
"Papa ...," pekik Rasya yang langsung masuk ke dalam ruangannya. Dan sebelumnya ia di beritahu lebih dulu oleh Mita yang sedang lembur, bahwa di dalam ruangannya ada Hadi, beserta tamunya.
Hadi melongo menatap Rasya, begitupula Bowo dan Didin. Ketiganya kini fokus menatap kedatangan Rasya.
Rasya menatap kedua tamu Hadi dengan tatapan menyelidik. Lalu beralih menatap Hadi, "Papa, bagaimana keadaan istriku, dan di mana dia?" Rasya langsung mempertanyakan keadaan Adelia, dan keberadaannya. Karena sebelum ke kantor, ia ke Rumahnya terlebih dahulu. Namun, keadaan rumah sangatlah sepi.
"Tenanglah dulu Sya, Adel baik-baik saja. Tadi hampir saja tertabrak. Untungnya keburu tertolong, dan hanya syok saja," jelas Hadi mengatakan yang sebenarnya.
Wajah Rasya berubah sendu, dan matanya mulai berkaca-kaca, "Sekarang dimana Pa? aku ingin sekali melihatnya," rengek Rasya yang benar-benar ingin langsung melihat keadaan istrinya itu.
"Di Rumah Sakit Xx, Ruang VIP Melati no 5," sahut Hadi. "Datanglah bersama Aldi, kamu tidak usah nyetir sendiri," lanjut Hadi memberikan saran karena takut terjadi sesuatu pada Rasya yang dalam keadaan panik.
Rasya mengangguk, kemudian ia langsung berjalan cepat dari ruangan itu tanpa berpamitan terlebih dahulu. Dan Rasya langsung meminta Aldi untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit.
Selang tiga puluh menit, Rasya sampai di Rumah Sakit. Dengan langkah lebar berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit, dengan di ikuti Aldi dari belakang.
Saat Mata Rasya menatap nama ruangan serta nomornya, Rasya mengernyit heran. Karena terdapat dua orang pria bertubuh kekar sedang berjaga di depan pintu ruangan itu. Langkah Rasya terus mendekat, sehingga kini ia berhadapan dengan dua penjaga itu, yang merupakan bodyguard suruhan Albi.
"Maaf Tuan siapa?" tanya salah satu bodyguard tersebut.
"Saya, suami pasien yang berada di dalam ruangan ini," jawab Rasya datar.
"Maaf, saya tidak percaya," sahut bodyguard satunya.
Rasya menatap tajam. "Apa saya harus membuktikan?" Rasya langsung merogoh ponsel dari balik saku jasnya, dan membuka galery photo dan menunjukkan photo pernikahannya kepada bodyguard itu.
Bodyguard tersebut saling pandang. "Maaf, kami harus melapor terlebih dahulu, kepada bos kami," ujar salah satu bodyguard seraya laangsung tangannya melakukan panggilan pada ponsel miliknya.
"Bos, ada seorang pria yang mengaku sebagai suami pasien. Apa boleh masuk?" tanya bodyguard pada Albi melalui panggilan. Membuat Rasya geram mendengarkannya, karena menurutnya ini sangat konyol. Dirinya adalah suaminya. Tapi kenapa harus mendapat ijin dari bos bodyguard tersebut. Hingga Rasya menautkan kedua alisnya merasa belum mengerti siapa yang di maksud bos bodyguard tersebut.
"Ya, baiklah." kata Bodyguard seraya menutup panggilan.
Kini Bodyguard itu menatap Rasya. "Silahkan, Tuan boleh masuk!" titahnya.
Rasya yang ingin bertanya tentang siapa bos yang mereka maksud di urungkan, karena sekarang yang terpenting bertemu sang istri yang berada di dalam ruangan sana. Rasya tanpa berkata ia langsung mendorong pintu ruangan Adelia.
Mata Rasya langsung tertuju pada ranjang pasien yang terlihat mata Adelia terpejam. Rasya langsung melangkah mendekati ranjang tersebut, lalu duduk di sofa sebelah kiri Adelia. Lalu meraih tangan Adelia untuk ia genggam.
"Sayang ... maafkan aku. Aku suami yang tidak bisa menjaga dan melindungimu," lirih Rasya dengan sudah menumpahkan air matanya.
__ADS_1
Bahu Rasya tiba-tiba ada yang menepuk, lalu selanjutnya mengusap punggungnya.
"Mama?" Rasya mendongak menatap sang Mama yang tidak sadar keberadaannya. Dan Rasya menatap kebelakangnya, ternyata ada Rara dan Serly juga yang sedang terduduk di sofa.
"Jangan nyalahin diri kamu. Ini sudah musibah, Nak" ucap Lia menenangkan Rasya.
Rasya menggeleng, "Bukan musibah murni, Ma. Ini suatu rencana seseorang yang ingin mencelakai Adelia istriku," tukas Rasya membuat Lia melotot kaget, begitupula Rara dan Serly yang memang belum mengetahui. Rasya yang hanya baru mengetahui tentang siapa yang merencanakannya. Hingga ia tidak tahu bahwa malam ini semua rencana Rasya yang akan menjebak keluarganya Ariyanti. Sedang di laksanakan oleh Albi.
"Apa maksud mu, Nak? apa ada orang yang ingin mencelakai menantu, Mama?" Lia ingin kejelasan Rasya.
Rasya mengangguk, "Iya, Ma. Aku sudah tahu siapa orangnya, hanya aku belum bisa bertindak sekarang. Aku lebih ingin menemui istriku terlebih dahulu," Rasya menciumi tangan Adelia. Hingga jari-jari Adelia bergerak-gerak. Dan kedua mata Adelia mengerjap. Lalu tatapannya yang pertama ia lihat adalah langit-langit yang berwarna putih dengan silau cahaya lampu ruangan itu.
