
Rasya baru saja pulang bekerja. Ia mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan yang ia lewati, untuk mencari keberadaan istri cantiknya.
"Ma ... istriku dimana?" tanya Rasya seraya mengambil air mineral di dalam kulkas.
"Kamu, mengagetkan Mama. Terus yang pertama di tanyakan istrinya, bukannya salam terlebih dahulu!" protes Lia. Ia yang sedang asyik memasak terjingkat saat Rasya bertanya. Karena kehadiran Rasya di dapur yang tiba-tiba.
Rasya yang selesai meneguk air minum, menyengir saat dapat protesan dari Mamanya. "Maaf Ma ...," ucapnya. "Assalamualaikum ...," lanjutnya mengucapkan salam sesuai yang di titah Mamanya.
"Wa'alaikum salam ...," jawab Lia dengan menggeleng-gelengkan kepala. "Istrimu ada di kamar," lanjutnya. Karena ia tahu Rasya pasti akan mengulangi pertanyaannya yang tadi.
Rasya terkekeh, Mamanya langsung menjawab sebelum ia bertanya.
"Ok. Rasya ke kamar dulu ya, Ma ...," katanya dengan melangkah lebar meninggalkan dapur.
Rasya setibanya di lantai atas, langsung membuka handle pintu kamarnya setelah sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Ia tersenyum saat masuk ke dalam kamar. Melihat istri cantiknya yang sedang tertidur lelap.
Rasya tidak mau mengganggu. Ia langsung mendudukan tubuhnya di sofa. Setelah beberapa menit. Ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Tidak menghabiskan waktu lama. Rasya langsung keluar dari kamar mandi setelah ritual mandinya selesai. Ia memakai handuk dengan sebatas pinggang. Hanya menutupi area pribadinya.
Rasya tersenyum saat melihat istrinya kini sudah bangun dan sedang duduk bersandar di sandaran ranjang. "Sudah bangun?" tanyanya seraya santai berjalan melewati Adelia yang sedang menatapnya. Adelia menelan susah salivanya, saat menatap dada bidang suaminya yang datar dan berotot.
"Mas ... maaf aku tidak menyambut kepulangan mu, karena aku ketiduran," ucap Adelia merasa bersalah.
Rasya yang dengan gerakan santai, memakai pakaiannya di depan Adelia. "Tidak perlu minta maaf Sayang ... tidak apa-apa kok," katanya. Kini ia mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Bagaimana senamnya? menyenangkan?" tanya Rasya kemudian. Adelia mengangguk perlahan memberikan jawabannya kepada Rasya.
Namun, Rasya menangkap gelagat aneh dari istrinya. Ia bisa merasakan Adelia kini sedang ketakutan.
"Are you okey?" tanya Rasya seraya duduk di tepi ranjang dekat Adelia. Ia menatap lekat wajah istrinya yang terlihat gusar.
Adelia mengangguk. "Aku baik-baik saja, Mas" sahutnya. Ia memutus tatapannya, dan beralih turun dari ranjang. "Aku, mau mandi dulu, ya Mas ...," lanjutnya.
Rasya tersenyum dan memberikan jawabannya dengan mengangguk.
Aku merasa ada yang istriku sembunyikan? tapi apa itu?. Batin Rasya bertanya. Ia tahu betul sikap dan sifat istrinya itu. Maka ia mempunyai insting bahwa saat ini ada yang Adelia sembunyikan darinya.
Rasya memilih mengalihkan kecurigaannya. Ia memutuskan duduk di Balkon kamarnya dengan bermain ponsel. Tepat Rasya beberapa menit terduduk. Ia melihat sebuah mobil mewah terhenti di depan gerbang rumahnya yang luas.
__ADS_1
"Mobil siapa itu? kenapa terhenti di sana?" tanyanya pada diri sendiri. Rasya terus memperhatikan mobil tersebut. Dan merasa pernah melihat mobil itu sebelumnya. Rasya mengingat-ingat siapa gerangan pemilik mobil tersebut.
Tepat Rasya sudah mengingat siapa pemiliknya. Adelia datang menghampiri. Ia langsung duduk di pangkuan Rasya. Membuat Rasya tersenyum menyeringai.
Semoga saja. Pemilik mobil itu melihat ke arah balkon ini. Batin Rasya. Ia sudah tahu bahwa pemilik mobil itu adalah mobil milik Albian.
Rasya sengaja memeluk tubuh istrinya yang kini terduduk di pangkuannya. Dengan mengecup leher putih milik istrinya.
"Ada apa Sayang ... kenapa tiba-tiba kamu manja begini?" tanya nya dengan tangannya kini mengelus perut Adelia.
Adelia tersenyum. Ia merasa mood nya kini berubah nyaman saat berdekatan dan bersentuhan dengan tubuh suaminya.
"Kenapa Mas, apa gak boleh?" jawab Adelia dengan bertanya.
