
Ketiga Pria itu kembali masuk ke dalam ruang VIP tadi. Mereka mulai memakan makanan yang sudah di Pesan Dimas tadi. Martin walaupun sedang makan pikiran nya tertuju terus kepada gadis yang baru saja Ia temui.
"Rey, Lu yakin kan kalau tadi itu emang Adelia?." Martin mulai bersuara dengan bertanya kepada Reyhan.
Reyhan yang di tanya pun menghentikan sejenak suapan nya kerena Ia tengah akan menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Sebenarnya Gue juga yakin. Tapi setelah Wanita tadi bilang Ia bukan Adelia. Gue lebih percaya. Bukankah kita di ciptakan mempunyai tujuh persamaan di belahan dunia ini?."
Martin pun terdiam.
Kini Matanya mulai menatap ke arah Dimas yang sedang anteng melahap makanan nya.
"Dim... Bukan kah Resto ini milik Kakak mu?." Tanya Martin.
"Iya. Ada apa?." Dimas dengan mengambil minuman di tangan nya.
"Gue ingin melihat Cctv milik Resto ini." Kata Martin.
"Bisa. Nanti setelah kita makan. Gue akan menemui Kak Bagas." Sahut Dimas.
Martin pun mengangguk. Martin ingin memastikan Pria yang tadi tengah bersama Wanita yang mirip dengan Adelia tadi. Jika Pria itu yang Martin kenal, maka Wanita tadi adalah benar Adelia. Kebetulan Martin kenal dengan Pria yang suka dekat dengan Adelia. Martin sudah tertuju kepada Yuda. Yuda yang merupakan teman Rima. Sejak melihat Video panas antara Adelia dan Yuda, Martin beranggapan Adelia mempunyai hubungan dengan Yuda di belakang nya. Jika itu benar Martin tidak akan diam. Martin akan memberi perhitungan kepada Adelia dan Juga Yuda. Terlebihnya Martin akan memberi perhitungan kepada Adelia yang telah berani berkhianat kepada dirinya.
Mereka pun selesai Makan siangnya. Kini Mereka bergegas menuju ke ruangan sang pemilik Resto tersebut yaitu Bagas kakaknya Dimas. Dan Dimas yang selaku teman dari Martin mengatakan kedatangan nya. Untuk melihat Cctv milik Resto Kakak nya tersebut.
Bagas pun membiarkan Dimas mengotak-atik Laptop miliknya untuk membuka rekaman demi rekaman dalam Cctv tersebut.
"Nah ini dia." Kata Dimas saat melihat Adelia terduduk di meja yang tadi.
"Tapi gue ingin lihat Pria yang bersama nya. Coba kamu lihat Video sebelum nya." Perintah Martin.
Dimas pun menurut dengan memundurkan durasi Video tersebut, dari mulai Cctv yang berada di depan Resto. Terlihat jelas Pria yang bersama Wanita tadi saat berbicara dengan Pelayan yang menyambutnya. Lalu Pria yang bersama wanita tadi menggandeng kembali wanita tersebut menuju meja yang di depan ruangan VIP. Martin melotot tajam kala melihat Pria tersebut.
"Sudah Cukup. Sekarang Gue tahu Pria tadi yang bersama Adelia." Tukas Martin.
"Eitss... Mirip Adelia." Reyhan meralat ucapan Martin.
"Itu benar Adelia Rey... Gue tahu Pria yang tengah bersama nya adalah Sahabat sekaligus mantan pacar Adel. Tapi Pria itu sudah menikah." Tutur Martin.
"Terus bukan kah Adelia meninggal?." Tanya Dimas.
"Sepertinya belum. Ini kebenaran nya. Ayo sekarang kita cari tahu, dengan datang ke rumah Pria itu."Ajak Martin dengan menepuk bahu Reyhan.
__ADS_1
Mereka pun Akhirnya keluar dari ruangan pemilik Resto tersebut, dengan mengucapkan kata Terima kasih terlebih dahulu.
Ketika di parkiran Mereka memasuki mobil Martin. Mereka akan mendatangi rumah Rasya dengan mengendarai satu mobil milik Martin. Martin yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat perjalanan nya lebih cepat sampai pada tempat yang di tuju.
Mereka pun keluar dengan bersamaan menuju rumah Megah milik Keluarga Rasya. Martin menghela nafas terlebih dahulu sebelum memencet bel rumah tersebut.
Ting tong.... Ting tong...
Dan tak lama pintu itu terbuka, kebetulan sekali yang membuka adalah Rara.
Mata Rara membulat saat Tamunya yang datang adalah Martin. Martin pun tak kalah terkejut dengan seseorang yang membuka pintu itu adalah Rara.
"Rara...." Martin dengan matanya melotot.
Rara mematung bingung untuk bersuara.
"Iya ini benar Rara." Kata Reyhan membenarkan karena Ia tahu sebab sering datang ke Toko Kue Adelia.
Sedangkan Dimas seperti terpesona akan kecantikan Rara. Dimas menyunggingkan senyum nya.
Rara masih saja terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Apa mungkin Rara menceritakan yang sebenarnya. Tapi Bagaimana dengan Adelia, Rara harus mempunyai persetujuan dari Adelia. Namun kini Martin sudah di depannya. Yang Mana Rara harus menceritakan yang sesungguhnya.
"Ra... Berbicara?. Kenapa kamu seperti ketakutan melihat ku, Ada apa?." Suruh Martin untuk Rara berbicara.
Martin mengernyitkan dahinya tidak mengerti akan pembicaraan Rara.
"Maksud kamu apa?. Oh ya... Kenapa bisa kamu masih hidup?. Dimana Adelia?. Dan kenapa kamu sembunyikan ini semua?." Pertanyaan menuntut dari Martin kepada Rara.
