
Kini Serly sedang duduk berjemur di atas kursi yang bertempatkan di samping rumah milik Dido. Serly baru saja mandi dan wajahnya sudah terlihat segar. Gadis itu pandangannya kini terfokus pada area kolam renang. Dimana ada Dido yang sedang berenang.
Serly terpana saat melihat tubuh Dido yang bertelanjang dada. Kulitnya yang putih dan otot-ototnya yang atletis. Membuat Serly menelan salivanya gugup, membayangkan dirinya telah pernah merasakan hangatnya dekapan tubuh itu. Saat itu juga, Serly langsung menggeleng-gelengkan kepala merasa aneh dengan pikirannya yang kini sudah berani membayangkan adegan-adegan dewasa yang tidak pernah ia inginkan.
"Oh ya Tuhan. Ampunilah dosaku," doa Serly di dalam hati dengan memilih menatap langit cerah siang itu.
"Ehem," Dido berdehem seraya berjalan mendekati Serly.
Serly menoleh, terlihat Dido kini sudah memakai handuk kimono hingga dadanya tidak terlihat lagi.
"Mau pulang sekarang?" tanya Dido.
Serly menatap lekat wajah Dido yang terlihat rambutnya masih basah. "Ah i-iya kak," jawabnya gugup.
"Ya sudah. Masuk dulu yuk! kita makan siang dulu," ajak Dido seraya mengulurkan tangan untuk Serly berdiri.
"Aku bisa sendiri kok, kak" tolak Serly.
Dido merasa kecewa. Gadisnya itu masih saja ingin menjaga jarak dengan dirinya. Atau mungkin belum bisa menerima kedekatannya.
Serly berdiri kemudian melangkah. Langkahnya terlihat pelan. Dan Dido memilih membiarkannya. Tidak mau mendengar ada penolakkan lagi dari bibir gadisnya itu jika ia mencoba menawarkan lagi bantuan.
"Duduk saja di sini. Kakak mau pakai baju dulu." kata Dido saat mereka berdua sudah memasuki area ruang tengah.
Serly hanya mengangguk. Dan duduk di sofa.
Saat Dido masuk ke dalam kamar. Bi Sumi datang menghampiri Serly.
"Non, pacarnya Den Dido ya?" tanyanya seraya duduk di lantai. Namun, Serly langsung menyuruhnya untuk duduk di sofa.
"Loh, Bi kok duduk di situ? ayo duduk di atas!" titahnya. Tanpa menjawab pertanyaan Bi Sumi.
Bi Sumi dengan tersenyum, "Ah i-iya Non. Maaf, bibi suka malu kalau langsung duduk di sofa kalau belum di suruh," Bi Sumi pun hingga lupa pada pertanyaannya yang tidak di jawab Serly.
Serly menggeleng pelan, "Jangan begitu bi. Kita semua sama."
Bi Sumi lagi-lagi tersenyum.
"Eh iya. Bibi sudah masak buat makan siang. Ngomong-ngomong si Aden nya kemana ya?" Bi Sumi menyampaikan niat awal kedatangannya saat menghampiri Serly.
"Kak Dido lagi dikamar bi. Lagi pakai baju habis berenang," balas Serly.
"Oh, pantas saja. Ya sudah kalau gitu, bibi siapkan dulu ya makanan nya," kata Bi Sumi.
"Iya bi silahkan," sahut Serly dengan kepalanya mengangguk.
Bi Sumi melenggang melangkah ke area dapur.
Dan tak lama Dido keluar dari kamarnya. Dengan menenteng tas milik Serly serta sebuah tote bag.
"Ya Ampun maaf kak, jadi merepotkan!" kata Serly saat melihat Dido membawakan barang miliknya.
Dido tersenyum seperti biasanya, lalu menaruh kedua benda tersebut di atas meja sofa, "Tidak masalah," dan duduk di sofa seberang Serly.
