sudah di gariskan oleh Tuhan?, begitupun jodoh aku yaitu kamu."
__ADS_1
Adelia merasa terharu dan bertambah bangga kepada suaminya, ia langsung mencium lembut bibir suaminya.
"Aku semakin mencintai mu, Mas."
Rasya tersenyum dan berbisik.
"Aku juga sangat mencintai mu, Sayang."
"Lagi Yuk!" tambah Rasya dengan berbisik.
"Hah?" Adelia menganga dengan pikiran baru saja kejadian itu terjadi, kini suaminya sudah mengajak lagi.
"Kenapa?, coba pegang!. Rasya kecil sudah berdiri lagi," Seraya tangan Rasya mengarahkan tangan Adelia untuk menyentuh benda yang berada di bawah selimutnya.
"Tidak, Mas. Aku tidak mau pegang," tolak Adelia.
"Kenapa?, nanti kamu penasaran, loh." Rasya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ih kamu genit, Mas. Dan kamu mesum ya...."
"Aku genit, aku mesum hanya sama kamu Sayang!" seraya tangan Rasya mulai nakal menyentuh dua gundukan istrinya.
Adelia langsung merasa geli. "Benarkah?, bukankah Mas pernah menikah sebelum nya?" tanya Adelia mengungkit pernikahan Rasya dengan Ariyanti.
"Ya Aku memang pernah nikah, tapi keperjakaan ku kamu yang merenggut nya Sayang. Jadi Aku tak pernah menyentuh, atau melakukan itu dengan dia," kata Rasya lalu bibirnya sudah mendarat di atas dua gundukan.
Adelia dengan tubuhnya yang mulai terangsang tersenyum atas ucapan suaminya yang hanya dirinya lah merasakan pertama dari sentuhan suaminya.
Hingga Adelia kini memejamkan matanya, merasakan dan menikmati setiap sentuhan-sentuhan dari suaminya itu.
__ADS_1
Dan terjadilah babak kedua, di sore itu menciptakan peluh dan suasana panas di dalam kamar tersebut.
...Bersambung....