Rara menghela nafas kasar. Ia tidak perduli lagi. Mungkin kebenaran saat ini ia harus tunjukkan kepada Martin.
"Aku ingin berbicara yang sebenarnya. Tapi aku ingin tempat yang nyaman jangan di sini. Kita bicara di sana saja." Rara ingin berbicara di sebuah Bangku panjang yang Ia tunjuk.
Rara melangkah terlebih dahulu. Lalu Di ikuti Martin dan kedua temannya dari belakang.
Rara sudah duduk terlebih dahulu di sebuah kursi single. Martin dan kedua temannya duduk di Bangku panjang.
"Ayo katakan Ra." Perintah Martin.
Rara kini menatap Martin dengan serius.
"Sebenarnya kebakaran itu adalah rencana seseorang yang ingin menghancurkan Adelia. Sehubung teman seseorang itu mengetahui rencana jahatnya. Dengan cepat teman nya itu mendatangi Ruko Adelia, dan menyelamatkan kami. Sampai terdengar berita bahwa kami habis terbakar. Dari sanalah kami tidak mau muncul di hadapan mu Martin. Karena seseorang tersebut akan terus berusaha untuk menyingkirkan Adelia selama Ia tahu bahwa Adelia masih hidup. Hingga pada saatnya Seseorang tersebut mengetahui keberadaan kami. Dan menyuruh Gank Preman untuk menculik Adelia. Aku dan sang penyelamat itu kebingungan mencari keberadaan Adelia yang sempat hilang, hingga membuat selebaran kertas pengumuman. Sampai Rasya menghubungi dan mendatangi ku. Lalu tukang ojek yang sempat Adelia naiki datang dan mengatakan bahwa Adelia di bius dan di sekap oleh ketiga preman. Namun tukang ojek tersebut tidak berani menolong karena takut. Aku dan sang penolong begitu juga dengan Rasya mendatangi tempat preman tersebut dan berhasil membawa Adelia dalam keadaan selamat Namun jatuh pingsan hingga sampai di rawat beberapa hari di rumah sakit. Sampai pada akhirnya Aku dan Adelia di bawa Rasya ke sini karena tempat yang kami tempati sudah tidak meyakinkan ke amanan nya untuk kita tinggali." Ucap Rara menceritakan secara detail dan panjang kepada Martin.
__ADS_1
Martin terdiam menanggapi semua ucapan Rara. Namun kini ia penasaran siapa dalang di balik ini semua yang tega ingin membunuh Adelia.
"Ra katakan siapa orang itu?." Perintah Martin kepada Rara untuk mengatakan siapa orang yang sudah berniat jahat tersebut.
"Kamu cari tahu sendiri. Sebelum terlambat." Sahut Rara membuat Martin bingung.
"Mungkin semua sudah jelas. Aku mohon kamu berpura-pura belum tahu bahwa kami masih hidup. Karena nanti kamu akan tahu sendiri siapa di balik ini semua." Pesan Rara kepada Martin.
"Lalu Adelia mana? aku ingin bertemu dengan nya." Tanya Martin kembali.
"Adelia tidak ada di sini. Aku juga tidak tahu dia dimana karena Rasya membawanya pergi dari sini." Kata-kata Rara membuat Martin melotot tajam mengingat tadi Adelia yang bersama Rasya.
"Bukankah Pria itu sudah beristri?." Tanya Martin lagi.
"Sudah tidak." Jawab Rara.
"Sekarang kamu sudah jelaskan. Maka aku akan kembali masuk ke dalam." Ucap Rara dengan cepat meninggalkan ketiga Pria tersebut.
Martin pun melangkah pergi dari taman samping itu. Dan langkahnya di ikuti oleh Reyhan juga Dimas. Lalu setelah di dalam mobil Martin dengan cepat melajukan mobilnya dengan kencang. Kini berbagai macam pertanyaan memenuhi dalam pikiran nya. Mencari tahu siapa dalang yang menghancurkan Ruko Adelia.
"Rey, menurut Lu siapa ya yang ingin membunuh Adelia?." Tanya Dimas ke Reyhan yang duduk di belakang.
"Menurut gue orangnya tidak jauh dari keberadaan Adelia. Apa mungkin Adelia punya musuh?." Jawab Reyhan dengan matanya tertuju pada Spion depan Agar Martin bisa melihat dirinya berbicara padanya.
"Musuh?." Martin bergumam.
Tapi Martin berpikir bahwa Adelia tidak pernah mempunyai musuh. Lalu Martin menggelengkan kepalanya.
"Oh ya. Martin setelah kamu tahu Adelia masih hidup. Apa kamu akan tetap menikah dengan Rima?." Tanya Reyhan.
Sehingga membuat Martin mengerem dengan tiba-tiba.
Ciiiiiiiiiiiiiiiit...........
Dimas dan Reyhan merasa tercengang karena Martin mengerem dengan mendadak.
"Woiiii....." Reyhan dan Dimas bersamaan.
Tapi Tidak membuat Raut wajah Martin bersalah. Justru Ia kini tengah pikiran nya tertuju pada satu nama yaitu Rima. Yang semalam sempat percakapannya Martin dengar di sebuah sambungan telepon.
"RIMA." Ucap Martin dengan keras matanya melotot seperti ingin keluar dari tempatnya. Rahangnya lehernya mengeras terlihat urat-urat nya yang timbul.
__ADS_1
Dimas dan Reyhan saling berpandangan satu sama lain merasakan tidak mengerti akan apa yang di maksud Martin dengan mengucapkan nama Rima calon istrinya.
...Bersambung....