
Setelah selesai dengan acara Sarapan. Rasya dan Adelia kini sedang berada di sebuah Swalayan. Mereka berbelanja keperluan dapur dan berbagai barang lainnya. Rasya tersenyum saat melewati stand keperluan bayi. Ia berharap bayinya sehat selalu dalam kandungan Adelia. Dan Rasya tak sabar ingin membeli keperluan bayi yang kini ia lihat.
Adelia menatap heran kepada Suaminya itu yang terus berdiri dengan tersenyum, "Mas, ada apa? kenapa berdiri terus di sini?" tanyanya.
"Lihat Sayang, barang-barang itu!. Bagus-bagus, bukan?" tunjuk Rasya pada stroler bayi dan perlengkapan bayi lainnya.
Adelia tersenyum mengerti, "Oh ... Mas dari tadi lihat barang-barang bayi tersebut?!"
"Iya Sayang. Aku gak sabar ingin cepat bayi kita lahir," ucap Rasya dengan antusias ia terus tersenyum menatap stand keperluan bayi.
"Nanti juga lahir kalau sudah waktunya," ucap Adelia.
Rasya pun mengangguk. Dan kini ia menggandeng tangan istrinya, dengan satu tangan lainnya mendorong troli belanjaan. Mereka berdua akhirnya menuju meja Cashier. Rasya membayarkan semua barang belanjaannya. Dan setelah itu mereka berdua langsung pulang dengan taksi online yang sudah Rasya pesan.
Setibanya di rumah. Adelia dan Rasya bersama-sama menata dan merapihkan barang-barang keperluan dapur. Dari mulai berbagai sayuran, daging, ikan, dan makanan ringan mereka rapihkan. Dan tak lupa Rasya membeli banyak stok Susu ibu hamil untuk Adelia.
Adelia kini tersenyum saat melihat Rasya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sofa di ruang tengah. Adelia sudah menduga, bahwa suaminya itu kini sedang kelelahan. Dan Adelia berinisiatif ingin membuatkan minuman.
"Mas, mau kopi, atau teh?" tanya Adelia yang tidak tahu apa minuman kesukaan paforit Rasya, di karenakan ingatannya yang hilang, membuat Adelia bertanya.
Rasya yang masih bersandar, tersenyum menyeringai, "Aku, ingin minum susu," katanya.
"Ya sudah. Aku buatkan dulu ya, Mas" ucap Adelia seraya pergi ke dapur.
Tapi Adelia tidak menemukan susu untuk suaminya. Yang ada susu ibu hamil untuk dirinya.
"Apa mungkin, Mas Rasya lupa tidak membeli susu untuk dirinya?," gumam Adelia yang bertanya-tanya karena tidak menemukan susu untuk suaminya.
Adelia pun akhirnya memilih membuatkan kopi. Kopi instan yang tinggal seduh. Dan Adelia membawanya ke hadapan suaminya.
"Mas, aku tidak menemukan susu untuk mu. Aku buatkan kopi saja," ujarnya seraya mendudukkan tubuhnya di samping Rasya.
Rasya tersenyum nakal, "Emang gak ada susunya. Tadi aku, gak beli," sahutnya santai.
"Lalu tadi Mas ingin susu, kan?"
Rasya mengangguk, "Iya. Tapi bukan susu yang di gelas," ucapnya.
"Lalu di kotak atau di botol gitu?," sahut Adelia.
Rasya menggeleng, "Yang di gantung," ucapnya dengan tersenyum.
Adelia seperti berpikir, "Oh ... yang di sa-set itu. Kenapa tadi Mas lupa membelinya?" sahutnya.
"Bukan yang itu," sela Rasya.
Ia sengaja ingin menggoda Adelia yang berubah menjadi polos. Rasya terus tersenyum melihat istrinya yang sedang berpikir keras.
"Sudah. Gak perlu di pikirin! kamu juga punya, kok" ucapnya.
"Aku punya?" tunjuk Adelia pada dirinya.
__ADS_1
Rasya mengangguk.
"Susu?, Em ... ih Mas ... Mas itu jorok sih. Kok maksudnya ke susu itu," ucap Adelia setelah tersadar apa susu yang di maksud Rasya. Ia kini memukul lengan kekar milik suaminya itu. Sedangkan Rasya tergelak dengan menerima pukulan di lengannya.
"Iya emang itu kesukaan aku," ujar Rasya dengan tersenyum, seraya tangannya yang kini menangkap tangan Adelia yang akan hendak memukulnya lagi.
"Mas mesum!," kata Adelia dengan memanyunkan bibirnya.
"Gak apa-apa mesum sama istri sendiri. Asal jangan pada wanita lain," sahut Rasya.
Adelia kini tersenyum. Kemudian kepalanya ia sandarkan pada dada bidang suaminya.
"Mas, aku senang sekali bisa berada di sampingmu. Bisa bersenda gurau. Kamu membuat aku terus tersenyum, Mas" ucap Adelia dengan tangannya mengusap-usap dada Rasya.
"Kamu senang?" tanya Rasya kini dengan memegang kedua bahu Adelia. Sehingga Adelia bertatapan dengannya.
Adelia mengangguk.
"Maaf. Aku, baru bisa membuat mu tertawa. Tidak lebih dari itu," ucapnya.