"Tentu saja boleh. Hanya aku merasa kamu tidak seperti biasanya. Harus di suruh terlebih dahulu, tapi kini kamu sudah berani,"
Adelia tersenyum. Tangannya kini ia sengaja usapkan di leher Rasya. Membuat Rasya meremang. Merasakan benda pusakanya ingin mengajak berperang.
"Sayang ... kamu sengaja menggoda?"
Adelia menggeleng. Lalu kini bibirnya mengecup sekilas bibir Rasya. Dan setelah itu ia turun dari pangkuan suaminya. Beralih duduk di sebelah suaminya.
Adelia memilih menatap ke arah jalanan. Dan saat ia menatap ke arah gerbang. Ia melihat mobil yang tadi pagi ia tumpangi bersama mertuanya di depan gerbang itu.
"Itu mobil Mas Albi?" pekik Adelia di dalam hati.
"Sayang ... apa kamu tahu, pemilik mobil itu?" tunjuk Rasya dengan sengaja ia merangkul pundak Adelia.
Adelia menggeleng. "Tidak Mas," jawabnya bohong.
"Tapi aku tahu," kata Rasya membuat Adelia menatap ke arahnya. Rasya tersenyum. "Mobil itu milik si pembohong," ucapnya.
Adelia terdiam. Ia langsung teringat akan kejadian saat di toilet tadi siang. Membuat detak jantungnya berdetak tak beraturan. Rasa takut dan bersalah kembali datang.
"Biarkan dia melihat kemesraan kita di atas sini," kata Rasya. Ia memegang dagu Adelia menuntun untuk memagut bibir milik keduanya. Rasya bermain dengan lembut. Melu**t dan menyes**nya memainkan bibir milik Adelia.
Adelia langsung terbuai dengan cumbuan yang di berikan suaminya. Ia memejamkan matanya. Dan mengalungkan tangannya di leher suaminya itu.
Sementara di dalam mobil yang sengaja menepi di depan gerbang milik rumah Rasya. Mereka Mengumpat kesal. Karena melihat adegan yang tidak pernah mereka kira.
__ADS_1
"Lihat bro ... sepertinya suaminya itu menyadari keberadaan kita! dengan sengaja ia mencumbu istrinya di balkon itu," umpat Arman.
Dirga ikut menimpali, "Mending cabut ayo! dari pada tubuh gue gak bisa nahan nantinya,"
Albi masih terdiam tidak memberikan respon kepada kedua temannya. Ia masih menatap ke arah balkon lewat jendela kaca mobilnya.
"Sumpah deh! melihat adegan streaming gini, jadi panas dingin tubuh gue," cicit Dirga. Ia merasakan sekujur tubuhnya timbul hasrat panas menerjang.
"Ah elu ... punya pacar juga enggak!" ledek Arman.
"Emang Lu sendiri punya pacar?" Dirga kembali meledek.
"Enggak. Tapi gue penasaran. Apa si bos memiliki rasa seperti kita enggak ya, lihat adegan itu?" bisik Arman kini ingin tahu tentang respon Albi kepada Dirga.
"Mana gue tahu. Tapi kayanya biasa-biasa aja lihat!" Dirga berbisik kembali seraya menunjuk spion tengah.
Albi kini menatap tajam ke arah Arman dan Dirga. Dengan rasa sesak di dada yang kini Albi rasakan. Melihat adegan percumbuan antara Adelia dan suaminya. Kecemburuan Albi bersarang di dada. Mata Albi memerah. Urat di rahang kokohnya mengeras. Pertanda Albi kini sedang emosi.
"Jalan!" titah Albi kini kepada Arman.
Tentu Arman langsung melajukan mobilnya. Memang sedari tadi ia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Namun, Albi ingin berlama-lama menatap ke arah Balkon dimana Rasya dan Adelia sedang berbincang. Dan tanpa mereka duga. Rasya mencumbu Adelia di Balkon itu.
"Bos, sudahlah lepaskan! Arumi itu sudah bersuami" pekik Arman kepada Albi.
"Iya Bos. Oh ya, bagaimana rencana Lu bos saat tadi di Sanggar Senam, berhasil bertemu Arumi?" timpal Dirga seraya bertanya tentang rencana Albi tadi.
Albi menjadi ingat kejadian tadi. Ia tersenyum saat membayangkan bibirnya yang sedang mencium Adelia.
"Gue berhasil bertemu. Dan berhasil mencium bibirnya," sahut Albi. Membuat Arman dan Dirga saling pandang.
"Maksud Lu, elu berhasil mencium bagaimana? bukannya mau meminta maaf, dan menjelaskan semuanya?" pekik Arman.
"Iya memang gue berhasil menjelaskan dan meminta maaf kepadanya. Bahkan maaf sudah gue dapatkan. Tapi, karena bibir Arumi yang selalu membuat gue tergoda. Gue gak bisa nahan hasrat untuk menciumnya, dan jadilah Arumi kini membenci gue," jelas Albi dengan mengingat hal tadi di benaknya.
"Astaga!!!" pekik Dirga dan Arman bersamaan.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1