
"Apa?. Kamu akan menikah dengan Martin?." Tanya Tante Meli, tersentak kaget akan pernyataan Yang Rima sampaikan.
Tante Meli dan Rima kini sedang duduk di kantin Rumah Sakit.
"Iya Ma. Martin ingin membalas budi kepada ku, yang telah sudi merawatnya, dan aku meminta balasan nya dengan cara Martin menikahi aku." Tutur Rima.
"Tapi Rima, kamu masih saudara sama Martin. Dan mama tahu kalau Martin tidak mencintai kamu." Bantah Tante Meli merasa tidak setuju terhadap Rima yang akan menikah dengan Martin.
"Ya aku tahu. Tapi Ma, aku dan Martin tidak satu susuan kan?. Terus mengenai Martin yang tidak mencintai aku, aku percaya dengan sering nya kita bersama, rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya, asal aku bisa membuat Martin luluh." Rima tersenyum dengan yakin.
Tante Meli pun terdiam, ia merasa tidak bisa mencegahnya. Mungkin menurut Tante Meli lebih baik begitu, dari pada Rima selalu bertindak jahat kepada wanita yang dekat dengan Martin.
Rima mulai meraih tangan Mama nya. Dan Rima pun menggenggamnya.
"Percaya sama aku ma... aku akan menjadi istri yang baik buat Martin, mama jangan khawatirkan tentang itu. Aku ingin membuat Martin melupakan Adelia, aku tak mau melihat Martin terus bersedih dan terpuruk." Rima meyakinkan mama nya.
Tante Meli pun akhirnya mengangguk, Rima pun tersenyum lalu memeluk Mama nya dengan perasaan senang.
Tiba-tiba ponsel Rima berdering, dengan cepat Rima melepaskan pelukan nya. Kemudian Rima melihat ponselnya yang tertera nama orang suruhan nya. Rima tahu pasti orang suruhan nya akan memberi laporan yang Rima tugaskan kemarin. Sebelum mengangkat telepon nya Rima melirik dulu ke arah Mama nya.
"Ma, aku ingin mengangkat dulu telepon ya." Ijin Rima dan berlalu pergi menuju toilet yang berada di kantin itu.
Tante Meli merasa heran akan Rima yang ingin mengangkat telepon nya, ia harus pergi dari hadapan nya. Namun Tante Meli tidak mau berprasangka buruk, ia memilih duduk di meja kantin untuk menunggu Rima.
Rima yang sudah berada di dalam toilet, ia pun cepat mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo..." Rima mulai bersuara.
"Iya, gua ngin melaporkan tentang orang, yang elu suruh gua untuk membuntuti nya." Ucap orang di seberang telepon tersebut.
"Ayo cepat katakan." Rima tidak sabar.
"Sorry jika pembicaraan nya Gua gak bisa mendengar, hanya saja dia tinggal bersama perempuan, mungkin saja itu kekasihnya." Tutur orang itu.
Rima merasa heran akan penuturan orang suruhan nya, bahwa Yuda tinggal bersama perempuan di Vila nya. Yang Rima Tahu Yuda tinggal sendiri, dan Yuda pun tidak mempunyai seorang kekasih.
"Lalu kamu melihat siapa perempuan yang tinggal bersama nya?." Tanya nya.
"Tidak. Karena perempuan itu posisinya membalakangi arah tempat Gua mengintip. Tapi Gua udah memotret nya, siapa tahu Lu bisa mengenali nya walaupun dari arah punggung nya." Jelas orang tersebut.
"Sudah. Cepat kirimkan photo nya." Suruh Rima dengan cepat mengakhiri percakapan nya.
Rima pun masih berdiri di dalam toilet itu, Rima menerka-nerka siapa perempuan yang kini bersama Yuda. Dan kenapa Yuda tidak pernah mengatakan tentang hal itu.
Ponsel Rima pun berdering, tanda ada notifikasi chat nya. Rima pun dengan cepat membuka chat tersebut, yang isinya ternyata photo Yuda yang sedang memeluk seorang perempuan yang berambut panjang.
