You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 15.


__ADS_3

"Ser, kenapa sih kamu diam aja?" Kikan bertanya kepada Serly yang terlihat diam sejak tadi. Padahal kini mereka sudah berada di taman alun-alun kota.


Dido yang memperhatikan sedari tadi pun membenarkan. Namun, tidak Dido ungkapkan langsung kepada Serly.


Sedangkan Aldi yang terduduk di dekat Kikan bersikap acuh seperti biasanya.


"Aku gak kenapa-kenapa, Kikan. Gak usah aneh deh" sanggah Serly tidak mengakui.


"Beneran kamu gak apa-apa?" tanya Kikan lagi.


Serly menggeleng, "Please Kikan kamu berlebihan sekali sih," ucapnya seakan risih. Kikan hanya menyengir.


"Kak Dido kita ke sana yuk!" ajak Serly kemudian kepada Dido. Tentu Dido senang, ia dengan tersenyum mengangguk menyetujui.


"Aku ke sana dulu, ya!" Serly menatap Kikan sekaligus mengarah kepada Aldi. Namun, Aldi benar-benar acuh.


"Ya udah sana. Sekalian kamu jawab pertanyaan kak Dido kemarin!" bisik Kikan mengingatkan Serly untuk menerima tentang pernyataan Dido hari kemarin.


Serly hanya berdehem. Kemudian ia pergi dari tempat itu, melangkah bersama Dido menuju tempat ramai. Dido meraih tangan Serly, dan ia genggam.


"Maaf kakak harus pegang tangan kamu. Kakak takut kamu di ambil orang," ucapnya.


Serly tidak menolak, "Apa sih kak Dido, ada-ada saja," timpal Serly seraya terkekeh.


Dido menatap senyuman Serly, tanpa Serly tahu. Dido benar-benar sudah merasa sangat jatuh cinta kepada gadis yang tangannya sedang ia genggam itu.


"Serly, aku benar sudah jatuh cinta sama kamu," Dido berkata dengan lirih tanpa Serly dengar.


Tiba-tiba senyuman Serly perlahan hilang. Serly menoleh ke arah belakang dimana Kikan dan Aldi duduk. Serly dibuat kecewa kala itu. Karena Aldi tidak sama sekali menatap kepergiannya dengan Dido. Serly jadi merasa kalau semua yang di ungkapkan Aldi semalam hanya gurauan semata.


Bodoh sekali, ia semalam telah meneteskan air mata bahagia. Sementara Orang yang selama ini telah di cintainya diam saja tanpa kata. Tidak ada teguran. Tidak ada sapaan. Apalagi mencegah kedekatan antara dirinya dengan Dido.


"Serly, kenapa? apa yang kamu lihat?" Dido mengikuti apa yang Serly tatap.


Serly seketika merubah tatapannya ke arah lain, "Em ... gak ada kak. Aku hanya sedang mencari tempat duduk yang nyaman," elaknya.


Dido percaya. Ia menatap untuk mencari tempat duduk yang Serly inginkan. Tatapan Dido terarah ke sebuah kursi besi yang terdapat di sudut taman. Dan terlihat jauh dari keramaian.


"Ada tuh. Apa kamu mau duduk di sana?" Dido dengan menunjuk tempat duduk tersebut yang terlihat jauh dari keramaian. Sesuai keinginan Dido. Dido yang tidak suka keramaian, sebenarnya merasa tidak nyaman. Namun demi gadis yang di sukainya, Dido tidak menampakkannya.


"Boleh kak," sahut Serly. Ia ingin segera menghindar dari Aldi dan Kikan.

__ADS_1


Serly berjalan dengan cepat. Dido hingga menggeleng menatap gerak langkah Serly yang terlihat tergesa-gesa.


Setelah duduk di kursi tersebut. Serly membuka isi dalam peper bag yang Dido tadi berikan. Terdapat dua kotak makanan dan satu botol minuman.


"Kakak, ini sengaja beli buat aku?" tanya Serly dengan menatap Kotak salad buah, dan kotak kue brownies.


Dido baru saja duduk dan menjawab yang Serly tanyakan.


"Iya. Apa kamu menyukainya?" Dido menatap wajah Serly dengan harap-harap cemas. Takut gadisnya itu tidak menyukai apa yang Ia berikan.


Serly tersenyum, "Aku sangat suka, kak. Terima kasih ya" seraya membuka kotak brownies, lalu Serly mengambil satu potong dan melahapnya.


"Syukurlah," balas Dido dengan rasa lega.


"Kakak mau?" tawar Serly kepada Dido yang terus menatapnya.


Dido dengan tersenyum, "Mau. Tapi ... kakak ingin kamu suapi," katanya seraya mengedipkan mata sebelah.


Membuat Serly terkekeh, "Kaya anak kecil saja ingin di suapi," namun tangannya terulur untuk menyuapi mulut Dido.


