
Rara yang baru saja pulang dari luar, merasa heran melihat Toko kue Adelia belum juga di buka.
Rara pun cepat-cepat bergegas masuk, namun Rara di suguhkan dengan pemandangan yang manis, seorang Martin tertidur pulas di sofa kecil milik Adelia.
Rara pun tak banyak bicara, ia bergegas ke dapur untuk menemui Adelia, dan Adelia pun ternyata sedang memasak untuk makan siang.
"Del, sejak kapan si Martin tidur di sofa?". Tanya Rara yang langsung saja duduk di kursi meja makan.
"Dari tadi, pas aku lagi masakin nasi goreng". Jawab Adelia yang sedang mematikan kompornya.
Hidangan makan siang pun sudah di tata rapi di atas meja makan kecil oleh Adelia, dengan Menu Ayam balado, tumis capcay, dan tahu tempe goreng.
"Ngiler ni gue lihatnya". Ucap Rara yang sedari tadi melihat Adelia menata Untuk makan Siangnya.
"Ya tinggal makan aja Ra, gak usah di lihat doang!". Adelia yang mulai menata piring kosong di atas meja.
"Entar aja deh, bareng-bareng". Ujar Rara.
"Ya udah, aku mau bangunin Martin dulu ya". Adelia berlalu ke ruang tengah berniat untuk membangunkan Martin.
Sesampai di ruang tengah Adelia pun melihat Martin yang masih saja terlelap dalam tidurnya, ia merasa kasihan jika di bangunkan.
Adelia pun menunggu Martin bangun saja, ia mendudukan badan nya di sofa single, dengan mulai bermain ponsel.
Martin mulai menggeliat, dan perlahan matanya ia buka, dan yang pertama ia lihat adalah sosok Adelia yang terduduk di depan sofa yang menghadap ke sofa Martin tiduri.
Martin pun tersenyum, begitu tenang menurut nya ketika bangun di suguhi wajah yang sangat ia cintai.
Martin pun duduk, menetralkan penglihatannya. di lihat jam di pergelangan tangan nya, sudah menunjukan pukul 12:30. Martin pun melotot, ia sudah tertidur selama lima jam lebih.
"Del,,,". Martin pun bersuara.
Adelia yang belum menyadari Martin bangun pun, menoleh.
"Sudah bangun?". Tanya Adelia.
"Kenapa gak bangunin aku? Lima jam loh aku tertidur". Martin seakan bersalah.
"Sengaja aku gak bangunin kamu, kasihan. pasti kamu capek". Adelia memang tidak mau membangunkan Martin tadi.
"Terus nasi goreng nya? kamu pasti sudah berusaha membuat nya kan?". Tanya Martin.
"Iya sudah aku buat, tapi sekarang mungkin sudah basi. Mending sekarang kamu cuci muka, terus kita makan siang, aku sudah masak tadi". Perintah Adelia.
"Maaf ya, sekarang aku cuci muka dulu, di atas bukan kamar mandi nya?". Martin pun berlalu menaiki anak tangga menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur Adelia.
Adelia pun mengangguk.
Di tempat Rasya.
Ariyanti sedang duduk di kamarnya, tiba-tiba Bi Ina memanggilnya untuk makan siang.
"Permisi Non Ariyanti, di panggil ibu untuk makan siang". Kata Bi Ina yang sudah masuk ke dalam kamar, karena Ariyanti hanya menutup setengah pintu kamarnya.
"Baik bi". Kata Ariyanti yang bangun dari duduknya, dan mengikuti langkah bi Ina.
Setelah di ruang makan, sudah terlihat banyak makanan yang tersaji di atas meja.
Lia Ibu Rasya pun tersenyum, kala Ariyanti sudah datang dan duduk di kursinya.
"Ayo sayang kita makan siang, dan kebetulan Rasya juga baru saja datang". Ucap Lia ibu Rasya.
Rasya yang baru saja di bicarakan Lia, datang menghampiri meja makan. dan duduk di kursi samping Ariyanti.
Melihat Rasya yang duduk di sampingnya Ariyanti pun tersenyum, bahkan ia berdiri akan mengambilkan makanan untuk Rasya.
"Tidak usah di ambilkan, aku bisa mengambilnya sendiri". Cegah Rasya, ketika melihat Ariyanti mengambilkan piring dan ingin mulai menyendoki makanan ke piringnya.