Rima merasa familyar dengan melihat punggung perempuan yang ada dalam photo itu, ia mengingat-ingat seperti punggung Indri teman nya, tapi Rima tidak yakin karena selama ini Yuda tidak pernah mengatakan perasaan nya kepada Indri. Rima pun memutuskan untuk nanti datang sendiri ke Vila itu setelah Martin sudah bisa pulang dari Rumah sakit. Lalu Rima pun keluar dari dalam toilet tersebut, dan menghampiri kembali Mama nya yang sedari duduk menunggu.
"Sudah selesai?." Tanya Tante Meli.
"Sudah ma...." Rima yang mulai duduk kembali di kursinya tadi.
"Memang siapa, kenapa kamu harus bersembunyi menerima panggilan nya?." Selidik Tante Meli.
__ADS_1
"Ah bukan siapa-siapa ma... itu biasa teman-teman Rima yang selalu di konferensi jika menelepon, Jadi Rima takut yang lain nya di sini terganggu, maka nya memilih mengobrol di dalam toilet." Ucap Rima berbohong.
"Oh begitu. Ya sudah ayo kita kembali ke ruangan Martin. Kasihan takut dia melamun, dan teringat kembali kepada Adelia." Ajak Tante Meli.
"Iya ma ayo." Rima pun mulai berdiri, dan pergi melangkah bersama mama nya menuju ruangan inap Martin.
...****************...
Pagi pagi ini Yuda sedang duduk di kamarnya, ia mulai meraih laptop nya. Membuka file kamera tersembunyi yang Yuda pasang di Vila nya itu. Ia tersenyum melihat Kegiatan-kegiatan Adelia dan Rara di dalam rumah nya itu, mulai dari menyapu, mengepel lantai, dan menyiram tanaman yang berada di halaman luar.
Yuda terus anteng melihat nya, dan tiba-tiba matanya melotot ketika di dalam rekaman tersembunyi tersebut, ada seorang lelaki yang mengikuti nya, hingga lelaki tersebut berusaha mengintip dari celah gordeng kaca dengan lama ia berdiri di sana. Sampai terlihat lelaki tersebut mengeluarkan ponselnya lalu memotret dari arah luar kaca tersebut.
Yuda masih melotot, ia sudah yakin akan orang tersebut, adalah orang yang merupakan suruhan Rima. Dan seketika Yuda mengingat Adelia dan Rara yang tinggal bersama nya saat ini. Yuda merasa keberadaan Adelia dan Rara saat ini dalam keadaan tidak aman. Yuda dengan cepat keluar dari kamar nya, untuk menemui Adelia dan Rara yang kini tengah berada di ruangan dapur. Terlihat Adelia sedang memasak untuk sarapan, sedangkan Rara terduduk di kursi meja makan dengan tangan nya bermain ponsel.
Yuda pun duduk di kursi meja tersebut, dengan mata nya anteng memperhatikan Adelia yang begitu cekatan dalam memasak. Yuda melihat Adelia begitu, seakan dirinya ingin memeluk nya dari arah belakang dan berbisik memujinya. Tapi itu hanya bayangan Yuda belaka.
Adelia dengan tangan nya, memegang hasil masakan nya datang menghampiri meja makan yang telah terduduk Rara dan Yuda.
Adelia pun tersenyum ke arah mereka, dan Adelia pun ikut bergabung.
"Kaya nya enak ni?." Tanya Yuda setelah hasil masakan Adelia taruh di atas meja.
Adelia hanya tersenyum.
"Pasti dong. Adelia memang jago memasak." Puji Rara, dengan cepat menyendoki masakan Adelia ke piring kosong nya.
"Terus, Kamu bisa nya apa?." Tanya Yuda kepada Rara.
"Sudah ku tebak." Kata Yuda.
"Hiss... Lu itu ya, menyebalkan." Ketus Rara.
Yuda pun menjulurkan lidahnya kepada Rara, dan Rara pun membalas dengan memberikan kepalan tangan nya.
Adelia hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah Rara dan Yuda, memang seperti Anjing dan kucing jika berdekatan seperti ini.
"Sudah ah ayo makan. Gak baik bertengkar di meja makan." Adelia menghentikan aksi Rara dan Yuda.
Akhirnya mereka pun makan dengan diam tanpa ada yang bersuara sedikit pun.
Setelah usai dengan makan nya, Adelia pun dengan cepat meraih piring-piring kotor tersebut dan mencucinya.
Sedangkan Rara dengan cepat kembali ke dalam kamar nya, ia melanjutkan kembali bermain game.