Dido tentu menerimanya dengan senang hati. "Em ... manis ya," seraya tatapannya menatap wajah Serly yang menyuapinya.


"Iya, manis. Kaya kamu" celetuk Dido.


Serly yang mendengar hampir tersedak. Setelah itu ia tergelak. "Kak Dido, gombal ya?" masih dengan sisa gelakannya.


"Menurut kamu?" Dido malah bertanya. Kini wajah Dido terlihat sangat serius. Serly mendadak menjadi canggung.


Serly menatap ke arah lain, "Kak, aku ingin beli sosis bakar itu," ucapnya mengalihkan.


"Biar, kakak saja yang beli" sahut Dido dengan semangat. Tanpa membahas yang barusan.


"Beneran, kakak mau mengantri beli sosis itu?" Serly meyakinkan Dido tidak keberatan untuk mengantri.


"Beneran lah. Kamu tunggu sini ya, jangan kemana-mana!" tangan Dido terulur mengusap-usap kepala Serly. Serly tersenyum dengan mengangguk.


Didopun pergi melangkah ke arah penjual Sosis bakar.


Serly kini duduk sendiri dengan bermain ponsel. Tak ada satu pesan yang Serly harapkan dari pria yang selama ini diam-diam ia sukai.


"Jadi pesan semalam apa maksudnya?" tanya Serly pada diri sendiri saat mengingat pesan Aldi yang berterima kasih atas menolak perjodohannya.

__ADS_1


"Apa semalam Kak Aldi hanya bercanda?" Serly kembali berbicara sendiri. Serly mengingat kembali ungkapan perasaan Aldi semalam. Dan mengingat saat Aldi menyuruhnya untuk tidak menerima perjodohan tersebut.


"Jangan terima perjodohan itu!"


Serly menghela nafas dengan dalam. Ingatannya kembali pada saat Aldi mengungkapkan perasaannya saat malam tadi.


"Alasannya, karena saya mencintai kamu Serlyta Putri Argadinata,"


Serly menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa ia tahu Dido sudah berjalan dengan menenteng dua bungkus sosis berukuran jumbo yang telah di belinya.


Dido menatap heran kepada Serly. Serly menunduk serta terus menggeleng-gelengkan kepala. Membuat Dido melangkah lebih cepat, dan segera duduk di sebelahnya.


"Serly, are you okey?" tanyanya dengan memegang bahu Serly.


Serly tercengang. "Kak Dido sudah kembali?" dengan wajah panik takut ucapan-ucapan pada dirinya sendiri di ketahui Dido.


Dido mengangguk. "Baru saja. Ini sosisnya!"


"Terima kasih kak," Serly menerima satu bungkusan sosis yang baru saja Dido serahkan.


Dido tersenyum, "Iya sama-sama. Ayo di makan!" ucapnya.


Serly mengangguk dengan mulai meraih satu tusuk Sosis tersebut. Serly memakannya dengan lahap.


"Serly, em ... bagaimana tentang pertanyaan kakak hari kemarin?" Dido dengan berhati-hati ingin menanyakan jawaban perihal ungkapan perasaannya.


Serly terdiam. Serly sebenarnya ingin memberikan jawaban saat hubungannya dengan Aldi sudah jelas. Namun, ternyata Aldi malah terlihat dingin. Tak sama sekali menegur, atau membahas perihal tentang semalam.


"Maaf, Kak. Maaf sekali ... lebih baik kita berteman saja. Aku ... ingin fokus dulu kuliah." Serly dengan menatap Dido meyakinkan ucapannya tidak membuat Dido benci ataupun marah. Serly lebih baik menolak. Dari pada menerima Dido menjadi kekasihnya. Serly takut. Tidak bisa melupakan Aldi saat sudah menjalin hubungan dengan Dido. Dan pada akhirnya nanti Dido akan tersakiti perasaannya, yang tidak terbalas.


Dido tersenyum dengan di paksakan. "Begitu ya?" Dido kemudian menghela nafas, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Baiklah. Mungkin jawaban dari kamu seperti itu. Kakak akan terima. Tapi, tolong. Jangan merasa canggung ataupun sungkan sama kakak. Karena kakak akan menjadi teman yang baik untuk kamu," Dido berkata dengan lapang dada menerima jawaban yang gadisnya berikan.


"Maaf ya, kak!" Serly dengan tidak enak hati kembali meminta maaf.


Dido tersenyum, "Tidak apa-apa. Kakak tidak bisa memaksa kamu untuk menjadi pasangan kakak. Mungkin, menjadi teman sesuai jawaban kamu itu lebih baik,"


Serly tertegun. Pria yang di hadapannya benar-benar sangat baik. Tidak terlihat raut wajah benci ataupun marah. Membuat Serly merasa bersalah.


"Maaf, kak. Aku hanya mencintai orang lain,"


...***...

__ADS_1


__ADS_2