"Apa sih maksud kamu, Mas?" tanya Adelia dengan menautkan kedua alisnya.
"Aku, belum bisa bahagian kamu dari segi materi. Aku, masih hidup pas-pas'an. Tapi, Aku akan berjuang untuk terus membuat mu bahagia hidup bersamaku," ujar Rasya dengan menatap lekat wajah Adelia.
Adelia tersenyum, "Iya Mas."
"Eh, Sayang ... jadwal chek-up kandungan harusnya hari kemarin, bukan?" tanya Rasya kini teringat akan waktu pemeriksaan kehamilan istrinya.
"Maaf ya, dari kemarin Aku gak dampingin kamu!" ucap Rasya dengan lirih.
"Mas, gak perlu minta maaf!, kemarin-kemarin kan, aku belum tahu suami ku yang sebenarnya, Mas" ujar Adelia.
Rasya mengangguk, "Aku masih penasaran. dengan orang yang ngaku-ngaku suami kamu, apa alasannya?" ucap Rasya kini.
"Mas Albi, maksudnya?"
"Jangan panggil dia, dengan kata Mas!" pekik Rasya tidak mau mendengar Adelia memanggil sebutan 'Mas' pada Albi.
"Iya kan, kemarin aku gitu Mas. Emang kenapa?" tanya Adelia dengan heran.
"Aku gak suka. Hanya Aku yang berhak kamu panggil dengan kata Mas," sahut Rasya dengan hati mulai merasa cemburu.
"Iya-iya," Adelia lebih baik mengiyakan. Ia tidak mau memperpanjang karena hal sepele.
"Lebih baik. Kamu istirahat saja. Aku mau nelpon Mama dulu," titah Rasya dengan mengelus rambut panjang Adelia.
"Aku ingin istirahat di sini Mas, bersama kamu. Tidak mau di kamar," ujar Adelia.
Rasya menatap dengan heran, " Emang kenapa tidak mau di kamar?" tanyanya.
"Aku takut ular. Bukan kah, semalam ada ular?."
__ADS_1
Rasya terkekeh. Ia lupa bahwa semalam telah menjahili istrinya. Dan ternyata Adelia mengingatkan kembali tentang ular yang Rasya ucapkan pada Adelia.
"Gak ada Sayang ... ularnya juga jinak,"
"Ya walaupun jinak,tetap aku takut," ucap Adelia kini dengan memeluk tubuh Rasya.
Rasya tersenyum, "Ya sudah. Kita beristirahat bersama," ujar Rasya.
Dan kini Rasya menuntun Adelia untuk masuk ke dalam kamar. Langkah Adelia sempat ragu karena ketakutan. Tapi Rasya selalu meyakinkan bahwa ular tersebut tidak berbahaya. Akhirnya keduanya kini setengah berbaring di dalam kamar. Dengan punggung mereka sandarkan pada sandaran ranjang.
"Sayang ... aku mau nelpon dulu Mama. Kamu boleh tidur kalau ngantuk!"
Adelia mengangguk. Ia kini merebahkan kepalanya pada dada bidang Rasya. Sedangkan Rasya mulai menempelkan ponselnya pada telinga kanannya. Sedangkan tangan kiri ia pakai untuk mendekap sang istri.
"Assalamu'alaikum Ma ...," sapa Rasya saat panggilan sudah tersambung.
"Wa'alaikum salam ... Nak. Apakabar Sayang?. Kamu sebenarnya kemana? Mama khawatir, sebulan lebih kamu tidak ada pulang," jawab Lia dengan pertanyaan memberondong.
"Kabar Rasya baik Ma ... dan Rasya memberi kabar bahagia untuk Mama. Sebenarnya sebulan lebih ini Rasya sedang melakukan, merebut istriku, Ma ...."
"Merebut?. Apa maksud kamu?"
"Iya merebut istri," ucap Rasya.
"Rasya ... kamu kehilangan istri tapi, enggak seharusnya merebut istri orang lain. Apa kata orang Nak?."
Rasya tersenyum, "Siapa juga merebut istri orang. Justru orang lain telah mengambil istri Rasya, makanya Rasya rebut,"
"Maksud kamu, Adelia di ambil orang begitu?,"
"Iya Ma. Dan Rasya sudah mendapatkannya kembali,"
"Jangan ngaco kamu. Lebih baik kamu pulang!" Lia tidak menanggapi ucapan Rasya. Malah menyuruh Rasya agar pulang.
"Iya Ma. Tapi jemput ya, sama Pak Sukri. Nanti, Rasya sharelok lokasinya," ucap Rasya meminta Supir rumah agar menjemput.
"Iya Nanti Mama sampaikan. Mau pulang kapan?,"
"Sore saja,"
"Ya sudah. Kalau gitu Mama tutup panggilannya,"
"Iya Ma, Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam."
Panggilan pun terputus. Lalu ponsel Rasya ia taruh di atas nakas. Kemudian Kini Rasya menatap sang istri yang sudah terlelap tidur dalam dekapannya. Ia tersenyum. Kini Tangan Rasya ia jadikan bantal untuk kepala istrinya. Dan Rasya pun membaringkan tubuhnya, menyusul Adelia yang sudah berlabuh ke pulau mimpi.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1