Ariyanti pun menurut, baru saja Ariyanti mencoba untuk dapat simpati dari Rasya, namun Rasya sudah dengan cepat menggagalkan nya, bahkan kali ini di depan Lia Ibu Rasya.
"Rasya, kenapa kamu larang Ariyanti yang akan melayani mu?". Tanya Lia ibu Rasya.
"Aku tidak mau merepotkan saja ma..". Tukas Rasya yang sedang mengambil makanan nya sendiri.
"Tapi itu bagus Rasya, sebentar lagi kamu akan menikah, dan seharusnya Ariyanti dari sekarang belajar melayani mu". Tutur Lia Ibu Rasya memberi sedikit Nasehat kepada Anaknya.
__ADS_1
"Ya ma tapi nanti saja, tidak usah dari sekarang aku juga tidak apa-apa". Jelas Rasya.
"Sudah tante, mungkin Rasya benar tidak seharusnya Yanti melakukan nya dari sekarang". Ariyanti melerai pembicaraan antara Rasya dan Lia.
"Justru itu tidak benar sayang, ya sudah ayo makan!". Ucap Lia.
Mereka pun makan dalam diam.
.....................
Sementara itu Martin sudah duduk di kursi meja makan, di sebelah Adelia yang sedari tadi menunggu. begitupun juga dengan Rara yang seakan tidak sabar sedari tadi ingin makan.
Adelia mengambilkan Nasi dan Ayam balado ke dalam piring untuk Martin yang tadi ia hidangkan di meja makan.
"Mau pakai capcay nya juga?". Tanya Adelia.
Martin pun mengangguk.
Adelia pun menambahkan capcay nya juga.
Setelah itu ia simpan di depan Martin.
"Terima kasih sayang". Ucap Martin berterima kasih.
Rara yang sedang menyuapkan makanan nya pun tersenyum melihat Martin yang begitu Bucin di depan nya.
Rara pun dengan cepat menyelesaikan makan nya.
Dan Bangkit untuk menyimpan piring kosong di tempat pencucian.
"Lho Ra, udah selesai aja makan nya?". Tanya Adelia.
"Iya, udah kenyang Del, gue ke kamar dulu ya". Ujar Rara dan berlalu pergi.
Kini hanya Martin dan Adelia.
Martin begitu lahap makan nya, mungkin karena tadi ia belum sempat sarapan dan malah lama ketiduran.
"Sayang, Terima kasih ini enak sekali". Ucap Martin setelah selesai menghabiskan makanan nya.
Adelia bangkit dari duduknya, bergegas membereskan piring kotor bekas dirinya dan juga Martin.
Adelia pun mencuci nya.
Sedangkan Martin masih duduk pada tempatnya perut nya merasa begah karena kekenyangan.
Adelia pun selesai dengan mencuci piring nya.
Dan menghampiri Martin yang masih saja terduduk.
"Aduuh tahu gak, perut ku begah banget Sayang karena kenyang". Ucap Martin malu.
"Ya syukur kalau kamu makan nya sampai kenyang". Ucap Adelia dengan tersenyum.
"Ehmmm.... kaya nya kalau aku udah nikah sama kamu, Perut ku bakalan berubah jadi gendut". Tutur Martin.
"Lho kenapa emang koq berubah jadi gendut?" Tanya Adelia merasa heran.
"Ya kan karena Istrinya pintar masak, jadi suaminya gak bakalan kelaperan. terus bakal betah makan di rumah". Martin dengan menaik-naikan alisnya.
"Ih dasar ada ada saja kamu". Ucap Adelia tersenyum dengan lesung pipinya terlihat jelas, dan kali ini Martin baru sekali melihatnya.
"Sayang, kamu punya lesung pipi? kenapa aku baru melihat nya yaa?". Tanya Martin dengan telunjuknya sengaja sedikit di tekan-tekan kan ke pipi Adelia yang ada lesung nya.
"Sudah ada mungkin sejak orok". Ucap Adelia dengan tersenyum kembali.
Kini Martin menatap Adelia dengan lekat, Adelia yang sedang tersenyum pun terhenti, melihat Martin dengan serius menatap nya, Adelia pun menjadi gugup.
"Martin jalan-jalan yuk". Ajak Adelia kepada Martin, Seketika Martin pun berwajah biasa kembali.
