You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 151.


__ADS_3

Sesuai suruhan Albi. Adelia kini mengikuti senam hamil di salah satu sanggar senam di kota J yang tidak jauh dari kediaman Albi. Tentu Albi akan memilih tempat yang dekat dan terjangkau agar Adelia tidak ada yang mengenali, bahkan Albi sengaja ingin menjauhkan Adelia untuk tidak bertemu dengan Rasya. Padahal justru saat ini Adelia kini di dampingi Rasya, untuk pergi kemana-mana. Penyamaran Rasya yang benar-benar tidak mencurigakan membuat Albi percaya begitu saja.


Adelia kini sedang mengikuti senam aerobik. Karena kehamilan yang baru memasuki trimester pertama, aerobik dapat membuat melenturkan otot-otot yang mudah sering lelah atau lesu.


Sedangkan Rasya menunggunya di salah satu bangku yang tidak jauh dari kelompok senam aerobik yang kini Adelia lakukan. Rasya ingin tertawa dengan penyamaran-nya, karena ia merupakan hanya salah satu pria yang berada di tempat itu. Semua di pandangan mata Rasya, terlihat ibu hamil semua.


Lihat aku demi istriku, berada di tempat yang penuh dengan ibu hamil?.


Tapi tetap hanya istriku yang sangat cantik di antara mereka.


Puji Rasya berbicara di dalam hatinya, dengan terus menatap ke arah istrinya yang tengah mengikuti gerakan-gerakan aerobik. Rasya mata nakalnya selalu tertuju pada bokong istrinya yang terlihat menggoda. Dengan legging yang ketat, dan sengaja blazer Adelia buka, membuat Rasya menatap dengan selalu menahan salivanya. Karena begitu jelas terlihat lekukan tubuh Adelia yang indah.


Rasya sesekali bermain ponselnya. Kadang mencuri potret Adelia yang tengah mengikuti senam tersebut. Tiba-tiba ada notifikasi pesan transferan pada nomor rekeningnya, dari Beni.


Sehingga Rasya mencari tempat untuk menelpon Beni. Setelah mendapatkan tempat yang aman. Rasya langsung melakukan panggilannya.


"Hallo Ben ...," ucap Rasya setelah telpon nya tersambung.


"Iya Hallo Pak. Bagaimana kabarnya?" kata Beni dengan bertanya tentang keadaan Rasya.


"Saya baik-baik saja. Em ... itu yang kamu transfer omset dua minggu ini?" tanya Rasya.


"Iya Pak. Itu terhitung setelah kepergian Bapak ke Kota J," ucap Beni.


"Oh Begitu. Ya sudah terima kasih Ben. Jangan lupa tanggal satu kamu atur untuk upah gaji kalian," titah Rasya kepada Beni.


"Baik Pak. Eh iya Pak ... saya mempunyai berita baik."


"Berita apa?" sahut Rasya penasaran.


"Berita tentang istri anda Pak. Saya mendapatkan informasi dari salah satu Klinik Kesehatan yang berada di Alun-alun. Salah satu Dokternya mengatakan. Bahwa istri bapak ada yang menolongnya,"


"Terus bagaimana lagi?"


"Istri bapak di tolong oleh tiga pemuda dari luar kota. Dan Dokter itu mengatakan kalau istri bapak terkena banyak benturan, dan seperti telah mengalami tenggelam. Lalu dokter itu mengatakan bahwa istri bapak mengalami amnesia."


Rasya terdiam, ia merasa lega akan prasangkanya yang benar. Ia telah meyakini bahwa Arumi adalah Adelia istrinya. Ia Semakin yakin akan semua yang telah Beni sampaikan kepadanya, dengan bukti Adelia di tolong oleh tiga pemuda. Dan Rasya langsung menyadari pada keberadaan Albi, Arman, dan Dirga.


"Begitu ya Ben?, bagaimana kamu bisa sampai mendapat informasi dari Dokter itu?" tanya Rasya dengan penasaran.


"Saya, sama Damar dan Ivan mencari dengan mendatangi Puskesmas-Puskesmas, dan klinik semacamnya dengan membawa kertas selebaran yang bapak buat. Lalu saat kami mendatangi Klinik Kesehatan Paramita yang berada di Alun-alun, kami bertemu dengan salah satu dokter yang bernama Dokter Sinta. Beliau menjelaskan seperti tadi yang sudah saya katakan kepada bapak. Dan semua yang ciri-ciri tertera dalam selebaran kertas, Dokter itu membenarkan."

__ADS_1


"Terima kasih Ben, terima kasih sekali ... Saya di sini sudah bertemu dengan istri saya. Tapi tidak bisa saya bicarakan sekarang, karena panjang ceritanya. Dan benar, istri saya sedang mengalami amnesia," ucap Rasya.