Adelia menoleh ke arah tangan yang di genggam, kemudian ia tersenyum saat melihat siapa yang menggenggamnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Nak" pekik Lia dengan senyuman bahagia. Rasya yang belum tahu Adelia pingsan, justru melotot, terperangah kaget. Rasya kira, bahwa istrinya sedang dalam keadaan tidur.
"Ja-jadi, istriku dari tadi pingsan, Ma?" tanya Rasya dengan berwajah sendu.
"Iya, Sya ... bahkan sempat di katakan kritis oleh Dokter. Ra, Ser ... segera panggil Dokter jaga!" jawab Lia, dengan memerintahkan Rara dan Serly untuk menemui Dokter yang jaga di malam ini. Sampai lupa bahwa di dekat ranjang pasien terdapat tombol untuk memanggil Dokter.
Rara dan Serly pun melangkah keluar.
Rasya tersenyum dengan berurai air mata. Ia merasa bersyukur bahwa istrinya tidak ada luka parah pada tubuhnya. Tapi Rasya akan memastikan. Rasya mengangkat tangannya untuk mengelus perut Adelia. Memastikan bahwa kandungannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Sayang ... kamu baik-baik saja, kan?" ucapnya seraya tangannya terus mengelus. Dan seketika Rasya mendapatkan gerakan dua kali dari perut istrinya itu.
"Sayang ... kamu menjawab pertanyaan ayah?" tanya Rasya kembali dengan mata berbinar. Merasa senang jika kandungan istrinya dalam baik-baik saja.
Adelia tersenyum menanggapi. "Mas, kapan pulang dari luar kota?" tanyanya dengan menatap wajah sang suami yang terlihat sembab.
"Baru saja. Tadi, Mas sempat ke rumah dulu, tapi tidak ada siapa-siapa. Hingga Mas, menemui Papa yang masih di kantor. Dan menanyakan keberadaan kamu," ujar Rasya seraya kini tangannya menggenggam kembali tangan Adelia.
Pintu ruangan terbuka datang seorang dokter pria, bersama Rara dan Serly yang sudah memanggilnya.
"Permisi, mohon maaf boleh saya memeriksa dulu pasiennya?" tanya Dokter itu ramah.
Rasya menatap tidak suka. Karena yang jaga malam adalah dokter pria.
"Tapi jangan sentuh-sentuh!" pekiknya.
__ADS_1
Lia menggeleng, "Rasya ... bukan saatnya, kamu mempermasalahkan hal itu saat ini. Kesehatan istrimu yang lebih penting!" Lia berkata seperti itu karena tahu, bahwa Rasya merasa cemburu.
"Ya sudah. Silahkan periksa!" Rasya akhirnya menyuruh agar Dokter tersebut memeriksa keadaan Adelia.
Dengan di bawah tatapan Rasya, Dokter tersebut mulai memeriksa Adelia, dari tekanan darah, mata, mulut, dan terakhir perut. Yang membuat Rasya mengepalkan kedua tangannya menahan emosi, karena Adelia di sentuh oleh pria lain.
"Alhamdulillah, ini sebuah ke ajaiban. Saya sempat membaca laporan diagnosa pasien dari dokter Risa yang bertugas tadi siang, bahwa keadaan Pasien sangat lemah. Namun, diluar dugaan. Pasien sudah siuman dalam waktu cepat. Hanya masih membutuhkan waktu untuk di rawat beberapa hari kedepan. Agar kandungannya, kembali kuat" ujar Dokter yang bernama Kenan.
Semua yang mendengarkan akhirnya bisa bernafas lega, dan merasa senang bahwa Adelia sudah membaik.
"Terima kasih, Dok" ucap Lia mewakili Rasya yang malah terdiam termangu.
"Sama-sama, bu. Kalau begitu saya undur pamit. Mari" ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan Adelia.
Adelia tersenyum geli menatap wajah suaminya yang berubah masam. Adelia pun tahu apa penyebabnya, "Mas ... mukanya, jangan di gituin ih jelek tahu!" ledek Adelia.
"Mas, gak suka sayang ... perut kamu di sentuh-sentuh sama pria lain," ujarnya mengeluarkan alasannya.
Lia menggeleng, namun tidak menanggapi. Malah memberikan intrupsi kepada Rara dan Serly.
"Kasurnya coba di gelar, Ser, Ra ... kita tidur saja. Dari pada mendengar yang cemburunya gak masuk di akal,"
Membuat Rasya menatap Lia dengan memberengut. Kini Rasya mengasrek naik ke atas ranjang sebelah kiri Adelia. Membuat Adelia menatap tajam dengan bergerak memberikan sebelah tempatnya.
"Mas, mau apa?" tanyanya waspada.
"Mau tidur Sayang ...," jawabnya dengan kini sudah berbaring menyamping dengan tangannya melingkar di perut Adelia.
"Mas tidur di sofa! aku tidak bisa leluasa loh," tukas Adelia. Memang benar. Sendiri saja tadi ia susah untuk bergerak. Apalagi dengan adanya Rasya di sebelahnya, membuat Adelia tidak bisa bernafas lega.
"Tapi, Mas gak bisa tidur tanpa kamu, Sayang ..." kilahnya. Dengan matanya kini memejam, rasa kantuk mulai mendera.
Adelia pun tidak bisa beralasan lain. Ia malah merasa iba melihat wajah Rasya yang seperti sangat kelelahan.
...***...
...Bersambung....
Di Episode selanjutnya adalah tentang kehancuran Rony dan keluarganya.
__ADS_1
Jangan lupa like, dan hadiah poinnya!!