
"Maaf ya Sayang, maaf! ...," lirih Rasya dengan mengecup puncak kepala Adelia. Rasya merasa bersalah karena sudah bersuara tinggi kepada istrinya. Sehingga membuat istrinya itu ketakutan.
"Iya, Mas ... sudah. Aku ngerti kok, Mas sangat mengkhawatirkan aku," sahut Adelia dengan tersenyum mendongak menatap suaminya yang kini berwajah sendu.
Rasya masih merasa bersalah, di tambah Adelia tidak mempermasalahkannya.
"Aku boleh cicipi sekarang kue-nya?," sengaja Rasya beralih dari rasa bersalahnya dengan ingin mencicipi kue buatan istrinya itu.
"Tentu. Ayo!" Adelia seraya menuntun Rasya menuju sofa. Adelia mulai memotongkan kue blackforest itu, dan menaruh di piring kecil, kemudian Adelia serahkan kepada Rasya.
Rasya menerima dengan tersenyum, lalu mulai menyuapkan kue itu kedalam mulutnya. "Enak sekali, sayang ...," pujinya serta menyuapkan kembali sepotong kue ke dalam mulutnya.
Adelia hanya tersenyum. Lalu duduk di sebelah sang suami. "Mas, aku rasanya ingin makan sate sama lontong, deh ...," rengeknya dengan membayangkan sate dan lontong yang pernah Albi berikan, saat berada di rumah Albi waktu itu.
"Kamu ingin sekali?" Rasya dengan masih mengunyah kue.
"Banget," sahut Adelia kini dengan mengusap perut buncitnya. Sontak Rasya memperhatikannya.
"Ok. Sekalian kita makan malam di luar, ya!"
Adelia tersenyum dengan berbinar, "Beneran, Mas?" tanyanya memastikan.
"Benarlah, masa aku bohong,"
Adelia saking senangnya memeluk Rasya, dan mengecup bibir Rasya yang sedang asyik mengunyah.
"Jangan mancing deh," kata Rasya dengan membalas pelukan Adelia.
"Mancing? aku gak bisa mancing, Mas!" tukas Adelia. Ia berpikir bahwa Rasya melarang memancing ikan. "Gak ada kolam ikan di sini, Mas" lanjutnya.
Sontak Rasya terkekeh, merasa gemas. Istri pintarnya menjadi begitu polos. "Bukan mancing ikan, tapi mancing ular dari sarangnya," sambil mengecup bibir Adelia.
Adelia seketika melotot, "U-ular? apa Mas memelihara ular juga di rumah ini? bukannya, ular ada di Vila saat itu?" pekik Adelia.
Rasya terkekeh, "Jangan berteriak gitu Say, nanti Mama sama Papa tahu gimana? mending sekarang, kamu siap-siap. Kita berangkat sekarang!" Rasya dengan mengerlingkan mata.
Adelia mengangguk dengan menatap sekeliling kamar, ia takut ular itu muncul.
"Mas, jangan keluar kamar duluan. Aku takut!" cegahnya saat Rasya hendak ingin meraih handle pintu.
"Ya sudah. Ayo aku tunggu!" Rasya pun memilih berdiri di dekat pintu yang belum ia buka.
Adelia meraih tas, dan cardigan untuk menutup lengan dressnya yang pendek. Kemudian melangkah, dan setelah dekat merangkul lengan Rasya. "Ayo, Mas!" ajaknya.
"Ayo!" seru Rasya dengan membukakan pintu. Dan melangkah secara bersamaan.
Rasya menghampiri Mama dan Papanya yang masih terduduk di ruang tengah, "Ma ... Pa ... Rasya sama Adel keluar dulu ya, mau hangout," ujarnya. Sedangkan Adelia hanya tersenyum kepada kedua mertuanya itu.
"Gitu dong! kali-kali ajak istrimu keluar, kasihan bumil pasti jenuh," celetuk Hadi. Sementara Lia hanya tersenyum dengan mengangguk.
Rasya pun dengan cepat melangkah dengan tangannya kini yang merangkul lengan Adelia. Setelah di halaman rumah, yang dimana mobilnya terparkir. Rasya membukakan pintu mobilnya terlebih dahulu agar Adelia masuk. Setelah itu ia menghampiri pintu sebelahnya dan langsung duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
Rasya mulai mengemudikan mobilnya. Ia mengambil jalur kiri. Untuk mencari kedai sate yang istrinya inginkan saat ini. Adelia yang terduduk di samping Rasya, ia terus meyunggingkan senyumnya karena sangat senang di ajak keluar oleh suaminya itu.
Tidak berselang lama. Rasya menemukan kedai sate yang berada di pinggir jalan. Tempatnya bersebrangan dengan sebuah Restaurant mewah.
"Ayo sayang!" ajak Rasya setelah memarkirkan mobil miliknya di tempat yang aman. Rasya langsung keluar, dan membukakan pintu samping yang Adelia duduki.
"Sudah sampai, Mas?" Adelia dengan menatap sekeliling dari arah jendela mobil.
"Iya Sayang. Ayo!" Rasya mengulurkan tangannya. Adelia pun menyambut uluran tangan Rasya, dan keluarlah dari mobil.
Rasya memilih meja yang terletak di luar. Agar bisa leluasa menatap jalanan. Dan semburat merah mulai hilang. Berganti hitam, malam yang akan menjelang.
"Mas mau pesan sate apa?" tanya pelayan langsung mendatangi meja Rasya.
Rasya membaca dulu menu yang ada di hadapannya, "Satu porsi Sate sapi sama lontong, dan Satu porsi sate maranggi pakai lontong juga," ujar Rasya. Dan pelayan itu langsung mencatatnya dan meninggalkan Rasya.
