You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 132.


__ADS_3

Adelia bermimpi di dalam tidurnya. Ia berada di tepi sungai yang luas, ia mulai ketakutan saat dirinya melihat kesekitar tempat sungai itu. Namun, jalan yang tadi ia lalui tidak dapat ia ketahui. Karena saking antengnya menatap kupu-kupu yang beterbangan seperti sedang menuntun dirinya untuk mengikuti.


Adelia menangis saat rintik hujan mulai berjatuhan. Kemudian hujan itu perlahan membesar, dengan disusul suara petir yang menggelegar. Saat dirinya mencoba untuk mencari jalan, kakinya tersandung akar pohon kelapa, dan kakinya terpeleset lalu tergelincir hingga masuk ke dalam sungai yang airnya mulai mengalir deras. Adelia mencoba berenang. Namun, karena besarnya aliran sungai tersebut membuat dirinya tertarik dan terpental pada sebuah batu besar hingga beberapa kali.


Keringat mengucur deras pada dahi Adelia yang sedang terlelap. Kepala Adelia menggeleng-geleng, lalu berteriak kencang.


"Tidaaaaaak ....."


Adelia terbangun dari tidurnya, lalu mendudukkan tubuhnya untuk bersandar. Albi yang tertidur di sofa terbangun karena mendengar Adelia menjerit.


"Arumi, ada apa?" tanya nya dan mendekati Adelia yang sudah terduduk di ranjang.


Nafas Adelia masih tersengal, dengan penuh keringat di dahinya.


"Aku bawa air minum dulu ya," kata Albi. Langsung bergegas keluar kamar.


Adelia yang masih terdiam, masih tersengal nafasnya. Kemudian tak lama Albi datang dengan membawa air pada teko kaca beserta gelasnya. Lalu Albi menaruhnya di meja yang berhadapan dengan sofa, dan Albi menuangkan air minum itu pada gelas.


"Minum dulu, biar kamu tenang," kata Albi dengan menyerahkan segelas air minum kepada Adelia.


Adelia meraih gelas itu, dan meminum airnya hingga habis. Lalu Adelia menaruh gelas itu di atas nakas yang berada di samping ranjang.


Albi memperhatikan kening Adelia yang berkeringat. Lalu Albi mengambil tisu dan mengelap keringat Adelia dengan lembut.


"Kamu mimpi buruk?" tanyanya.


Adelia mengangguk, "Iya Mas. Aku bermimpi tersesat di dalam hutan. Dan aku terjatuh masuk ke sungai," tuturnya.


Apa mimpi Arumi, berhubungan dengan dirinya yang terhanyut ke dalam sungai waktu itu? Batin Albi berbicara.


"Mungkin itu hanya bunga tidur saja. Sekarang sudah tenang, kan?"


"Iya Mas. Em ... tadi aku lihat Mas tertidur di sofa, kenapa tidak tidur bersamaku di sini?" Adelia mempertanyakan Albi yang tertidur di sofa.


Albi bingung untuk menjawab, ia memutar otaknya untuk berpikir mencari jawaban.


"Maaf Arumi. Tadi aku ketiduran di sofa," alasan Albi.


Padahal Albi sengaja tidur di sofa. Ia tidak berani jika harus tidur seranjang dengan Adelia. Albi tahu batasan. Albi hanya mengakui dirinya sebagai suami saja. Tidak dengan harus tindakan yang semestinya.


"Tapi sekarang Mas tidur di sini ya, aku takut mimpi buruk lagi," kata Adelia menyuruh Albi untuk tidur bersamanya.


Albi terdiam menimbang ajakan Adelia yang mengajak tidur bersama.


"Mas, kenapa diam?" tanya Adelia yang tidak mendapati jawaban dari Albi.


"Aku takut tidur ku, mengganggu kehamilan mu Arumi, karena tidur ku suka tidak diam, aku takut menendang perutmu itu," ucap Albi beralasan.


"Aneh kamu Mas?!" Adelia cemberut dan merajuk kepada Albi. Ia membaringkan tubuhnya, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya, lalu memunggungi Albi yang masih terduduk di tepi ranjang.


Albi menggeleng-gelengkan kepalanya. sungguh ia merasa gemas kepada wanita yang tengah berbadan dua itu, wajahnya yang cemberut saat sedang marah.


Albi akhirnya memberanikan diri untuk berbaring di ranjang yang di tiduri istri setingan nya itu. Ia mengelus kepala Adelia yang membelakanginya. Albi paham, wanita hamil itu suka sensitif dan Albi tidak mau Adelia sampai merasa setres karena ulahnya.


"Arumi ...."


Hening. Tak ada jawaban dari Adelia.


"Aku tidur disini ya, kamu jangan marah lagi!"


Masih hening tak ada jawaban dari Adelia. Albi berinisiatif memberanikan diri untuk memeluk Adelia yang memunggunginya. Hingga Adelia tersenyum tanpa sepengetahuan Albi. Ternyata Adelia masih terjaga, ia sengaja terdiam tidak memberi jawaban untuk Albi.