__ADS_1
Serly merasa gugup saat mencium aroma wangi parfum yang Dido kenakan. Dan membuat Serly kebingungan. Kenapa ia menjadi gugup seperti itu? padahal biasanya, merasa biasa saja.
"Oh Ya Tuhan. Kenapa jadi gugup begini sih," gerutu Serly di dalam hati. Dengan menatap ke arah lantai.
"Mau makan siang dimana?" Dido membuka suara seraya berusaha mengancingkan lengan kemeja panjang yang ia kenakan.
"Di sini saja, Kak. Tadi, Bibi bilang sudah masak. Kasihan kalau gak kita makan," jawab Serly mencoba menatap Dido yang fokus pada kancing lengan kemejanya.
"Oh ya sudah, kita makan di sini saja. Yuk!" Dido berdiri lalu menatap Serly yang tengah menatapnya.
"Ah i-iya," jawab Serly gugup. Merasa menjadi pencuri yang ketahuan.
Dido sengaja membiarkan Serly untuk melangkah lebih dulu di depannya. Namun, tiba-tiba Serly membalikkan badan hingga kepalanya terbentur pada dada Dido.
Serly mengusap-usap dahinya dengan menyengir, "Maaf kak. Aku gak sengaja," katanya.
Dido menggeleng, "Gak apa-apa. Maaf kakak juga, kakak gak tahu kalau kamu mau membalik badan,"
Serly mengangguk, "Tadi aku mau tanya dapurnya dimana? soalnya aku jalan di depan kakak, kaya sok tahu aja," dengan bibir menyengir.
Dido senang akhirnya Serly sudah terlihat seperti biasa, tersenyum serta menyengir.
"Iya benar ke arah situ. Ya sudah ayo, jalannya barengan," Dido kini dengan meraih tangan Serly untuk di genggam.
Deg ... Deg ... suara detak jantung Serly tiba-tiba bertalu kencang. Cepat-cepat ia melepaskan tautan tangannya yang Dido raih.
"Maaf, kak. Aku mau garuk kepala dulu, gatal!" kilahnya beralasan.
Dido mengernyit, lalu kemudian menggelengkan kepala, dengan langsung melangkah di depan Serly.
"Terima kasih kak," ucap Serly seraya duduk.
Dido hanya mengangguk, "Makan yang banyak ya! biar tenaganya pulih kembali," celetuknya.
Serly sungguh malu. Hingga wajahnya merah merona. Dan Dido dapat melihatnya. Sengaja Dido ingin menggodanya. Ingin tahu seberapa besar Serly akan terus menghindar akan sesuatu yang pernah terjadi antara keduanya.
Setelah itu hening. Tidak ada yang bersuara. Hingga makan pun selesai.
"Sekarang mau apalagi?" Dido bertanya saat dirinya dan Serly kini sudah duduk kembali di sofa ruangan tengah.
"Aku mau pulang saja kak."
"Ya sudah ayo kakak antar!" Dido sengaja berjalan lebih dulu menghampiri mobil yang masih berada di dalam garasi.
Serly berpamitan terlebih dahulu kepada Bi sumi, saat terlihat bi sumi menggunting rumput di depan rumah.
"Bi, aku pamit pulang ya," pamit Serly dengan berusaha ingin menyalami tangan Bi Sumi.
"Ah Non tangan bibi nya juga kotor," tolak Bi Sumi dengan perasaan senang menatap Serly yang terlihat bukan gadis dari kalangan biasa ingin menyalami tangannya yang merupakan seorang pelayan.
"Gak apa-apa bi," Serly akhirnya berakhir menyalami tangan Bi Sumi dan mencium punggung tangannya.
"Main lagi ke sini, Non!" kata Bi Sumi.
__ADS_1
Serly pun mengangguk dengan tersenyum.
Kini Serly sudah duduk di kursi samping kemudi. Menatap jam tangannya yang baru menunjukkan pukul satu.
