
Alina tersenyum sinis kepada adiknya yang begitu santai di hadapannya. Sedangkan Adelia tidak berani untuk menatap tiga orang tamu di hadapannya, ia terus menunduk.
"Albian, jadi benar semua ucapan mu? kamu tidak bohong sama Mama?" tanya Hera Mama Albi membahas tentang pengakuan Albi yang mengatakan dirinya telah menikah hampir enam bulan lamanya, bahkan Albi mengakui istrinya tengah hamil.
Albi mengangguk, mencoba bersikap biasa saja seperti sesungguhnya terjadi. Albi tidak mau sampai ketiga orang di hadapan nya menaruh curiga.
"Lalu mana buktinya?" kini Alina bertanya.
Shiit... Kak Alina sepertinya ingin memastikan. Untung saja Arman cepat bertindak. Dan ternyata benar, mereka ingin bukti!.
"Sebentar, aku bawa dulu," ucap Albi. Kemudian berjalan ke arah kamar yang Adelia dan Albi tiduri.
Tak lama Albi datang dengan membawa dua bukuh Nikah di tangannya. Jelas buku Nikah itu palsu, tapi tidak terlihat kepalsuannya. Albi dengan santai duduk kembali di samping Adelia. Lalu menaruh buku Nikah tersebut di atas meja hadapan Kakaknya.
Alina lalu meraih buku Nikah tersebut, kemudian menatap hari, tanggal, dan bulan waktu pernikahan.
"Jadi kamu selama ini sudah menikah?" tanya Alina saat selesai membaca buku Nikah tersebut.
Luky kemudian meraih buku Nikah itu karena penasaran, ia juga membaca seperti yang Alina lakukan. Kecuali Hera, hanya terus memandang ke arah Albi dan Adelia yang begitu terlihat serasi di pandangan mata.
Albi anaknya yang tampan, dan Adelia yang begitu cantik. Tapi, karena menjungjung harkat, martabat, Hera ingin lebih tahu babat, bebet, bobot, menantunya itu.
"Arumi, maaf kalau Mama boleh tahu. Apa pekerjaan orang tuamu?"
Sontak pertanyaan itu membuat Albi mati kutu, bagaimana bisa Mamanya menanyakan hal pekerjaan dan Orang tua Adelia.
Adelia sendiri yang ditanya terdiam. Adelia sendiri tidak mengingat akan siapa orang tuanya, yang jelas saat ini Adelia hanya mengenal Albi dengan kedua temannya. Adelia ingin berusaha memberikan jawaban dengan mulai berpikir keras.
"Maaf Ma. Arumi yatim piatu, jadi Arumi sendiri tidak tahu tentang orang tuanya," sahut Albi menjawab cepat. Albi tidak berpikir banyak hanya kata itu yang bisa ia dapat untuk menjawab pertanyaan Mamanya.
Hera terdiam, merasa kasihan terhadap menantunya itu bertahan hidup tanpa orang tua. Sementara itu Adelia dengan sedikit pusing di kepalanya, ia memegang kepalanya itu, mungkin akibat tadi bersusah payah untuk berpikir mengingat. Mata Adelia langsung berubah muram, dan tak lama Adelia tumbang terjatuh pada tangan sofa sebelah kirinya.
"Arumi ...." pekik Albi merasa cemas dengan Adelia yang tiba-tiba pingsan.
"Loh, ada apa dengan istri mu Albi?" tanya Hera juga merasa cemas.
"Aku tidak tahu Ma. Maaf Albi akan bawa Arumi ke kamar dulu."
Lalu Albi mengangkat tubuh Adelia, ia memangku tubuh Adelia itu menuju kamar. Albi begitu panik bercampur khawatir. Albi tidak tahu apa penyebab Adelia pingsan.
__ADS_1
Saat sudah berada di kamar, Albi langsung merebahkan tubuh Adelia itu di atas ranjang king size-nya. Kemudian Albi mengambil minyak angin di atas meja rias. Albi mengoleskan minyak angin itu di sekitaran leher Adelia, dan hidung Adelia agar aroma minyak angin itu tercium Adelia dan memberi kehangatan.
Dengan menahan salivanya Albi memandang Adelia yang belum bergeming dari pingsannya. Sungguh pemandangan Adelia yang begitu cantik, membuat hasrat kelakiannya tergugah.
Albi membuka jas yang menempel di tubuhnya, kemudian membuka kancing kemeja. Hawa panas karena hasrat yang menderanya membuat Albi kegerahan, padahal Ac kamar dalam keadaan menyala.
Albi memilih menuju ruang ganti, Albi berniat ingin mengganti pakaian nya. Saat Albi sudah membuka celana panjangnya, ia di kejutkan Adelia yang hendak masuk ke kamar mandi.
"Kamu sudah sadar?" tanya Albi dengan sudah memakai celana boxer dan bertelanjang dada menghalangi jalan Adelia.