Albi berpikir mungkin Adelia sudah tertidur, ia memeluk Adelia dengan mengelus perutnya Adelia yang terasa keras karena ada janin di dalamnya.


"Aku mencintaimu Arumi," bisik Albi.


"Aku takut kehilangan mu, aku---"

__ADS_1


Seketika itu Adelia membalikkan tubuhnya hingga Adelia berhadapan dengan Albi.


Hingga ucapan Albi terpotong. Hampir saja Albi mengatakan dirinya tidak mau kehilangan Adelia, dan dirinya tidak mau sampai kesadaran Adelia pulih. Untung saja gerakan Adelia yang membalikkan tubuhnya memotong ucapan Albi dengan cepat.


Kini Adelia berpandangan dengan wajah Albi yang menegang. Albi kaku dan terpana bertatapan dengan jarak yang begitu dekat dengan Adelia. Adelia tersenyum, lalu jemari lembutnya mengusap wajah Albi yang tegang itu, hingga membuat jantung Albi berdetak kencang.


Oh tidak. Sungguh ini pengalaman pertama ku berhadapan dengan dekat, bersama wanita yang aku cintai. Albi berbicara dalam hatinya.


"Mas, aku ingin mendengar lagi ucapan mu!" kata Adelia dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Albi.


"Arumi, tadi kamu mendengarnya?" tanya Albi. Membuat Adelia mendongak dan mengangguk.


"Mas, aku tahu kamu mencintaiku. Makanya kamu menikah dengan ku, kan?. Maaf karena aku sakit, aku tidak mengingat saat-saat kita bersama," ucap Adelia. Dengan tangannya kini memeluk Albi.


Albi terdiam, mengatur nafas karena terlalu dekat dengan Adelia membuat jantungnya berdebar kencang.


"Mas, jantung kamu berdebar kencang sekali. Itu berarti tandanya kamu sangat mencintai aku," ucap Adelia dengan tersenyum sengaja menggoda Albi.


"Sudah. Sekarang kamu tidur lagi. Tidak baik ibu hamil begadang!!," ucap Albi mengalihkan.


"Aku akan tidur, asal Mas peluk aku seperti tadi," kata Adelia mengancam.


"Ayo tidur! aku sudah ngantuk, besok aku harus kembali bekerja!" ucap Albi dengan memejamkan matanya.


Adelia memberengut kesal, karena keinginan nya tidak Albi turuti. Adelia membalikkan tubuhnya lagi memunggungi Albi kembali seperti tadi.


"Aku hanya ingin di peluk saja, kenapa susah sih? tadi aku lagi marah saja, kamu meluk!. Apa aku harus marah dulu, baru kamu meluk aku?" gerutu Adelia dengan memunggungi Albi. Albi masih bisa mendengarnya, karena ia hanya memejamkan matanya berpura-pura tertidur.


Ya Ampun Arumi marah lagi?.


Albi pun memeluk tubuh Adelia dari belakang. "Sudah, kamu jangan marah lagi! maafkan aku!" bisik Albi.


Adelia tersenyum akhirnya dan mulai memejamkan matanya untuk kembali tidur. Begitupun dengan Albi, ia dengan tangannya memeluk Adelia, Albi tertidur kembali.


***


Adelia terbangun terlebih dahulu, ia tersenyum saat mendapati tangan Albi yang masih memeluknya. Kemudian Adelia bangkit dari ranjang, berniat untuk membersihkan diri.


Adelia masuk ke dalam ruang ganti yang terhubung langsung dengan kamar mandi. Adelia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Kemudian memakai pakaian nya di ruang ganti. Adelia memilih atasan pakaian nya bermodel Empire Line berwarna merah dan Adelia padukan dengan Skinny jeans panjang berwarna hitam .


Membuat penampilan Adelia terlihat peminim dan fashionable. Hingga lekukan tubuh Adelia terlihat begitu sempurna dan terlihat sangat cocok. Lalu Adelia beranjak dari ruang ganti, melangkah ke arah meja rias. Adelia memoles wajahnya dengan make-up, dan tak lupa memoles bibirnya dengan lipstik.


Lalu Adelia membuka tirai gordeng, membuat mata Albi megerjap karena silau dari cahaya matahari pagi.


"Selamat pagi, suamiku," ucap Adelia tersenyum saat melihat Albi menatap pada dirinya.


Albi menjawab senyuman Adelia, "Selamat pagi juga i-istriku," ucapnya terbata.


"Mas, Kamu mau kerja hari ini?" tanya Adelia dengan mulai mengangkat selimut bekas tidurnya. Adelia berniat merapihkan selimut tersebut.


"Iya. Tak apa kamu di rumah sendiri?" jawab Albi dengan bertanya.


"Tidak apa-apa sih, tapi mungkin aku akan merindukan mu Mas," ucap Adelia menggoda.


Albi menjadi salah tingkah.


