
Sesuai rencana Tante Meli dan Rima, mereka membawa Martin ke rumah sakit terdekat untuk merawat Martin lebih akurat. Karena Martin yang susah untuk makan dan meminum obat, berakibat tubuh Martin lemah. Selain itu Martin juga mulai di bimbing oleh seorang Psikiater, agar kejiwaan nya kembali normal. Hingga tak terasa hampir satu bulan Martin di rawat di Rumah Sakit, Martin mulai berbicara normal. Dan mulai menerima keadaan bahwa Adelia meninggal dunia.
Namun tetap Martin selalu murung sendiri, seperti saat ini. Rima datang dengan membawa bungkus makanan, ia mulai membuka bungkus makanan itu, dan duduk di kursi dekat Martin.
"Martin ayo makan dulu, setelah itu kamu harus minum obat." Rima dengan mulai menyendoki makanan tersebut untuk menyuapi Martin.
Martin pun menjawab dengan mengangguk. Martin pun mulai membuka mulutnya ketika tangan Rima akan menyuapi nya. Martin mulai lahap makan nya, maka nya berangsur ia terlihat tubuhnya berisi kembali. Martin menyelesaikan makanan nya hingga suapan terakhir, lalu setelah itu Martin meminum obatnya. Rima tersenyum puas akan perubahan makan Martin yang lahap.
"Kamu jangan dulu berbaring ya... Baru saja kamu makan dan meminum obatnya." Saran Rima.
Martin pun hanya menjawab dengan mengangguk kembali.
Rima duduk di sofa, ia teringat rencana nya yang tertunda untuk bertemu Yuda. Karena keadaan Martin yang sempat memburuk, Jadi Rima tidak bisa meninggalkan nya.
Rima mulai meraih ponselnya yang berada dalam tas nya, ia mencoba mengetik pesan untuk di kirimkan kepada Yuda.
Yuda, Aku ingin kita bertemu. Aku tunggu di Cafe Deep seperti biasa.
Seperti itulah isi pesan yang Rima kirim kepada Yuda.
Terlihat Martin memperhatikan Rima. Martin merasa tersentuh akan perlakuan Rima yang selalu merawatnya dengan sabar, terbayang di benak Martin perhatian Rima dari mulai ia jatuh sakit, Rima selalu membersihkan tubuhnya, memakaikan baju nya, menyuapinya makan, hingga saat Martin ingin tidur Rima menyelimutinya. Rima begitu sabar. Martin ingin membalas Jasa kebaikan Rima. Namun tidak tahu harus dengan cara apa.
Martin kini mulai menoleh ke arah Rima yang sedang duduk di sofa.
"Rima...." Panggil Martin.
Rima pun dengan cepat menoleh ke arah Martin, dengan tersenyum lalu menjawab panggilan Martin yang memanggilnya.
"Ada Martin, apa kamu butuh sesuatu?."
Martin menggeleng," Aku hanya ingin berucap terima kasih kepada mu, yang telah sudi merawat ku hingga pulih seperti sekarang ini." Ucap Martin.
Rima pun bergegas melangkah dan duduk di kursi dekat Martin yang sedang bersandar di ranjang pasien. "Iya Sama-sama Martin, aku ikhlas koq melakukan nya." Rima dengan tersenyum lalu menggenggam tangan Martin.
Martin melihat tangan nya yang Rima genggam, dan Martin pun membiarkan nya.
"Aku entah harus dengan cara apa untuk membalas budi mu, Rima."Tutur Martin.
Rima tersenyum mendengar penuturan Martin, yang mengatakan Harus dengan cara apa membalas budi dirinya. Rima mempunyai akal, ia akan mencoba mengatakan nya kepada Martin.
"Bolehkah aku menentukan cara untuk membalas budi nya?." Rima mengajukan.
Martin sedikit memicingkan matanya.
"Ya walaupun aku ikhlas melakukan nya, tapi aku ingin meminta sesuatu dari mu." Lanjut Rima.
"Katakanlah. Sesuatu apa yang kamu inginkan?." Ucap Martin tegas.
