You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 138.


__ADS_3

Esok Paginya di Kediaman Rasya...


Waktu masih pagi. Rasya seperti biasa selalu melakukan aktivitas paginya dengan berolah raga di sekitaran halaman rumah. Rasya melakukan berbagai olah raga ringan yang tanpa alat atau semacamnya.


Rasya kini sedang melakukan gerakan Push up bertujuan untuk kekuatan otot-otot tangan dan perut. Tiba-tiba suara Serly yang melengking mengagetkan Rasya.


"Kakak ... Kakak ..."


Teriak Serly dengan berlari ke arah Rasya, dengan memegang ponselnya. Sontak Rasya menghentikan gerakan Push up nya itu.


Rasya langsung berdiri dengan menatap kedatangan adiknya yang berlari ke arahnya.


"Ada apa? suaramu bising sekali, membuat seluruh penghuni rumah kesakitan telinganya," ujar Rasya dengan nada becanda sengaja menggoda adik satu-satunya itu.


"Huuuh ... Aku mencari kakak, ingin menunjukkan ini," sahut Serly, lalu menyerahkan ponselnya yang masih menyala dengan nafas ngos-ngosan.


Rasya pun meraih ponsel yang Serly serahkan. Dan penasaran apa yang membuat adiknya berlari mencari dirinya.


Rasya menautkan kedua alisnya menatap layar ponsel yang ternyata dirinya sedang bernyanyi.


"Ini aku. Kenapa kamu seheboh itu?" kata Rasya.


Ternyata yang membuat Serly berlarian adalah karena ada video Rasya yang semalam di cafe sedang bernyanyi. Dan entah siapa yang merekam dan mengunggah nya ke laman sosial media. Bahkan video Rasya di beri hastag 'Cogan dengan suara merdunya' di caption video tersebut. Lalu berbagai komentar memenuhi video Rasya. Banyak yang sengaja membagikan video Rasya itu hingga sudah berjuta viewers yang menontonnya.


"Kakak ... video kakak yang sedang bernyanyi itu lagi viral, banyak yang menonton. Bahkan banyak yang memuji dan memuja kakak," ujar Serly menjelaskan video Rasya tersebut.


"Lalu apa kamu yang merekam semalam? dan mengunggah ke sosmed?" tanya Rasya dengan serius bahkan matanya begitu tajam menatap adiknya.


"Tidak. Aku tidak sempat merekam penampilan kakak."


"Lalu siapa yang merekam dan mengunggah video itu?"


"Mana aku tahu," jawab Serly.


Rasya lalu terdiam. "Ya sudah. Nanti aku akan cari tahu sendiri," ucapnya.


Rasya pun meninggalkan adiknya yang masih berdiri itu. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Dan berpapasan dengan Lia yang baru saja selesai membuat makanan untuk sarapan.


"Syaa ... kalau mau sarapan, Mama sudah siapkan di meja," ujar Lia.


"Tidak Ma. Aku lagi tidak berselera," sahut Rasya dengan menghentikan langkahnya.


"Rasya, sudah dua hari ini kamu tidak makan Nasi. Ayo makanlah!" titah Lia yang khawatir karena Rasya sudah dua hari tidak memakan nasi.


"Aku ingin nasi goreng. Apa Mama membuatnya?" tanya Rasya.


"Mama tidak membuat nasi goreng. Mama hanya membuat gudeg kemauan kamu waktu itu."


"Benarkah?"


"Iya. Kalau gak percaya cepetan sana ke meja makan. Dan jangan lupa pakai nasi!. Mama mau pergi dulu ke pasar bersama Rara,"


Rasya tersenyum lalu mengangguk, "Terima kasih Mama, aku akan makan sekarang juga," ucap Rasya kemudian memeluk tubuh Mamanya itu dan setelahnya berjalan melangkah cepat menuju ruang makan.


Apa Rasya masih mengidam? Tapi tidak mungkin!. Batin Lia menerka-nerka setelah menatap kepergian Rasya menuju ruang makan.


Sementara itu Rasya yang sudah berada di ruang makan langsung menarik kursi untuk Rasya duduki. Dengan wajah antusias Rasya menuangkan gudeg yang terhidang di atas meja ke atas piring. Lalu Rasya mulai menyendoki gudeg itu, dan satu suap Rasya mulai mencicipinya.


"Wah enak sekali gudeg buatan Mama," ucap Rasya memuji hasil masakan Mamanya yang enak.


Lalu tangan Rasya mulai menambahkan nasi ke atas piringnya. Dan Rasya mulai makan di meja itu sendirian. Suapan demi suapan sudah masuk ke dalam mulut Rasya.

__ADS_1


"Tumben kamu makan sepagi ini?" celetuk Hadi datang dan duduk di kursi meja makan.


"Iya aku lapar, kalau Papa mau makan, tinggal makan saja!" ucap Rasya dengan mulut penuh sambil mengunyah.


Hadi hanya diam saja. Menatap Rasya yang sedang menikmati makanan nya itu. Hingga Rasya selesai makan, Hadi masih memperhatikan.