"Aku mandi dulu," katanya. Albi langsung melangkah lebar, memasuki ruang ganti yang terhubung kamar mandi itu.


Adelia tersenyum, "Mas, kamu itu lucu. Kalau aku goda, suka salah tingkah," ucap Adelia bermonolog.


Adelia setelah membereskan tempat tidur, beranjak ke ruang ganti memilih pakaian untuk Albi kenakan. Adelia memilih, kemeja putih dan celana abu lalu Adelia padukan dengan jas berwarna abu senada dengan celananya. Dan tak lupa Adelia memilihkan pakaian dalam milik Albi. Dan Adelia taruh di atas meja yang berada di ruang ganti tersebut.


Setelah itu Adelia keluar dari kamar, lalu beranjak ke arah dapur. Dan di saat itu bertepatan Arman dan Dirga turun dari lantai atas.


"Selamat pagi Arumi," sapa Dirga.


Arman hanya menyapa dengan senyumnya saja.

__ADS_1


"Selamat Pagi juga," jawab Adelia dengan tersenyum.


"Albi mana?" tanya Arman.


"Mas Albi, lagi mandi," sahut Adelia.


"Maaf aku ke dapur dulu, permisi" kata Adelia dengan langsung berjalan cepat menuju dapur.


"Apa Arumi akan masak?" tanya Dirga kepada Arman setelah Adelia menghilang di pandangan mata.


"Sepertinya begitu," sahut Arman.


"Emang dia bisa?"


"Ya, mana gue tahu" sahut Arman. "Lihat saja nanti," sambungnya.


Dirga dan Arman pun memilih duduk di ruang tengah untuk menunggu Albi. Hingga selang beberapa lama Albi keluar dengan pakaian rapi yang di sediakan oleh Adelia tadi.


"Wah cerah sekali muka kau?" goda Arman dengan bernada orang batak.


"Sepertinya, nyenyak sekali tidur semalam," timpal Dirga.


Albi hanya memasang senyumnya. Albi malas harus berdebat dengan kedua temannya saat pagi ini.


"Dimana Arumi?," tanyanya mengalihkan.


Dirga dan Arman saling tatap dengan tersenyum menggoda.


"Ciyeee ... baru saja gak ada di kamar. Sudah di tanyain saja," goda Arman.


Albi hanya mendengus, lalu berinisiatif mencari Adelia ke arah dapur. Dan ternyata benar, Adelia sedang berada di dapur. Adelia sedang menata hasil masakan nya untuk Albi sarapan beserta kedua temannya.


"Mas," sapa Adelia saat melihat Albi mendekatinya.


Albi tersenyum hangat memandang Adelia yang sangat begitu cantik di pagi ini. Entah memang sudah dari lahirnya bahwa Adelia selalu terlihat cantik di pandangan Albi. Di tambah Adelia memperlakukan nya seperti kepada suami yang sesungguhnya. Membuat hati Albi menghangat saat melihat Adelia menyediakan pakaian untuk dirinya.


"Kamu masak?" tanya Albi seperti tidak percaya pada kemampuan Adelia.


"Iya. Aku masak nasi goreng seafood. Tapi aku gunakan cumi, aku takut diantara Mas, dan kedua temannya ada alergi udang, jika aku menggunakan udang," tutur Adelia.


Terlihat dari wanginya sangat enak. Tapi tidak tahu masalah rasanya. Lebih baik aku makan bersama Dirga dan Arman saja. Batin Albi merasa ragu akan hasil masakan Adelia. Ia akan memilih makan bersama dengan kedua temannya itu, agar tidak membuat Adelia kecewa.


Tak lama kedua teman Albi datang. Dan langsung duduk di meja makan.


"Ayo Bos, kita Makan. Hmm ... baunya enak ni," ucap Arman dengan menghirup kepulan asap dari nasi goreng yang Adelia buat.


Albi pun akhirnya duduk di kursi, dan di susul Adelia duduk di sampingnya. Dengan ragu-ragu Albi menyuapi nasi goreng yang sudah Adelia sediakan.


Enak sekali masakan Arumi. Puji Albi dalam hatinya.


Bahkan kedua temannya sangat lahap memakan nasi goreng buatan Adelia itu. Hingga beberapa saat mereka pun menghabiskan makanan yang Adelia buat.


"Arumi ternyata kamu bisa memasak juga. Ini enak loh nasi goreng yang kamu buat," ucap Arman tersenyum memuji Adelia.


"Iya Arumi. Kalau boleh setiap hari kamu masakin ya buat kita," kata Dirga kini.


Adelia tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih kalian sudah memuji aku, ya Syukurlah kalau masakan aku cocok di lidah kalian," ucap Adelia.


Adelia kini melirik Albi yang terdiam saja. "Mas, kamu tidak memuji hasil masakan ku? atau menurut Mas, masakan ku tidak enak?" tanya Adelia ingin memastikan Albi untuk memujinya.


"Enak," kata Albi singkat.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, comment, dan hadiah poinnya ya,!!!


__ADS_2