"Aku ingin..... Kamu menikahi ku." Kata Rima dengan Jelas.
Martin pun seketika melotot, mendengar keinginan Rima untuk membalas budi nya, Martin tidak mungkin melakukan pernikahan nya itu tanpa cinta. Namun Martin teringat kembali perlakuan Rima yang telah merawatnya selama ini kala sedang sakit tiga bulan lama nya, Rima selalu sabar dan terlihat begitu tulus. Martin membayangkan jika Rima kelak jadi istrinya, ia akan seperti itu.
"Baiklah. Aku akan menikahi mu." Tegas Martin. Yang membuat Rima tersenyum senang, Ia memeluk Martin seketika. Martin pun terdiam dengan Rima yang memeluknya.
Semoga keputusan ku tidak salah.
Semoga Rima bisa menjadi istri yang aku inginkan.
*Batin Martin.
Martin pun tangan nya mulai terangkat untuk membalas pelukan Rima. Rima benar-benar senang, akhirnya semua rencana nya berbuah hasil.
"Martin terima kasih. Aku sangat mencintai kamu." Rima dengan menatap wajah Tampan Martin.
Martin hanya bisa mengangguk. Ia tidak bisa menjawab pernyataan cinta Rima, karena memang saat ini Martin belum mempunyai rasa. Rima mulai melepaskan pelukan nya, kini ia menyelimuti tubuh Martin.
"Kamu tidur dulu. Dan beristirahatlah... Aku mau ke luar dulu untuk membeli minuman." Ijin Rima.
Martin pun menurut, ia mengangguk, dan mulai memejamkan matanya.
Setelah melihat Martin terpejam, Rima pun keluar dari ruangan inap Martin. Ia sepanjang jalan mnyunggingkan bibirnya tersenyum, Ia saat ini bahagia akan Martin yang akan menikahi nya. Sampai lah Rima di parkiran untuk mengendarai mobilnya menuju sebuah Cafe yang tadi ia janjikan bertemu dengan Yuda, dengan menyetir pun ia terus tersenyum.
Tibalah Rima di depan Cafe tersebut. Ia mengedarkan matanya untuk mencari Yuda yang katanya telah sampai terlebih dahulu. Rima pun tersenyum kala melihat Yuda yang sudah duduk di sebuah meja dekat sisi jendela Cafe.
__ADS_1
"Yud sudah lama?." Tanya nya setelah sampai di meja Yuda, Ia pun mulai duduk di hadapan Yuda.
"Belum, sekitar sepuluh menitan aku di sini." Jawab Yuda.
Rima tersenyum. "Ok. Gue traktir Lu saat ini ya." Rima menawari Yuda dengan tersenyum.
"Bentar, Lu tersenyum terus. Ada apa ini. Apa Lu lagi senang?." Tanya Yuda yang merasa Heran melihat Rima yang terus menyunggingkan senyumnya.
"Bukan senang lagi Gue lagi bahagia Yud." Jawab Rima dengan tetap tersenyum.
"Wah Bagus dong Lu bahagia. Tapi boleh gue tahu Lu bahagia karena apa?."Selidik Yuda.
"Bentar lagi gue bakal nikah." Ucap Rima dengan mulai membuka buku menu makanan cafe.
"Nikah?." Tanya Yuda kaget.
Rima mengangguk.
"Sama siapa?." Tanya Yuda lagi.
"Sama Martin." Tukas Rima.
"Benarkah?. Wah Selamat Lu akhirnya dapatin dia Juga." Yuda mengucapkan selamat kepada Rima.
"Iya. Akhirnya semua yang gue rencanakan berjalan dengan mulus." Tutur Rima.
Sementara itu mereka menyebutkan pesanan kepada pelayan cafe terlebih dahulu, dan pelayan cafe itu pun mencatatnya.
"Oh ya. Gue mau menanyakan sesuatu sama Lu." Rima teringat akan niat ingin bertemu Yuda.
"Tentang apa?." Tanya Yuda dengan sedikit mengerutkan dahi nya.