Yuda yang sedari tadi masih terduduk di tempatnya, terus memperhatikan Adelia. Ia menyunggingkan senyum nya melihat setiap gerak-gerik Adelia. Saat Adelia berbalik dan menghampirinya Yuda dengan cepat beralih menatap arah lain.
"Tidak usah pura-pura. Aku tahu koq kamu sedari tadi memperhatikan ku." Adelia menggoda Yuda.
Yuda pun wajah nya merasa malu, ia telah diketahui Adelia yang terus memperhatikan nya.
"Eng-enggak. Kamu ke Geeran aja." Bohong Yuda.
"Oh gitu ya. Padahal tadi aku melihatnya, dari balik dinding keramik wastafel tersebut. Tapi aku salah lihat mungkin ya...." Tunjuk Adelia ke arah Wastafel yang memang terlihat bening mengkilat.
__ADS_1
Yuda pun mengikuti arah yang Adelia tunjuk, seketika dirinya tersenyum merutuki kebodohan nya.
"Maaf...." Kata Yuda.
"Untuk?." Adelia bingung.
"Iya tadi aku terus memperhatikan mu." Ucap Yuda dengan menatap manik mata Adelia.
"Ah iya gak apa-apa." Adelia merasa tidak keberatan.
Kini Yuda memandang Adelia dengan berwajah panik, Yuda merasakan keberadaan Adelia saat ini tidak aman.
Tapi ia tak bisa berbuat lebih lagi, jika Adelia di sembunyikan di rumah kediaman nya takut keluarga nya nanti salah paham.
Yuda terus memandang Adelia, dengan berwajah panik. Dan itu kentara oleh Adelia.
"Ada apa Yuda, kamu seperti sedang panik begitu?." Tanya Adelia yang melihat wajah Yuda cemas.
Yuda tersentak akan Adelia mengetahui perasaan nya saat ini. "Del, semalam ternyata ada yang membuntuti ku. Lalu setelah aku masuk ke dalam Vila ini, dia mencoba mengintip dari kaca luar." Yuda menyampaikan apa yang ia lihat tadi di rekaman tersembunyi nya.
"Hah, Masa iya Yuda?." Adelia tercengang.
"Iya. Aku yakin sekali itu adalah orang suruhan Rima. Karena saat siang nya aku dan Rima bertemu di sebuah cafe, lalu ia dengan tiba-tiba menanyakan hal yang saat itu datang ke rumah nya, sebelum kebakaran itu terjadi. Pasti ia kini sedang mencurigai ku." Yuda dengan cemas mengatakan nya kepada Adelia.
Adelia pun terdiam setelah mendengarkan apa yang Yuda katakan.
"Del. Aku gak mau sampai Rima mengetahui bahwa kamu masih hidup. Aku tak mau ia mencoba menjahati kamu kembali." Yuda dengan mencoba menggenggam tangan Adelia.
Adelia merasa heran kepada Yuda yang begitu mencemaskan nya, Adelia pun penasaran ia ingin menanyakan suatu hal yang membuat Yuda cemas seperti itu.
"Yuda kenapa kamu cemas seperti ini?. Dan kenapa kamu tidak mau melihat ku di jahati Rima?." Adelia penasaran.
"Ya.... karena aku, karena aku tak mau kamu sampai kenapa-napa." Yuda terbata.
Adelia merasa Yuda sedikit berbohong.
"Jujurlah, cara kamu berbicara barusan menunjukan kamu sedang berbohong." Adelia ingin Yuda jujur kepada nya.
Yuda menghirup nafas nya dalam, sebelum ia mengatakan hal yang sebenarnya.
"Sebenarnya aku ingin melindungi kamu. Dan karena aku... Men...." Yuda menjeda ucapan nya karena ia sedikit gugup.
" Men...? Men apa Yuda?." Adelia yang tidak sabaran ingin cepat-cepat mendengar kelanjutan ucapan Yuda.
"Mencintai kamu."
"Iya Karena aku mencintai kamu." Lanjut Yuda memperjelas ucapan nya.
Adelia yang mendengar Yuda mengatakan bahwa ia mencintai dirinya, Adelia tercengang kaget. Dan terdiam.
Adelia seperti syok mendengar itu semua.
...Bersambung....
__ADS_1