"Mas?" sapa Adelia setelah pelayan itu pergi.
"Apa Sayang?" Rasya dengan menatap lekat wajah sang istri.
Adelia lebih mendekat dan berbisik pada telinga Rasya, "Pengen pipis," ujarnya.
Rasya tersenyum, lalu menatap ke sekeliling tempat kedai tersebut untuk mencari keberadaan toilet. "Bentar Sayang, aku tanyain dulu, kamu tunggu sini, ya!" katanya dan beranjak mendekati pelayan wanita yang tidak jauh dari mejanya.
"Maaf mbak, toilet di sebelah mana ya?" tanya Rasya kepada pelayan wanita itu.
Wanita itu tersenyum dengan menganga. Tanpa menjawab apa yang Rasya tanyakan.
"Mbak, maaf toilet di sebelah mana ya?" tanya Rasya sekali lagi.
Rasya merasa risih, ia berusaha bersikap seramah mungkin dengan menyunggingkan senyum tipis kepada pelayan itu.
"Toilet di sebelah mana?" tanya Rasya lagi dengan datar saat ini. Ia merasa tidak suka harus mengulang-ulang pertanyaan yang sama kepada pelayan itu.
"Di samping parkiran sebelah kiri, Mas" jawab pelayan itu dengan cepat.
Dan Rasya langsung kembali ke meja menghampiri istrinya yang terduduk dan memperhatikannya sedari tadi.
"Ayo sayang!" Rasya dengan cepat menuntun Adelia agar berdiri.
"Loh Mas, mau antar aku?" pekik Adelia. Saat Rasya terus menuntun dirinya berjalan.
"Iya Sayang. Aku akan antar kamu."
Adelia melotot, seraya menggelengkan kepala. "Tidak usah Mas, tunjukin saja toiletnya. Aku gak akan kenapa-napa kok, percayalah!" Adelia meyakinkan Rasya.
"No! kamu mau buang air di toilet atau mau buang air di sini, hmm?"
"Di toilet dong Mas," lirih Adelia.
"Ya sudah jangan membantah," Rasya lalu kembali menuntun Adelia berjalan menuju toilet yang berada di parkiran. Adelia pun menurut.
__ADS_1
Setelah menemukan toiletnya. Rasya langsung membukakan toilet khusus wanita, agar Adelia masuk. "Aku tunggu di sini, dan pintunya gak usah di kunci dari dalam. Aku takut kamu kenapa-napa," ujarnya.
Ya Tuhan. Senang sih di perhatiin. Tapi kalau segitunya. Mas Rasya seperti mengekang aku. Batin Adelia.
Adelia menurut saja. Ia langsung ke dalam toilet untuk menuntaskan niatnya. Dengan berbagai drama. Akhirnya Adelia bisa menuntaskan nya. Hingga beberapa menit Adelia sudah keluar dari dalam toilet.
Benar-benar Mas Rasya, berdiri di depan pintu toilet. Adelia kembali berbicara di dalam hati, seraya menatap Rasya yang berdiri dan kini tersenyum kepadanya.
Seperti sebelumnya Adelia kembali di tuntun Rasya, untuk kembali ke meja. Dan baru saja keduanya, mendudukkan tubuhnya. Pesanan pun datang. Dan di taruh di hadapan keduanya.
"Sayang, kamu mau sate yang mana?" tanya Rasya ingin memastikan sate yang Adelia inginkan.
"Sate sapi saja Mas," sahut Adelia.
Rasya langsung menukar posisi porsi sate yang Pelayan tadi taruh. Karena pelayan tadi menaruh sate maranggi di hadapan Adelia, dan sate sapi di hadapan Rasya, "Silahkan di nikmati sayang," ucapnya seraya mengusap perut Adelia.
"Iya Ayah," ucap Adelia.
Seketika Rasya tergelak, dengan menatap istrinya gemas. "Ayo yang banyak makannya, kalau kurang bisa nambah lagi! karena sepulang dari sini, aku akan memakan mu," bisik Rasya.
Adelia melotot, dengan menggeleng-gelengkan kepala, "A-aku akan Mas makan?" tanyanya dengan berubah menjadi begidik ngeri membayangkan tubuhnya akan di cabik-cabik.
"Iya sayang. Aku akan memakan mu. Di" sengaja Rasya tidak melanjutkan kata-katanya.
"Mas mau makan aku dimana?" kini Adelia berwajah ketakutan.
"Di kamar kita. Di ranjang kita," bisik Rasya dengan tidak menyadari wajah sang istri yang sudah berubah ketakutan.
Adelia mencerna kata di kamar, dan di ranjang kita. Seketika Adelia mengerti. Kini wajahnya yang ketakutan berubah menjadi merona menahan malu.
"Kamu itu, Mas. Bikin aku takut tahu," Adelia dengan menunduk.
"Hei kenapa kamu menunduk gitu?" pekik Rasya seraya meraih dagu Adelia untuk menatapnya.
Adelia manyun, "Kamu baru saja membuat aku takut. Karena ucapan mu itu," ujarnya. Dengan kembali memanyunkan bibirnya.
"Ucapan yang mana, Sayang?"
"Kamu mau makan aku,"
"Hah?" Rasya seketika tergelak. Ia lupa bahwa istri pintarnya saat ini berubah menjadi polos. "Maaf, Sayang! aku hanya bercanda. Ya sudah, ayo makan satenya!,"
...***...
...Bersambung....
Jangan lupa Like ya Readers!
Serta Hadiah Poinnya!
Dan author sekalian ingin promo cerita author lainnya, jangan lupa masukin ke paforit ya ... 😁😊
__ADS_1