You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 245.


__ADS_3

Adelia dan Rasya sudah kembali ke ruangan dimana Adelia di rawat. Begitupun Kedua orang tua Rasya dan juga Albi. Ketiganya terus mengikuti. Bahkan Rasya merasa risih karena Albi terus masih berada di sana.


Adelia kini sedang di suapi buah apel yang sudah Rasya kupas dan di potong terlebih dahulu. Dengan terus mengajak berbincang dan bersendagurau. Begitupun Albi yang terus mengobrol dengan kedua orang tua Rasya, membahas tentang perusahaan Rony yang telah Albi ambil, dan sedang di proses pengalihan nama, yang akan di buatkan atas nama Adelia.


"Sayang ... tahu gak, ada kasus pencurian yang tak bisa di hukum di dunia ini?" celetuk Rasya. Membuat Adelia seketika menghentikan kunyahan apelnya.


Adelia berpikir, namun tidak ada hal yang membuat ia mengerti akan pertanyaan Rasya barusan.


"Aku gak tahu, Mas. Memang ada pencuri yang gak bisa di hukum?"


Rasya dengan telaten terus menyuapi Adelia, bahkan ia cuek dengan tatapan kedua orang tuanya, dan juga Albi yang walaupun mengobrol, namun sesekali memperhatikan ke arahnya.


"Ada. Apa Kamu mau tahu?" Rasya dengan menaik turunkan kedua alisnya menggoda Adelia.


"Mau," sahut Adelia yang penasaran.


"Tapi, cium dulu," tunjuk Rasya pada bibirnya sendiri. Membuat Adelia mendelik serta menggelengkan kepalanya cepat.


"Ya sudah. Aku gak akan kasih tahu," Rasya yang mendapat penolakan dari Adelia, sengaja tidak akan memberitahukan jawabannya.


"Gak apa-apa. Lagian, aku gak nanya kok," sahut Adelia santai tapi sedikit sewot.


Rasya tersenyum lebar seraya berdecih karena merasa gemas menatap Adelia yang sedang mengunyah, dengan wajah santainya.


"Beneran kamu gak mau tahu, Sayang?"


"Mau sih, tapi Mas nya gitu. Mas yang nanya, Mas yang mau ngejawab. Tapi minta imbalan?!" jujur Adelia seraya mendengus pelan.


Rasya terkekeh, "Iya sudah. Mas kasih tahu deh ... tapi gak usah di tekuk gitu dong, wajahnya. Mas rasanya ingin cubit deh," seloroh Rasya membuat Adelia seketika memanyunkan bibirnya.


"Duh apalagi kalau bibirnya di gituin, ingin sekali Mas lahap sekarang juga," Rasya terus menggoda Adelia. Membuat Adelia memalingkan wajahnya ke arah dimana kedua mertuanya duduk berbincang bersama Albi. Dan di saat itu, mata Adelia berserobok dengan mata Albi yang sedari tadi menatap ke arahnya. Adelia hanya tersenyum kikuk. Ingin sekali ia mengucapkan terima kasihnya langsung atas apa yang sudah Albi lakukan kepadanya. Namun, tidak bisa Adelia ucapkan saat itu. Karena tahu suaminya yang cemburuan. Apalagi kepada Albi, yang Rasya tahu bahwa Albi mempunyai rasa kepada Adelia.


Rasya yang tahu Adelia saling pandang dengan Albi. Berdecih. Dan menghela nafas dengan kasar.


Mencoba untuk bersikap biasa saja. Rasya langsung saja mengucapkan jawaban leluconnya tadi.


"Sayang ... kasus pencurian yang tidak bisa di hukum di dunia ini. Adalah--" membuat Adelia langsung menatap ke arahnya.


"Apa, Mas?" tanya Adelia dengan tersenyum.


"Kasus pencurian hati."

__ADS_1


Seketika Adelia tertawa lepas. Lalu memukul bahu Rasya dengan gemas.


"Mas, ih ... aku kira pencurian apa?!" ucapnya dengan suara manja.


Lia dan Hadi langsung memperhatikan dua sejoli itu. Begitupula dengan Albi.


"Ada apa, Sya? sepertinya, Adel tertawa lucu. Apa kamu ngelawak?!" tanya Hadi yang sedikit kepo.


Rasya yang terkekeh melihat Adelia yang tertawa menatap pada Hadi. Ia pun menjawab dengan sengaja melirik ke arah Albi.


"Aku sedang membicarakan kasus pencurian, Pa."


Lalu Adelia menyahuti. "Dan kasus pencurian yang Mas Rasya maksud. Pencurian yang tidak bisa di hukum," lalu Adelia tergelak kembali.


"Pencurian apa, itu?" Lia yang penasaran pun bertanya.


"Pencurian hati," jawab Rasya seraya menatap ke arah Albi dengan sinis.


"Hah?" Lia dan Hadi melongo.