"Tentang Lu datang ke rumah Gue, saat sebelum terbakarnya rumah Adelia." Rima mengatakan apa yang pernah di ucapkan mama nya.
Yuda tercengang, ia terdiam sejenak untuk memberi jawaban yang tepat, ia tidak mungkin mengatakan sesuai yang ia lakukan saat malam itu.
"Oh itu... ehmmm... Gue, ketinggalan flash disc di tempat saat kita ngumpul. Jadi gue sengaja datang pada saat itu." Ucap Yuda bohong.
"Flash disc?." Rima merasa tidak percaya.
Namun Rima terdiam, ia begitu tahu akan wajah teman nya ketika berbicara bohong atau jujur, karena Rima dan Yuda sudah lama menjalin pertemanan nya.
Gue sedikit curiga , sepertinya ada sesuatu yang Yuda sembunyikan.
Rima berbicara di dalam hatinya mencurigai Yuda.
"Oh ya, ehmmm.... apa Lu gak sedih cewek yang Lu suka meninggal?." Rima bertanya Akan Yuda yang telah kehilangan Adelia wanita yang di sukainya.
"Oh. Ya gue tentu sedih.... Tapi bagaimana lagi elu udah berhasil menghancurkan nya." Ucap Yuda tenang, tanpa roman kesedihan.
Benar. Yuda tidak terlihat sedih sama sekali. Saat ini aku harus tahu apa yang di sembunyikan Yuda.
Rima bergumam di dalam hatinya.
Tak lama pesanan makanan pun datang, lalu Rima dan Yuda pun mulai menyantap nya.
Terlihat Rima mengetik pesan kepada seseorang. Rima mengirim sebuah photo Yuda, kepada seseorang tersebut.
Ia meminta Orang tersebut untuk membuntuti Yuda, dan melaporkan apa yang nanti Yuda lakukan. Orang tersebut pun di kirim alamat cafe sekarang, dan alamat Vila Yuda.
Rima tersenyum menyeringai.
Kau tak pandai berbohong Yuda.
Aku yakin kamu telah menyembunyikan sesuatu bersama mama ku. Sebelum aku mendengar dari mama ku, Maafkan aku yang akan mengawasi mu lewat orang suruhan ku.
*Bathin Rima.
Rima dan Yuda pun menyelesaikan makan nya, Rima dan Yuda pun kembali ke tempat masing-masing. Rima kembali ke Rumah sakit dengan membeli beberapa minuman, dan Yuda kembali ke tempat kerja nya.
Yuda terlihat masuk ke dalam mobilnya, tanpa sepengetahuan nya ada seseorang yang membuntuti Yuda dari arah belakang mobilnya. Ia mengikuti apa yang akan yuda lakukan, terlihat Mobil Yuda terhenti di Gedung tempat ia bekerja dan mulai melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.
Namun orang suruhan Rima, hanya bisa menunggu di luar gedung sampai Yuda kembali keluar. Ia tidak mungkin mengikuti Yuda sampai dalam gedung, karena itu akan beresiko bagi dirinya.
__ADS_1
Hingga beberapa jam kemudian Yuda keluar gedung tersebut, dan mulai masuk kedalam mobil nya, dan melajukan mobilnya ke arah Pantai yang sesuai Rima berikan alamatnya.
Yuda pun masuk ke dalam Vila tersebut, Orang itu pun turun dan mengendap-endap di balik jendela untuk menguping apa yang Nanti di lakukan Yuda di dalam.
Yuda duduk di sebuah sofa, ia menyantaikan sejenak tubuhnya. Kemudian datang Adelia dengan membawa secangkir kopi untuk Yuda. Sedangkan Rara sedang duduk nonton tv di ruang tengah.
"Di minum kopinya Yud." Adelia dengan mulai duduk di hadapan Yuda.
Yuda pun tersenyum dengan mengangguk.
"Kamu capek banget kelihatan nya?." Tanya Adelia.
Memang kini Adelia dan Yuda terlihat sangat dekat sehingga Adelia sudah tidak sungkan lagi terhadap Yuda.
