You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 195.


__ADS_3

Esok Paginya...


Adelia seperti biasa berkutat di area dapur, kini ia berkutat di temani Rara. Kebetulan Rara tadi bangun begitu pagi. Ia sekarang mempunyai tugas, yaitu bersih-bersih rumah serta mencuci pakaian. Sehingga Rara menjadi lebih semangat tinggal di kediaman orang tua Rasya.


"Del, kamu masak apa?" tanya Rara saat sudah mencuci pakaian di ruang Laundry. Ia kini berdiri melihat aktivitas Adelia.


Adelia tersenyum, "Aku lagi bikin ketupat sayur Ra ... gak tahu kenapa, aku lagi pengen banget," ujar Adelia.


Pantas saja Adelia sengaja bangun sebelum adzan subuh. Ia kini sedang membuat makanan yang tengah ia inginkan. Sekalian ia akan membuatkan untuk menu sarapan penghuni rumah lainnya.


"Ngidam itu Del, namanya" tukas Rara. Lalu melihat gerakan tangan Adelia sedang memasukkan ketupat mini instan yang siap rebus.


"Benarkah?" tanya Adelia memastikan.


"Iya Del. Kamu tiba-tiba pengen, kan?"


Adelia mengangguk.


"Iya itu namanya ngidam. Setahu aku ya,"


Adelia kini mengupas labu air, untuk ia jadikan sayuran di dalam kuah santannya. Kemudian labu itu ia iris memanjang dengan ukuran yang tidak terlalu tebal. Sementara ketupat lagi di rebus, Adelia mempersiapkan untuk membuat kuah santannya.


"Ra, aku shalat dulu ya, maaf jagain sebentar," ujar Adelia saat sudah mendengar kumandang adzan subuh di mesjid yang letaknya agak jauh.


"Iya Del. Ok. Lagian aku lagi datang bulan kok, jadi aku gak shalat," sahut Rara.


Adelia pun mengangguk, dan bergegas ke dalam kamar. Ia ingin berniat membangunkan Rasya terlebih dahulu, untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Namun, ternyata Rasya sudah bangun. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk.


"Sayang, dari dapur?"


"Iya, Mas" jawab Adelia. Seraya mempersiapkan baju koko, kopiah, serta sarung untuk Rasya, lalu ia serahkan.


"Ya sudah. Sekarang kamu wudhu! sudah mandi, kan?" Rasya seraya memakai baju koko di depan Adelia.


"Aku sudah mandi. Ya aku wudhu dulu ya,"


Adeliapun beranjak masuk ke dalam kamar mandi, dan tak lama ia sudah keluar lagi. Kemudian ia mengambil posisi di belakang Rasya. Berdiri dengan memakai mukena, di atas kain sejadah yang sudah Rasya siapkan.


Hingga beberapa menit kemudian, sepasang suami istri itu selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah. Kini Rasya sedang terduduk di sofa dengan menatap layar laptop miliknya. Sedangkan Adelia kembali ke area dapur, melanjutkan masakannya yang tadi sempat tertunda. Sebelumnya ia telah menyiapkan dahulu, baju untuk Rasya ke kantor.

__ADS_1


"Ra, maaf lama ya," Adelia dengan tersenyum merasa tidak nyaman karena Rara harus menunggu masakannya. Yang waktu memasaknya itu harus lebih lama.


"Gak apa-apa, Del" sahut Rara dengan tersenyum.


Adelia kemudian mencoba melihat ketupat yang sedari tadi ia rebus, yang hampir 90 menit lamanya. Di cek, ternyata sudah matang. Apinya pun Adelia matikan. Kini ia melihat ke sayuran yang berkuah santan. Adelia mencoba kembali rasa dari kuahnya, dan ternyata sudah pas. Merasa dari sayuran labunya yang masih keras, Adelia pun tidak mematikannya. Ia mengaduk hingga lama. Setelah merasa pas, kompor Adelia matikan.


Jam tujuh penghuni rumah berdatangan, ke arah meja makan. Pertama Lia dengan Hadi, dan di susul Serly, dan Ariyanti. Ariyanti terlihat sangat cantik dengan rok pendek, dan kemeja yang di balut blazer. Membuat Adelia merasa was-was dengan mengingat bahwa Ariyanti akan bekerja bersama Rasya.


"Sayang ... ini kamu yang buat?" tanya Lia dengan menatap kagum pada ketupat sayur yang Adelia hidangkan di meja makan.


Adelia mengangguk dengan tersenyum.


"Wah ... Papa sarapannya beda-beda kalau ada kamu Del," seloroh Hadi. Memang sebelum ada Adelia. Kalau gak roti, sandwich yang Lia buatkan.