"Iyalah, Ma, Pa. Pencurian hati tidak bisa di hukum begitu saja. Ya, kecuali diam-diam mencuri hati istri orang lain, bisa saja aku hukum," sengaja Rasya menyindir Albi.


Albi hanya diam dengan menelan ludahnya secara kasar. Mencoba menatap ke arah lain. Berpura-pura tidak mendengar apa yang Rasya barusan katakan.


Tidak dengan kedua orang tua Rasya. Yang tidak tahu apa-apa, keduanya masih terkekeh dengan santai.


Rasya tersenyum lalu tatapannya tertuju pada perut Adelia. Mencoba mengalihkan.


"Sayang, aku senang akan memiliki bayi kembar. Apalagi kembarnya, Pria dan Wanita." Rasya seraya mengelus perut Adelia.


"Iya, Sya ... bukan kamu saja yang senang, tapi Mama sama Papa juga," sahut Lia dengan cepat.


"Apa sudah kamu siapkan nama untuk bayi kembar mu itu, Sya?" tanya Hadi kini.


Rasya tersenyum dengan tangannya masih terus mengelus perut Adelia.


"Aku suka musik. Paling aku kasih nama dari nama-nama penyanyi internasional," selorohnya.


Membuat Adelia ingin protes, "Mas. Kamu aneh-aneh saja,"


"Gak apa-apa sayang. Ini baru rencana. Lagian gimana nanti saat baby twin kita lahir saja, kita bisa memikirkan kembali nama yang bagus untuk anak kita," Rasya yang tahu Adelia protes.

__ADS_1


"Terus rencana Mas, mau ngasih nama apa untuk baby kembar kita?" Adelia penasaran.


"Ya rencana sih banyak. Buat baby cowok kita sudah ada banyak nama yang Mas pilih. Begitupun buat baby ceweknya,"


"Apa itu?"


"Buat baby cowok. Shane Filan, Zayn Malik, Shawn Mendes, Justin Bieber, dan Lewis Capaldi," Adelia menanggapi dengan gelengan kepala.


"Kalau buat baby cewek. Selena gomes, Jessie J, dan Lenka," lanjut Rasya dengan tersenyum geli.


"Kalau menurut saya. Nama yang baik untuk bayi kalian, lebih baik nama yang mengandung do'a, bukan nama-nama artis internasional seperti itu," Albi bersuara, membuat Rasya mendelik dengan menatap tajam ke arahnya.


"Benar, Sya. Menurut Mama juga begitu," Lia menimpali yang merasa setuju dengan apa pendapat Albi.


"Iya. Rasya juga tahu. Itu hanya rekomendasi saja. Terserah nanti saja saat baby kembar itu lahir. Rasya akan mencari nama yang bagus untuk anak kembar kita nanti," sahutnya dengan datar.


Rasya lalu beralih menatap Adelia yang seperti sudah merasa kantuk.


"Sayang kamu mau tidur?"


Adelia pun mengangguk.


"Ya sudah. Kamu tidur saja. Biarkan Mama dan Papa dengan tamunya terus mengobrol."


Adelia menggeleng pelan. Ia tidak mau tidur begitu saja saat masih ada keberadaan kedua orang tuanya, dan juga Albi. Merasa tidak sopan pikirnya.


Rasya kini beralih menatap Albi. "Tuan boleh saya meminta waktunya sebentar?" tanya Rasya.


Albi mengangguk. Kemudian perlahan berpindah duduk di sofa yang kosong bersisian dengan Rasya.


Rasya membuang nafas perlahan. Ia walaupun sangat cemburu. Tapi. Tetap akan mengucapkan banyak terima kasih kepada Albi. Dan akan membuang rasa gengsinya demi mewakili Adelia, yang Rasya tahu. Adelia ingin sekali berterima kasih kepada Albi.


Lia dan Hadi pun memperhatikan ke arah Albi dan Rasya. Adelia yang duduk berselonjor di ranjang pasien menatap ke arah Rasya. Merasa penasaran apa yang akan Rasya bicarakan kepada Albi.


"Saya. Atas nama istri saya. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Anda. Anda sudah menolong istri saya beberapa kali. Hingga istri saya merasa mempunyai hutang budi yang tidak bisa di beri nilainya. Bahkan, Anda kembali menolong istri saya, dan keluarga saya dari penjahat- penjahat itu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas semua apa yang Anda lakukan, atas semua kebaikan anda. Sekali lagi terima kasih,"


Albi tersenyum, "Sama-sama. Sudah tidak perlu di jadikan hutang budi. Saya ikhlas melakukan itu semua," jelas Albi singkat dan jelas.


Adeliapun tersenyum merasa lega. Ucapan banyak terima kasih yang ingin ia sampaikan. Telah di wakilkan oleh Rasya. Begitupun Lia dan Hadi. Mereka berdua juga ikut tersenyum. Merasa bangga kepada putranya yang tahu terima kasih walau dari segi ucapan.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2