"Aku sudah selesai. Silahkan kalau Papa mau makan," pamit Rasya meninggalkan meja makan.


Hadi menatap punggung putranya yang perlahan menghilang di balik tembok. Hadi merasa iba dan bahkan bercampur rasa penyesalan kepada Rasya. Hadi tersadar atas kesalahannya waktu itu yang bersikap kukuh untuk menikahkan Rasya dengan Ariyanti, dengan beralasan karena terlilit hutang. Namun sebenarnya itu hanya alasan Hadi saja. Karena Hadi tidak mau jalinan persahabatan antara Hadi dan Rony terpecah saja. Bahkan Hadi tidak mau sampai Rasya terus bersama Adelia kala itu, karena mengingat Wira ayah Adelia yang tertuduh telah membunuh Bara adiknya Hadi.


Hadi teringat akan Bowo yang di tugaskan untuk menemukan bukti-bukti antara Wira dan Rony. Hadi langsung melakukan sarapannya. Dan setelah itu Hadi akan menemui Bowo.


***


Di tempat Lain.


Pagi-pagi di rumah Albi. Adelia sudah berkutat memasak di dapur. Berbagai macam menu makanan Adelia masak. Sengaja Adelia memasak banyak karena merasa ada tamu istimewa yaitu keluarga Albi yang sengaja menginap. Bahkan di tambah Arman dan Dirga yang ikut tinggal di sana.


Berbagai menu masakan sudah Adelia hasilkan. Entah tentang masak memasak Adelia masih mengingat di memori ingatannya. Cumi tepung goreng, Ayam balado, sayur capcay, dan telur omelet sudah Adelia buat. Kini Adelia sedang menuangkan adonan kue kedalam loyang persegi, lalu Adelia memasukkan nya ke dalam oven listrik. Setelah Adelia mengatur waktu pemanggangan, Adelia kemudian beranjak untuk ke kamar.


"Mas sudah bangun?" tanya Adelia saat menatap Albi sudah berpakaian rapih.


"Iya. Bahkan aku sudah mandi," jawab Albi dengan tangannya menyisir rambut hitamnya.


"Maaf Mas, aku tadi lupa menyiapkan baju untuk mu. Bahkan aku sekarang ke sini berniat menyiapkannya, tapi Mas sudah melakukan nya sendiri," ucap Adelia.


Albi langsung menghadap ke arah Adelia dengan tersenyum, lalu tangannya terulur untuk membelai pipi mulus Adelia.


"Tidak apa-apa. Tak perlu meminta maaf seperti itu. Selagi sesuatu yang bisa aku lakukan. Aku bisa melakukannya,"


"Oh, ya apa yang sudah kamu kerjakan. Sehingga kamu meninggalkan kamar?" sambung Albi dengan menatap Adelia.


"Aku sudah memasak Mas, untuk sarapan kita semua," jawab Adelia.


Seperti hari kemarin. Albi seperti tidak percaya akan kemampuan memasak Adelia. Bahkan Albi tidak begitu yakin akan hasil masakannya.


"Kalau Mas mau sarapan sekarang, silahkan duluan. Aku mau mandi dulu," ujar Adelia dengan beranjak masuk ke dalam ruangan ganti yang terhubung kamar mandi.


Albi pun keluar dari kamar dengan langsung bergegas ke arah dapur. Dan mengejutkan bagi Albi saat menatap banyak menu makanan di atas meja dengan aroma yang menggugah selera makan Albi.


Apa tidak salah ini aroma nya sangat enak?.


Tapi apa dengan rasanya juga enak?


Albi berbicara di dalam hatinya dengan tidak meyakini akan rasa masakan yang Adelia buat.


"Wah ... aroma masakan yang sangat enak?" kata Hera Mama Albi yang tiba-tiba datang ke dapur.


"Mama ... selamat pagi Ma," sapa Albi.


"Selamat Pagi juga. Em ... apa semua ini kamu yang masak?" tanya Hera kepada Albi. Karena Albi berada di dapur sendiri.


"Bukan Ma. Ini semua Arumi yang masak. Sengaja katanya agar Mama dan Kak Luky serta Kak Alina tidak sarapan di luar," ujar Albi berbicara dengan masih tidak yakin akan rasa masakannya.


"Benarkah? benar-benar menantu idaman," kata Hera seraya menarik kursi untuk duduk.


Dan tiba-tiba datang sepasang suami istri, dan kedua teman Albi menghampiri meja makan.


"Wah Mama sudah masak banyak sekali?" celetuk Alina dengan menatap masakan yang beraroma enak.


"Bukan Mama. Tapi istrinya Albi," jawab Hera.

__ADS_1


"Arumi memang bisa masak?" tanya Alina seperti tidak percaya.


"Bisa. Ini buktinya hasil dari masakan Arumi," sahut Hera.