"Syukurlah Pak, semoga istri bapak cepat pulih. Kalau begitu saya tutup dulu ya pak. Permisi,"


"Iya Ben,"


Kemudian sambungan panggilan sudah terputus. Rasya memejamkan matanya, dengan menghembuskan nafas secara perlahan. Ia merasa tenang, dengan berita yang sudah Beni berikan. Mulai sekarang ia akan berusaha untuk mencari cara membuat kesadaran Adelia kembali.


"Alsa ...."


Adelia menepuk bahu Rasya, dan membuat Rasya tersentak kaget.


"Non,"


"Kamu kaget? saya mencari kamu, ternyata kamu ada di sini,"


"Iya Non. Saya tadi sudah menelpon keluarga saya. Non, sudah selesai senamnya?" sahut Rasya berbohong.


"Sudah. Kita pulang yuk!" ajak Adelia seraya memakai blazer di hadapan Rasya.


Rasya tersenyum menatap perut Adelia yang masih terlihat rata, "Langsung pulang? atau mau pergi dulu kemana gitu?" tanya Rasya.


"Saya gak berani pergi tanpa ijin Mas Albi. Lebih baik kita pulang saja," ucap Adelia.


Adelia dan Rasya pun bergegas meninggalkan Sanggar senam tersebut. Kemudian pulang dengan menggunakan salah satu mobil mewah milik Albi. Dan Rasya yang mengemudikannya.


Lima belas menit lamanya, mobil yang di kemudi Rasya masuk ke dalam gerbang rumah Albi, setelah di buka pintu pagarnya oleh Tono dan Budi.


"Alsa, sepertinya aku ingin makan mie rebus," ucap Adelia saat sudah masuk ke dalam rumah.


"Mie rebus?"


"Iya"


"Kuah atau goreng?" tanya Rasya.


"Kuah. Di kasih telur sama sayuran dan juga cabe rawit, enak sepertinya," ujar Adelia dengan membayangkan.


"Ya sudah. Akan saya buatkan sekarang," ucap Rasya.


"Buat untuk kamu juga ya, agar kita makan berdua, atau semangkuk berdua juga tidak apa-apa," ucap Adelia dengan terkekeh.

__ADS_1


"Baiklah Non. Lebih baik semangkuk berdua saja. Saya takut gak habis kalau semangkuk sendiri,"


Padahal aku ingin semangkuk berdua sama kamu. Romantis, kan? batin Rasya.


"Ok. Aku ganti baju dulu ya, soalnya gak enak lengket,"


Rasya pun mengangguk.


Kemudian Adelia melangkah masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Rasya bergegas ke dapur. Setelah berada di dapur Ia langsung menuju lemari kitchen set yang terdapat banyak mie instan berbagai rasa.


Istriku sukanya rasa soto.


Rasya lalu membawa dua bungkus mie instan rasa soto. Setelah itu ia menyiapkan terlebih dahulu air ke dalam panci kecil, untuk merebus mie. Dengan gerakan cepat, Ia mengambil sayuran untuk pelengkap, di tambah dua butir telur. Dan saat air sudah mulai mendidih, ia memasukkan telur terlebih dahulu, di susul mie dan sayurannya.


Setelah matang Rasya menyajikannya ke dalam mangkuk besar. Rasya tersenyum bahkan ingin tertawa saat melihat isi mie dan topingnya yang begitu banyak.


Tidak apa-apa mangkuknya satu. Tapi isinya dua. Tentu aku tidak akan kenyang kalau hanya satu mie.


Rasya berucap di dalam hatinya seraya menatap mangkuk mie yang sudah ia buat.


Untung saja. Aku pernah hidup mandiri. Jadi aku bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini. batin Rasya memuji dirinya yang sempat hidup mandiri saat meneruskan kuliah di luar negeri.


Tiba-tiba Adelia datang dengan penampilannya memakai dress berlengan pendek, dan panjang di atas lutut.


"Em ... aromanya enak sekali!?" ucap Adelia saat mendudukkan tubuhnya di kursi, lalu indra penciumannya mencium aroma mie yang sudah Rasya buat.


Rasya terkesiap melihat penampilan istrinya dengan di tambah rambutnya di ikat cepol satu. Menampakkan leher jenjang Adelia yang putih dan mulus.


"Ayo Non,"


Namun, penglihatan Rasya terganggu saat melihat tanda merah di ceruk leher Adelia. Yang merupakan tanda merah yang Albi buat, saat setelah memasangkan kalung waktu kemarin sore.


Sialan! kenapa harus ada tanda merah di leher istriku?!


Rasya meradang, dengan mengepalkan tangannya saat melihat tanda merah di leher istrinya itu, dan Rasya yakin bahwa tanda itu Albi lah yang membuatnya.


...Bersambung....


Jangan lupa like, comment, dan hadiah poinnya!!


Terima kasih yang masih setia membaca karya author ini.

__ADS_1


Author sengaja membuat alur ceritanya tidak terlalu buru-buru, maka sengaja akan panjang ceritanya.


Semoga Readers sehat selalu 😘😘


__ADS_2