"Pengen nya jalan-jalan kemana?". Tanya Martin.
"Ke Alun-alun kota Yuk!". Ajak Adelia
"Ayo, kebetulan nanti malam katanya ada banyak bazar". Ujar Martin.
__ADS_1
"Aku mau ajak Rara juga ya, kasihan dia di tinggal terus". Adelia pun bergegas menaiki tangga.
...................
Serly kini duduk di ruang Tv bersama Ariyanti dan Lia ibu Rasya.
Serly sedang membaca chat di dari teman nya yang mengatakan bahwa nanti malam akan ada Bazar di alun-alun kota.
Serly pun antusias ingin pergi kesana.
"Ma, Serly ijin pergi ya". Serly meminta ijin kepada Lia.
"Mau pergi kemana?". Tanya Lia.
"Pergi ke alun-alun kota ma, katanya malam ini ada bazar besar-besaran". Tukas Serly mengatakan akan tujuannya.
"Kamu boleh pergi, tapi dengan kakak mu dan juga dengan kak Ariyanti. kalau tidak, kamu gak boleh pergi!". Ucap Lia.
"Ya udah ayo aja". Ujar Serly.
"Kak Ariyanti mau kan pergi bareng Serly?". Tanya Serly kepada Ariyanti.
"Kakak mau aja Ser, Tapi kamu coba ajak kak Rasya nya!". Kata Ariyanti.
"Ya udah, Serly ke kamar kak Rasya dulu ya". Serly pun pergi ke kamar Rasya.
Ariyanti pun pergi ke kamarnya, Berganti baju dan merias sedikit wajah nya.
Ariyanti tersenyum ketika melihat penampilan nya di pantulan kaca.
Ariyanti pun keluar kamar, dan sudah terlihat Serly dan Rasya beriringan turun menuruni anak tangga.
Serly, Rasya dan Ariyanti pun pamit kepada Lia. Dan bergegas menaiki mobil Rasya.
Ariyanti duduk di kursi sebelah Rasya, Serly duduk di kursi belakang.
"Ya ampun, Serly baru ingat sekarang ini malam minggu ya?". Tanya Serly.
"Iya Serly sekarang malam minggu". Jawab Ariyanti, dan Rasya hanya diam saja fokus pada setirnya.
Mobil Rasya pun terhenti di sebuah parkiran yang luas.
Rasya pun turun dan di susul oleh Ariyanti dan juga Serly.
Rasya berjalan di depan, sedangkan Ariyanti berjalan sejajar dengan Serly.
Ariyanti melihat banyak pasangan yang saling bergandeng tangan, bahkan saling bercanda. Tapi tidak dengan dirinya bahkan Rasya seakan tidak kenal pada Ariyanti saking cuek dan dinginnya.
Rasya yang berjalan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang bagi dirinya tidak asing, begitupun Serly,dan juga Ariyanti ikut berhenti karena melihat Rasya berhenti.
"Sayang, jangan jauh-jauh. Nanti kamu hilang aku bisa gila". Ucap Martin.
"Apa sih, dekat gini juga". Kata Adelia. memang benar adanya Adelia berada dekat sejajar langkahnya dengan Martin.
"Begini sayang, aku tidak mau ya sampai kamu di culik orang". Tutur Martin, dengan menautkan jemarinya kepada Adelia.
Martin pun menggenggam tangan Adelia.
"Kamu berlebihan". Ucap Adelia.
Tanpa Martin dan Adelia sadari, Rasya memperhatikan apa yang Martin dengan Adelia bicarakan dari jarak yang tidak begitu jauh.
Ariyanti, dan Serly juga melihatnya.
Wajah Rasya menimbulkan rasa cemburu nya, terlihat dari raut wajahnya sedikit memerah dan rahang lehernya seakan mengeras.
Serly menyadari bahkan paham, karena sudah tahu akan perasaan nya terhadap Adelia.
Serly dengan cepat menggandeng tangan kakaknya, untuk melanjutkan langkahnya ke arah lain.
Ariyanti hanya membuntuti Adik kakak itu dari belakang.
Ariyanti sekarang yakin jika memang Rasya sangat mencintai Adelia. terlihat dari cara Rasya memandang Adelia.
...Bersambung...
__ADS_1