"Iya Mas. Maaf aku permisi mau ke kamar mandi, aku kebelet banget," ucap Adelia dengan menahan saliva menatap dada polos Albi.
Albi mengangguk dan bergeser untuk Adelia bisa lewat. Kemudian Adelia dengan terbirit masuk ke dalam kamar mandi menuntaskan niatan nya itu.
"Huh ... kenapa aku seperti baru pertama kali melihat dada Mas Albi," gumam Adelia menghirup nafas.
Bagaimana tidak, Albi yang berdada bidang dan begitu Atletis terpampang di hadapan Adelia. Membuat Adelia merasa tergoda, bahkan saat berhadapan, Adelia menahan salivanya dengan susah.
Sementara itu Albi yang sudah berpakaian santai masih menunggu Adelia di depan pintu kamar mandi. Albi khawatir terjadi sesuatu kepada Adelia yang belum keluar dari kamar mandi padahal sudah hampir lima belas menit lamanya.
"Arumi, kamu sedang apa? kenapa lama sekali?" pekik Albi khawatir.
Ceklek...
Hasrat Albi yang sedari tadi menggebu, semakin bertambah. Albi tidak tahu harus bagaimana caranya untuk menghilangkan hasratnya itu, karena Albi baru merasakannya saat ini. Albi tidak tahu seperti lelaki lainnya, yang bila hasrat tidak bisa di salurkan, maka lelaki lain memilih dengan bermain solo di kamar mandi, tapi tidak dengan Albi.
"Permisi Mas, aku ingin tidur,"
Adelia masih merasa pusing di kepalanya, maka ia berniat ingin tidur saja.
"Kamu kenapa bisa pingsan tadi?" tanya Albi masih penasaran apa penyebab Adelia pingsan secara tiba-tiba.
"Aku tadi berusaha berpikir keras mengingat siapa orang tuaku, dan apa pekerjaannya. Agar aku dapat jawaban untuk Mama. Tapi, kepalaku menjadi sangat pusing, dan begitu sakit. Jadi seketika aku tak sadarkan diri," jawab Adelia apa adanya.
Astaga begitukah efek jika berpikir terlalu keras?.
"Ya sudah. Mending sekarang kamu istirahat. Yuk!"
Adelia mengangguk, dan Albi memapah Adelia karena takut terjatuh. Adelia kembali berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Ini minum dulu, agar kamu lebih tenang,"
Adelia pun menurut, lalu meminum air yang Albi berikan. Setelah minum Adelia kembali berbaring, dan memejamkan kedua matanya.
Setelah Adelia di pastikan tertidur, Albi memilih keluar kamar untuk menemui Keluarganya.
"Bagaimana dengan istrimu, apa dia sudah sadar?" tanya Hera dengan wajah penuh khawatir.
"Sudah Ma. Dia langsung kembali tertidur, mungkin karena efek kehamilan, Arumi jadi pingsan," sahut Albi mencari kata-kata yang dapat di terima oleh Mamanya. Tidak mungkin Albi mengatakan bahwa Adelia pingsan karena bersusah payah untuk berpikir dan mengingat.
"Iya sepertinya. Karena hormon kehamilan itu berbeda-beda, terkadang membuat badan kita lesu, bahkan sangat sensitif perasaan nya," ujar Hera.
Membuat Albi mengingat tadi kejadian di dapur Adelia yang saat salah paham. Hanya karena air minum Albi larang membawanya. Dan Albi kini mengerti.
"Oh ya Albi. Hamil muda itu, jangan terlalu kamu pakai. Karena bisa membuat kandungannya lemah, kalau kamu mau pakai istrimu itu, nanti setelah hamilnya membesar," ujar Hera prontal. Mengingatkan Albi untuk tidak berhubungan dengan istrinya karena tengah hamil muda.
Mama apaan sih, aku pakai Arumi?
Maksudnya apa coba?
Albi terdiam saja tidak menanggapi ujaran Mamanya. Karena Albi tidak memahami dengan maksud Albi memakai istrinya.
"Albian, kamu ngerti tidak?" kini Alina bersuara. Alina merasa geram karena Adik laki-lakinya itu hanya diam saja tidak menanggapi ujaran Mamanya.
"Enggak" jawab Albi jujur.
"Pantas saja kamu diam. Masa yang begitu tidak mengerti? Bukan nya kamu tadi hampir melakukannya saat di dapur?," cibir Alina mengingatkan tentang yang ia lihat saat menyusul adiknya tadi. Tapi Alina malah mendapat pemandangan yang menggelikan.
Albi melotot saat teringat akan ucapan Mamanya menjurus ke arah ranjang.
Mama Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya. Karena aku tidak berhak untuk menyentuh tubuhnya, itu juga kalau aku tidak khilaf.
"Ok sekarang aku mengerti," ucap Albi.
...***...
...Bersambung....
Jangan lupa dukung cerita receh author ini!
__ADS_1
dengan Like, Comment, dan Hadiah Poinnya!.
Satu lagi Vote-nya juga 😉😉