Dido langsung menancapkan gas melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumahnya.
"Kak," Serly ingin menyampaikan sesuatu kepada Dido saat mobil yang Dido lajukan sudah jauh.
"Iya," sahut Dido menoleh sebentar lalu fokus kembali pada jalanan.
"Em ... masalah itu --" ucapan Serly menggantung merasa ragu dan malu saat ingin meneruskannya.
Dido menoleh dengan tatapan yang ingin kelanjutan apa yang akan Serly ucapkan.
Serly menyengir malu. Dan ekspresi itu membuat Dido merasa gemas.
"Bicara apa sih, kok gak di lanjut?" kata Dido dengan tangan kirinya mengacak rambut Serly.
Serly menegang. Entahlah setiap sentuhan yang Dido berikan membuat reaksi tubuhnya, bereaksi aneh setelah kejadian kemarin.
"Kak,"
"Hmm,"
Dido menepikan mobilnya, membuat Serly merasa heran.
"Loh, kok berhenti kak?"
"Ayo lanjutkan! apa yang ingin kamu bicarakan saat tadi sama kakak?" Dido ternyata sengaja ingin mendengar ucapan gadisnya itu, agar fokus.
Serly berusaha menatap wajah Dido, dengan menahan gejolak pada dadanya yang tidak ia mengerti.
"Kak, masalah apa yang telah terjadi antara kita. Aku mohon jangan sampai kakak sampaikan pada kak Rasya atau pada siapapun. Aku takut dan malu, kak" ucap Serly lirih pada akhir kalimatnya.
"Jujur saja. Kakak sudah katakan pada Ayah semuanya. Karena kakak sudah merasa melakukan dosa yang sangat besar, dan ayah kebetulan saat semalam akan menghadiri undangan makan malam dari Papa kamu,"
Serly melotot, "Lalu bagaimana reaksi ayah kamu, kak?"
"Ya tentu marah. Dan menyuruh kakak untuk menanggung jawab dengan menikahi kamu. Walaupun sebelumnya kakak juga sudah menyampaikan begitu."
"Menikah?"
"Ya tentu kita harus menikah! Kamu gadis bekas kakak pakai. Mana mungkin kakak akan membiarkan begitu saja. Mending ada pria lain yang menerima kamu apa adanya, dengan status kamu masih gadis, mungkin yang ada menilai kamu gadis yang tidak baik," ungkap Dido dengan wajah yang begitu serius.
Serly mendengar serta mencernanya. Dan Serly pun membenarkan apa yang di katakannya.
Dido meraih tangan Serly lalu ia genggam, "Maka mohon. Menikahlah dengan kakak!" ucapnya. "Kakak ingin membina rumah tangga dengan mu, meskipun jalannya berawal dari suatu kesalahan. Tapi kakak tulus, tidak hanya ingin sekedar untuk bertanggung jawab saja. Kakak mencintai mu, Serly!"
Sungguh ungkapan permohonan Dido menggetarkan hati Serly. Serly hanya bisa terdiam, dengan di biarkan tangannya di genggam oleh Dido.
"Dan satu lagi! jika kamu sudah berhubungan dengan pria itu, maka selesaikan! kakak akan menunggu kata iya untuk menikah dari mulutmu!" pungkas Dido lalu kembali duduk tegak meraih setir untuk melajukan lagi mobilnya.
Serly masih terdiam. Ah iya dirinya hampir lupa dengan pria dingin yang selalu bergentayangan di dalam hatinya, yaitu Aldi. Tapi ... Serly merasa aneh sekali seharian ini ia lupa pada sosok pria tersebut. Biasanya, setiap hari pikirannya terus tertuju pada pria itu. Apakah mulai sekarang Dido sudah mulai masuk dalam sebagian hatinya? atau perasaannya terhadap Aldi adalah hanya sebatas obsesi saja.
__ADS_1
...***...