"Tadinya iya. Tapi Enggak setelah lihat kamu." Yuda mulai menggoda.
Adelia langsung bersemu merah pipinya akibat ucapan Yuda yang begitu manis.
"Apa sih Yud, mulai deh...."
Yuda pun terkekeh melihat Adelia yang salah tingkah. Kemudian Yuda menatap Adelia dengan wajahnya yang serius.
"Del, ada yang akan aku sampaikan." Ucap Yuda.
Adelia pun menoleh Ke Arah Yuda.
"Tentang apa?." Tanya nya.
"Tentang Martin...." Jawab Yuda.
"Ada apa dengan Martin?. Apa sekarang dia sudah sembuh?." Adelia yang memang tahu selama ini dari Yuda kalau Martin itu sakit.
"Dia sudah sehat kembali seperti biasa, bahkan dia akan....."
Yuda menjeda perkataan nya, takutnya Adelia akan bersedih.
"Akan apa Yud?." Tanya Adelia dengan cepat.
"Akan menikah." Lanjut Yuda.
"Menikah?. Dengan siapa Yud?." Tanya Adelia kembali.
"Dengan Rima. Apa kamu sedih mendengarnya?." Yuda memastikan wajah Adelia yang berubah sendu.
Adelia terdiam mendengar penyampaian Yuda yang mengatakan Martin akan menikah dengan Rima.
Adelia menggelengkan kepalanya, ia memberi tanda jawaban bahwa dirinya tidak bersedih.
Yuda mulai mendekati Adelia, ia duduk di samping Adelia. Yuda mulai menggenggam tangan milik Adelia.
"Apa benar kamu tidak bersedih?." Tanya nya.
"Tidak Yuda. Lebih baik seperti itu, aku senang mendengar nya. Agar Rima berhenti untuk menjahati ku." Lirih Adelia dengan menatap Yuda.
"Tapi aku melihat kesedihan mu Del...." Yuda dengan tangan nya terangkat mengusap pipi Adelia.
"Menangislah jika kamu ingin menangis. Aku akan selalu ada untuk mu." Yuda dengan menyandarkan kepala Adelia ke dada bidang nya, Adelia pun menurut dan mulai mengeluarkan tangisnya.
"Aku sudah sangat mencintai nya Yud, tapi ternyata aku dan dia tak bisa bersatu." Kata Adelia di sela tangisnya.
Yuda pun hanya mendengarkan, dengan tangan nya mengusa-usap kepala Adelia.
"Aku akan mengikhlaskan nya. Aku akan mengikhlaskan Martin untuk Rima." Adelia dengan terisak.
Yuda pun dengan cepat mendekap tubuh Adelia, ia pun merasakan kesedihan Adelia. Adelia yang di dekap Yuda, terus menangis dengan tangan nya mulai membalas dekapan Yuda.
Tanpa Yuda dan Adelia tahu, Orang suruhan Rima yang sedari tadi mengintip dari balik celah gordeng, mencoba memotret Yuda yang sedang memeluk wanita, namun Wanita yang Yuda peluk hanya tampak punggung nya saja. Lalu orang itu langsung pergi meninggalkan Vila Milik Yuda.
Setelah merasa reda Adelia dengan tangis nya, Yuda mulai melepaskan pelukan nya. Tangan Yuda mengusap air mata yang membasahi pipi Adelia.
"Sudah kamu jangan menangis lagi." Kata nya.
Adelia pun mengangguk, dan menatap Yuda yang sedari tadi menatapnya. Tiba-tiba pandangan mata mereka terkunci, sampai Adelia merasa gugup di buatnya. Adelia pun membuang pandangan nya ke arah lain. Yuda tersenyum yang tahu Adelia mengalihkan pandangan nya, Yuda pun seketika gemas lalu tangan nya mengacak-acak rambut Adelia dan pergi berlalu ke arah kamar.
__ADS_1
Adelia yang di tinggalkan Yuda di sofa merasa aneh dengan sikap Yuda yang menurut Adelia begitu manis. Adelia pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk tidur.
...Bersambung....