"Ayo Tante, Kak Alina, dan Kak Luky kalau mau makan!. Tidak usah ragu, hasil masakan Arumi itu sangat enak" seloroh Dirga dan di angguki oleh Arman menyetujui.


Aduh bagaimana ini mereka akan makan? Lebih baik aku pergi kembali ke kamar, sebelum mereka kecewa karena rasa masakan Arumi.


"Aku susul dulu Arumi ya, silahkan kalian lebih dulu untuk sarapan," ujar Albi dengan cepat melangkah meninggalkan dapur.


Lalu Albi masuk ke dalam kamar. Dan saat masuk, Albi di suguhkan pemandangan yang menggairahkan. Bagaimana tidak? Adelia sedang mengoleskan 'hand and body' di kaki mulusnya yang sengaja Adelia rentangkan pada kursi meja rias itu, sehingga kaki mulus dan putih begitu terpangpang di depan Albi. Albi menghampiri dengan menelan salivanya.


"Mas ...." sapa Adelia saat tahu Albi masuk kamar dan menghampirinya.


Bukan menjawab, Albi malah mengambil alih botol 'hand and body' dari tangan Adelia. Lalu Albi menuangkan ke telapak tangannya. Dan kini Albi oleskan kepada lengan tangan Adelia. Sontak perlakuan dan gerakan Albi membuat jantung Adelia berdetak kencang. Sentuhan demi sentuhan yang Albi berikan menghasilkan desiran hasrat di tubuh Adelia. Begitu pula di tubuh Albi yang memberikan sentuhan tersebut, menghasilkan hasrat pada kelakiannya tergugah.


"Mas, biar aku saja," ucap Adelia. Karena Adelia yang sangat sensitif ingin segera Albi menghentikannya.


"Kenapa?" tanya Albi yang sudah bersuara parau.


Adelia terdiam. Begitu juga Albi. Kini keduanya saling menatap dengan penuh gairah. Albi menarik tengkuk Adelia dengan lembut. Sontak Adelia menjadi gugup. Albi kini menatap ke arah bibir Adelia yang sudah teroles lipstik merah muda yang membuat Albi ingin segera menyatukan bibirnya itu. Kemudian Albi mendekatkan bibirnya dengan bibir Adelia. Hingga seketika Adelia menutup kedua matanya.


Tok ... tok ... tok ...


Sial! siapa sih ganggu saja? batin Albi.


Albi menghela nafas dan menghentikan aksinya itu yang baru saja mulai menyentuh bibir Adelia. Tapi Albi mengecup sekilas bibir Adelia terlebih dahulu sebelum membuka pintu kamarnya. Membuat Adelia membukakan matanya menatap Albi yang hendak ingin membuka pintu.


"Mama ...."


Ternyata yang mengetuk pintu adalah Mama Albi.


"Arumi mana? apa dia baik-baik saja? kenapa kalian lama sekali, kami menunggu untuk makan bersama," ucap Hera.


Adelia mendekat. "Ayo Ma. Maaf Arumi lama. Dan Arumi baik-baik saja kok," kata Adelia kepada Hera.


Mereka pun akhirnya menuju dapur. Dan melakukan sarapan pagi bersama dengan hasil masakan Adelia.


"Ini sungguh enak sekali. Mama tidak menyangka akan memakan masakan hasil menantu wanita Mama," puji Hera dengan tersenyum bangga.


Mereka telah selesai melahap sarapannya. Begitu dengan Albi. Albi memuji masakan Adelia yang begitu sangat enak di lidahnya. Tapi wajah Albi menekuk karena aksinya tadi terganggu.


"Benarkan kata aku juga?, Tante" ucap Dirga.


Adelia hanya menanggapi dengan tersenyum. Kemudian suara dari oven listrik terdengar di pendengaran mereka. Membuat semua yang berada di sana menatap ke arah sumber suara.


"Maaf. Saya akan mengangkat dulu kue," kata Adelia dengan seraya menghampiri oven listrik yang berada di dekat lemari pendingin.


Adelia mulai membuka pintu oven tersebut, dan seketika asap yang mengepul keluar dari dalam oven yang bersumber dari hasil kue buatan Adelia. Semua mata menatap takjub dengan sosok Adelia yang begitu mempunyai kemampuan berkutat dalam area dapur.


Adelia mengangkat hasil kue buatan nya itu. Dan menyajikan di atas piring bundar berukuran besar. Kue yang Adelia buat yaitu blackfores.


"Wah ... kamu bisa membuat kue juga?" tanya Arman kini.


Adelia tersenyum dengan mengangguk.


"Duuh kalau gue yang jadi suaminya. Otomatis akan betah di rumah, dan pastinya perutku tak akan kelaparan," celetuk Dirga.


Membuat Hera, Luky dan Alina tersenyum. Tidak dengan Albi yang terus memasang wajah menekuk. Apalagi di tambah pujian-pujian dari Arman dan Dirga untuk Adelia. Membuat mood nya seketika buruk karena rasa cemburu.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


Jangan Lupa Like, Comment, dan Vote-nya 😊


__ADS_2