"Kak Adel ... emang sempurna. Sudah cantik, baik hati, bisa masak pula," timpal Serly.


"Istri siapa coba?" celetuk Rasya yang baru saja datang, ia langsung duduk di kursi tempat biasanya duduk.


Sementara Ariyanti merasa tidak suka. Karena semua orang di hadapannya memuji Adelia. Hingga hatinya seakan memanas ingin segera melakukan aksi untuk menyingkirkan Adelia cepat-cepat.


Adelia hanya tersenyum. "Ra ayo, kita makan dulu!" ajak Adelia kepada Rara yang baru saja membawa kerupuk di dalam toples.


"Iya Del,"


Rasya selesai melahap makanannya. Ia bangkit dari duduknya, dan bergegas ke arah lemari kitchenset. Seperti biasa Rasya selalu membuatkan susu untuk istrinya. Semua pergerakan Rasya tak luput dari perhatian Ariyanti. Ariyanti selalu mencuri pandang, tanpa Rasya ketahui.


"Sayang ... di minum ya, susunya!" Rasya seraya menaruh segelas susu yang telah ia buat. Adelia menjawab dengan mengangguk.


"Tante ... tahu gak, Adel itu lagi ngidam kepengen ketupat sayur. Makanya dia bikin," celetuk Rara.


Lia langsung menoleh ke arah Adelia, "Ya Ampun sayang ... kalau kamu lagi kepengen gitu, kenapa gak beli saja? gak usah repot-repot bikin,"


"Iya Sayang ... kenapa kamu gak bilang sama aku? biar aku belikan keluar," timpal Rasya dengan membelai rambut Adelia.


"Aku pengen buat aja. Gak mau beli, Mas" sahut Adelia.


Sementara Ariyanti benar-benar merasa dongkol. Semua orang memperhatikan Adelia terus. Bahkan dirinya tidak di sapa sama sekali sejak tadi. Membuat Ariyanti menyelesaikan makannya dengan cepat, dan ingin pergi dari meja makan saat itu juga.


"Permisi, saya duluan" ujar Ariyanti seraya bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Ariyanti, kamu nanti berangkat sama om," ucap Hadi membuat langkah Ariyanti terhenti.


"Baik, om. Saya mau ambil tas dulu di kamar," sahut Ariyanti.


Sedangkan Rasya tidak memperhatikan. Ia lebih memilih memperhatikan istrinya yang kini tengah meminum susu buatannya.


Rasya tiba-tiba menggeser kursi, dan berjongkok di sebelah Adelia, "Sayang ... ayah mau kerja dulu ya, jangan nakal ya sayang, jagain Bunda," ucapnya seraya tangannya mengelus perut buncit Adelia. Kemudian mengecupnya dengan lama.


"Rasya, kamu lagi ngapain? awas kamu nakal tidak tahu tempat," tanya Lia yang tidak mendengar bahwa putranya sedang mengajak bicara bayi di dalam kandungan istrinya. Karena Lia heran kenapa Rasya berjongkok, di tambah terhalang meja, jadi Lia tidak bisa melihat apa yang Rasya lakukan.


Hadi hanya tersenyum mendengar istrinya yang mengomel.


"Rasya sudah ngajak baby bicara kok, Ma" ucap Rasya setelah ia berdiri, lalu menjawab Lia. Membuat Lia hanya mendelik. Lia sebenarnya sangat gemas, setelah mengetahui putranya itu sangat mesum terhadap Adelia istrinya.


Tiba-tiba Adelia yang menatap keduanya teringat akan ibunya. Seakan wajah sang ibu muncul di hadapannya.


"Ibu ..." ucap Adelia dengan lirih.


"Mas," panggil Adelia saat Rasya akan bergegas ke dalam kamar.


"Ada apa Sayang?" jawab Rasya berbalik dan menghadap kembali ke meja makan, dimana istrinya masih terduduk.


"Apa aku boleh mendatangi makam ibu?" Adelia bertanya dengan hati-hati takut suaminya itu tidak mengijinkan.


"Boleh. Tapi--"


"Biar aku yang antar Sya ... aku masih ingat tempatnya dimana, karena saat masih tinggal di ruko, Adelia sempat mengajak aku ke makam keluarganya," ucap Rara memotong ucapan Rasya.


"Ya sudah, kamu antar ya Ra ...,"


Rara mengangguk.


"Terima kasih ya, Mas" ucap Adelia dengan wajah semringah.


"Iya Sayang ... ya sudah yuk ke kamar dulu," ajak Rasya.


"Rasya???!" pekik Lia dengan melotot.


Rasya yang tahu maksud dari mata Lia yang melotot hanya terkekeh, "Aku hanya mau bawa tas kerja aku kok, Ma." ucapnya.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2